BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan pengamatan penulis, kesulitan mewarna batik yang dialami oleh siswa kelas VII adalah kurangnya kemampuan guru –ketika di SD- dalam mengarahkan mereka dalam pelajaran menggambar materi tersebut. Bahkan dari wawancara dengan beberapa siswa, materi menggambar batik itu tidak pernah diberikan oleh gurunya. Penulis memaklumi, karena guru kelas yang disandang oleh guru SD sangatlah berat, sehingga materi menggambar hanya diberikan dengan tugas klasik; menggambar pemandangan dengan dua gunung, matahari, sawah dan bunga. Itupun tanpa bimbingan yang layak, karena kemampuan guru yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, dengan melihat semangat ingin memperbaiki kemampuan siswa dalam berkesenian, khususnya kompetensi menggambar siswa dalam hal membuat desain batik, peneliti berkeinginan merangsang siswa dengan kegiatan mewarna pola batik dengan teknik warna gradasi dan bintik putih. Penulis yakin dengan kegiatan ini akan membangkitkan motivasi siswa dalam menggambar pola batik.
B . Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dicari penyelesaiannya pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah dengan teknik gradasi warna dan bintik putih dapat meningkatkan prestasi siswa dalam menggambar desain batik pada siswa kelas VII di SMPN 2 Kauman?
2. Bagaimana penerapan teknik gradasi warna dan bintik putih untuk meningkatkan prestasi siswa dalam menggambar desain batik pada siswa kelas VII di SMPN 2 Kauman?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan peneleitian ini secara umum adalah untuk meningkatkan prestasi belajar Seni Budaya melalui desain batik pada siswa kelas VII pada siswa kelas VII di SMPN 2 Kauman. Secara lebih rinci penelitian ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan prestasi siswa dalam menggambar desain batik pada siswa kelas VII di SMPN 2 Kauman
2. Mendeskripsikan penerapan teknik gradasi warna dan bintik putih untuk meningkatkan prestasi siswa dalam menggambar desain batik pada siswa kelas VII di SMPN 2 Kauman
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa:
1. Tersedianya media pembelajaran batik khususnya dan seni rupa pada umumnya yang memadai
2. Diketemukannya metode pembelajaran seni budaya yang baru yang seratus persen mengoptimalkan pembelajaran yang berpusat pada kreativitas siswa.
3. Peningkatan prestasi belajar dan keterampilan hidup bagi siswa.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Warna Gradasi
Membuat Gradasi Warna, yaitu mewarnai bidang dengan dua warna atau lebih yang senada, sehingga akan membentuk tingkatan warna, yang biasa disebut dengan GRADASI WARNA. Seperti misal menyambung warna biru tua dengan biru muda , merah dengan oranye atau kuning, hijau tua dan hijau muda, dan seterusnya. Semakin banyak warna yang dipergunakan tentunya akan menimbulkan gradasi warna yang semakin baik, yang dapat menimbulkan kesan tiga dimensi, terlihat sesuai dengan benda aslinya. Pada tingkatan ini anak akan semakin mengerti dan terampil dalam memanfaatkan warna-warna yang ada untuk mendukung gambar yang ada menjadi sebuah karya yang mengagumkan.
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selainitu batik bisa mengacu pada dua hal.Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian darikain. Dalam literatur internasional,teknikini dikenalsebagaiwax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuatdengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik teknologi, serta pengembangan motifdanbudaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 2 Kauman, Jalan Sayang Ayu nomer 2 Kauman Ponorogo. Pembuatan rencana tindakan dilaksanakan 20 Maret 2010. Sedangkan pelaksanaan tindakan dikerjakan pada hari Kamis, 21 April 2010 di kelas VII F sampai dengan 10 Juni 2010.
B. Subyek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII F SMP Negeri 2 Kauman Ponorogo dengan jumlah siswa 36 orang. Nama-nama siswa yang terlibat dilampirkan pada lampiran 1. Guru Seni Budaya yang terlibat pada penelitian ini adalah Arum Amiwati, S.Pd. (41 tahun), sebagai observer, dan guru seni budaya kelas VII A, B, C, dan D.
C. Prosedur Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas untuk mengkaji dan merefleksikan secara mendalam yang terjadi pada proses pembelajaran Seni dan Budaya yang meliputi performance guru, interaksi guru-siswa, interaksi antar siswa, dan hasil karya siswa. Semua itu untuk menjawab permasalahan penelitian.
Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat langkah, yang meliputi; a) perencanaan, yang berisi rumusan masalah, menentukan tujuan, metode penelitian dan membuat rencana tindakan, b) tindakan , berupa upaya nyata untuk merubah kesalahan/kekeliruan yang telah dilakukan, c) observasi, berupa tindakan pengamatan lapangan untuk mengetahui hasil dan kemajuan dalam proses belajar mengajar, dan d) refleksi, mengkaji secara mendalam dan mempertimbangkan keberhasilan dan merekomendasikan tindakan apa yang harus dilakukan pada siklus berikutnya.
2. Pelaksanaan Penelitian
Secara operasional prosedur penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini terperinci sebagai berikut:
Siklus Pertama
Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1) Perencanaan
Peneliti menyiapkan: a) bahan ajar, b) satuan acara pembelajaran (SAP), c) rencana pembelajaran (RP), d) skenario pembelajaran , e) tugas-tugas individu dalam kelompoknya, f) lembar observasi/penilaian.
2) Pelaksanaan
a) Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran menggambar desain batik dengan teknik warna gradasi dan bintik putih
b) Siswa dibagi ke dalam kelompok dengan beranggotakan 2 (dua) orang siswa
c) Peneliti menjelaskan tujuan pembelajaran dan memeragakan langkah-langkah menggambar desain batik dengan teknik warna gradasi dan bintik putih, dengan alat standar spidol warna merk snowman.
d) Peniliti memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk memeragakan teknik warna gradasi dan bintik putih pada desain yang diperagakan guru
e) Peneliti membagi gambar desain batik untuk diwarna secara kelompok
f) Peneliti membimbing pewarnaan yang dikerjakan oleh anggota kelompok dengan menerapkan warna gelap ke warna yang lebih terang. Misalnya; biru tua, biru muda, dan biru laut. Merah, oranye, dan merah muda, dan sebagainya.
3. Pengamatan
a) Peneliti melakukan pengamatan dengan lembar observasi tentang ; kreativitas menggunkan warna gradasi dan aktifitas yang terjadi pada masing-masing siswa.
b) Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan gambarnya, mereka menempelkan di dinding kelas
4) Refleksi
a) Peneliti menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran siklus pertama dan memberikan penilaian hasil gambar siswa.
b) Mencatat segala kekurangan dan kelemahan dan melakukan perbaikan untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
c) Memberikan tugas menggambar desain batik tradisional yang terdapat pada busana/kain yang ada di rumahnya secara individu. Tugas dikumpulkan dua minggu berikutnya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus I disajikan pada Tabel berikut:
Aspek Target Pencapaian Siklus I Cara Mengukur
Kemampuan memilih dan menggunakan warna gradasi 80% Diamati pada saat siswa mewarna gambar desain
Kemampuan siswa membuat bintik putih 75% Diamati pada saat siswa menggambar bintik putih pada desain yang dikerjakan
Ketuntasan hasil belajar 90% Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 6 dinyatakan tuntas
Siklus Kedua
Pada siklus kedua dilakukan tindakan-tindakan dengan menggunakan empat tahapan seperti yang telah dilakukan pada siklus pertama. Pada siklus kedua ini didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama. Semua kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak akan diualang kembali dalam siklus kedua.
Beberapa alternatif perbaikan untuk mengoptimalkan metode penggunaan warna gradasi dan bintik putih pada siklus kedua ini diberikan secara mendetail. Diharapkan dengan langkah-langkah pembaharuan pada siklus kedua ini, siswa lebih paham dan termotivasi untuk menggambar desain batik tanpa sedikitpun timbul keraguan atau kekurangpercayaan terhadap kemampuannya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus II diuraikan pada tabel berikut ini:
Aspek Target Pencapaian Siklus II Cara Mengukur
Kemampuan memilih dan menggunakan warna gradasi 90% Diamati pada saat siswa mewarna gambar desain batik
Kemampuan siswa membuat bintik putih 85% Diamati pada saat siswa menggambar bintik putih pada desain yang dikerjakan
Ketuntasan hasil belajar 100% Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 75 dinyatakan tuntas
3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lembar observasi, kuisener terbuka berupa kesan dan pesan pelaksanaan pembelajaran, tes hasil karya menggambar /mewarna desain batik, dan catatan guru selama proses belajar mengajar. Kuisener terbuka digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang diterapkan guru/peneliti.
