Kahyangan Suralaya benar-benar dalam keadaan gawat-keliwat liwat. Bathara Guru diuji kebijaksanaannya oleh rayuan maut Bathari Durga. Dapat dipastikan apabila yang melakukannya Dewi Durga maka Bathara Guru akan goyah bagaikan nyiur melambai yang terkena hempasan badai.
”Banjur ada perlu apa jeneng kita Durga tidak saya timbali, kok tiba-tiba sowan ing ngarsa ulun”, tanya Bathara Guru.
”Sebelumnya hamba menghaturkan agunging samodra pangaksami pikulun, Durga tanpa tinimbalan berani cumantaka menghadap pikulun, sebab ditangisi oleh ananda Dewa Srani ”
”Premoni, anakmu menangis karena punya permintaan apa, baju baru, rumah baru, mobil baru, atau pacar baru ?”
”Duh Pukulun, Dewa Srani menika rumaos sampun dewasa, dan punya hasrat untuk segera menikah”
”Terus sapa sing jadi calon istrinya ?”
”Duh pukulun, mboten wonten kalih utawi tiga, hanya satu yang dia minta yaitu cucu pukulun pribadi, yang berada di Swargadahana putra dari Bathara Brama yang bernama Dewi Dersanala”
Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong..
”Durga, ketahuilah bahwa cucu kita si Dersanala itu sekarang tidak tahu berada di mana, tapi harus engkau ketahui bahwa Dersanala saat ini sudah menjadi istri sah si Harjuna..., apa ini semua tidak engkau beritahukan kepada si Dewa Srani ”
”Pukulun, inggih tidak kurang-kurang pun Durga memberi pengertian kepada Si Srani, malah sudah saya carikan alternatif para mahasiswi Universitas Tunggul Malaya, guru-guru sekolah dasar teladan tingkat propinsi, dan para model ratu kecantikan yang ada di Tunggul Malaya, tapi dia bersikukuh, pokoknya harus dengan Dewi Dersanala pikulun , kalau dia tidak bisa mendapatkannya, maka dia memelih tidak kuliah dan mau bunuh diri saja pukulun ...”
Leng-lenging driya mangu-mangu, mangunkun kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin .... ooong
Rayuan gombal Bethari Durga benar-benar meluluhlantakkan seluruh pkiran Bathara Guru. Resi Narada nampak komat-kamit mendoakan agar rayuan itu tidak menggoyahkan pendirian Manikmaya alias Bathara Guru, namun awal bencana itu akhirnya datang jua. Bethara Guru tidak berdaya, persis sinetron ’suami-suami takut istri’...
”Oh jagad Dewabathara, okeylah Durga jikalau itu sudah menjadi tekadnya si Srani, ulun akan menyanggupi, toh dia itu juga anak dagingku sendiri. Untuk itu aku akan segera menceraikan si Arjuna dengan si Dersanala dalam waktu tidak lama lagi ”
”Oh, pragenjong-pragenjong pak-pak pong, kali keyang ngulon parane, wong penak-penak spejagong lha kok dadi bunglon atine, weeladalah tobil si Permoni ratunening jail, teka-teka ngrusak barang kang wus kanthil. Pokoknya aku wis niteni, kalau kamu datang mesti bikin onar. Kalu tidak mengganggu jabatan orang, ya merusak pagar ayu, atau merebut wahyu... eh Adi Guru, saya hanya mengingatkan, ini adalah rencana jahat Bethari Durga, menawi bisa saya ingatkan tolong jangan dituruti, dia itu suka durhaka Adhi Guru ...”
”Kakang Narada, berhubung Dewa Srani itu anakku, maka segala permintaannya harus aku turuti. Ada pepatah ’anak kepolah bapa kepradah’ ”
”Adhi guru, walaupun yang meminta itu seorang anak, aku meminta tolong juga harus selektif, sampeyan harus meneliti, bagaimana gaya hidup dia selama ini, lha ... kecuali kalau si Srani itu anak yang sholeh..., sampeyan harus menuruti semua keinginannya...”
