Siyang pantara ratri, hamung cipta pukulun, ooooong, tanna lyan kang kaeksi, mila katur ingkang cundhamanik, prasasat rageng ulun kang sumembah munggwing padanta prabu , myang kagunganta singsim sasat sampun prapti, katon asta pukulun, wulaten narapati , oooong , rama dewaning sun, ooong….
Tersebutlah dalam suatu cerita, ketika Hyang Resi Narada baru saja seru-serunya berdialog dengan Begawan Kamunayasa serta dengan Bambang Sekutrem dan cantrik Supalwa, tiba-tiba dari depan pintu gerbang istana kahyangan Pangudal-udal muncullah rombongan Kiai Semar Badranaya, tentu saja Bethara Narada terperanjat kaget, lha wong tadi diberitakan oleh protokol istana bahwa mereka masih berada perempatan pasar legi, lha kok jebulnya sudah muncul di dalam istana.
“Waaaaa, pak-pak pong , kayu ngalas entek dicolong blandong, kayu gede panganane pejabate dewe, oh toblas…toblas bondho negara pada amblas, sapa sing salah, bakale seleh, sapa sing luput bakale mawut… oh jawata lan ngulama, aja pijer sira rebutan banda donya , iki ndonya wis tuwa, hayo padha mertobata…, eh kakang Badranaya hayo pinarak , aku sudah ngerti maksud kedatanganmu hayo kakang masuk senthong tengah dulu”
“Eh hiya Nerada, hayo tak derekkan “
Tidak lama kemudian Semar bersama Narada segera memasuki pendapa. Sementara para wartawan yang meliput, tidak diperkenankan masuk, pihak protokoler Pangudal-udal sengaja menempel plakat di pintu masuk bahwa rapat ditutup untuk umum. Semar dalam pertemuan itu segera mengeluarkan brangkas wahyu , Bethara Narada Nampak terkagum-kagum dengan brankas yang kelihatan mencorong menyilaukan. Di atas kotak ada angka tiga digit, sebagai kunci rahasa untuk membuka kotak kencana itu.
“Waaa…, pak-pak pong , pak..pak pong brankas ATM di colong wong.., we iki nomer apa kakang , kotak kok ada nomernya segala, ha…ha…ha “, Tanya Bethara Narada , katrok, alias kampungan dan ndesa .
“Eh iya Nerada , kotak ini ada angka rahasia untuk dapat dibukanya, pikulun Sang Hyang Wenang memberi angka penuh makna, yaitu angka delapan, delapan satu “
“Eh !, aku kok ndak semakin mudeng ta kakang…”
“Oh hiya Nerada, pancen kamu belum mendapatkan cerita dari Alang-alang Kumitir sana, jadi maklum kalau kamu belum tahu”
“Bagaimana sejarah terjadinya angka tersebut kakang ?”
“Begini Nerada, ketika itu yang namanya wahyu Witaradya ramai diperebutkan oleh dua ksatria terkenal yaitu Dewa Srani dan Begawan Kamunayasa. Karena keduanya sama-sama sakti maka Sang Hyang Wenang memanggil keduanya untuk hadir di Alang-alang Kumitir, lantas ada tujuhbelas orang perwakilan yang ditentukan untuk berhak melakukan voting tertutup. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka lobi-lobi politik segera aku lakukan. Hasilnya Dewa Indra, Dewa Brama, Yamadipati, Aku Semar, Bagong, Gareng, Petruk , Cantrik Supalwa, Bambang Sekutrem, Bethara Guru, setuju kalau wahyu itu harus tetap diberikan kepada Begawan Kamunayasa, sementara kubu Bethari Durga cs tidak menghendaki hal itu, di atas kertas voting penentuan siapa yang berhak menerima wahyu dipastikan sudah berada di tangan Begawan Kamunayasa, tapi yang membuat aku kaget setelah voting dilakukan orang-orang yang tadinya setuju itu berkhianat, Bethara Guru ngmpori si Indra karo si Brama untuk mengalihkan suaranya kepada Dewa Srani dulurnya yang tunggal bapak itu, waaaah Bethara guru telah berkhianat !, hasilnya berimbang , Dewa Srani entuk 8 suara,lha si Kamunayasa ya dapat 8 suara, lha wong sing siji lagi pas mumet sirahe … terpaksa ya dicoblos dewe , blussss… sirahe malah tambah ancur“
“Waaaa… suk maneh ndak usah mengadakan deal-deal politik, itu tandanya sampeyan jangan mempercayai kata-kata orang, ujung-ujungnya sok kapusan begitu, lha terus kakang kok membawa wahyu ini kesini bagaimana critanya”
“Iki wis dadi keputusan Sang Hyang Wenang, kalau wahyu Witaradya harus diberikan kepada yang paling berhak, maka daripada itu Nerada, hari ini angka pin 881 itu kamu buka, terus adakan upacara sederhana untuk serah terima wahyu tersebut “
“Oh iya kakang , semuanya sudah saya persiapkan , hayo kita menuju DOME Alang-alang Kumitir, disana para punggawa telah sedia dan siaga”
Bersambung
Selasa, 23 Juni 2009
Paham Keminter
Bethari Durga , Bethara Kala, dan Dewa Srani, hari itu harus mengulang kisinan untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih ingin mengelabuhi Sang Hyang Wenang dengan memba-memba Begawan Kamunayasa, namun akal julignya itu langsung konangan , dan hasilnya bisa diprediksi jauh hari sebelum hari nahas itu terjadi, yaitu kisinan alias kewirangan.
