Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, saking tyas baliwur, oooong......
Proyek jalan tol yang diminta sebagai jalan untuk rujuknya antara Prabu Bomanarakasura dan Dewi Haknyanawati, adalah proyek ’cassing’ proyek pemborosan yang tidak banyak memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Haknyanawati hanya ingin bersolek , berpenampilan manis, agar kejelekan hatinya tidak nampak. Dia amat paham kalau masyarakat menilai sesuatu dengan kemegahan proyek phisik yang berhasil dibangunnya. Mereka akan bungkam bila proyek ambisius itu terwujud. Akan tetapi sejawat sesama LSM amat paham dengan keculasan Dewi Haknyanawati. Mereka mencibir ulah Haknyanawati yang selalu menelikung dan memperalat teman-temannya untuk mengeruk keuntungan pribadinya semdiri. Contoh kecil adalah sering proposal yang sudah cair, kemudian diaku sebagai hasil jerih payahnya. Padahal orang lain yang bersusah payah mengerjakannya.Bahkan pernah Sang Dewi memalsu tanda tangan Prabu Boma, hanya untuk kepentingan dirinya pula. Saking murkanya, Prabu Bomanarakasura pada waktu itu, memecat dirinya dengan tidak hormat. Dan akhirnya dia kembali lagi dengan sejuta rayuan mautnya. Prabu Boma menerima kedatangannya tanpa rasa curiga.
Kini Dewi Haknyanawati telah menjadi Ratu di Trajutrisna. Dia mempunyai kekuasaan yang tiada batasnya. Semua pos-pos yang menguntungkan dikuasainya. Pembangunan, pengangkatan, dan pemecatan karyawan dilakukannya tanpa musyawarah dengan punggawa Trajutrisna. Dia kini ingin menunjukkan loyalitas kepada yayasan Trajutrisna yang telah memberikan kekuasaan kepadanya. Padahal semua orang sudah tahu kalau dulu dia itu terkenal dengan ’pecundang’ yang selalu ingin nggembosi yayasan. Contoh kecil adalah, dia tidak mau menyekolahkan anaknya di yayasan Trajutrisna. Demikian juga ketika di Trajutrisna sudah ada TK nya, dia bersaiang ingin nggembosi yayasan dengan mendirikan sekolah baru, pun dengan sekolah-sekolah yang lain yang berbau yayasan diapun juga demikian. Bahkan yang terakhir konangan menilap dana ratusan juta, untuk kepentingan pribadinya pula. Dan untunglah sebelum ada pihak-pihak yang komplin dia segera ditawari mbalik lagi ke Trajutrisna, yang waktu itu ada lowongan ratu di sana. Dan akhirnya dengan tipu muslihat, gaya bahasa yang meyakinkan dan terkesan bijaksana, berhasil mengelabuhi hulubalang Kerajaan Trajutrisna hingga sekarang ini.
Trajutrisna kini dalam kondisi yang carut-marut. Dewi Haknyanawati hanya sibuk mencari muka, demi menjaga keamanan jabatanya. Sampai-sampai wisuda prajurit yang baru dilakukan di gedung bundar beberapa pekan yang lalu, nyaris berubah menjadi ajang MoU. Mejeng ora Umum. Bermanis muka di hadapan Prabu Bomanarakasura dengan menelantarkan para wisudawan hingga larut siang dan mengacaukan acara tersebut separti molornya jadwal hingga pengaturan konsumsi yang berantakan.
