Gending Sampak bertalu menggema seperti flu babi yang tengah naik daun mengotori otak dokter yang sedang keblinger. Sementara gongso Kiai Guntur madu menggelegar seperti ledakan bom teroris yang memekakkan telinga orang-orang yang lengah dengan kemaksiatan. Raden Werkudara nampak berjalan tertatih-tatih menahan sakit lantaran pahanya abuh terkena tendangan maut Wisanggeni. Demikian juga hal nya dengan Raden Gathutkaca juga tidak bisa menandingi kesaktian Raden Wisanggeni. Sayapnya rusak, baling-balingnya nggak bisa berputar . Raden Gathut jatuh menimpa rumah penduduk. Ia merupakan sekian wayang terbang yang mengalami gagal terbang lantaran sayapnya terkena virus ’gebyah uyah’ flu babu eh flu babi.
”Dhimas Werkudara lan sira ngger Gathutkaca, berhubung kalian ndak bisa menangkap gembong teroris Wisanggeni, ayo sira yayi Werkudara ikut bersamaku mencari bala bantuan, dene sira kaki Prabu Gathutkaca ndak beri amanat reksanen, jaganen keamanan Universitas Ngamarta kene. Lan ing dina Soma Manis iki, sira ndak lantik dadi PJS Rektor Universitas Ngamarta, mangsa borongo, anggonmu milih kroni lan pendamping murih tugasmu bisa lancar ”
”Waaa, iya jlitheng kakangku, hayo ndak derekake, lan kowe Gathut, reksanen amanat sing wis mbok tampa. Aja nganti kowe nguciwakne rama, elinga lelakon nalika kowe dadi LSM biyen, kowe sering nganakake proyek-proyek fiktif, sering njegali prestasi kancamu, sering berbuat curang lan culas, awas yen mbok baleni, kowe ndak udet-udet wetengmu, eling-elingen iki ...”
”Nuwun inggih Wa Prabu, inggih kasinggihan Kanjeng Rama”
Gending Ayak-ayakan segera mengiringi kepergian Prabu Kresna dan Raden Werkudara. Mereka pergi ke arah barat menuju negeri Madukara, tempat Raden Janaka tinggal.
Sementara itu sepeninggal Prabu Kresna dan Raden Werkudara, Universitas Ngamarta nampak kacau balau. Prabu Gathutkaca dan kroni-kroninya ternyata bukanlah orang yang ahli dibidangnya. Mereka hanyalah sosok-sosok ambisius yang gila kekuasaan dan jabatan. Mereka tidak mengerti administrasi, mekanisme struktural, dan menejemen kepemimpinan. Mereka menggunakan politik belah bambu, anak buah diinjak-injak, kepalanya menyembah penguasa di atasnya. Mereka hanya mencari keuntungan pribadi. Terbukti, setiap kegiatan yang menguntungkan dirinya selalu dikuasai, dan dibagi dengan semua kroni. Jabatan rektor baginya adalah sarana untuk menguasai jabatan yang lain. Karakter aslinya sedikit-demi sedikit terkuak. Sifat serakahnya mulai merekah. Rektor, pembantu rektor, baginya masih kurang populer. Kini assesor menjadi media penambah pamor. Ibarat team sepakbola, Universitas Ngamarta telah berubah menjadi kesebelasan anekdot bola. Seorang pelatih yang mestinya hanya memimpin di luar lapangan, kini ia bersama asisten, dan menejernya ikut berlaga dalam sebuah pertandingan betulan. Penonton bersorak-sorai, hiruk pikuk, riuh rendah. Rektor menepuk dada, mengira bahwa mereka mengelu-elukan dirinya. Tak tahunya mereka menertawakan kelakuan pelatih yang tidak tahu diri.