Tapi namanya bukan Bethari Durga kalau sifat nekad itu tidak selalu menyala-nyala. Prinsipnya adalah yang penting asap dapur terus mengepul, entah itu ada dasar hukumnya atau tidak, yang penting kedudukannya di mata para pemujanya harus tetap eksis, omongannya harus tetap dijaga dengan gula murni tetap manis, perintahnya harus disusun bak firman Tuhan, segala gerak-geriknya seakan duplikat nabi, sedangkan laknatnya ibarat lidah malaikat. Cerita melegenda itu harus dikemas secara turun menukik sampai akhir kiamat. Intinya adalah bagaimana agar mereka tidak mengurangi kecemerlangan pundi emas, asap dapur, derajat pangkat, serta harkat, berkat, dan martabak, eh martabat. Jangan coba-coba diungkit-ungkit !, ajaran begitu itu sudah sejak jaman nenek moyang sebagai pelaut, jadi kalau anda baru mengungkitnya sudah kedaluwarsa, dalil otentiknya sudah ndak mempan alias ndak njamani lagi, sekarang adalah jaman demokrasi bung !, siapa yang banyak itulah pemenangnya.
“Sorry mami !, sejak tadi sampeyan kok ngelamun terus ?, menggalih apa mami ?”
“Oh ngger Srani, otaknya mami itu tiada henti selalu mobile berputar-putar memikirkan hal-hal yang positif utamanya memikirkan nasibmu semuanya, sebab mami kuwatir jangan-jangan kamu nantinya ndak bisa mewarisi keculasan ini, untuk itu Kala dan Srani, kamu sebaiknya mau berguru kepada mami mengenai hal itu”
“Waaah mami, ilmu ngawur itu kemarin pernah diterapkan oleh kakang Bethara Kala dan hasilnya seluruh dunia pendidikan di mayapada dibuatnya geger , mereka mengolok-olok kakang Kala, katanya dia itu ndak ngerti soal pendidikan, keminter , sok tahu saja “
“emangnya ngomentari apa dia ?”
“Sekolah standar internasional “
“Bagus ngger !, teruslah kamu berkomentar ngawur, sebab dari kengawuranmu itu maka masyarakat akan semakin kacau, itu fenomena bagus ngger, teruslah jangan sampai berhenti, kalau perlu buatlah komisi baru , yaitu komisi ngawur pengacau opini publik, fungsinya adalah untuk menaikkan pamormu sebagai pewaris kebejatan di Pasetran Gandamayit ini, paham !! “
“Iya mami “, jawab Dewa Srani sambil menyulut puntung rokok tingwe-nya yang nyaris mati.
Tidak lama berselang Bethara Kala yang sedari tadi nguping dari teras pendapa segera bergegas menghampiri ibunya yang tengah duduk menjahit tali kutangnya sendirian…
“Nyak !, katanya kita mau merebut wahyu Witaradya , kapan ? “
“Oh iya Kala, kita ndak boleh membuang kesempatan ini, nanti selepas maghrib kita mengepung Saptaarga dengan kuman sakazaki, setelah itu Begawan Kamunayasa dan anak-anaknya kita rangket, terus wahyu itu pasti segera kita dapatkan”
Bathari Durga yakin bahwa perhitungannya tidak bakal meleset sedikitpun, dia memastikan bahwa Kamunayasa pasti sudah berada di pertapaannya. Untuk itu dengan secepat kilat dia bertiga segera terbang menuju Saptaarga.
