Senin, 04 Juni 2012

EM HA HA HA HA


EM HA… HA… HA… HA…
Ki Setyo Mangoenprodjo
Raden Katong, Kyai Mirah, Patih Seloaji dan Ki Suromenggolo sedang mengadakan pembicaraan serius di sebuah surau. Kali ini berbicara tentang gelar palsu yang digunakan oleh pejabat di kadipaten. “Penggunaan gelar palsu itu, sambungnya, akan berdampak terhadap citra birokrasi pemerintah di daerah, dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat tidak optimal karena perintah atasan tidak akan ditaati oleh bawahannya. Karena apa, lho lah iya ta, lha wong pejabatnya saja tidak tertib hukum kok, mosok kuliah saja gak tahu, SMP dan SMA nya saja Cuma persamaan, lha kok ujuk-ujuk dapat gelar SH, MH, MSi. Orang normal yang cerdas saja sulit menempuh dan meraih gelar sebanyak itu dalam kurun waktu secepat itu, apalagi yang sekolahnya saja nggak beres, baca Pancasila saja nggak becus, ini mesti ada yang nggak beres, tolong paman Suromenggolo sampeyan telisik kebejatan moral iki?”
“Kasinggihan Raden, …ini merupakan prestasi kepemimpinan yang amat buruk, bahkan kepemimpinan amburadul, ngawur, ngisin-isini, seorang pejabat tinggi sudah ngajari tidak jujur, ngajari bohong kepada rakyatnya. Ini pertanda bahwa pemerintah daerah bakal hancur , rusak, Ini perlu segera ada langkah konkrit dari Gubernur untuk mengganti pejabat-pejabat yang menggunakan gelar palsu tersebut, kemudian memprosesnya sesuai ketentuan yang berlaku , Raden!!” , kata Suromenggolo geram.
“ Begini lho Raden,  sesuai UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemakai gelar palsu diancam denda Rp2 miliar dan hukuman penjara 10 tahun. Berita ini, dari sudut penjual dan pembeli gelar, merupakan suatu berita yang menyayat hati. Tatkala ijazah sebagai lambang formal, sebagai bukti otentik bukti yang diakui keabsahannya secara hukum, secara formil yuridis sah, tetapi secara materiil tidak mempunyai nilai bahkan nol besar. Maka orang yang waras mestinya malu memakai gelar palsu ini. Sebab saya yakin kalau hati nuraninya mau dikedepankan maka ‘ menipu diri’ seperti yang pernah ditulis dalam harian local lalu pasti tidak bakal terjadi. Namun demikian Raden, secara psikologis orang-orang berbuat nekad demikian ini lantaran;
1.      Adanya kepribadian yang tidak merasa salah dan tidak malu jika meraih gelar impian dengan cara yang tidak perlu usaha banyak.
2.      Adanya kepribadian narsistik, yaitu gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan superior bahwa dirinya yang paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi, disanjung, kurang empathy, angkuh dan selalu berasa bahwa dirinya layak untuk diperlalukan berbeda dengan dengan orang lain. Perasaan-perasaan tersebut mendorong orang tersebut untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun, misalnya untuk mendapatkan gelar.  Jika sudah mendapatkannya maka orang tersebut akan sangat senang memamerkan gelarnya demi untuk membangkitkan rasa superior tersebut.” Aku memang jegeg, gak ada yang menandingi!”
3.      Adanya kepribadian yang sangat ingin dikagumi.  Pada umumnya para pembeli gelar adalah para individu yang sangat ingin dikagumi orang lain.  Oleh karena itu mereka berusaha keras untuk mendapatkan “simbol-simbol status” yang dianggap menjadi suatu pengangkat derajat sehingga dikagumi.  Obsesi untuk dikagumi ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi sang individu tersebut), misalnya tidak memenuhi syarat jika harus menjalani program pendidikan yang sesungguhnya sehingga akhirnya memilih jalan pintas untuk mendapatkan gelar yang menjadi alat untuk dikagumi itu. Maka jika pakai gelar SH, ya hanya Sarjana Hiburan saja. Atau jika pakai gelar MH, ya sebatas Megister Hampa, alias Megister Hadiah saja. Kosong blong, seperti genthong bolong.
4.      Adanya kepribadian yang angkuh dan sensitif terhadap kritik.  Pada umumnya para penyandang gelar palsu adalah orang-orang yang angkuh dan sensitif terhadap kritik sehingga mereka tidak mau menjalani jalur studi yang umum karena harus melewati proses yang panjang dan seringkali diperhadapkan dengan perdebatan untuk mempertanggungjawabkan pandangannya dalam kelas diskusi atau presentasi.   Seringkali alasan dari para pemilik kepribadian yang angkuh dan sensitif terhadap kritik ini adalah tidak adanya waktu untuk belajar secara normal karena sibuk, padahal sebenarnya hal itu hanya kedok untuk menutup kebodohan pribadinya saja.  Hal itu dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari dari para pribadi yang rusak ini, yaitu angkuh ,sangat sensitif terhadap kritik, bodoh, dhedhel, mudah dikibulin, serakah, rakus, suka berbohong, pinter selingkuh, dan boros.  Jika hal ini dibiarkan terjadi maka orang-orang seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa untuk orang lain, apalagi untuk pemerintah daerah, eeee… sebaliknya malah hanya akan merusak tatanan sosial karena berani-beraninya menggunakan gelar palsu!!” jelas Kyai Mirah mengingatkan.

