Riris harda palwa nuting ranu, oooong dres ing karsaningsun dening kanyut , ling ira Gusti, wohing kamal mirah ingsun, ooong... esemira duking uni, ooong sidat agunging narmada sajroning aguling pangucaping janma nendra teka tansah dadi linduran kewala ooong...
Salah satu tokoh penting yang menanam budaya korupsi di negeri Trajutrisna adalah Raden John Perkins. Tokoh wayang mancanegara yang gentayangan di negeri ini dengan jaringan korporatokrasi, sebuah kejahatan yang bertujuan memetik laba melalui korupsi. Tugas Raden Perkins adalah menyusup dan membujuk pejabat-pejabat negara seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, lurah, rektor, kepala sekolah, kepala dinas, hingga perorangan yang dipandang bisa diajak kerjasama, seperti tokoh agama; ulama, biksu, pendeta, BPH, dll. Mereka dipaksa untuk mau melayani kebijakan-kebijakan pribadinya dengan menghadiahkan kemewahan, proyek-proyek, dan kontrak-kontrak politis berupa jabatan-jabatan struktural. Perkins sangat berambisi menguasai dan mengendalikan dunia.
Pada masa awal kepemimpinannya Prabu Bomanarakasura di Trajutrisna, Parkins dan bandit ekonomi lainnya mendapatkan kesempatan berkuasa di sebuah universitas swasta Trajutrisna. Bahkan Parkins menuai sukses besar. Mereka dinyatakan lulus sebagai bandit ekonomi dan politisi dengan menaklukkan Bagindha Putri Haknyanawati (BPH) dan Penguasa Daerah Mandura (PDM). Mereka sengaja kongkalikong dengan kedua tokoh tersebut dalam rangka memperkaya diri dan koleganya agar mereka tetap royal kepada korporatokrasinya. Hutang yang menggunung akan semakin menguntungkan persekongkolan itu.
Dalam menjalankan aksinya, Parkins bekerja keras membuat laporan proyek-proyek fiktif untuk IMF dan World Bank agar mau mengucurkan hutang yang tidak mungkin mampu dibayar Prabu Bomanarakasura. Tujuan utamanya cukup jelas (selain untuk mengelabuhi masyarakat terhadap kemegahan bangunan) Perkin mengharapkan agar tampuk kepemimpinannya bisa diperpanjang, sehingga jalinan korporatokrasi itu tetap berjalan langgeng. Bahkan kini terbetik kabar ada 30 proyek dari seorang politisi yang bakal mengucur ke Trajutrisna. Kesempatan itu tentu saja digenggam erat untuk ’tebar pesona’ sambil membusungkan dada ”ini lho perjuanganku, jerih payahku, hebat kan?”
Begitulah sejarah perjalanan korupsi di Trajutrisna. Dan hasilnya kini terasa juga di lembaga mulia yang namanya lembaga pendidikan dan birokrasi. Di lembaga pendidikan tidak jarang kita jumpai praktik korupsi dan manipulasi. Kasus ulangan umum bersama adalah contoh kecil betapa MKKS yang notabene sebagai pencerah terselenggaranya KTSP secara utuh dan mantab, justru menjadi korporatokrasi yang manghambat dan menghancurkan makna KTSP itu sendiri. Wong KTSP kok ada ulangan bersama? Paham nggak sih mereka itu? Dan masyarakatpun mencibir, pastilah mereka hanya untuk mencari keuntungan semata dari ulangan umum bersama itu. Atau barangkali pengawasnya menderita penyakit rabun ?.
Demikian juga dengan birokrasinya. Mereka berangkat dari parpol yang penuh dengan politikus, alias tikus-tikus yang mengusung botoh-botoh judi. Merekapun kini terlilit hutang yang menggunung. Pikirannya hanya berupaya bagaimana modalnya bisa kembali. Oleh karena itu tidak cukup satu periode saja untuk menutupi kekurangan itu. Dan kini kesempatan untuk mendaftar kembali menjadi CABUP. Segala upaya dilakukan, yang penting cita-citanya tercapai. Maka tidak jarang cabub adalah calon bubrah pikirannya. Daftar saja kalau ndak percaya!!!
