Ibarat ikan sudah masuk perangkap. Dersanala tidak bisa berbuat benyak, kecuali hanya menangis sejadi-jadinya. Sedangkan HP dan alat komunikasi lainnya telah disita oleh pengawal Bathara Guru semenjak di gapura ring empat siang tadi. Sementara Bathara Brama tidak nampak di pasamuan agung siang itu. Jerit tangis anaknya tidak terdengar sama sekali. Maklumlah istana itu telah di buat kedap suara. Seluruh ruangan telah steril dari alat penyadap suara dan gambar. Orang lain termasuk Bathara Brama tidak diperkenankan masuk meliputnya.
”Eyang pukulun, bunuhlah saja cucumu ini, saya tidak sudi ikut denganmu eyang, cintaku hanya satu ,Raden Janaka ...” jerit Dersanala sambil meronta-ronta.
”Dersanala, jeneng kita wis ndak bisa mengelak dengan cara apapun, sekarang awakmu sudah menjadi kekuasaan ulun, jeneng kita kudu manut menurut apa yang menjadi sedyaku”
”Menawi mekaten terbukti bahwa eyang pukulun menika sudah berbuat dholim, merusak keadilan, semena-mena, otoriter, berbuat hanya semaunya sendiri, tanpa rasa keadilan dan perasaan...”
”Kok awakmu lancang mengatakan ulun seperti itu, apa dasarnya ”
”Jagad raya ini sudah menjadi saksi, bahwa Dersanala itu sudah syah menjadi istri Raden Janaka, tengah-tengahnya kami asyik berbulan madu, memadu kasih, merajut asmara, lha kok pukulun paksa, kami agar diceraikan ..., berarti eyang pukulun itu tidak bisa membina dan mengasuh terhadap perasaan seseorang yang baru saja menikmati alming bebrayan, padahal saya ini sekarang tengah mengandung satu bulan...., positif hasil pemeriksaan dokter kandungan”
”Dersanala, walaupun ocehanmu seperti seribu burung beo, namun kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Perkara kehamilanmu itu mudah bagi ulun. Tinggal panggil dokter aborsi, kasih obat terus dipijet, clothooot..., keluar jabang bayinya terus dikubur di belakang rumah, bereees....”
”Akan tetapi ...”
”Pramoni, Durga ..., jangan kesuwen, hayo cepat ikat tangannya, bius dengan obat yang telah kau siapkan, bawalah Dersanala ke Tunggul Malaya, kawinkan secara pakasa dengan anakmu si Dewa Srani ”
”Kasinggihan Mas Guru !!”
Secepat kilat Dewi Dersanala berhasil dibawa kabur oleh Bethari Durga. Sementara di luar ruangan, Bathara Brama dan Bathara Indra hanya kamitenggengen melihat ulah Bethari Durga membawa kabur anaknya.
”Yayi Bathara Indra ”
”Ada apa kakang pukulun Brama”
”Yayi, dalam hatiku kok sepertinya nggak tega melihat anakku si Dersanala. Akan tetapi mau apa lagi, aku dewe juga ndak bisa berbuat apa-apa, akan tetapi tetap aku sebagai ayahnya tidak tega yayi, oleh karena itu hantarkan aku untuk mengikuti Bathari Durga ke Tunggul Malaya, kasihan Dersanala anakku..”
”Hayo aku hantarkan kakang pukulun..”
Tidak beberapa lama kedua pejabat kadewatan Suralaya itu mengejar mengikuti larinya Bathari Durga. Tepat di atas komplek pertokoan dan swlayan, kilometer sepuluh, ada kejadian nganeh-anehi, tiba-tiba dari perut via jalan kelahiran, keluar jabang bayi prematur, tetapi wujudnya sedah menjadi bayi yang sempurna. Kaget sang Dewi Durga, segera ditangkap dipegang kuat-kuat bayi berkelamin laki-laki itu, ditendang dan diinjak-injak bagaikan wasit PSSI yang memihak kepada pemain tuan rumah. Dhes...dhez.... conthal ...., bayi itu diombang-ambingkan kemudian dilontarkan masuk ke jurang yang terjal. Bathara Brama yang menyaksikan peristiwa itu merasa tidak tega, timbul rasa belas kasihan terhadap anak dan cucu pertamanya. Dia menjadi geram dengan ulah ibu tirinya. Tanpa sepengatuhan Bathari Durga Brama dan Indra melesat secepat kilat menyelamatkan jabang bayi yang dibuang Bathari Durga.