Tabel 4 : Sistem Penskoran Gambar Batik
No Kiteria Nilai
1 Warna tidak berurutan sama sekali bintik putih tidak kelihatan 70- 74
2 Warna berurutan bintik putih kurang jelas/kurang rapi 75- 79
3 Warna berurutan bintik putih jelas dan rapi 80- 90
5. Pengumpulan dan Analisa Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi dan tes hasil karya dalam bentuk gambar desain batik yang dihasilkan dari siklus 1 dan siklus 2. Teknik dokumentasi untuk mengetahui kemampuan siswa secara klasikal dan individual. Teknik observasi digunakan untuk merekam kualitas proses belajar mengajar dengan menggunakan kamera video. Sedangkan tes mewarna/menggambar digunakan untuk mengetahui kualitas hasil belajar.
Data hasil observasi , catatan guru, dan hasil karya siswa dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui kualitas belajar mengajar. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan kualitas hasil belajar dilakukan skor individu baik berupa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran maupun pada hasil gambar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a.1.2 Hasil Pengamatan Siklus I
1. Siswa belum memahami sepenuhnya, maksud warna gradasi
2. Siswa belum bisa membuat bintik putih pada desain
a.1.3 Refleksi Siklus I
1. Peneliti membuatkan empat macam desain terbaru untuk dilakukan pewarnaan ulang yang dilakukan secara individu (Lihat pada lampiran)
2. Lima siswa ( 1. Aditya Bayu, 2. Desi Ayu, 3. Fitriana Febrianti, 4. Marlena, dan 5. Nia Astia ) diberikan desain gambar batik terbaru dan diberi pengarahan cara mewarna.
3. Bagi siswa yang telah lulus, diberi tugas menggambar desain batik sesuai dengan kreativitasnya sendiri. (Bagi peneliti dapat dijadikan ukuran semangat siswa dalam menerima pembelajaran desain batik dengan teknik warna gradasi dan bintik putih)
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Teknik pewarnaan gradasi yang diberikan kepada siswa dengan cara dibimbing, didikte dan diarahkan dengan berulang-ulang akan memberikan dampak positif berupa keberanian siswa dalam melahirkan imajinasi bentuk-bentuk baru dan pewarnaan bidang-bidang gambar. Karena selama ini para siswa tersebut belum tahu bagaimana cara mengolah warna yang baik dan bagaimana cara menerapkannya. Sehingga mereka belum punya keberanian mewarna dan menggambar, bentuk-bentuk yang disukainya.
B. Saran-Saran
Berdasarkan pengamatan penulis, anak mengalami kesulitan menggambar adalah karena belum ada yang membimbing dengan benar dan terarah. Mereka adalah anak-anak yang memiliki bakat, tetapi belum pernah tersentuh pengalaman yang menjawab semua keraguan yang ada di benak pikirannya. Untuk itu besar artinya bagi mereka panduan yang mendetail dalam bidang mewarna dan menggambar. Guru seni budaya sebaiknya adalah sosok professional yang memahami bidang dan kebutuhan anak didiknya.
Jumat, 14 Januari 2011
Petruk dadi Ratu Ki Setyo
Dalam filsafat jawa nilai dasar ontologis kehidupan diejawantahkan di dalam bentuk seni wayang. Maka dalam wayang akan menunjukkan ciri-ciri dasar filsafat jawa didalam pergelarannya, sehingga dasar ontologis bagi wayang adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan atau kasunyatan. Kesempurnaan atau kasunyatan itu tidak saja harus bersifat rasional dan empiris tetapi juga harus mengandung unsur rasa yang menjadi ciri khasnya. Dengan demikian, wayang akhirnya dikontekskan dengan rasa dalam kehidupan nyata manusia
Jika Anda nonton wayang purwa, baik yang dipagelarkan semalam maupun yang dipergelarkan padat, maka jika direnungkan benar-benar didalamnya terkandung banyak nilai serta ajaran-ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa medium yang lain didalamnya banyak mengandung nilai dan filosafi.
Secara gampang, bila Anda memerhatikan simpingan wayang, maka Anda telah mempunyai penilaian. Bahwa simpingan kanan melambangkan tokoh yang baik, simpingan kiri melambangkan tokoh yang jelek atau buruk. Demikian halnya jika Anda melihat perangnya wayang, maka wayang yang diletakkan atau diperangkan dengan tangan kiri sering mengalami kekalahan. Tetapi hal ini tidak semua benar. Seringkali dalam alam kasunyatan justru bangsa atau orang yang buruk/ jahat, bodoh, banyak uang, banyak dukungan, seringkali mendapatkan ‘kemenangan’.
Sekarang mari kita simak kisahnya Si Petruk.
Dalam jagat pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia tokoh yang selalu hadir ketika suasana buntu, membeku, dan menjadi tokoh ‘satir’ ketika priyayi andalannya ternyata mengecewakan publik. Dengan demikian ia hadir sebagai pemimpin atau tokoh keterpaksaan karena tidak ada pilihan lain.