”Ora kakang !, pkoknya aku harus segera memisahkan antara si Arjuna dengan Dewi Dersanala sekarang juga...”
”nuwun sewu adhi Guru, sampeyan nganggo dasar apa kok mau menceraikan dia, apa nanti ndak akan mendapatkan kutukan dari Sang Hyang Wenang”
”Kakang Narada, menurut hukum yang berlaku di kadewataan , seorang dewi itu harus bersuamikan dengan dewa. Oleh karena itu berhubung si Janaka itu hanyalah manusia biasa, maka dia tidak berhak kawin dengan dewi. Dan saya sebagai penguasa di Suralaya ini, maka saya punya kekuasaan untuk memisahkannya”
”Ooo, begitukah adhi Guru. Nuwun sewu adhi Guru, saya itu menyaksikan bahwa yang telah menikah dengan seorang dewi itu tidak hanya si Janaka saja, akan tetapi banyak. Tapi kenapa mereka juga tidak sampeyan pisahkan juga. Ini adalah perbuatan culas alias tidak adil, tidak ber-gender sosial inklusi, diskriminatif. Sekali lagi aku hanya mengingatkan, tolong Dersanala jangan diceraikan”
”Tidak bisa kakang, walau kakang mengoceh seperti seribu bakul jamu, aku tidak akan merubah sikapku !”
”Ooooh, sampeyan itu ndak bisa di eman, sudah kalau begitu, aku njaluk pamit, aku ndak sudi lagi duduk di kadewatan lagi, ... wis Adhi Guru, kalau ada apa-apa jangan salahkan aku...” Bersambung
Selasa, 23 Juni 2009
Dewa Srani Edan Ki Setyo Handono
Hanya beberapa saat saja Prabu Anom Gatutkaca telah mampu menghafalkan matra sakti pemberian Prabu Kresna. Dia lantas mohon pamit untuk segera menemui Patih Jentha Yaksa untuk kembali berlaga adu katiyasan.
Ana kangwre tunggal kagiri-giri, gengnya groma galak, angkara ambeg, nya oooong... gora godha hangga ulungna, tinepak kaplesat, buta kabarubuh, oong...
”Hayo Gathutkaca, keluarkan seluruh kekuatanmu, hayo hadapilah aku, Patih Jentha Yaksa patih dari Tunggul Malaya hrrrr .... ha...ha...ha...”
”Adeg-adegku ibu pertiwi..., pepayungku bapa akasa, kaadangku keblat papat paningalku jati wasesa, dudu jatining manungsa nanging cahyaning Kang Maha Kawasa, rahayu...rahayu...”, desah Gathutkaca sambil mengusap muka dengan khusuk Patih Jentha Yaksa tiba-tiba terjerembab, tubuhnya yang besar roboh di bumi menggetarkan bangunan-bangunan semi permanen, nyaris semuanya retak-retak. Prabu Anom Gatutkaca kembali melantunkan mantra saktinya, hingga ...
”Waduh ...Gathutkaca, cukup...cukup...jangan kau lanjutkan, tubuhku terasa terbakar... sudah Gatut...aku mengakui keunggulanmu...aku pulang saja Gathutkaca..” Begitu terdengar jeritan yang memekakkan telinga, tiba-tiba dari balik batu yang besar muncullah makhluk aneh berhidung besar diikuti oleh makhluk-makhluk yang lainnya.
”Le-le pak, le-le pah pangananmu iwak mentah, lalapane proyek sekolah, sing mangan ora tahu susah, mbesuk tuwek padha susah..”
”Le-le cuk... le-le cuk pakananku sega pincuk, lalapane kapal keruk , olehe mangan karo mbungkuk, plingak-plinguk garuk-garuk, ethok-ethok nemu gethuk, othak-athik amrih gathuk, jebule mung lumpuk-lumpuk, nuruti wetenge mblendhuk, dhuh wong ndonya sira padha laliyo, ngakerat mung crita blaka, ugemen senenging donya, uberen lintang kartika, obralen babahan hawa sanga, sumpet piwulang brahmana, ambyura mring angkara murka..”