Jumaangkah hanggra sesumbar, lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri, oooong
”yayi Indra, didepan kita ini telah kita temukan bayi yang dibuang oleh Bethari Durga. Ini aku yakin, bahwa ini cucuku, anak si Dersanala dengan Janaka ”
”kakang Brama, ini sangat tepat kakang, mumpung bayi ini masih kecil, lebih baik hayo kita bunuh saja, sebab aku kuwatir kalau besar nanti mesti bikin masalah yang besar”
”Yayi Indra, walau bagaimanapun ini adalah cucuku, oleh karenanya aku tidak tega untuk membunuhnya, sekarang aku serahkan kepadamu saja yayi ...”
”kalau begitu bayi ini akan aku ceburkan di Kawahcandradimuka”
”Ya sudah kalau begitu lakukan saja yayi”
Senin, 15 Juni 2009
Potongan Tunjangan Fungsional
Nuju hari Respati Jenar, hujan pertama pada pranata mangsa kalima, atau candra pancuran emas sumawur ing jagad, telah mbuka musim penghujan di jagad raya kahyangan Suralaya dan tataran planit bumi tlatah Jawadwipa. Para petani nampak tersenyum sumringah, diesel-diesel penyedot air mulai banyak yang dirumahkan kembali. Para penduduk yang selama ini kekuarangan air dan cairan nampak sumringah menyam-but kucuran hujan yang langsung lebat. Lumayan, badan bisa sedikit harum lantaran terkena aroma sabun yang digosokkan bersamaan lunturnya daki yang menempel berhari-hari. Memang yang namanya hujan itu juga termasuk rejeki, dan rejeki sendiri itu tidak bisa diminta secara paksa, pasti pas mangsanya tiba, maka dia akan datang sendiri. Tak terkecuali para punggawa Kahyangan Suralaya, mereka juga merasakan euforia ketiban rejeki bersamaan dengan datangnya hujan yang pertama kalinya, mereka dikabarkan menerima tunjangan funsional yang konon kabarnya sudah duapuluh satu bulan ngadat jadi lirikan para anggota dewan (baca: Pakdenya Kewan). Tepat di malam Lebaran tunjangan itu mencair kemudian langsung meleleh dan menguap terbawa sifat aluwamah, bin rakus, alias konsumtif, gatal bila ada uang di tangan kalau tidak segera pergi ke toko-toko mengobral ’dugem’ (duit genah mendemi), berpesta pora dan tidak terfikirkan dana itu sebagian untuk fakir miskin yang ada di sekitarnya. Mereka terbiasa ’wah’ riak di bawah pesta Lebaran.
Berbeda dengan Pukulun Narada. Bulan Lebaran ini dia memilih ’uzlah’ menyendiri di padhepokan Usada Pangudal-udal. Dia tidak mendapatkan parcel dari pemerintah daerah Suralaya. Beliau dianggap sudah tidak loyal lagi kepada pukulun Manikmaya alias Bathara Guru penguasa tunggal Kahyangan Suralaya. Ndak apa-apa, ATM-nya masih cukup untuk biaya hidup delapan semester, lumayan, karena selama puasa ’job’ pengajiannya ada di mana-mana. Sehingga dia nampak santai menikmati hari-hari minggatnya di rumah. Hanya saja pukulun kelihatan raut mukanya ada sebercak ke-sedihan ketika membaca koran lokal yang memuat tentang potongan tunjangan fungsional rekan-rekan seprofesinya di kahyangan, dia sebagai ketua forum persatuan guru-guru se kahyangan Suralaya (FPGKS) amat tersungging eh tersinggung, atas ulah para oknum-oknum bendahara yang telah tega merampas hak guru yang lain. Tak tanggung-tanggung potongan itu hingga 15% ’dugem, duit genah mendemi lha kok mentala di untal ”Oh pragenjong-pragenjong pak-pak pong kali porong ngalor iline, kanthong bolong entek duwite, oh ndonya apa wis arep kiamat, para manungsa kelangan keblat, pejabat mung ngobral syahwat, ninggalake syareat, bisane mung sambat, duwite kanca padha diembat, rawat-rawat kandhane kanggo zakat, ra perduli persatuan guru padha mulat, ing kene margane tukon obat, ingsun kuwasa dadi tukang sunat, aja padha sambat mengko ndak sikat, iki lho pejabat penguasa tukang ngangkat lan tukang mecat, jangan coba-coba kalau pingin selamat.... bangsaaaaaaaat !!!!” teriak pukulun Narada seperti orang gila yang tengah jengkel dengan penyakitnya.