Kehadiranya selalu dengan gaya humor, ngelantur, omong kosong, ngalor ngidul dan menghibur. Memecah kebekuan, menghalau kesunyian dan menebarkan kesahajaan. Ia seorang abdi yang selalu lekat dengan kaum priyayi. Ia merepresentasikan kaum kecil, berpendidikan rendah, dan merakyat. Ia pun sebenarnya pernah sekolah, tapi nggak lulus, kemudian menempuh ‘kejar paket’, hanya untuk label etiket.
Selang beberapa tahun kemudian, kariernya meroket. Ia duduk-duduk dan masuk dalam link pemerintahan Pandawa dan bala tengen. Ia sering ikut priyayi besar dalam acara-acara kenegaraan dan peperangan. Ia pun akhirnya berfikir bagaimana agar dirinya sejajar dengan priyayi atasannya. Maka ia pun menempuh kuliah ‘instan’ di pertapan ‘Tanpakariya’, dan berkat kesaktiannya, ia pun menyandang gelar sarjana. Sarjana hiburan, untuk pantas-pantasan, untuk menghibur hatinya agar kelihatan mentereng di hadapan priyayi juragannya.
Yang jelas, walau gelar sarjana sudah menempel. ia sendiri nggak paham dengan gelar kesarjanaannya, apa keahliannya, bagaimana menerapkannya, dan bagaimana prosesnya. Yang penting gelar sarjana sudah melekat di pundaknya. Yang penting lagi, orang desa semakin bangga dengan dirinya. Di samping ia merakyat, ia juga sarjana. Maka tak heran, pada waktu pilkades, ia pun terpilih menjadi lurah, yang didukung penuh oleh rakyatnya. Gelar barunya Ki Lurah Petruk Kanthong Bolong.
Sekarang kita kembali pada kisah di atas. Pada suatu hari, Bambang Pecruk Panyukilan ingin berkelana mencari lawan tanding, guna menguji kekuatan dan kesaktiannya. Semua rapalan mantra, ajian kebal, senjata pethel sakti, keris junjung luhur, junjung derajat, dan lainnya, telah disiapkan dalam ransel dan lipatan sarungnya.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang tengah refreshing jogging di atas bukit, sambil bermain ruyung di tangannya.
Melihat ada orang yang kelihatan kemlelet tergerak hatinya untuk mencoba kekebalannya. Ia pun segera menghampiri pemuda tersebut, dan menantangnya duel.
Tak dinyana, ternyata Bambang Sukodadi pun mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang tengah mengiringi Batara Ismaya menghabiskan masa resesnya di Ngarcapada.
Mereka kemudiaan dilerai dan diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.
Karena wujud tampannya telah rusak gara-gara berkelai tadi, maka mereka pun segera berganti nama. Mereka segera datang di kantor catatan sipil; Pecruk Panyukilan mengubah namanya menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng. Sebuah nama yang indah dan top markotop untuk dirinya, sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai Gatutkaca, sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara negeri Imantaka dan negara Ngamarta.
Di dalam kekeruhan dan kekacauan politik tersebut, Petruk yang biasa blusukan di kampung-kampung itu, mengambil kesempatan mencuri Jamus Kalimasada ndik rumahnya Dewi Mustakaweni , yang kebetulan tengah pergi ke salon kecantikan. Petruk hafal betul dengan kebiasaan Dewi Mustakaweni istri pengusaha terkenal itu. Tepat pada jam 8.00, Petruk berhasil menyelinap di halaman luas dan kamarnya Mustakaweni. Sehingga dengan leluasa, Petruk berhasil mencuri Jamus Kalimasada. Ia pun segera meninggalkan negeri Imantaka, dan segera mensosialisasikan kehebatannya pada penduduk desa di negeri Lojitengara.
Kontan, karena kekuatan dan pengaruhnya Jamus Kalimasada yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Petruk yang dulunya jadi abdi para satriya Pandawa termasuk Prabu Dwarawati, atau Prabu Kresna, kini berbalik, Prabu Kresna dan Pandawa jadi anak buahnya. Ya, kalau dalam tv mirip tayangan ‘tukar nasib’.