”Adeg-adegku ibu pertiwi, pepayungku bapa akasa....” tiba-tiba Gathutkaca telah berada di belakang para gandarwa sambil membacakan mantra saktinya. Seketika tubuh mereka seakan terbakar, mereka segera lari terbirit-birit, menye-lamatkan diri. Dari kejauhan Prabu Kresna segera menghampiri Gathutkaca.
”Ngger Gathutkaca, sepertinya sudah mulai terlihat cerah, jagad sudah sedikit tersibak dengan cahaya, oleh karena itu ngger kulup, hayo kita segera menyingkir dari sini”
Bersamaan dengan perginya Prabu Kresna dan Gathutkaca, suasana menjadi agak tentram. Pasukan preman dan iblis yang dipimpin Prabu Jentha Yaksa telah berhasil dihalau dan dimutilasi, tubuhnya hancur berkeping-keping hingga team forensik kesulitan melacak benang merah yang melekat pada masing-masing bangkai gandarwa yang berserakan.
Kita tinggalkan dulu kisah Prabu Kresna dan Gathutkaca. Di atas sana, tepatnya di lantai awal Kahyangan Suralaya nampak Dewa Srani dan maminda Bethari Durga nampak kelihatan kusut wajahnya. Dewa Srani terlihat melepas jas kulitnya, dasinya, dan sepatunya. Yang nyantol di tubuhnya tinggal celana dalam, kemudian dia berlari-lari di jalan raya, sambil tertawa-tertiwi sendiri, menyebut kekasih hatinya Dewi Dersanala. Kontan, Sang Mami Bethari Durga merasa kewirangan melihat ulah anaknya yang kerasukan iblis gendheng,
”Hong thethe dewangkara Rudra manik raja dewaku, oh jagad dewa bathara, oalaaah ngger ... ngger, kamu itu calon pangeran lho, elinga ya ngger ... kasihanilah dirimu, ingatlah ibumu..., hayo ngger busanamu dipakai lagi, jangan telanjang begitu, ingat lho awakmu itu udah haji, udah meng-umrohkan orang-orang di sekitarmu...” Bathari Durga sambil meronta-ronta, meminta anaknya tidak berbugil ria. Tapi Dewa Srani sudah seratus persen lupa ingatan, mobil pribadi yang masih kinyis-kinyis dilemparnya ”pres”, seketika kaca depannya hancur berantakan. Bethari Durga tambah panik. Dewa Srani semakin nekad berlari menuju sungai di bawah jembatan Suralaya.
”Oh Dersanala... terimalah cinta sejatiku ini, lihatlah aku membawa bunga untukmu, aku rela mencopot seluruh busanaku demi untuk tubuhmu yang kedinginan, oh Dersanala, seluruh istanaku akan ku serahkan padamu... hayo Dersanala... janganlah berpaling denganku, .. oh keparat kau Janaka !!, kau telah nodai calon istriku, aku cincang-cincang tubuhmu, ciaaaaaat !!!” Dewa Srani berteriak sambil membanting batu-batu yang berserakan di sekitarnya.
”Kulup Dewa Srani, eling ngger... eling ngger, ini lho minum dulu, hayo ngger minum dulu ...” pinta Bathari Durga sambil mengulurkan segelas air minum.
”Mami, aku mau minum kalau Dewi Dersanala telah ada di sampingku”
”Hiya kulup, tapi mami minta kau sabar dulu, mami akan menemui papimu Bathara Guru dulu ..”
”Nggak mau mami, pokoknya sekarang !!!”
”Ngger, papimu sekarang lagi work shop, tidak boleh diganggu, beliau baru pulang tiga hari yang akan datang..”
”Kalau begitu campurlah minumku itu dengan racun nyamuk, aku mau bunuh diri saja mami..., lihatlah mami aku telah menelan racun !!!”