Kolektor Gelar


Gelar Gak Ngefek
Ki Setyo Racethocarito

Sepertinya sih, orang atau manusia itu bila berkuasa mengira orang yang dibawahnya loyal atau percaya dengan semua sabda-sabdanya. Jawabnya kadang benar dan kadang tidak. Bagi orang yang fanatic karena merasakan manfaat dari sebuah kepemimpinan tersebut,- misal, nak-sanak, kerabat, kroni, tim sukses, sopir sakti, pejabat yang telah diuntungkan, dan orang bodoh yang telah terkontaminasi omongan manis juru kampanye- akan langsung santap semua menu yang muncul dari diri sang pemimpin tanpa reserve terlebih dahulu. Termasuk ketika sang wadip mengatakan bahwa dirinya alumni UGM, pasti deh mereka percaya dan terkagum bahwa dia benar-benar alumni UGM, padahal itu hanya ‘ngapusi’ belaka. Bener UGM tetapi bukan singkatan dari Univ Gajah Mada, tetapi Universitas Gombale Mukiyo… he…he…he…biasaaa, tebar prestasi, biar dikagumi. Akan tetapi bagi lawan politik, dan orang-orang yang pinter, orang-orang yang tahu hati nurani, dan orang cerdas nan bijaksana, akan membuktikan dulu semua omongannya terlebih dahulu, ndak percaya begitu saja. “Masa, sih, kuliah saja nggak pernah, kok tiba-tiba dapat gelar, SH, MH, MSi?????. Paling-paling wisuda dulu baru kuliahnya menyusul… itu pan kalau sempat lho???, he…he…he…
Begitulah, jika kebodohan, dan kelemahan intelektual seorang pemimpin telah menjadi penguasa di sebuah negeri. Ia bakal melahirkan kamuflase, kemunafikan, kebohongan, dan cerita-cerita fiksi, sekedar untuk mengelabuhi rakyat, demi keamanan jabatan, dan kelanggengan proyek-proyek pribadi yang kini tengah dipegangnya. Tentu saja termasuk istana pribadi dan proyek-proyek yang ditenderkan oleh pemerintah (pemerintah kemplo-pret!). Alhasil, ke mana pun mereka sambang –misal tilik desa, tilik sekolah, tilik RT, tilik manten, jagong bayi, kenduri, nyadran, ke hotel, ke warung bakul tahu goreng, dsb. – pastilah syahwat apus-apus, cerita palsu, ijazah palsu, gelar palsu, dan sebagainya, menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan semuanya. Tak heran maka Anggaran pemerintah kadang dipakai untuk nomboki wartawan agar tidak menulis atau menyiarkan kelakuan sang dipati pada media masa, ketika perselingkuhannya dengan WIL konangan di sebuah hotel. Atau juga ketika sang wadip berbohong tentang sekolah ataupun kuliahnya.
Oleh karena itu, sangking gemesnya Petruk dengan Adipati Buto Terong, ia lantas memukul roboh sang dipati pada tanah kemudian menginterograsi sang dipati Terong,sambil menginjak perutnya agar ia mengaku semua perbuatannya. “Heh, dipati Terong!!, hayo enggal ngakua, yen sejatine kowe kuwi wis gawe rusak ing tatanan. Lan ngakuo yen sejatine kowe kuwi ora mampu dadi adipati, hayo coba sak iki tontonen, pemerintahan tambah rusak bubrah, tatanan kenegaraan, tatanan pemerintahan, tatanan surat-menyurat, tatanan jabatan, kabeh wis rusak mblasah ora karu-karuan, iki malah kowe gawe istana pribadi nganggo kayu jati sing olehmu ngrampas, lan kowe sak iki agawe rusaking pawiyatan pendidikan, kumowani nganggo gelar tukon, opo iki sing jenenge adipati sejati kaya sing wis mbok obral ning endi-endi… coba kae delengen, rakyatmu urip kesrakat, coba kae gagasen, pikiren… wong pinter podho thenger-thenger awit ora bisa ngatur negara yen ora biso mbayar, awit ora duwe duwit….oalaaah Teroooong…Terong!”
“Sik Truk!!!, interupsi Truk!!!”
“Ach! Mbuh!!, ra ngurus!!!”
“Eling Truk!!!, Eling Truk!!”
“Iyo !, ngopo?”
“Percuma kowe , milara, arepa mbok intrograsi nganti mecetet, ora bakal klakon bisa nggagas, bisa mikir…sebab pikirane cupet…opo maneh nggagas negara…oh ora kuwat Truk!!, keduwuren…”
“Bener Reng!, oh iyo aku ngke omong opo???”
“Lhadalah, kowe sak iki ketularan penyakite to???”
“Bener Reng… ujug-ujug aku melu kemplo… koyo buto Terong”
“Yo ngono kuwi akibate, yen pemimpine kemplo…oh kabeh menyesuaikan diri dadi aparat kemplo, awit sing dijak komunikasi ugo kemplo, dadi wis pas yen para aparat kadipaten dadi kemplo kabeh…”
“Oalaaaah Gusti!... bener omonganmu Reng!”

(Warning: Cerita ini adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, waktu, dan peristiwa itu hanya kebetulan saja. Jika ada yang tersinggung, marah, apalagi ngamuk, itu berarti pernah, atau sedang melakukan perbuatan itu!!!)


MENDEM GELAR