”Nuwun sewu niki mangke pripun nasibe universitas ?” tanya Petruk tiba-tiba
”Wis kowe kabeh aja sumelang. Awake dewe ini kan PNS ta, dadi menawa kampus iki rusak, nasibe awake dewe ora bakal kena pengaruh, awake dewe tetep aman dibayar negera. Wondene jabatan assesor iki idep-idep nggo makili universitas”
”Wooo mewakili kok duwite dipangan dewe, mestinya duwite ya nggo universitas” ujar Bagong ketus
” Hus...lambemu menenga wae Gong, kowe manuta karo ndara Gathut, ndara iku pakare yen mung ngakal-ngakali amrih slamete awake dewe iku. Biyen nalika dadi LSM, isa tuku mobil, isa gawe omah, lan isa nyukupi kebutuhan keluarga, lan tetep aman slamet, ka ngendi duwite ?, la ya saka pintere ndara Gathut ngeguhne dana. Mula gandeng aku iku paham karo beliau mula aku didadekne bendahara kampus, kowe Kang Gareng dadi PR satu, Bagong PR tiga, lan iki awake dewe oleh kanugrahan maneh dadi asesor sertifikasi, hayo...kurang apa nikmate”
Gareng yang mendengar wejangan nampak cengengesan bingung dan ndak mudeng . Dia nampak enjoy saja mendengar wejangan Ki Lurah Petruk Kanthong Bolong. Dia manthuk-manthuk sambil ngantuk dan tetap tidak paham dengan tugas yang diberikan itu.
Gending slendro manyura perlahan-lahan mulai senyap. Nampak di pendapa Padepokan Resi Dewa Bagus, Raden Harjuna tengah mendengarkan wejangan Panembahan Dewa Resi tentang Personality Quotient . Beliau menjelaskan bagaimana seseorang itu mencapai kecerdasan kepribadian agar dicintai Tuhan dan manusia semuanya. Raden Harjuna nampak manthuk-manthuk, paham dengan materi yang disampaikan.Raden Harjuna kemudian mencatatnya pada Laptop bekas yang baru dibelinya dari kepala kampus beberapa hari yang lalu. Tidak beberapa lama, tiba-tiba dari luar telah hadir Prabu Kresna dan Raden Werkudara memasuki ruangan panembahan. Panembahan Dewa Resi segera menyambut kedatangannya.
Kamis, 23 Juli 2009
Sabtu, 18 Juli 2009
Kamis, 16 Juli 2009
Wabup Bilung
KiSetyoHandono
Betapa malangnya nasib bangsa Ngastina setiap lima tahun sekali. Pemilu yang mengatasnamakan kedaulatan rakyat selalu diwarnai oleh prktik-praktik culas, apus-apus, pertikaian, politik uang, hingga terpilihnya tokoh yang ndak memiliki kompetensi di bidangnya, alias politikus ’blo’on’ yang miskin ilmu dan hanya kaya pergaulan dengan masyarakat sekelasnya. Akibatnya tentu saja lahirlah birokrat badut, mirip tayangan ’tukar nasib’. Yaitu adegan parodi yang telah diseting menjadi tontonan pembangkit empati antara kaum berpunya dengan kaum papa. Hasilnya yang kaya tentu saja lebih mengesankan nyali trenyuh dan enak ditonton . Sebaliknya si miskin akan menampilkan ’banyolan-banyolan alami’ lugu, kaku, dan wagu. Mereka disulap menjadi prefesional gadungan, bos gadungan, dan birokrat gadungan. Mereka nampak lucu, salah tingkah, serba wagu, ragu, lugu, panik, dan perasaan-perasaan mencekam yang semakin menambah tumpulnya nalar asli mereka.