Sementara itu di negeri Mandura nampak Prabu Baladewa sang Penguasa Daerah Mandura (baca: PDM) tengah dihadap Patih Pragota dan Raden Setyaki. Mereka tengah melaporkan bahwa pembangunan proyek yang dilakukan oleh Dewi Haknyanawati telah melanggar wilayah Mandura. Proyek yang dilaksanakan oleh Patih Pancatnyana itu telah merusak komplek pemakaman Astana Gadamadana. Makam para leluhur negeri Mandura. Patih Pragota dan Setyaki nampak serius menyoroti proyek ngawur tersebut. Akan tetapi Prabu Baladewa sebagai ketua PDM nampak pilon, ndak kuasa mencegah, apalagi sekedar mengingatkan saja. Padahal dia itu terkenal singa panggung yang selalu mudah marah , mengumpat dan menghina di atas podium siapa saja yang nggak disenangi. Tapi kala ia berhadapan langsung dengan saingan politiknya seperti Prabu Kresna, dia mati kutu. Dia kehilangan kata-kata, hilang sifat kepemimpinnya, hilang kebijaksanaannya, hilang kedewasaannya, nggak tegas, dan nggak pemarah lagi. Barangkali semua itu terpengaruh istrinya, Dewi Erawati yang sok keminter, sok kuasa, dan nggak pernah tersenyum dan ramah kepada orang lain. Sehingga kepekaan kepemimpinannya musnah.
Tak terasa negeri Mandura dan juga negeri Trajutrisna sedang digerogoti oleh benalu yang sejatinya. Kini negeri itu tinggal menunggu menjadi negeri yang hancur, meninggalkan puing-puing kemegahan yang telah lama dibangun oleh para leluhur negeri Mandura. Sementara para pejabat telah terlena dengan kemegahan semu. Mereka tergiur oleh proyek-proyek mercusuar, sekedar untuk mencari profit, pujian, dan melanggengkan kekuasaan , serta untuk menutupi pemerintahan yang carut-marut.
Tidak jauh dari sana nampak makelar-makelar jabatan PNS gentayangan menawarkan kenikmatan jabatan. Tak terkecuali pemerintah daerah yang getol menyuarakan pemerintahan yang bersih, ternyata nggak susuai dengan kenyataan. Para calon kepala sekolah bercerita kalau sekarang ini banyak makelar yang menawarkan jasa jabatan. Mereka berasal dari pusat kekuasaan. Wah !!!!
Jumat, 11 Desember 2009
Jumat, 20 November 2009
Boma Ora Trima
Tersebutlah sebuah kisah ada sepasang Dewa dan Dewi konangan berduaan di sebuah kafe remang-remang ndik Kahyangan sana. Kedua pasang dewa itu bernama Bathara Wulan Derma, dan Bathari Wulan Dermi. Anak dari Bathara Darma, dewa yang mengatur gunung Junggiri Swargaloka. Mereka berdua sebenarnya kakak beradik. Akan tetapi karena ayahnya sibuk sendiri, dan dia sering keluyuran berdua, maka suatu hari dia digoda iblis, dan terjadilah pergaulan bebas di kafe remang-remang. Sang Hyang Wenang yang menguasai pimpinan pusat (PP) Kahyangan amat murka dengannya. Maka berdasar surat keputusan senator Kahyangan Suralaya, sepasang dewa yang lagi kasmaran tersebut dikeluarkan dari kahyangan, dan harus menjalani menjadi dewa luar biasa, sejajar dengan titah manusia yang lainnya.
“Jeneng kita sakaloron bakal ulun titisken kepada anak turune Sri Kresna, oleh karena itu sana cari tempatmu menitis di Ngercapada, ulun mung ndongakake muga sira antuk basuki” pinta Dewa Narada sekretaris kahyangan.
Sebelum mereka berpencar, keduanya sudah berjanji untuk sehidup semati membangun mahligai rumah tangga. a dia akan berusaha mencari dan bertemu kapan dan dimana saja. Tan kocapo setelah sepasang kekasih itu turun berpencar, mereka segera mencari anak keturunan Bathara Wisnu alias Kresna. Sang pemuda dewa bertemu dengan Prabu Bomanarakasura, maka dia memutuskan untuk masuk ke dalam raganya.
Nuju ari Soma Manis, akhirnya kedua insan lain jenis yang ketitisan saudara sekandung itu bertemu kembali. Sri Bathara Kresna dan istrinya Bathari Pertiwi segera menikahkan Bomanarakasura dengan Dewi Haknyanawati alias Dewi Mustikawati. Sebuah prosesi pernikahan yang mengundang tokoh-tokoh wayang seantero jagad pewayangan.