Kamis, 08 Juli 2010
Rabu, 07 Juli 2010
Sang Benalu
Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, saking tyas baliwur, oooong......
Proyek jalan tol yang diminta sebagai jalan untuk rujuknya antara Prabu Bomanarakasura dan Dewi Haknyanawati, adalah proyek ’cassing’ proyek pemborosan yang tidak banyak memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Haknyanawati hanya ingin bersolek , berpenampilan manis, agar kejelekan hatinya tidak nampak. Dia amat paham kalau masyarakat menilai sesuatu dengan kemegahan proyek phisik yang berhasil dibangunnya. Mereka akan bungkam bila proyek ambisius itu terwujud. Akan tetapi sejawat sesama LSM amat paham dengan keculasan Dewi Haknyanawati. Mereka mencibir ulah Haknyanawati yang selalu menelikung dan memperalat teman-temannya untuk mengeruk keuntungan pribadinya sendiri. Contoh kecil adalah sering proposal yang sudah cair, kemudian diaku sebagai hasil jerih payahnya. Padahal orang lain yang bersusah payah mengerjakannya.Bahkan pernah Sang Dewi memalsu tanda tangan Prabu Boma, hanya untuk kepentingan dirinya pula. Saking murkanya, Prabu Bomanarakasura pada waktu itu, memecat dirinya dengan tidak hormat. Dan akhirnya dia kembali lagi dengan sejuta rayuan mautnya. Prabu Boma menerima kedatangannya tanpa rasa curiga.
Kini Dewi Haknyanawati telah menjadi Ratu di Trajutrisna. Dia mempunyai kekuasaan yang tiada batasnya. Semua pos-pos yang menguntungkan dikuasainya. Pembangunan, pengangkatan, dan pemecatan karyawan dilakukannya tanpa musyawarah dengan punggawa Trajutrisna.
Dan kini lucunya ia menunjukkan seolah-olah ia yang paling loyal kepada negeri Trajutrisna. Padahal semua orang sudah tahu kalau dulu dia itu terkenal dengan ’pecundang’ yang selalu ingin nggembosi yayasan. Contoh kecil adalah, dia tidak mau menyekolahkan anaknya di yayasan Trajutrisna. Demikian juga ketika di Trajutrisna sudah ada TK nya, dia bersikeras mendirikan sekolah baru, pun dengan sekolah-sekolah yang lain yang berbau yayasan diapun juga demikian. Bahkan yang terakhir konangan menilap dana ratusan juta, untuk kepentingan pribadinya pula.
Trajutrisna kini dalam kondisi yang carut-marut. Dewi Haknyanawati hanya sibuk mencari muka, untuk menjaga keamanan jabatanya. Sampai-sampai wisuda prajurit yang baru dilakukan di gedung bundar beberapa bulan yang lalu, nyaris berubah menjadi ajang MoU. Mejeng oentoek Umuk. Bermanis muka di hadapan Prabu Bomanarakasura dengan menelantarkan para wisudawan hingga larut siang dan mengacaukan acara ,molornya jadwal hingga pengaturan konsumsi yang berantakan.
Sementara itu di negeri Mandura nampak Prabu Baladewa sang Penguasa Daerah Mandura ( PDM) tengah dihadap Patih Pragota dan Raden Setyaki. Mereka tengah melaporkan bahwa pembangunan proyek yang dilakukan oleh Dewi Haknyanawati telah melanggar wilayah Mandura. Proyek yang dilaksanakan oleh Patih Pancatnyana itu telah merusak komplek pemakaman Astana Gadamadana. Makam para leluhur negeri Mandura.