Kaget , Bethari Durga segera melesat menyambar anaknya yang telah terkapar mengerang sekarat keracunan. Mereka segera menerbangkan anaknya ke instalasi gawat darurat rumah sakit Suralaya. Bersambung
Ana kangwre tunggal kagiri-giri, gengnya groma galak, angkara ambeg, nya oooong... gora godha hangga ulungna, tinepak kaplesat, buta kabarubuh, oong...
”Hayo Gathutkaca, keluarkan seluruh kekuatanmu, hayo hadapilah aku, Patih Jentha Yaksa patih dari Tunggul Malaya hrrrr .... ha...ha...ha...”
”Adeg-adegku ibu pertiwi..., pepayungku bapa akasa, kaadangku keblat papat paningalku jati wasesa, dudu jatining manungsa nanging cahyaning Kang Maha Kawasa, rahayu...rahayu...”, desah Gathutkaca sambil mengusap muka dengan khusuk Patih Jentha Yaksa tiba-tiba terjerembab, tubuhnya yang besar roboh di bumi menggetarkan bangunan-bangunan semi permanen, nyaris semuanya retak-retak. Prabu Anom Gatutkaca kembali melantunkan mantra saktinya, hingga ...
”Waduh ...Gathutkaca, cukup...cukup...jangan kau lanjutkan, tubuhku terasa terbakar... sudah Gatut...aku mengakui keunggulanmu...aku pulang saja Gathutkaca..” Begitu terdengar jeritan yang memekakkan telinga, tiba-tiba dari balik batu yang besar muncullah makhluk aneh berhidung besar diikuti oleh makhluk-makhluk yang lainnya.
”Le-le pak, le-le pah pangananmu iwak mentah, lalapane proyek sekolah, sing mangan ora tahu susah, mbesuk tuwek padha susah..”
”Le-le cuk... le-le cuk pakananku sega pincuk, lalapane kapal keruk , olehe mangan karo mbungkuk, plingak-plinguk garuk-garuk, ethok-ethok nemu gethuk, othak-athik amrih gathuk, jebule mung lumpuk-lumpuk, nuruti wetenge mblendhuk, dhuh wong ndonya sira padha laliyo, ngakerat mung crita blaka, ugemen senenging donya, uberen lintang kartika, obralen babahan hawa sanga, sumpet piwulang brahmana, ambyura mring angkara murka..”
”Adeg-adegku ibu pertiwi, pepayungku bapa akasa....” tiba-tiba Gathutkaca telah berada di belakang para gandarwa sambil membacakan mantra saktinya. Seketika tubuh mereka seakan terbakar, mereka segera lari terbirit-birit, menye-lamatkan diri. Dari kejauhan Prabu Kresna segera menghampiri Gathutkaca.
”Ngger Gathutkaca, sepertinya sudah mulai terlihat cerah, jagad sudah sedikit tersibak dengan cahaya, oleh karena itu ngger kulup, hayo kita segera menyingkir dari sini”
Bersamaan dengan perginya Prabu Kresna dan Gathutkaca, suasana menjadi agak tentram. Pasukan preman dan iblis yang dipimpin Prabu Jentha Yaksa telah berhasil dihalau dan dimutilasi, tubuhnya hancur berkeping-keping hingga team forensik kesulitan melacak benang merah yang melekat pada masing-masing bangkai gandarwa yang berserakan.
Kita tinggalkan dulu kisah Prabu Kresna dan Gathutkaca. Di atas sana, tepatnya di lantai awal Kahyangan Suralaya nampak Dewa Srani dan maminda Bethari Durga nampak kelihatan kusut wajahnya. Dewa Srani terlihat melepas jas kulitnya, dasinya, dan sepatunya. Yang nyantol di tubuhnya tinggal celana dalam, kemudian dia berlari-lari di jalan raya, sambil tertawa-tertiwi sendiri, menyebut kekasih hatinya Dewi Dersanala. Kontan, Sang Mami Bethari Durga merasa kewirangan melihat ulah anaknya yang kerasukan iblis gendheng,
”Hong thethe dewangkara Rudra manik raja dewaku, oh jagad dewa bathara, oalaaah ngger ... ngger, kamu itu calon pangeran lho, elinga ya ngger ... kasihanilah dirimu, ingatlah ibumu..., hayo ngger busanamu dipakai lagi, jangan telanjang begitu, ingat lho awakmu itu udah haji, udah meng-umrohkan orang-orang di sekitarmu...” Bathari Durga sambil meronta-ronta, meminta anaknya tidak berbugil ria. Tapi Dewa Srani sudah seratus persen lupa ingatan, mobil pribadi yang masih kinyis-kinyis dilemparnya ”pres”, seketika kaca depannya hancur berantakan. Bethari Durga tambah panik. Dewa Srani semakin nekad berlari menuju sungai di bawah jembatan Suralaya.