Ketika resepsi pernikahan dilaksanakan, tiba-tiba Dewi Haknyanawati melihat ketampanan Raden Samba yang tengah foto bareng di sampingnya. Kontan menjadi goncang hatinya. Kemudian ia berlari menyembah dan memeluk Raden Samba. Prabu Bomanarakasura naik pitam dan marah besar. Ia merasa dipermalukan oleh kekasihnya. Sedangkan Dewi Haknyanawati ingin meralat surat perjanjiannya, dia ingin asmaranya diluruskan, karena selama ini adalah hubungan yang melanggar norma agama. Hubungan kakak dan adik.Dan ternyata cowok tampan itupun ternyata juga putra Sri Kresna, apa salahnya jika ia menyatu dengan Raden Samba.
“Wah kamu itu benar-benar ndak bisa dipercaya, Samba itu adikku lho, kamu kok tega-teganya mengingkariku, he !, coba ‘perhatikan tulisan Anda’ ” Sergah Prabu Boma sambil memperlihatkan secarik daun lontar bermaterai, yang berisi perjanjian asmara antara keduanya.
Dewi Haknyanawati tidak ngrewes semua ucapan Bomanarakasura. Dia selalu membelakangi ketika berdialog. Dan itu berlangsung hingga sekarang. Hal itulah yang membuat Prabu Boma tidak bahagia. Bahkan terdengar kabar kalau Haknyanawati telah menjalin hubungan khusus dengan Raden Samba.
Hanjrah ingkang puspitarum, kasliring samirana mrik ...ooong, sekar gadung kongas gandanya, oooong..., maweh raras renaning driya ooong...
Prabu Boma akhirnya menempuh jalur hukum pergi ke rumah ayahnda dan ibundanya di Dwarawati dan Kahyangan Ekopratolo. Namun sebelum ke sana, ia memutuskan untuk pergi ke Kahyangan Suralaya, meminta rekomendasi dari Sang Hyang Guru sebagai pimpinan pusat (PP) kahyangan. Ia tidak lupa mampir dulu di kedai makanan khas Trajutrisna. Ia membeli enambelas besek sate ayam, dan camilan untuk mempermudah perundingan. Ia kemudian terbang mengangkasa dengan hilikopter basarnas. Tepat jam 9 pagi ia sudah mendarat di Kahyangan Suralaya.
Sementara di sana nampak Bathara Narada tengah membaca koran lokal. Dari bibirnya terlihat senyum mencibir tulisan menggelitik, miskin wawasan, dan ndak memahami karya sastra fiksi, ia memprediksi pastilah dia utusan dari seseorang yang tersinggung oleh karya fiksi tersebut. Menilik nama samaran penulisnya Dewa Syifa, pasti dewa bersih-bersih yang diutus memulihkan nama baik seseorang. Dan itulah menunjukkan bahwa dia memang berperilaku seperti itu. Bathara Narada tertawa terpingkal-pingkal ..”sak iki konangan kowe....” sergah Bathara Narada sambil menaruh koran di meja.
Baru saja Bathara Narada melipat koran dan menenggak secangkir kopi, tiba-tiba dari balik pintu muncul seorang tamu
”Eh mrekencog-mrekencong ana tamu nyelonong, nggawa tenong robyong-robyong gedhene sak genthong, ulun wespadakne iki kaya putu ulun Bomanerakasura, padha raharja ngger...”
”Pangestu pukulun, kalis nir ing sambekala”
”Eh njanur gunung, kowe mrene tanpa ulun timbali ana pari gawe apa Bo?, lha kok iki malah karo nggawa oleh-oleh sak mobil, apa kanggo pelicin piye?”
”Ah niki namung camilan sate khas Trajutrisna kelangenan pukulun Guru dalah Pukulun Kanekaputra...”