Sementara itu di rumah Pukulun Bathara Brama, Bethari Dersanala nampak murung di dalam kamarnya. Dia terisak menangis tersedu-sedu sambil berbicara ’sesenggukan’ dengan sumi tercinta lewat HP. Punakawan nampak terharu melihat Dyah Ayu sendirian di dalam kamar. Hari-hari mesranya terlewatkan begitu saja. Padahal sebelumnya Raden Janaka pernah berjanji bahwa setelah pesta pernikahan nanti, dia akan diajak bulan madu di Pulau Dewata. Kini janji itu gagal total. Malam pertamanya dia habiskan di kamar sempit penuh dengan cucian baju dan busana pengantin yang belum sempat dilipat dalam lemari. Tapi lumayanlah dari ’pergumulannya’ itu kini perutnya dinyatakan positif ’bunting’ alias hamil satu bulan, oleh dokter kandungan Swargadahana. Harapannya sih maunya ditunggui oleh suaminya terus dan anaknya kelak laki-laki tampan seperti abahnya. Tapi apa dikata, Bathara Brama ayahnya menghendaki agar perkawinannya dibatalkan, dengan alasan pukulun Manikmaya tidak merestui seorang dewi kawin dengan satria bangsa manusia. Dewi harus dapat dewa-kecuali dewa sembilan belas- dan manusia harus dapat manusia. Untuk itu Bahara Brama diutus Pukulun Bethara Guru supaya membujuk Janaka dan Dersanala agar membatalkan perkawinannya.
Dengan muka yang sembab Dewi Dersanala diajak paksa ramandanya terbang menuju kahyangan Suralaya.
Leng-lenging driya mangu-mangunkung kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin ooong...
”Rama pukulun, menika pun cucu paduka Dersanala sampun ngabyantara di depan paduka ”
”Iya...ya ngger Brama terima kasih tiada terhingga, atas jerih payahmu berhasil membujuk Dersanala kemari, mangko ta ngger putu ulun Dersanala, apa awakmu sudah paham dengan kersaku ?”
”Nun inggih eyang, sebelumnya wayah paduka menghaturkan sembah bakti ,sungkem dhumateng eyang ”
”Banget ing panarima ulun ngger, hanya pangestunya eyang terimalah ngger”
”Dahat katedha kalingga murda semoga menambah kebahagiaan, dan keluhuran eyang, dan selanjutnya ada apa eyang, kok eyang pukulun menyuruhku datang menghadap ?”
”Begini Dersanala, berdasarkan PP 10 tahun 2008, tentang undang-undang perkawinan Kadewatan, seorang dewi tidak boleh menikah dengan manusia, oleh karena itu ngger, berhubung suamimu itu seorang manusia, maka perkawinanmu berarti sudah melanggar undang-undang. Aku kuwatir, mumpung anggota dewan belum mengetahui perkawinan ini, tolong ngger batalkan perkawinanmu, sebab eyang mesti bakal kena impeachment dari dewan, ujung-ujungnya jabatan eyang bakal lengser, sebagai gantinya eyang sudah menyiapkan gantinya sesama dewa, yaitu Dewa Srani, ya putra ulun sendiri, piye ngger mau ya ....”
Oooong surem-surem diwangkara kinkin, lir manguswa kang layon, denya ilang kang memanise, wadananira layung kumel kucem rahnya maratani, oooong......