Sementara itu Bathara Narada nampak tersenyum simpul, melihat ulah para biang kerok kejahatan dunia asal Pasetran Gandamayit tersebut.
“Ngger Kamunayasa, awakmu jangan kesusu pulang dulu ya, sebab sebentar lagi kakang Semar dan anak-anaknya bakal kemari, untuk itu ngger, ulun meminta dirimu bertiga bersiaga ganti baju keki lengkap dengan atribut pemerintah Pangudal-udal, dan jangan lupa pakai sepatu dan parfum, sebab ini adalah upacara penting buatmu, undangan sudah ulun publikasikan kepada seluruh pejabat penting, untuk itu ngger Kamunayasa awakmu jangan mengecewakan ya “
Dalam hati, Begawan Kamunayasa ndak mudeng blas dengan program protokoler yang di berikan Bethara Narada, untuk itu karena ia hanyalah sebatas bawahan , maka ia milih manut saja. Oleh karenanya dia segera bergegas berdandan sesuai dengan permintaan Ulun Narada.
Tepat Jam delapan pagi waktu Pangudal-udal, dari sudut gerbang alun-alun nampak Ki Lurah Badranaya datang dengan dikawal sebarisan pasukan pengawal dengan mobil BMW terbaru. Bersambung
Tapi namanya bukan Bethari Durga kalau sifat nekad itu tidak selalu menyala-nyala. Prinsipnya adalah yang penting asap dapur terus mengepul, entah itu ada dasar hukumnya atau tidak, yang penting kedudukannya di mata para pemujanya harus tetap eksis, omongannya harus tetap dijaga dengan gula murni tetap manis, perintahnya harus disusun bak firman Tuhan, segala gerak-geriknya seakan duplikat nabi, sedangkan laknatnya ibarat lidah malaikat. Cerita melegenda itu harus dikemas secara turun menukik sampai akhir kiamat. Intinya adalah bagaimana agar mereka tidak mengurangi kecemerlangan pundi emas, asap dapur, derajat pangkat, serta harkat, berkat, dan martabak, eh martabat. Jangan coba-coba diungkit-ungkit !, ajaran begitu itu sudah sejak jaman nenek moyang sebagai pelaut, jadi kalau anda baru mengungkitnya sudah kedaluwarsa, dalil otentiknya sudah ndak mempan alias ndak njamani lagi, sekarang adalah jaman demokrasi bung !, siapa yang banyak itulah pemenangnya.
“Sorry mami !, sejak tadi sampeyan kok ngelamun terus ?, menggalih apa mami ?”
“Oh ngger Srani, otaknya mami itu tiada henti selalu mobile berputar-putar memikirkan hal-hal yang positif utamanya memikirkan nasibmu semuanya, sebab mami kuwatir jangan-jangan kamu nantinya ndak bisa mewarisi keculasan ini, untuk itu Kala dan Srani, kamu sebaiknya mau berguru kepada mami mengenai hal itu”
“Waaah mami, ilmu ngawur itu kemarin pernah diterapkan oleh kakang Bethara Kala dan hasilnya seluruh dunia pendidikan di mayapada dibuatnya geger , mereka mengolok-olok kakang Kala, katanya dia itu ndak ngerti soal pendidikan, keminter , sok tahu saja “
“emangnya ngomentari apa dia ?”
“Sekolah standar internasional “
“Bagus ngger !, teruslah kamu berkomentar ngawur, sebab dari kengawuranmu itu maka masyarakat akan semakin kacau, itu fenomena bagus ngger, teruslah jangan sampai berhenti, kalau perlu buatlah komisi baru , yaitu komisi ngawur pengacau opini publik, fungsinya adalah untuk menaikkan pamormu sebagai pewaris kebejatan di Pasetran Gandamayit ini, paham !! “
“Iya mami “, jawab Dewa Srani sambil menyulut puntung rokok tingwe-nya yang nyaris mati.