”Ah... you aja guyonan lho, ulun sakaloron sak iki iki, lagi berusaha menurunkan kolesterol karo darah tinggi, ulun nyuda daging karo asin-asin, dadi satemu iki ulun tampa wae, nanging ulun wis ora wani dhahar, wis sak iki kowe enggal matura, sebab ulun jam sepuluh mengko arep tindak mesjid khotbah Jumat....”
Selasa, 17 November 2009
Negara tanpa Kerangka
Raras kang halenggah neng aparan rukmi, akarya asmara, hanawung sembada, hawingit weh wing wrin, wimbaning narpati, siniwaka kadya, sang maha Bathara tumurun mandana, pra sidaning dadi, harjaning praja
Tersebutlah di Gupit Mandragini, Sang Prameswari Raja Giyantipura Prabu Karempatnyana, Dewi Mustikawati istri Prabu Bomanarakasura nampak murung, berduka hatinya, duduk membelakangi suaminya yang baru datang dari meeting di pasewakan beberapa jam yang lalu. Prabu Boma nampak bingung, melihat perubahan sikap permaisurinya. Ia mencoba merayu beberapa kali namun sedikitpun Dewi Mustikawati tidak mau membalikkan wajahnya.
”Garwaning pun kakang Dewi Mustikawati?, aku kok jadi ndak mengerti apa maksudmu kok tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?, tolong berbicaralah..”
”Kaka Prabu pepunden kula, sesembahan kawula..” jawab Dewi Mustikawati dengan membelakangi suaminya
”Yaa, bicaralah, apa maumu”
”Aku punya keinginan, dan kakang harus memenuhi semua itu, sekarang berjanjilah”
”Yaa, aku akan berjanji menuruti semua keinginanmu. Apa keinginanmu, seluruh dewa menyaksikan sumpahku ini”
”Kaka Prabu, aku ingin kakang membuatkan jalan yang lurus seperti jalan tol yang mulus antara Giyantipura dan Trajutrisna. Dan kakang harus berjalan di sana lurus tanpa menoleh kanan dan kiri, apalagi berbelok arah...”
”Ha...ha...ha...., oooalaaah kecil itu bocah ayu, jangan kuwatir, nanti akan kakang carikan Dana Alokasi Khusus, dana PNPM mandiri, dansos, dan lain-lain” jawab Prabu Bomanarakasura yang tidak paham dengan bahasa sasmita yang baru saja diucapkan istrinya
”Kula nyuwun paduka prasetya ngugemi janji menika, kaka Prabu?”
”Yaaa, aku bersumpah aku akan menepati janji, dan aku berjanji pula bahwa kraton dan seisinya bakal menjadi milikmu. Namun untuk menunaikan ini semua aku akan minta doa dan restu dari Ramanda Prabu Kresna di Dwarawati, dan ibunda Bethari Pertiwi di Ekopratala..”
”Menapa kula kepareng handherekaken paduka ?”
”Waah ora usah nanti malah ngriwuk-ngriwuki lakuku, wis yayi aku njaluk pamit, reksanen praja Trajutrisna lan Giyantipura”
”Kasinggihan kaka prabu, sugeng tindak...” jawab Dewi Mustikawati sewot
Prabu Bomanarakasura segera berjalan memanggil sopir pribadinya dan meluncur dengan mobil kijang warna biru menuju negeri Ekopratolo tempat ibundanya.
Sementara itu Patih Pancatnyana nampak panik dan nggondhok hatinya. Ia ndak terima dengan omelan Prabu Kresna tempo hari. Kalau bukan mertua Prabu Boma pastilah ia sudah dilumat habis-habisan. Untunglah Patih Pancatnyana masih bersabar hatinya. Kemudian ia segera merogoh celana jins-nya mengambil HP, menelpon komandan prajurit Ditya Satrutapa dan Ditya Satrutama untuk segera menemuinya
”He!, lu lagi ngapain ?”
Ditya Satrutapa bangun terkesiap!, ia segera mencari arah suara alarm HP yang berdering.
“Oh, kasinggihan gusti!”