Patih Pragota dan Setyaki akhirnya melaporkan proyek ngawur tersebut. Namun yang terjadi Prabu Baladewa sebagai PDM bukanya menanggapi akan tetapi ekspresinya nampak dingin-dingin saja dan pilon, ndak kuasa mencegah, apalagi sekedar mengingatkan saja. Padahal dia itu terkenal singa panggung yang selalu jago dan betah ngomong, mudah marah , mengumpat dan menghina di atas podium siapa saja yang nggak disenangi. Tapi kala ia berhadapan langsung dengan benalu yang sesungguhnya, seperti Dewi Haknyanawati keponakannya, dia mati kutu, kehilangan kata-kata, kehilangan sifat kepemimpinnya, kebijaksanaannya, hilang kedewasaannya, nggak banyak omong, dan nggak ngenyekan lagi. Orang kemudian bertanya-tanya, apa barangkali semua itu karena pengaruh istrinya, Dewi Erawati yang punya sifat keminter , sok kuasa tapi tiada seorangpun yang mengakuinya , sehingga keputusasaan dan kejengkelan membelenggu dirinya sehingga emosinya tertumpah kepada suami dan orang lain di sekitarnya.
Tak terasa negeri Mandura dan juga negeri Trajutrisna sedang digerogoti oleh benalu yang sejatinya. Kini negeri itu tinggal menunggu kehancuran, meninggalkan puing-puing kemegahan yang telah lama dibangun oleh para leluhur negeri Mandura. Sementara para pejabat telah terlena dengan kemegahan semu. Mereka tergiur oleh proyek-proyek mercusuaryang bernuansa mencari profit,dan pujian untuk menutupi pemerintahannya yang carut-marut.
Tidak jauh dari sana nampak makelar-makelar jabatan PNS gentayangan menawarkan kenikmatan jabatan. Tak terkecuali pemerintah daerah yang getol menyuarakan pemerintahan yang bersih, ternyata nggak susuai dengan kenyataan. Para calon kepala sekolah bercerita kalau sekarang ini banyak makelar yang menawarkan jasa jabatan. Mereka berasal dari pusat kekuasaan. Wah !!!!
Proyek jalan tol yang diminta sebagai jalan untuk rujuknya antara Prabu Bomanarakasura dan Dewi Haknyanawati, adalah proyek ’cassing’ proyek pemborosan yang tidak banyak memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Haknyanawati hanya ingin bersolek , berpenampilan manis, agar kejelekan hatinya tidak nampak. Dia amat paham kalau masyarakat menilai sesuatu dengan kemegahan proyek phisik yang berhasil dibangunnya. Mereka akan bungkam bila proyek ambisius itu terwujud. Akan tetapi sejawat sesama LSM amat paham dengan keculasan Dewi Haknyanawati. Mereka mencibir ulah Haknyanawati yang selalu menelikung dan memperalat teman-temannya untuk mengeruk keuntungan pribadinya sendiri. Contoh kecil adalah sering proposal yang sudah cair, kemudian diaku sebagai hasil jerih payahnya. Padahal orang lain yang bersusah payah mengerjakannya.Bahkan pernah Sang Dewi memalsu tanda tangan Prabu Boma, hanya untuk kepentingan dirinya pula. Saking murkanya, Prabu Bomanarakasura pada waktu itu, memecat dirinya dengan tidak hormat. Dan akhirnya dia kembali lagi dengan sejuta rayuan mautnya. Prabu Boma menerima kedatangannya tanpa rasa curiga.
Kini Dewi Haknyanawati telah menjadi Ratu di Trajutrisna. Dia mempunyai kekuasaan yang tiada batasnya. Semua pos-pos yang menguntungkan dikuasainya. Pembangunan, pengangkatan, dan pemecatan karyawan dilakukannya tanpa musyawarah dengan punggawa Trajutrisna.