Dasar namanya saja Si Petruk, maka dalam masa pemerintahannya penuh dengan ‘lonyotan’, banyolan ngalor-ngidul omongannya ngawur, tak terukur, nggak koneks dengan masalah yang tengah dibicarakan. Setiap memimpin rapat hanya menyerahkan persoalan pada kabagnya. Ia nggak memiliki kompetensi dan nggak nyandak kemampuannya dalam kontek kenegaraan yang lebih luas. Gaya ‘kepala desa’ masih melekat di dalam dirinya. Para kabag, dan camat dan para sarjana sejati yang dulu jadi atasannya, disamakan dengan orang-orang desa yang miskin pengetahuannya. Kadang marah-marah, emosi tinggi gara-gara mereka nggak segera bekerja.”Bekerja apa??, lha wong programnya saja nggak nggenah” kata camat terheran-heran
Prabu Kresna, Puntadewa, Werkudara, Janaka, Nakula dan Sadewa yang menjabat jadi kabag, serta Gathutkaca, Abimanyu, Antarja, Antasena yang menjadi camat, nampak termangu , tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Prabu Welgeduwelbeh yang PD terlalu tinggi. Berkali-kali mereka bertatap muka saling berpandangan geli. Mereka menatap jauh. Pemerintahan nampak mulai rapuh tidak berwibawa lagi. Sang Prabu Welgeduwelbeh semakin mabuk kekuasaan, ia benar-benar nggak faham dengan kepemimpinannya serta kondisi dirinya. “Inilah pemerintahan coba-coba. Yang diaplikasikan dari konsep parsial ‘merakyat’ saja” desah Prabu Kresna mengingatkan
“Werkudara…”
“Apa Jlitheng kakangku”
“Lakon iki kudu ndang dipungkasi, mesakne para kawula lan Negara Ngamarta ing tembe mburi. Mula tugasmu Werkudara, murih lakon iki ndang babar jeneng sira enggal papagen Si Bagong mara..”
Singkat cerita, akhirnya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Ki Lurah Petruk kembali. Petruk yang asli dulu, yang badut dulu, yang kepala desa dulu. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.
Dengan demikian berakhirlah anekdot kepemimpinan di negeri wayang, yang penuh dengan kepura-puraan. Intinya, seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan merakyat saja. Akan tetapi kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional sangat amat diperlukan dalam rangka kebijakan yang sangat strategis dalam kerangka kebutuhan zaman yang semakin canggih. Dan semakin berat tantangannya. Wallahua’lam
Jika Anda nonton wayang purwa, baik yang dipagelarkan semalam maupun yang dipergelarkan padat, maka jika direnungkan benar-benar didalamnya terkandung banyak nilai serta ajaran-ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa medium yang lain didalamnya banyak mengandung nilai dan filosafi.
Secara gampang, bila Anda memerhatikan simpingan wayang, maka Anda telah mempunyai penilaian. Bahwa simpingan kanan melambangkan tokoh yang baik, simpingan kiri melambangkan tokoh yang jelek atau buruk. Demikian halnya jika Anda melihat perangnya wayang, maka wayang yang diletakkan atau diperangkan dengan tangan kiri sering mengalami kekalahan. Tetapi hal ini tidak semua benar. Seringkali dalam alam kasunyatan justru bangsa atau orang yang buruk/ jahat, bodoh, banyak uang, banyak dukungan, seringkali mendapatkan ‘kemenangan’.
Sekarang mari kita simak kisahnya Si Petruk.
Dalam jagat pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia tokoh yang selalu hadir ketika suasana buntu, membeku, dan menjadi tokoh ‘satir’ ketika priyayi andalannya ternyata mengecewakan publik. Dengan demikian ia hadir sebagai pemimpin atau tokoh keterpaksaan karena tidak ada pilihan lain.
Kehadiranya selalu dengan gaya humor, ngelantur, omong kosong, ngalor ngidul dan menghibur. Memecah kebekuan, menghalau kesunyian dan menebarkan kesahajaan. Ia seorang abdi yang selalu lekat dengan kaum priyayi. Ia merepresentasikan kaum kecil, berpendidikan rendah, dan merakyat. Ia pun sebenarnya pernah sekolah, tapi nggak lulus, kemudian menempuh ‘kejar paket’, hanya untuk label etiket.
Selang beberapa tahun kemudian, kariernya meroket. Ia duduk-duduk dan masuk dalam link pemerintahan Pandawa dan bala tengen. Ia sering ikut priyayi besar dalam acara-acara kenegaraan dan peperangan. Ia pun akhirnya berfikir bagaimana agar dirinya sejajar dengan priyayi atasannya. Maka ia pun menempuh kuliah ‘instan’ di pertapan ‘Tanpakariya’, dan berkat kesaktiannya, ia pun menyandang gelar sarjana. Sarjana hiburan, untuk pantas-pantasan, untuk menghibur hatinya agar kelihatan mentereng di hadapan priyayi juragannya.