Memang, mereka bukanlah profesional sejati. Mereka hanyalah korban demokrasi yang sengaja membungkus dirinya dalam kepalsuan. Mereka hanyalah alat perangkap kedaulatan rakyat untuk bahan pelengkap kebobrokan negeri yang nyaris hancur ini. Mereka tidak salah, mereka juga mempunyai hak mewakili komunitas di belakangnya. Dan mereka berhak menjadi apa saja termasuk menjadi, bupati, wakil bupati, presiden dan wakil presiden. Anda kan tau ta, kalau demokrasi itu dibangun dari suara terbanyak yang dikumpulkan dari modal uang dan janji-janji palsu. Jadi kalau ada orang bermodal banyak kemudian mereka dapat membeli suara rakyat, apa salahnya jika mereka jadi seorang pejabat. Soal kemampuannya tidak ada sama sekali, itu dipikir belakangan. Yang jelas, sekarang ini di samping ada politisi busuk, juga ada pemilih lebih busuk. Mereka mau memilih kalau ada uang masuk di kantongnya dalam jumlah besar. Mereka tidak mau berfikir mendalam tentang kemampuan politisi yang memberinya. Itulah barangkali yang harus dipikirkan oleh seluruh penyelenggara negara. Ketika mengangkat seorang pejabat pemerintahan, semisal bupati dan wakil bupati, seyogyanya diadakan uji kelayaan dan kepatutan. Jangan di kemudian hari, ternyata sang wabup hanyalah si badut, yang hanya pinter mbanyol, ngecuprus bakul umpluk, omongonya monotone, itu-itu melulu, nggak bermutu karena memang miskin referensi dan prestasi. Terakhir adalah ternyata hanyalah potolan SD, dan tukang angkut pasir.
Tidak jauh dari kisah itu. Ki Lurah Togog nampak sungkowo di beranda rumah kriditan yang nampak gawang pintunya ’mengkap-mengkap’. Yang jelas dia bersedih bukan lantaran rumah kreditan yang belum lunas, akan tetapi dia memikirkan Si Mbilung yang tengah menjadi rasanan banyak pejabat. Dia dirasani bukan karena kebijakan yang keliru, akan tetapi karena ketololannya yang tidak bertambah-tambah. Maklumlah Si Mbilung hanyalah berangkat dari tukang angkut pasir, buta hurup lagi. Dia jadi wakil bupati hanya bermodalkan bondo nekat, dari gaco andalan yang tiada satupun yang terdapat dari sebuah partai besar yang mengusungnya. Dia nekat karena tiada dua yang bisa diandalkan. Wis pokoknya’ kucing-kucing diraupi’.
Suatu hari dalam sebuah upacara kenegaraan, sang bupati tidak bisa hadir. Pihak protokoler terpaksa menunjuk Sang Mbilung untuk menjadi inspektur upacara. Sudah bisa Anda bayangkan betapa dalam dada sang wabub berdegup kencang membayangkan upacara yang dihadiri oleh ratusan peserta. Dia nampak bolak-balik bercermin dengan pakaian kebesaran wakil bupati. ”Hormat !! grak... tegaaak grak!!”, dia menirukan para komandan upacara saat memimpin upacara tujuhbelasan di kampungnya. Itupun dia hanya menyaksikan sesaat, saat truk pasirnya dihentikan polisi. Karena pada saat itu bendera sang saka tengah dikibarkan.
Beberapa saat upacara kenegaraan telah dilaksanakan. Beberapa acara telah ia jalankan sesuai dengan gladi resik sore kemarin. Kini tibalah saatnya sang inpektur upacara membacakan petuahnya. Sang ajudan mengulurkan naskahnya. Sang Wakil Bupati tergopoh-gopoh membuka naskah dengan tangan dan hati gemetar.
”Ah sialan, apa ini maksud angka 2 (dua) pada kata bapak, dan ibu ini” batin Sang Wakil Bupati, tidak memahami kode kata ulang, untuk menyebut bapak-bapak dan ibu-ibu...
Dia akhirnya membaca apa adanya yang terdapat dalam tulisan asisten pemerintah daerah
”Bapak dua, ibu dua, saudara dua, dan seluruh peserta upacara yang saya hormati....