Berbeda dengan Pukulun Narada. Bulan Lebaran ini dia memilih ’uzlah’ menyendiri di padhepokan Usada Pangudal-udal. Dia tidak mendapatkan parcel dari pemerintah daerah Suralaya. Beliau dianggap sudah tidak loyal lagi kepada pukulun Manikmaya alias Bathara Guru penguasa tunggal Kahyangan Suralaya. Ndak apa-apa, ATM-nya masih cukup untuk biaya hidup delapan semester, lumayan, karena selama puasa ’job’ pengajiannya ada di mana-mana. Sehingga dia nampak santai menikmati hari-hari minggatnya di rumah. Hanya saja pukulun kelihatan raut mukanya ada sebercak ke-sedihan ketika membaca koran lokal yang memuat tentang potongan tunjangan fungsional rekan-rekan seprofesinya di kahyangan, dia sebagai ketua forum persatuan guru-guru se kahyangan Suralaya (FPGKS) amat tersungging eh tersinggung, atas ulah para oknum-oknum bendahara yang telah tega merampas hak guru yang lain. Tak tanggung-tanggung potongan itu hingga 15% ’dugem, duit genah mendemi lha kok mentala di untal ”Oh pragenjong-pragenjong pak-pak pong kali porong ngalor iline, kanthong bolong entek duwite, oh ndonya apa wis arep kiamat, para manungsa kelangan keblat, pejabat mung ngobral syahwat, ninggalake syareat, bisane mung sambat, duwite kanca padha diembat, rawat-rawat kandhane kanggo zakat, ra perduli persatuan guru padha mulat, ing kene margane tukon obat, ingsun kuwasa dadi tukang sunat, aja padha sambat mengko ndak sikat, iki lho pejabat penguasa tukang ngangkat lan tukang mecat, jangan coba-coba kalau pingin selamat.... bangsaaaaaaaat !!!!” teriak pukulun Narada seperti orang gila yang tengah jengkel dengan penyakitnya.
Sementara itu di rumah Pukulun Bathara Brama, Bethari Dersanala nampak murung di dalam kamarnya. Dia terisak menangis tersedu-sedu sambil berbicara ’sesenggukan’ dengan sumi tercinta lewat HP. Punakawan nampak terharu melihat Dyah Ayu sendirian di dalam kamar. Hari-hari mesranya terlewatkan begitu saja. Padahal sebelumnya Raden Janaka pernah berjanji bahwa setelah pesta pernikahan nanti, dia akan diajak bulan madu di Pulau Dewata. Kini janji itu gagal total. Malam pertamanya dia habiskan di kamar sempit penuh dengan cucian baju dan busana pengantin yang belum sempat dilipat dalam lemari. Tapi lumayanlah dari ’pergumulannya’ itu kini perutnya dinyatakan positif ’bunting’ alias hamil satu bulan, oleh dokter kandungan Swargadahana. Harapannya sih maunya ditunggui oleh suaminya terus dan anaknya kelak laki-laki tampan seperti abahnya. Tapi apa dikata, Bathara Brama ayahnya menghendaki agar perkawinannya dibatalkan, dengan alasan pukulun Manikmaya tidak merestui seorang dewi kawin dengan satria bangsa manusia. Dewi harus dapat dewa-kecuali dewa sembilan belas- dan manusia harus dapat manusia. Untuk itu Bahara Brama diutus Pukulun Bethara Guru supaya membujuk Janaka dan Dersanala agar membatalkan perkawinannya.
Dengan muka yang sembab Dewi Dersanala diajak paksa ramandanya terbang menuju kahyangan Suralaya.
Leng-lenging driya mangu-mangunkung kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin ooong...
”Rama pukulun, menika pun cucu paduka Dersanala sampun ngabyantara di depan paduka ”
”Iya...ya ngger Brama terima kasih tiada terhingga, atas jerih payahmu berhasil membujuk Dersanala kemari, mangko ta ngger putu ulun Dersanala, apa awakmu sudah paham dengan kersaku ?”