Yang jelas, walau gelar sarjana sudah menempel. ia sendiri nggak paham dengan gelar kesarjanaannya, apa keahliannya, bagaimana menerapkannya, dan bagaimana prosesnya. Yang penting gelar sarjana sudah melekat di pundaknya. Yang penting lagi, orang desa semakin bangga dengan dirinya. Di samping ia merakyat, ia juga sarjana. Maka tak heran, pada waktu pilkades, ia pun terpilih menjadi lurah, yang didukung penuh oleh rakyatnya. Gelar barunya Ki Lurah Petruk Kanthong Bolong.
Sekarang kita kembali pada kisah di atas. Pada suatu hari, Bambang Pecruk Panyukilan ingin berkelana mencari lawan tanding, guna menguji kekuatan dan kesaktiannya. Semua rapalan mantra, ajian kebal, senjata pethel sakti, keris junjung luhur, junjung derajat, dan lainnya, telah disiapkan dalam ransel dan lipatan sarungnya.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang tengah refreshing jogging di atas bukit, sambil bermain ruyung di tangannya.
Melihat ada orang yang kelihatan kemlelet tergerak hatinya untuk mencoba kekebalannya. Ia pun segera menghampiri pemuda tersebut, dan menantangnya duel.
Tak dinyana, ternyata Bambang Sukodadi pun mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang tengah mengiringi Batara Ismaya menghabiskan masa resesnya di Ngarcapada.
Mereka kemudiaan dilerai dan diberi petuah dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.
Karena wujud tampannya telah rusak gara-gara berkelai tadi, maka mereka pun segera berganti nama. Mereka segera datang di kantor catatan sipil; Pecruk Panyukilan mengubah namanya menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng. Sebuah nama yang indah dan top markotop untuk dirinya, sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai Gatutkaca, sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudian menjadi rebutan antara negeri Imantaka dan negara Ngamarta.
Di dalam kekeruhan dan kekacauan politik tersebut, Petruk yang biasa blusukan di kampung-kampung itu, mengambil kesempatan mencuri Jamus Kalimasada ndik rumahnya Dewi Mustakaweni , yang kebetulan tengah pergi ke salon kecantikan. Petruk hafal betul dengan kebiasaan Dewi Mustakaweni istri pengusaha terkenal itu. Tepat pada jam 8.00, Petruk berhasil menyelinap di halaman luas dan kamarnya Mustakaweni. Sehingga dengan leluasa, Petruk berhasil mencuri Jamus Kalimasada. Ia pun segera meninggalkan negeri Imantaka, dan segera mensosialisasikan kehebatannya pada penduduk desa di negeri Lojitengara.
Kontan, karena kekuatan dan pengaruhnya Jamus Kalimasada yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Petruk yang dulunya jadi abdi para satriya Pandawa termasuk Prabu Dwarawati, atau Prabu Kresna, kini berbalik, Prabu Kresna dan Pandawa jadi anak buahnya. Ya, kalau dalam tv mirip tayangan ‘tukar nasib’.
Dasar namanya saja Si Petruk, maka dalam masa pemerintahannya penuh dengan ‘lonyotan’, banyolan ngalor-ngidul omongannya ngawur, tak terukur, nggak koneks dengan masalah yang tengah dibicarakan. Setiap memimpin rapat hanya menyerahkan persoalan pada kabagnya. Ia nggak memiliki kompetensi dan nggak nyandak kemampuannya dalam kontek kenegaraan yang lebih luas. Gaya ‘kepala desa’ masih melekat di dalam dirinya. Para kabag, dan camat dan para sarjana sejati yang dulu jadi atasannya, disamakan dengan orang-orang desa yang miskin pengetahuannya. Kadang marah-marah, emosi tinggi gara-gara mereka nggak segera bekerja.”Bekerja apa??, lha wong programnya saja nggak nggenah” kata camat terheran-heran
Prabu Kresna, Puntadewa, Werkudara, Janaka, Nakula dan Sadewa yang menjabat jadi kabag, serta Gathutkaca, Abimanyu, Antarja, Antasena yang menjadi camat, nampak termangu , tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Prabu Welgeduwelbeh yang PD terlalu tinggi. Berkali-kali mereka bertatap muka saling berpandangan geli. Mereka menatap jauh. Pemerintahan nampak mulai rapuh tidak berwibawa lagi. Sang Prabu Welgeduwelbeh semakin mabuk kekuasaan, ia benar-benar nggak faham dengan kepemimpinannya serta kondisi dirinya. “Inilah pemerintahan coba-coba. Yang diaplikasikan dari konsep parsial ‘merakyat’ saja” desah Prabu Kresna mengingatkan
“Werkudara…”
“Apa Jlitheng kakangku”
“Lakon iki kudu ndang dipungkasi, mesakne para kawula lan Negara Ngamarta ing tembe mburi. Mula tugasmu Werkudara, murih lakon iki ndang babar jeneng sira enggal papagen Si Bagong mara..”