”Oh Dersanala... terimalah cinta sejatiku ini, lihatlah aku membawa bunga untukmu, aku rela mencopot seluruh busanaku demi untuk tubuhmu yang kedinginan, oh Dersanala, seluruh istanaku akan ku serahkan padamu... hayo Dersanala... janganlah berpaling denganku, .. oh keparat kau Janaka !!, kau telah nodai calon istriku, aku cincang-cincang tubuhmu, ciaaaaaat !!!” Dewa Srani berteriak sambil membanting batu-batu yang berserakan di sekitarnya.
”Kulup Dewa Srani, eling ngger... eling ngger, ini lho minum dulu, hayo ngger minum dulu ...” pinta Bathari Durga sambil mengulurkan segelas air minum.
”Mami, aku mau minum kalau Dewi Dersanala telah ada di sampingku”
”Hiya kulup, tapi mami minta kau sabar dulu, mami akan menemui papimu Bathara Guru dulu ..”
”Nggak mau mami, pokoknya sekarang !!!”
”Ngger, papimu sekarang lagi work shop, tidak boleh diganggu, beliau baru pulang tiga hari yang akan datang..”
”Kalau begitu campurlah minumku itu dengan racun nyamuk, aku mau bunuh diri saja mami..., lihatlah mami aku telah menelan racun !!!”
Kaget , Bethari Durga segera melesat menyambar anaknya yang telah terkapar mengerang sekarat keracunan. Mereka segera menerbangkan anaknya ke instalasi gawat darurat rumah sakit Suralaya. Bersambung
Ontran-ontran Bathari Durga Putaran Kedua Ki Setyo Handono
”Oh iya ngger putraku bocah sigid, Dewa Srani, Mami bakal nuruti apa sing dadi panyuwunmu. Pancen wis ndak niati kalau Marcapada akhir-akhir ini sengaja aku buat kacau, wis sakmestinya, sebab Bethara Guru telah berbuat curang, kenapa Dersanala diberikan begitu saja kepada Janaka, padahal anak kandungnya sendiri belum punya pasangan, sedang di Janaka isterinya sudah banyak, oh !, Kahyangan bakal ndak obrak-abrik, Mercapada saya jadikan karang abang. He !!!, patih Jentha Yaksa !!!, you keluarlah siapkan para pencoleng dan para bramacorah, saperlu nderekkan mami nglurug Kahyangan ...”
”Nuwun inggih Mami Bethari, keparenga pun abdi medal pasilan badhe persiapan , tata-tata sawega ing karya Mami ”
Mundur Rekyana patih, undanging prawadya sami sawega, umyung ramya swaraning bendhe beri gubar gurnang kalawan puksur tambur myang suling pepandhen daludag bendhera miwah kakondha warna pindha jala dian ooong asri kawuryan.
Greg ..greg handheman ingkang jaran ngrik magalak, genti manitih pamekakira risang, sudarsana dhahat kendhali rangah manjing , lak-lakaning kuda, ngrik mijil rah kadya tuk sumarambah ooong...
Mung ... jir, mung ... jir, Ong Yaksa temahan krura srumaut yitna sang narpadmaja ooong...
”Nuwun keparenga matur bilih pasukan pencoleng dan bramacorah sudah sami siyaga, tinggal menunggu komando mami”, jelas Patih Jentha Yaksa sambil memegangi pedang yang menempel di perutnya yang buncit.