”Nun inggih eyang, sebelumnya wayah paduka menghaturkan sembah bakti ,sungkem dhumateng eyang ”
”Banget ing panarima ulun ngger, hanya pangestunya eyang terimalah ngger”
”Dahat katedha kalingga murda semoga menambah kebahagiaan, dan keluhuran eyang, dan selanjutnya ada apa eyang, kok eyang pukulun menyuruhku datang menghadap ?”
”Begini Dersanala, berdasarkan PP 10 tahun 2008, tentang undang-undang perkawinan Kadewatan, seorang dewi tidak boleh menikah dengan manusia, oleh karena itu ngger, berhubung suamimu itu seorang manusia, maka perkawinanmu berarti sudah melanggar undang-undang. Aku kuwatir, mumpung anggota dewan belum mengetahui perkawinan ini, tolong ngger batalkan perkawinanmu, sebab eyang mesti bakal kena impeachment dari dewan, ujung-ujungnya jabatan eyang bakal lengser, sebagai gantinya eyang sudah menyiapkan gantinya sesama dewa, yaitu Dewa Srani, ya putra ulun sendiri, piye ngger mau ya ....”
Oooong surem-surem diwangkara kinkin, lir manguswa kang layon, denya ilang kang memanise, wadananira layung kumel kucem rahnya maratani, oooong......
Kembali ke Jalan yang Sesat
Gareng, Petruk dan Bagong amat kaget, ternyata yang baru datang di rumah Bathari Dersanala ternyata pukulun Bathara Brama. Ayahnda sang bethari.
”Ini ulun waspadaaken seperti punakawan yang tengah guyonan di halaman depan itu , Gareng , dimana Janaka dan Dersanala ?”
”Sebelumnya saya menghaturkan sembah bekti pukulun, nyuwun pangapunten, tadi beliau berdua sedang masuk di kamar”
”Paling kelonan pukulun ..” sela Bagong lugu.
”Huss, lambemu diatur kalau bicara, ini di depan pukulun Brama lho, hati-hati kalau bicara ” tukas Petruk menyela pembicaraan.
”Tidak jadi apa Petruk, pancen sudah jadi wataknya Bagong, kalau ndak lucu malah bukan Bagong nanti...”
”Anu pukulun, kula pun Petruk, Gareng dalah adhi kula pun Bagong, sak derengipun ngaturaken Sugeng Ariyadin, nyadong duka ingkang kathah, lan nyuwun hagunging samudra pangaksami, hambok bilih selaminipun kula ngladosi pukulun wonten sasar sisiping tembung lan klenta-klentuning patrap, kula sagotrah nyuwun pangaksama ..”
”Inggih pukulun, gandheng sampun Riyadin, anak kula Bagiya, inggih wancinipun mbayar SPP,tumbas baju baru, HP baru, sepedah motor baru, dan sepatu baru” sela Bagong tak mau kalah
”Waaah Bagong menggunakan aji mumpung, mesthine pembelajaran hidup sederhana, mau menderita di bulan puasa, eee malah terbalik, bareng lebaran... kumat sifat asline, dadi rampog, pemeras, lumpuk-lumpuk sangu, apus-apus saperlu mung mikirne anak lan bojone ... oalah ta Gong, Gong, mulakna yen ngaji iku jangan dihapalkan melulu, tapi ya pahami maknanya. Riyaya iku mung sarana kanggo mempersatukan kembali antar sesama muslim, ben bisa guyub rukun, saling menolong, saling memaafkan, belas kasih, peduli kepada sesama, ing akhirnya bisa meningkatkan mutu hidupnya, menjadi muslim sejati yang berkualitas tinggi... aja malah foya-foya..”
”Hoooalaah Truk, aku ngene iki ya mung ngetes pukulun Brama, kalau puasa beliau itu berhasil, maka dia akan peduli kepada awaknya dewe ini sebagai rakyat jelata, .. tapi kalau puasanya jeblok, aku yakin maka beliau akan acuh tak acuh terhadap kita ..”
”Bagong ...”
”Oooo, inggih pukulun, tinimbalan dhawuh ...”