Hadirin yang menyimak, nampak plenggang-plenggong belum mudeng dengan apa yang disampaikan wakil bupati. Beberapa saat kemudian gemuruh seluruh peserta tertawa terpingkal-pingkal ketika kata-kata tersebut meluncur tanpa beban dari naskah yang dibacakan wakil bupati.
Sesaat upacara hampir selesai. Komandan upacara mendapat aba-aba penghormatan kepada inpektur upacara. Sang Wabup segera meletakkan tangan kanannya pada ujung topi kebesarannya. Sang komandan menunggu wakil bupati menurunkan tangannya, baru berucap ”tegaaak grak!!”, tapi wakil bupati juga ndak paham dengan aturan itu. Kontan karena sang komandan tidak segera berucap, maka Sang Inspektur wakil bupati mengambil alih ”Tegaaaaak graaaaak ”
Melihat ketololan Mbilung, Ki Lurah Togog nampak jengkel, ia pukulkan tangan kanannya pada jidatnya, mulutnya yang dower ngomel ngalor ngidul, ia memutuskan lari sambil membuang sarung yang mambalut pantatnya. Pikirannya kalut, lupa kalau dia ndak pakai celana dalam..., hoalah Soroita...Soroito, Wabup tolol ora nggenah...
Betapa malangnya nasib bangsa Ngastina setiap lima tahun sekali. Pemilu yang mengatasnamakan kedaulatan rakyat selalu diwarnai oleh prktik-praktik culas, apus-apus, pertikaian, politik uang, hingga terpilihnya tokoh yang ndak memiliki kompetensi di bidangnya, alias politikus ’blo’on’ yang miskin ilmu dan hanya kaya pergaulan dengan masyarakat sekelasnya. Akibatnya tentu saja lahirlah birokrat badut, mirip tayangan ’tukar nasib’. Yaitu adegan parodi yang telah diseting menjadi tontonan pembangkit empati antara kaum berpunya dengan kaum papa. Hasilnya yang kaya tentu saja lebih mengesankan nyali trenyuh dan enak ditonton . Sebaliknya si miskin akan menampilkan ’banyolan-banyolan alami’ lugu, kaku, dan wagu. Mereka disulap menjadi prefesional gadungan, bos gadungan, dan birokrat gadungan. Mereka nampak lucu, salah tingkah, serba wagu, ragu, lugu, panik, dan perasaan-perasaan mencekam yang semakin menambah tumpulnya nalar asli mereka.
Memang, mereka bukanlah profesional sejati. Mereka hanyalah korban demokrasi yang sengaja membungkus dirinya dalam kepalsuan. Mereka hanyalah alat perangkap kedaulatan rakyat untuk bahan pelengkap kebobrokan negeri yang nyaris hancur ini. Mereka tidak salah, mereka juga mempunyai hak mewakili komunitas di belakangnya. Dan mereka berhak menjadi apa saja termasuk menjadi, bupati, wakil bupati, presiden dan wakil presiden. Anda kan tau ta, kalau demokrasi itu dibangun dari suara terbanyak yang dikumpulkan dari modal uang dan janji-janji palsu. Jadi kalau ada orang bermodal banyak kemudian mereka dapat membeli suara rakyat, apa salahnya jika mereka jadi seorang pejabat. Soal kemampuannya tidak ada sama sekali, itu dipikir belakangan. Yang jelas, sekarang ini di samping ada politisi busuk, juga ada pemilih lebih busuk. Mereka mau memilih kalau ada uang masuk di kantongnya dalam jumlah besar. Mereka tidak mau berfikir mendalam tentang kemampuan politisi yang memberinya. Itulah barangkali yang harus dipikirkan oleh seluruh penyelenggara negara. Ketika mengangkat seorang pejabat pemerintahan, semisal bupati dan wakil bupati, seyogyanya diadakan uji kelayaan dan kepatutan. Jangan di kemudian hari, ternyata sang wabup hanyalah si badut, yang hanya pinter mbanyol, ngecuprus bakul umpluk, omongonya monotone, itu-itu melulu, nggak bermutu karena memang miskin referensi dan prestasi. Terakhir adalah ternyata hanyalah potolan SD, dan tukang angkut pasir.