“Lu segera ke sini, cepaaat !!” teriak Patih Pancatnyana lewat HP-nya
“Oh siap !! gusti” jawab Dityo Satrutapa sambil berlari
Tidak beberapa lama Dityo Satrutapa dan Ditya Satrutama sudah datang menghadap bersama ratusan prajurit.
“Wonten dhawuh manapa Patih”
“Iki begini, ... lu berdua kan selama ini belum pernah menunjukkan baktimu pada negara ta?”
“Maksudipun??”
“Seprana-seprene kowe sakaloron itu kan belum naik pangkatnya ta?, nah iki gusti prabu bakal mengadakan kenaikan pangkat bagi prajurit yang setia mendarmakan baktinya kepada beliau. Tidak tanggung-tanggung, bagi siapa yang berprestasi tinggi bakal mendapatkan pangkat yang tinggi, itupun masih ada syaratnya, yaitu bagi mereka yang tidak berkelamin ganda, atau tidak menjabat dilain tempat, atau telah memperoleh sertifikasi di tempat lain, kalau demikian berarti mereka telah berani menyaingi kekuasaan tertinggi di negeri ini, piye kowe sakaloron wis siap?”
“Wah lha ya siap ta Patih, terus tugas kami apa?”
”Kowe sakaloron tak kon ngrebut bojone Raden Samba, gawanen mlayu, sowanna marang Prabu Boma”
”Lho ???”
”Aja sumelang, gusti dhewe sing pingin ngersakake, arep digarwa. Bener dheweke ijik adik ipare, nanging Prabu Boma wis kandung gandrung kapirangu, mula kowe kudu bisa nyowanake. Yen kowe gagal taruhannya adalah jabatanmu. Kursimu bakal digantikan oleh orang lain, alias kowe bakal nampa pidana pemecatan, bareng karo para prajurit sing jumlahe ana 30 wong. Malah iki SK pemecatan kanggomu uga wis rampung disiapake, sak mangsa kowe gagal nindakake tugas iki, surat pemecatan langsung ndak kekne kowe…”
Ditya Satrutapa ndak begitu nggubris dengan gertak sambal yang tidak didasari oleh landasan hukum tersebut. Ia menganggap keputusan itu adalah keputusan liar. Keputusan pemerintahan tanpa kerangka.
Tersebutlah di Gupit Mandragini, Sang Prameswari Raja Giyantipura Prabu Karempatnyana, Dewi Mustikawati istri Prabu Bomanarakasura nampak murung, berduka hatinya, duduk membelakangi suaminya yang baru datang dari meeting di pasewakan beberapa jam yang lalu. Prabu Boma nampak bingung, melihat perubahan sikap permaisurinya. Ia mencoba merayu beberapa kali namun sedikitpun Dewi Mustikawati tidak mau membalikkan wajahnya.
”Garwaning pun kakang Dewi Mustikawati?, aku kok jadi ndak mengerti apa maksudmu kok tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?, tolong berbicaralah..”
”Kaka Prabu pepunden kula, sesembahan kawula..” jawab Dewi Mustikawati dengan membelakangi suaminya
”Yaa, bicaralah, apa maumu”
”Aku punya keinginan, dan kakang harus memenuhi semua itu, sekarang berjanjilah”
”Yaa, aku akan berjanji menuruti semua keinginanmu. Apa keinginanmu, seluruh dewa menyaksikan sumpahku ini”
”Kaka Prabu, aku ingin kakang membuatkan jalan yang lurus seperti jalan tol yang mulus antara Giyantipura dan Trajutrisna. Dan kakang harus berjalan di sana lurus tanpa menoleh kanan dan kiri, apalagi berbelok arah...”
”Ha...ha...ha...., oooalaaah kecil itu bocah ayu, jangan kuwatir, nanti akan kakang carikan Dana Alokasi Khusus, dana PNPM mandiri, dansos, dan lain-lain” jawab Prabu Bomanarakasura yang tidak paham dengan bahasa sasmita yang baru saja diucapkan istrinya
”Kula nyuwun paduka prasetya ngugemi janji menika, kaka Prabu?”