”Ini ada sembilan parcel lebaran bagikan kepada saudaramu ..., dan ini juga ada uang sembilan ratus ribu , dumen sing adil ...”
”Waaah ... rejeki itu kalau mau datang ndak bisa disangka-sangka ...waah lumayaan”
”Apa Gong ?!” tanya Gareng agak kurang mudeng
”Iki lho Reng, ini ada sembilan paket karo pukulun suruh membagi bertiga, berarti kamu dan Petruk mendapat tiga-tiga”
”Lha terus aku mau weruh kalau kamu menerima amplop dari pukulun, berapa banyak uang yang kau terima ?”
”Nyoh ini bagianmu sama Petruk, ... aku tadi diberi sembilan puluh ribu rupiah, iki dumen karo Petruk..”
”Dum-duman apa kang Gereng”
”Ah !, iki lho le, aku mau mentas mendapat uang dari Bagong sembilan ribu rupiah, nyoh iki lho nggo tukon rokok, lumayan to ”
”Waaaa..., ini lho namanya manusia bermental korup, aku ngerti menawa ko ndhuwur mau jumlahe ora sak mene, padha-padha angka sangane, nanging bareng tekan ngisor mungkret angkane beda, oooh titenana, yen ta Bagong sing kurang ajar , oh tak dongakne waduke growong, bokonge jemblong...”
”Alaah dongakna sak jebatmu, lha wong gawene wae main klothok, apa ya mandi dongane” jawab Bagong ndak nggubris
”Anu Pukulun, nuwun sewu...”
”Hiya ada apa Gareng , marma ngomonga”
”Klarifikasi pukulun, sak jannya pukulun tadi maring arta pinten dhumateng Bagong ...”
”Rak ya mestinya kamu kan sudah mendapatkan bagian ta ”
”Oh inggih sampun, nanging ..”
”Nanging kepriye ?”
“Tadi itu saya kan melihat jumlah di amplop kan kelihatan banyak, lha kok ”
“Kamu menerima berapa Petruk ?”
“Sembilan ribu pukulun”
“Lha kamu menerima berapa Gareng ?”
”Sembilan puluh ribu pukulun ”
”Bagooong, coba kamu kemari ...”
”Ada apa pukulun kok bolak-balik nimbali mawon, .. lho Reng , Truk !, ada apa wajahmu kok kelihatan kusut”
”Ohh, dhasar menungsa keparat !!”
”Bagoong...”
”Oh injjih pukulun..”
”Jeneng kita mau ulun paringi sangu pira ?”
”Anu ... ehmm, anu Pukulun ”
”Oh janji ora ngaku awas sida tak udani kamu ” ancam Petruk jengkel
”Sembilan ratus ribu ...”
”Naaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!!” Gareng dan Petruk segera memelorotkan celananya Bagong , layaknya tukang KPK yang menangkap basah mangsanya.
”Ini ulun waspadaaken seperti punakawan yang tengah guyonan di halaman depan itu , Gareng , dimana Janaka dan Dersanala ?”
”Sebelumnya saya menghaturkan sembah bekti pukulun, nyuwun pangapunten, tadi beliau berdua sedang masuk di kamar”
”Paling kelonan pukulun ..” sela Bagong lugu.
”Huss, lambemu diatur kalau bicara, ini di depan pukulun Brama lho, hati-hati kalau bicara ” tukas Petruk menyela pembicaraan.
”Tidak jadi apa Petruk, pancen sudah jadi wataknya Bagong, kalau ndak lucu malah bukan Bagong nanti...”
”Anu pukulun, kula pun Petruk, Gareng dalah adhi kula pun Bagong, sak derengipun ngaturaken Sugeng Ariyadin, nyadong duka ingkang kathah, lan nyuwun hagunging samudra pangaksami, hambok bilih selaminipun kula ngladosi pukulun wonten sasar sisiping tembung lan klenta-klentuning patrap, kula sagotrah nyuwun pangaksama ..”