Tidak jauh dari kisah itu. Ki Lurah Togog nampak sungkowo di beranda rumah kriditan yang nampak gawang pintunya ’mengkap-mengkap’. Yang jelas dia bersedih bukan lantaran rumah kreditan yang belum lunas, akan tetapi dia memikirkan Si Mbilung yang tengah menjadi rasanan banyak pejabat. Dia dirasani bukan karena kebijakan yang keliru, akan tetapi karena ketololannya yang tidak bertambah-tambah. Maklumlah Si Mbilung hanyalah berangkat dari tukang angkut pasir, buta hurup lagi. Dia jadi wakil bupati hanya bermodalkan bondo nekat, dari gaco andalan yang tiada satupun yang terdapat dari sebuah partai besar yang mengusungnya. Dia nekat karena tiada dua yang bisa diandalkan. Wis pokoknya’ kucing-kucing diraupi’.
Suatu hari dalam sebuah upacara kenegaraan, sang bupati tidak bisa hadir. Pihak protokoler terpaksa menunjuk Sang Mbilung untuk menjadi inspektur upacara. Sudah bisa Anda bayangkan betapa dalam dada sang wabub berdegup kencang membayangkan upacara yang dihadiri oleh ratusan peserta. Dia nampak bolak-balik bercermin dengan pakaian kebesaran wakil bupati. ”Hormat !! grak... tegaaak grak!!”, dia menirukan para komandan upacara saat memimpin upacara tujuhbelasan di kampungnya. Itupun dia hanya menyaksikan sesaat, saat truk pasirnya dihentikan polisi. Karena pada saat itu bendera sang saka tengah dikibarkan.
Beberapa saat upacara kenegaraan telah dilaksanakan. Beberapa acara telah ia jalankan sesuai dengan gladi resik sore kemarin. Kini tibalah saatnya sang inpektur upacara membacakan petuahnya. Sang ajudan mengulurkan naskahnya. Sang Wakil Bupati tergopoh-gopoh membuka naskah dengan tangan dan hati gemetar.
”Ah sialan, apa ini maksud angka 2 (dua) pada kata bapak, dan ibu ini” batin Sang Wakil Bupati, tidak memahami kode kata ulang, untuk menyebut bapak-bapak dan ibu-ibu...
Dia akhirnya membaca apa adanya yang terdapat dalam tulisan asisten pemerintah daerah
”Bapak dua, ibu dua, saudara dua, dan seluruh peserta upacara yang saya hormati....
Hadirin yang menyimak, nampak plenggang-plenggong belum mudeng dengan apa yang disampaikan wakil bupati. Beberapa saat kemudian gemuruh seluruh peserta tertawa terpingkal-pingkal ketika kata-kata tersebut meluncur tanpa beban dari naskah yang dibacakan wakil bupati.
Sesaat upacara hampir selesai. Komandan upacara mendapat aba-aba penghormatan kepada inpektur upacara. Sang Wabup segera meletakkan tangan kanannya pada ujung topi kebesarannya. Sang komandan menunggu wakil bupati menurunkan tangannya, baru berucap ”tegaaak grak!!”, tapi wakil bupati juga ndak paham dengan aturan itu. Kontan karena sang komandan tidak segera berucap, maka Sang Inspektur wakil bupati mengambil alih ”Tegaaaaak graaaaak ”
Melihat ketololan Mbilung, Ki Lurah Togog nampak jengkel, ia pukulkan tangan kanannya pada jidatnya, mulutnya yang dower ngomel ngalor ngidul, ia memutuskan lari sambil membuang sarung yang mambalut pantatnya. Pikirannya kalut, lupa kalau dia ndak pakai celana dalam..., hoalah Soroita...Soroito, Wabup tolol ora nggenah...
Langganan:
Postingan (Atom)