”Ya patih !, kalau begitu kamu tabuh tengara bendhe , tiup terompet, dan pukul bedhug bertalu-talu, menandakan berangkatnya seluruh pasukan”
”Kawula nuwun inggih Mami Bethari, keparenga medal pasilan”
Enjing budhal gumuruh saking Gandamayit nagri, gunging kang bala kuswa, abra busananira lir surya wedalira saking jalanidhi harsa madhangi jagad, duk mungup-mungup aneng sapucuking wukir ooong...
Jumangkah hanggra sru sumbar lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri, ooong...
Terlihat seperti mendung di musim penghujan. Ribuan pasukan pencoleng dan bramacorah yang dipimpin oleh Patih Jentha Yaksa terlihat hitam, gemuruh menakutkan. Tujuannya adalah demo besar-besaran menuntut keadilan Bathara Guru di Kahyangan Suralaya. Kontan para manusia yang sempat melihatnya lari kalang kabut, menyelamatkan diri masuk ke rumah. Tidak jauh dari barisan para pencoleng itu, nampak dua orang kesatria yang tengah bersembunyi di balik mendung. Setelah dilihat dengan seksama dia adalah Prabu Anom Gathutkaca dengan Sang Prabu Sri Bathara Kresna yang tengah menyaksikan peristiwa gaib dengan ngelmu panglemunan.
”Ya Jagad Dewa Bathara, pantes kalau sekarang Nuswantara terkena pageblug , ketaman dahuru yang beraneka ragam, sebab para bramacorah dan pasukan pencoleng telah membuat kerusakan moral di Marcapada, oh walaupun mereka jumlahnya ribuan Gatutkaca tidak akan mundur sarambut”, batin Gatutkaca sambil mengusap tubuh bajanya yang sedikit agak karatan.
”Ada apa kaki Prabu Anom, kok kelihatan ada yang dicemaskan”
”Kasinggihan Wa Prabu, keparenga kula badhe numpes rombongan baju barat menika Wa..”
”Oh iya ngger, sing gedhe kaprayitnanmu”
Buta pandhawa tata gati wisaya indriyaksa sara maruta, paawana bana marga... oong samirana warayang, panca bayu wisikan gulungan lelima ooong...
”Durung adoh lakuku dari kahyangan Dhandhang Mangore, lha kok ini ada satriya gagah perkasa, berbadan serba logam, mencorong seperti pisau stainlees , he Gus berhenti dulu, hayo mengakulah siapa kamu, apa maksudmu menghadangku..”
”Hmm... balik ganti tanya siapa namamu, dan dari mana asalmu, lha kok kamu lancang menginjak-injak tanah yang bukan wilayahmu..”, sahut Gatutkaca ketus
”Jiangkrik keparat, iblis laknat jeg-jegan..”
”Memangnya mau apa ?”, gertak Gatutkaca setengah memancing kemarahan
”Mangertiya kalau aku ini adalah aku Mahapatihnya Prabu Dewa Srani, namaku Patih Jentha Yaksa, mbalik aku pingin tahu siapa nama lu”
”Satriya dari Pringgondani, Prabu Anom Gatutkaca, hayo Jentha Yaksa, jangan kau teruskan niatmu, kembalilah dengan sukarela, atau aku paksa!!!”
”Bojleng-bojleng iblis laknat, menungsa keparat durung tahu work shop ning neraka jahanam, jangankan kau yang hanya badan manungsa, Dewapun akan aku trajang, aku hancurkan, hayo sumingkira , mulihlah Gatutkaca , kasihan kuliahmu durung rampung..”