Singkat cerita, akhirnya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Ki Lurah Petruk kembali. Petruk yang asli dulu, yang badut dulu, yang kepala desa dulu. Kalimasada kemudian dikembalikan kepada pemilik aslinya, Prabu Puntadewa.
Dengan demikian berakhirlah anekdot kepemimpinan di negeri wayang, yang penuh dengan kepura-puraan. Intinya, seorang pemimpin tidak cukup hanya bermodalkan merakyat saja. Akan tetapi kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional sangat amat diperlukan dalam rangka kebijakan yang sangat strategis dalam kerangka kebutuhan zaman yang semakin canggih. Dan semakin berat tantangannya. Wallahua’lam
Minggu, 05 Desember 2010
Paradigma Guru Masa Depan Guru Selalu Belajar OLEH: SETYO HANDONO
Dalam pandangan lama, guru adalah pendidik yang bertugas mengajarkan ilmu kepada siswa di dalam kelas. Ia, adalah tokoh sentral, tokoh serba bisa dan sumber satu-satunya yang mampu menjawab semua masalah materi pelajaran yang terjadi dalam kelas. Guru jaman dulu adalah ‘digugu lan ditiru’, pameo lama yang mengesankan betapa otoritariannya seorang guru dalam memberlakukan ketaatan yang kaku kepada murid-muridnya.
Muhtar Buchori (Kompas, 12 Februari 2010) mengatakan, Belajar dari guru yang terus membaca( belajar : pen.), rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi mau membaca (belajar), seperti minum air comberan.
Tulisan ini serasa membuka mata saya yang tengah terlena dari mimpi-mimpi indah di alam tidur. Saya membayangkan, sendainya di suatu kelas, gurunya mau belajar ( mau belajar mengurai kekurangan dirinya, mau belajar mengenali kebutuhan muridnya, dan mau belajar untuk menemukan solusi pembelajaran inovatif pada mata pelajaran yang diampunya) maka , alangkah dinamisnya sebuah kelas. Guru dan peserta didik sama-sama bersemangat untuk belajar, bertemu dalam satu ruangan. Maka terjadilah interaksi social yang penuh makna, Peserta didik pasti merasakan bahwa kebutuhan spiritualnya terpenuhi. Ia kemudaian akan mencatat dengan tinta emas, seluruh pribadi guru yang bersangkutan di sanubari, disepanjang hidupnya. Pameo ‘ digugu lan ditiru’ benar-benar bukan lagi keterpaksaan, akan tetapi merupakan penghargaan tertinggi, yang lahir dari sanubarinya.
Tulisan di atas harus dijadikan penyemangat bagi guru di Indonesia untuk segera berbenah diri dan instropeksi diri terhadapa semua yang sudah dan yang akan dilakukan. Intinya guru harus senantiasa rajin belajar , senantiasa membaca , senantiasa mengkaji dan senantiasa meneliti, agar kualitas keilmuannya semakin tinggi. Dengan demikian seorang guru akan memiliki ketajaman spiritual, yang menjadikan hati, pikiran, tutur kata, dan perilakunya selalu segar , sejuk, dan membahagiakan kepada peserta didik .
Buat saya pribadi,ketajaman spiritual seorang guru harus senantiasa hadir berdampingan dengan proses belajar dan mengajar di kelas. Ketajaman spiritual , akan melahirkan kerinduan untuk salalu bertemu, berpadu membangun makna dan melahirkan karya-karya nyata yang berharga , dan bermakna bagi hidupnya.
Guru profesional bagi saya bukan datang dari seberapa banyak penghargaan yang didapat. Akan tetapi seberapa dalam kepedulian kita terhadap kebutuhan peserta didik, sehingga mereka mampu membangun hidupnya penuh dengan makna.
Sebab penghargaan sering bersifat nisbi. Ia sering memperlihatkan wajah berserinya ketika tampil di panggung pentas, tetapi ketika ia kembali pada peraduannya, ia seringkali memperlihatkan bentuk aslinya. Guru professional adalah lahir dari kedalaman hati untuk ikhlas memberi dan membangun makna dalam kehidupan nyata. Ia ada, bukan karena ingin dihargai, akan tetapi ia selalu berkarya tanpa mengharap penghargaan.