”Inggih pukulun, gandheng sampun Riyadin, anak kula Bagiya, inggih wancinipun mbayar SPP,tumbas baju baru, HP baru, sepedah motor baru, dan sepatu baru” sela Bagong tak mau kalah
”Waaah Bagong menggunakan aji mumpung, mesthine pembelajaran hidup sederhana, mau menderita di bulan puasa, eee malah terbalik, bareng lebaran... kumat sifat asline, dadi rampog, pemeras, lumpuk-lumpuk sangu, apus-apus saperlu mung mikirne anak lan bojone ... oalah ta Gong, Gong, mulakna yen ngaji iku jangan dihapalkan melulu, tapi ya pahami maknanya. Riyaya iku mung sarana kanggo mempersatukan kembali antar sesama muslim, ben bisa guyub rukun, saling menolong, saling memaafkan, belas kasih, peduli kepada sesama, ing akhirnya bisa meningkatkan mutu hidupnya, menjadi muslim sejati yang berkualitas tinggi... aja malah foya-foya..”
”Hoooalaah Truk, aku ngene iki ya mung ngetes pukulun Brama, kalau puasa beliau itu berhasil, maka dia akan peduli kepada awaknya dewe ini sebagai rakyat jelata, .. tapi kalau puasanya jeblok, aku yakin maka beliau akan acuh tak acuh terhadap kita ..”
”Bagong ...”
”Oooo, inggih pukulun, tinimbalan dhawuh ...”
”Ini ada sembilan parcel lebaran bagikan kepada saudaramu ..., dan ini juga ada uang sembilan ratus ribu , dumen sing adil ...”
”Waaah ... rejeki itu kalau mau datang ndak bisa disangka-sangka ...waah lumayaan”
”Apa Gong ?!” tanya Gareng agak kurang mudeng
”Iki lho Reng, ini ada sembilan paket karo pukulun suruh membagi bertiga, berarti kamu dan Petruk mendapat tiga-tiga”
”Lha terus aku mau weruh kalau kamu menerima amplop dari pukulun, berapa banyak uang yang kau terima ?”
”Nyoh ini bagianmu sama Petruk, ... aku tadi diberi sembilan puluh ribu rupiah, iki dumen karo Petruk..”
”Dum-duman apa kang Gereng”
”Ah !, iki lho le, aku mau mentas mendapat uang dari Bagong sembilan ribu rupiah, nyoh iki lho nggo tukon rokok, lumayan to ”
”Waaaa..., ini lho namanya manusia bermental korup, aku ngerti menawa ko ndhuwur mau jumlahe ora sak mene, padha-padha angka sangane, nanging bareng tekan ngisor mungkret angkane beda, oooh titenana, yen ta Bagong sing kurang ajar , oh tak dongakne waduke growong, bokonge jemblong...”
”Alaah dongakna sak jebatmu, lha wong gawene wae main klothok, apa ya mandi dongane” jawab Bagong ndak nggubris
”Anu Pukulun, nuwun sewu...”
”Hiya ada apa Gareng , marma ngomonga”
”Klarifikasi pukulun, sak jannya pukulun tadi maring arta pinten dhumateng Bagong ...”
”Rak ya mestinya kamu kan sudah mendapatkan bagian ta ”
”Oh inggih sampun, nanging ..”
”Nanging kepriye ?”
“Tadi itu saya kan melihat jumlah di amplop kan kelihatan banyak, lha kok ”
“Kamu menerima berapa Petruk ?”
“Sembilan ribu pukulun”
“Lha kamu menerima berapa Gareng ?”
”Sembilan puluh ribu pukulun ”
”Bagooong, coba kamu kemari ...”
”Ada apa pukulun kok bolak-balik nimbali mawon, .. lho Reng , Truk !, ada apa wajahmu kok kelihatan kusut”
”Ohh, dhasar menungsa keparat !!”
”Bagoong...”
”Oh injjih pukulun..”
”Jeneng kita mau ulun paringi sangu pira ?”
”Anu ... ehmm, anu Pukulun ”
”Oh janji ora ngaku awas sida tak udani kamu ” ancam Petruk jengkel
”Sembilan ratus ribu ...”
”Naaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!!” Gareng dan Petruk segera memelorotkan celananya Bagong , layaknya tukang KPK yang menangkap basah mangsanya.
Langganan:
Postingan (Atom)