Tanpa banyak buang waktu, tangan baja Prabu Anom Gatutkaca segera meninju muka Patih Jentha Yaksa ”Cplaasss !!!, glosor”
Jentha Yaksa terjerembab pecah kepalanya. Prabu Anom Gatutkaca segera kembali untuk menemui Prabu Kresna. Tetapi baru saja melangkah beberapa langkah, Patih Jentha Yaksa telah berdiri tegap kemudian dengan sigap menyerang Raden Gatutkaca. Raden Gatutkaca terheran-heran, padahal tubuhnya sudah hancur, la kok bisa kembali pulih tanpa cacat sedikitpun ”Waah gawat ini, aku harus segera menemui Wa Prabu Sri Bathara Kresna”. Gatutkaca segera melesat terbang menemui Kresna.
”Ada apa ngger kok perangmu kelihatan tersendat-sendat, kamu menang apa kalah ?”
”Sebenarnya saya menang, tetapi anehnya setiap dia mati, dia hidup kembali”
”Bukan hal yang aneh ngger, dia itu adalah penjelmaan iblis, dia itu makhluk halus, maka cara melawannya juga harus dengan cara yang halus pula...”
”Terus bagaimana untuk mengalahkannya”
”Ngger ini ada mantra yang bisa engkau ucapkan, ’adeg-adegku ibu pertiwi, pepayungku bapa akasa, kadangku keblat papat, paningalku Jatiwasesa, dudu jatining manungsa nanging cahyaning kang Maha Kawasa, rahayu...rahayu..’ hayo coba tirukan ngger ”
Gatutkaca dengan cekatan mampu mengucapkan mantra dengan sempurna. Prabu Kresna nampak bangga. ”Wah dasar kalau bocah itu lantip mesti mudah menirukan mantra . Maklumlah dia kan calon sarjana sastra STKIP PGRI Pringgondani..”, pujinya. Bersambun
”Nuwun inggih Mami Bethari, keparenga pun abdi medal pasilan badhe persiapan , tata-tata sawega ing karya Mami ”
Mundur Rekyana patih, undanging prawadya sami sawega, umyung ramya swaraning bendhe beri gubar gurnang kalawan puksur tambur myang suling pepandhen daludag bendhera miwah kakondha warna pindha jala dian ooong asri kawuryan.
Greg ..greg handheman ingkang jaran ngrik magalak, genti manitih pamekakira risang, sudarsana dhahat kendhali rangah manjing , lak-lakaning kuda, ngrik mijil rah kadya tuk sumarambah ooong...
Mung ... jir, mung ... jir, Ong Yaksa temahan krura srumaut yitna sang narpadmaja ooong...
”Nuwun keparenga matur bilih pasukan pencoleng dan bramacorah sudah sami siyaga, tinggal menunggu komando mami”, jelas Patih Jentha Yaksa sambil memegangi pedang yang menempel di perutnya yang buncit.
”Ya patih !, kalau begitu kamu tabuh tengara bendhe , tiup terompet, dan pukul bedhug bertalu-talu, menandakan berangkatnya seluruh pasukan”
”Kawula nuwun inggih Mami Bethari, keparenga medal pasilan”
Enjing budhal gumuruh saking Gandamayit nagri, gunging kang bala kuswa, abra busananira lir surya wedalira saking jalanidhi harsa madhangi jagad, duk mungup-mungup aneng sapucuking wukir ooong...
Jumangkah hanggra sru sumbar lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri, ooong...
Terlihat seperti mendung di musim penghujan. Ribuan pasukan pencoleng dan bramacorah yang dipimpin oleh Patih Jentha Yaksa terlihat hitam, gemuruh menakutkan. Tujuannya adalah demo besar-besaran menuntut keadilan Bathara Guru di Kahyangan Suralaya. Kontan para manusia yang sempat melihatnya lari kalang kabut, menyelamatkan diri masuk ke rumah. Tidak jauh dari barisan para pencoleng itu, nampak dua orang kesatria yang tengah bersembunyi di balik mendung. Setelah dilihat dengan seksama dia adalah Prabu Anom Gathutkaca dengan Sang Prabu Sri Bathara Kresna yang tengah menyaksikan peristiwa gaib dengan ngelmu panglemunan.