”Yaaa, aku bersumpah aku akan menepati janji, dan aku berjanji pula bahwa kraton dan seisinya bakal menjadi milikmu. Namun untuk menunaikan ini semua aku akan minta doa dan restu dari Ramanda Prabu Kresna di Dwarawati, dan ibunda Bethari Pertiwi di Ekopratala..”
”Menapa kula kepareng handherekaken paduka ?”
”Waah ora usah nanti malah ngriwuk-ngriwuki lakuku, wis yayi aku njaluk pamit, reksanen praja Trajutrisna lan Giyantipura”
”Kasinggihan kaka prabu, sugeng tindak...” jawab Dewi Mustikawati sewot
Prabu Bomanarakasura segera berjalan memanggil sopir pribadinya dan meluncur dengan mobil kijang warna biru menuju negeri Ekopratolo tempat ibundanya.
Sementara itu Patih Pancatnyana nampak panik dan nggondhok hatinya. Ia ndak terima dengan omelan Prabu Kresna tempo hari. Kalau bukan mertua Prabu Boma pastilah ia sudah dilumat habis-habisan. Untunglah Patih Pancatnyana masih bersabar hatinya. Kemudian ia segera merogoh celana jins-nya mengambil HP, menelpon komandan prajurit Ditya Satrutapa dan Ditya Satrutama untuk segera menemuinya
”He!, lu lagi ngapain ?”
Ditya Satrutapa bangun terkesiap!, ia segera mencari arah suara alarm HP yang berdering.
“Oh, kasinggihan gusti!”
“Lu segera ke sini, cepaaat !!” teriak Patih Pancatnyana lewat HP-nya
“Oh siap !! gusti” jawab Dityo Satrutapa sambil berlari
Tidak beberapa lama Dityo Satrutapa dan Ditya Satrutama sudah datang menghadap bersama ratusan prajurit.
“Wonten dhawuh manapa Patih”
“Iki begini, ... lu berdua kan selama ini belum pernah menunjukkan baktimu pada negara ta?”
“Maksudipun??”
“Seprana-seprene kowe sakaloron itu kan belum naik pangkatnya ta?, nah iki gusti prabu bakal mengadakan kenaikan pangkat bagi prajurit yang setia mendarmakan baktinya kepada beliau. Tidak tanggung-tanggung, bagi siapa yang berprestasi tinggi bakal mendapatkan pangkat yang tinggi, itupun masih ada syaratnya, yaitu bagi mereka yang tidak berkelamin ganda, atau tidak menjabat dilain tempat, atau telah memperoleh sertifikasi di tempat lain, kalau demikian berarti mereka telah berani menyaingi kekuasaan tertinggi di negeri ini, piye kowe sakaloron wis siap?”
“Wah lha ya siap ta Patih, terus tugas kami apa?”
”Kowe sakaloron tak kon ngrebut bojone Raden Samba, gawanen mlayu, sowanna marang Prabu Boma”
”Lho ???”
”Aja sumelang, gusti dhewe sing pingin ngersakake, arep digarwa. Bener dheweke ijik adik ipare, nanging Prabu Boma wis kandung gandrung kapirangu, mula kowe kudu bisa nyowanake. Yen kowe gagal taruhannya adalah jabatanmu. Kursimu bakal digantikan oleh orang lain, alias kowe bakal nampa pidana pemecatan, bareng karo para prajurit sing jumlahe ana 30 wong. Malah iki SK pemecatan kanggomu uga wis rampung disiapake, sak mangsa kowe gagal nindakake tugas iki, surat pemecatan langsung ndak kekne kowe…”
Ditya Satrutapa ndak begitu nggubris dengan gertak sambal yang tidak didasari oleh landasan hukum tersebut. Ia menganggap keputusan itu adalah keputusan liar. Keputusan pemerintahan tanpa kerangka.
Langganan:
Postingan (Atom)