Masih menurut Mochtar Buchori, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang senantiasa belajar mengistropeksi dirinya, agar selalu berkembang maju.
Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru adalah guru-guru yang mempunya semangat untuk senantiasa maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Bukan guru yang senantiasa berusaha meningkatan kemampuan keuangannya, dan kementerengan hidupnya.
Guru profesional memang enak terdengar di telinga, tetapi serasa berat untuk dijalankan karena beban moral yang harus dijaga. Solusinya hanya satu!, berkaryalah dengan hati sanubari, tanpa mengharap kepada manusia disekitar, akan tetapi semata-mata karena iklhas lahir batin, maka kita akan menemukan makna hidup sebanyak-banyaknya. Isya Allah barokah dunia akhirat. Ingat!!, hidup tidak untuk dipikirkan, akan tetapi untuk dikerjakan.
Muhtar Buchori (Kompas, 12 Februari 2010) mengatakan, Belajar dari guru yang terus membaca( belajar : pen.), rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi mau membaca (belajar), seperti minum air comberan.
Tulisan ini serasa membuka mata saya yang tengah terlena dari mimpi-mimpi indah di alam tidur. Saya membayangkan, sendainya di suatu kelas, gurunya mau belajar ( mau belajar mengurai kekurangan dirinya, mau belajar mengenali kebutuhan muridnya, dan mau belajar untuk menemukan solusi pembelajaran inovatif pada mata pelajaran yang diampunya) maka , alangkah dinamisnya sebuah kelas. Guru dan peserta didik sama-sama bersemangat untuk belajar, bertemu dalam satu ruangan. Maka terjadilah interaksi social yang penuh makna, Peserta didik pasti merasakan bahwa kebutuhan spiritualnya terpenuhi. Ia kemudaian akan mencatat dengan tinta emas, seluruh pribadi guru yang bersangkutan di sanubari, disepanjang hidupnya. Pameo ‘ digugu lan ditiru’ benar-benar bukan lagi keterpaksaan, akan tetapi merupakan penghargaan tertinggi, yang lahir dari sanubarinya.
Tulisan di atas harus dijadikan penyemangat bagi guru di Indonesia untuk segera berbenah diri dan instropeksi diri terhadapa semua yang sudah dan yang akan dilakukan. Intinya guru harus senantiasa rajin belajar , senantiasa membaca , senantiasa mengkaji dan senantiasa meneliti, agar kualitas keilmuannya semakin tinggi. Dengan demikian seorang guru akan memiliki ketajaman spiritual, yang menjadikan hati, pikiran, tutur kata, dan perilakunya selalu segar , sejuk, dan membahagiakan kepada peserta didik .
Buat saya pribadi,ketajaman spiritual seorang guru harus senantiasa hadir berdampingan dengan proses belajar dan mengajar di kelas. Ketajaman spiritual , akan melahirkan kerinduan untuk salalu bertemu, berpadu membangun makna dan melahirkan karya-karya nyata yang berharga , dan bermakna bagi hidupnya.
Guru profesional bagi saya bukan datang dari seberapa banyak penghargaan yang didapat. Akan tetapi seberapa dalam kepedulian kita terhadap kebutuhan peserta didik, sehingga mereka mampu membangun hidupnya penuh dengan makna.
Sebab penghargaan sering bersifat nisbi. Ia sering memperlihatkan wajah berserinya ketika tampil di panggung pentas, tetapi ketika ia kembali pada peraduannya, ia seringkali memperlihatkan bentuk aslinya. Guru professional adalah lahir dari kedalaman hati untuk ikhlas memberi dan membangun makna dalam kehidupan nyata. Ia ada, bukan karena ingin dihargai, akan tetapi ia selalu berkarya tanpa mengharap penghargaan.
Masih menurut Mochtar Buchori, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang senantiasa belajar mengistropeksi dirinya, agar selalu berkembang maju.
Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru adalah guru-guru yang mempunya semangat untuk senantiasa maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Bukan guru yang senantiasa berusaha meningkatan kemampuan keuangannya, dan kementerengan hidupnya.
Guru profesional memang enak terdengar di telinga, tetapi serasa berat untuk dijalankan karena beban moral yang harus dijaga. Solusinya hanya satu!, berkaryalah dengan hati sanubari, tanpa mengharap kepada manusia disekitar, akan tetapi semata-mata karena iklhas lahir batin, maka kita akan menemukan makna hidup sebanyak-banyaknya. Isya Allah barokah dunia akhirat. Ingat!!, hidup tidak untuk dipikirkan, akan tetapi untuk dikerjakan.
Langganan:
Postingan (Atom)