”Ya Jagad Dewa Bathara, pantes kalau sekarang Nuswantara terkena pageblug , ketaman dahuru yang beraneka ragam, sebab para bramacorah dan pasukan pencoleng telah membuat kerusakan moral di Marcapada, oh walaupun mereka jumlahnya ribuan Gatutkaca tidak akan mundur sarambut”, batin Gatutkaca sambil mengusap tubuh bajanya yang sedikit agak karatan.
”Ada apa kaki Prabu Anom, kok kelihatan ada yang dicemaskan”
”Kasinggihan Wa Prabu, keparenga kula badhe numpes rombongan baju barat menika Wa..”
”Oh iya ngger, sing gedhe kaprayitnanmu”
Buta pandhawa tata gati wisaya indriyaksa sara maruta, paawana bana marga... oong samirana warayang, panca bayu wisikan gulungan lelima ooong...
”Durung adoh lakuku dari kahyangan Dhandhang Mangore, lha kok ini ada satriya gagah perkasa, berbadan serba logam, mencorong seperti pisau stainlees , he Gus berhenti dulu, hayo mengakulah siapa kamu, apa maksudmu menghadangku..”
”Hmm... balik ganti tanya siapa namamu, dan dari mana asalmu, lha kok kamu lancang menginjak-injak tanah yang bukan wilayahmu..”, sahut Gatutkaca ketus
”Jiangkrik keparat, iblis laknat jeg-jegan..”
”Memangnya mau apa ?”, gertak Gatutkaca setengah memancing kemarahan
”Mangertiya kalau aku ini adalah aku Mahapatihnya Prabu Dewa Srani, namaku Patih Jentha Yaksa, mbalik aku pingin tahu siapa nama lu”
”Satriya dari Pringgondani, Prabu Anom Gatutkaca, hayo Jentha Yaksa, jangan kau teruskan niatmu, kembalilah dengan sukarela, atau aku paksa!!!”
”Bojleng-bojleng iblis laknat, menungsa keparat durung tahu work shop ning neraka jahanam, jangankan kau yang hanya badan manungsa, Dewapun akan aku trajang, aku hancurkan, hayo sumingkira , mulihlah Gatutkaca , kasihan kuliahmu durung rampung..”
Tanpa banyak buang waktu, tangan baja Prabu Anom Gatutkaca segera meninju muka Patih Jentha Yaksa ”Cplaasss !!!, glosor”
Jentha Yaksa terjerembab pecah kepalanya. Prabu Anom Gatutkaca segera kembali untuk menemui Prabu Kresna. Tetapi baru saja melangkah beberapa langkah, Patih Jentha Yaksa telah berdiri tegap kemudian dengan sigap menyerang Raden Gatutkaca. Raden Gatutkaca terheran-heran, padahal tubuhnya sudah hancur, la kok bisa kembali pulih tanpa cacat sedikitpun ”Waah gawat ini, aku harus segera menemui Wa Prabu Sri Bathara Kresna”. Gatutkaca segera melesat terbang menemui Kresna.
”Ada apa ngger kok perangmu kelihatan tersendat-sendat, kamu menang apa kalah ?”
”Sebenarnya saya menang, tetapi anehnya setiap dia mati, dia hidup kembali”
”Bukan hal yang aneh ngger, dia itu adalah penjelmaan iblis, dia itu makhluk halus, maka cara melawannya juga harus dengan cara yang halus pula...”
”Terus bagaimana untuk mengalahkannya”
”Ngger ini ada mantra yang bisa engkau ucapkan, ’adeg-adegku ibu pertiwi, pepayungku bapa akasa, kadangku keblat papat, paningalku Jatiwasesa, dudu jatining manungsa nanging cahyaning kang Maha Kawasa, rahayu...rahayu..’ hayo coba tirukan ngger ”
Gatutkaca dengan cekatan mampu mengucapkan mantra dengan sempurna. Prabu Kresna nampak bangga. ”Wah dasar kalau bocah itu lantip mesti mudah menirukan mantra . Maklumlah dia kan calon sarjana sastra STKIP PGRI Pringgondani..”, pujinya. Bersambun
Langganan:
Postingan (Atom)