Dan kini lucunya ia menunjukkan seolah-olah ia yang paling loyal kepada negeri Trajutrisna. Padahal semua orang sudah tahu kalau dulu dia itu terkenal dengan ’pecundang’ yang selalu ingin nggembosi yayasan. Contoh kecil adalah, dia tidak mau menyekolahkan anaknya di yayasan Trajutrisna. Demikian juga ketika di Trajutrisna sudah ada TK nya, dia bersikeras mendirikan sekolah baru, pun dengan sekolah-sekolah yang lain yang berbau yayasan diapun juga demikian. Bahkan yang terakhir konangan menilap dana ratusan juta, untuk kepentingan pribadinya pula.
Trajutrisna kini dalam kondisi yang carut-marut. Dewi Haknyanawati hanya sibuk mencari muka, untuk menjaga keamanan jabatanya. Sampai-sampai wisuda prajurit yang baru dilakukan di gedung bundar beberapa bulan yang lalu, nyaris berubah menjadi ajang MoU. Mejeng oentoek Umuk. Bermanis muka di hadapan Prabu Bomanarakasura dengan menelantarkan para wisudawan hingga larut siang dan mengacaukan acara ,molornya jadwal hingga pengaturan konsumsi yang berantakan.
Sementara itu di negeri Mandura nampak Prabu Baladewa sang Penguasa Daerah Mandura ( PDM) tengah dihadap Patih Pragota dan Raden Setyaki. Mereka tengah melaporkan bahwa pembangunan proyek yang dilakukan oleh Dewi Haknyanawati telah melanggar wilayah Mandura. Proyek yang dilaksanakan oleh Patih Pancatnyana itu telah merusak komplek pemakaman Astana Gadamadana. Makam para leluhur negeri Mandura.
Patih Pragota dan Setyaki akhirnya melaporkan proyek ngawur tersebut. Namun yang terjadi Prabu Baladewa sebagai PDM bukanya menanggapi akan tetapi ekspresinya nampak dingin-dingin saja dan pilon, ndak kuasa mencegah, apalagi sekedar mengingatkan saja. Padahal dia itu terkenal singa panggung yang selalu jago dan betah ngomong, mudah marah , mengumpat dan menghina di atas podium siapa saja yang nggak disenangi. Tapi kala ia berhadapan langsung dengan benalu yang sesungguhnya, seperti Dewi Haknyanawati keponakannya, dia mati kutu, kehilangan kata-kata, kehilangan sifat kepemimpinnya, kebijaksanaannya, hilang kedewasaannya, nggak banyak omong, dan nggak ngenyekan lagi. Orang kemudian bertanya-tanya, apa barangkali semua itu karena pengaruh istrinya, Dewi Erawati yang punya sifat keminter , sok kuasa tapi tiada seorangpun yang mengakuinya , sehingga keputusasaan dan kejengkelan membelenggu dirinya sehingga emosinya tertumpah kepada suami dan orang lain di sekitarnya.
Tak terasa negeri Mandura dan juga negeri Trajutrisna sedang digerogoti oleh benalu yang sejatinya. Kini negeri itu tinggal menunggu kehancuran, meninggalkan puing-puing kemegahan yang telah lama dibangun oleh para leluhur negeri Mandura. Sementara para pejabat telah terlena dengan kemegahan semu. Mereka tergiur oleh proyek-proyek mercusuaryang bernuansa mencari profit,dan pujian untuk menutupi pemerintahannya yang carut-marut.
Tidak jauh dari sana nampak makelar-makelar jabatan PNS gentayangan menawarkan kenikmatan jabatan. Tak terkecuali pemerintah daerah yang getol menyuarakan pemerintahan yang bersih, ternyata nggak susuai dengan kenyataan. Para calon kepala sekolah bercerita kalau sekarang ini banyak makelar yang menawarkan jasa jabatan. Mereka berasal dari pusat kekuasaan. Wah !!!!
Langganan:
Postingan (Atom)