Tidak lama berselang Bethara Kala yang sedari tadi nguping dari teras pendapa segera bergegas menghampiri ibunya yang tengah duduk menjahit tali kutangnya sendirian…
“Nyak !, katanya kita mau merebut wahyu Witaradya , kapan ? “
“Oh iya Kala, kita ndak boleh membuang kesempatan ini, nanti selepas maghrib kita mengepung Saptaarga dengan kuman sakazaki, setelah itu Begawan Kamunayasa dan anak-anaknya kita rangket, terus wahyu itu pasti segera kita dapatkan”
Bathari Durga yakin bahwa perhitungannya tidak bakal meleset sedikitpun, dia memastikan bahwa Kamunayasa pasti sudah berada di pertapaannya. Untuk itu dengan secepat kilat dia bertiga segera terbang menuju Saptaarga.
Sementara itu Bathara Narada nampak tersenyum simpul, melihat ulah para biang kerok kejahatan dunia asal Pasetran Gandamayit tersebut.
“Ngger Kamunayasa, awakmu jangan kesusu pulang dulu ya, sebab sebentar lagi kakang Semar dan anak-anaknya bakal kemari, untuk itu ngger, ulun meminta dirimu bertiga bersiaga ganti baju keki lengkap dengan atribut pemerintah Pangudal-udal, dan jangan lupa pakai sepatu dan parfum, sebab ini adalah upacara penting buatmu, undangan sudah ulun publikasikan kepada seluruh pejabat penting, untuk itu ngger Kamunayasa awakmu jangan mengecewakan ya “
Dalam hati, Begawan Kamunayasa ndak mudeng blas dengan program protokoler yang di berikan Bethara Narada, untuk itu karena ia hanyalah sebatas bawahan , maka ia milih manut saja. Oleh karenanya dia segera bergegas berdandan sesuai dengan permintaan Ulun Narada.
Tepat Jam delapan pagi waktu Pangudal-udal, dari sudut gerbang alun-alun nampak Ki Lurah Badranaya datang dengan dikawal sebarisan pasukan pengawal dengan mobil BMW terbaru. Bersambung
Pagebluk Enterobahter Sakazaki
“Tandya bala Pandhawa mbyuk gumulung mangungsir, ring sata Kurawa kambah , ooooonnnnggggggggg…
“Eih thole , mbokmenawa awaknya dewe harus segera meninggalkan Alang-alang Kumitir , makanya ayo semua segera dipersiapkan jangan ada yang tertinggal”
“Oh iya Mo, awaknya dewe ndak boleh enak-kepenak ndik kene, ayo Kang Gareng, ayo Gong , mesakne para kawula ing Saptaarga pada hidup sengsara”
“Oh iyo Truk, ayo budal”
“Eh mesthinya kan ya pamitan dulu karo Sang Hyang Wenang, seperti orang ndak pernah makan meja sekolah saja, datang pergi ndak pake aturan…”
“Wis ta Mo sampeyan saja yang mewakili, aku hanya ngikut saja”
“Pikulun, mbok bilih anggen kawula sowan sampun sauntawis, gandeng SK Wahyu Witaradya sampun saya peroleh , mohon diijinkan kula sak rombongan nyuwun pamit”
“Semanten ugi kula-pun Petruk, Kang Gareng, dalah Bagong , nyuwun pamit, nyuwun tambahing pangestu, mugi-mugi kula sak rombongan slamet…”
“Iya Punakawan, jangan kau kurangi kewaspadaamu, sebab di tengah jalan banyak yang mengincar wahyu yang engkau bawa itu..”
“Nggih pikulun , kepareng …”
Keempatnya segera jalan jongkok menjabat tangan Sang Hyang Wenang . Semar nampak kikuk, lantaran pantatnya yang terlalu besar, sedangkan Gareng nampak terpincang-pincang lantaran kakinya yang cacat tetap dari lahir. Sementara Bagong nampak cengengesan ndak peduli dengan sopan santun yang mengikatnya. Keempatnya segera lenyap menyusup mega-mega musim penghujan yang berbarengan menghempaskan pesawat-pesawat komersil yang sudah uzur dimakan wereng coklat.
Sementara itu sepeninggal Punakawan , Sang Hyang Wenang nampak terkejut dengan kehadiran tiga orang wayang ….
“Hong awignam astu, ulun lihat ini seperti Kamunayasa, Bambang Sekutrem, dan Cantrik Supalwa yang datang..”
“Betul pikulun “
“Ada perlu apa kamu Kamunayasa, apa mau merebut Wahyu Witaradya ?”
Ketiganya terperanjat kaget, ternyata niat busuknya sudah diketahui oleh Sang Hyang Wenang. Nampak buliran keringat mulai membasahi tubuhnya.
“Ketahuilah Kamunayasa, wahyu itu itu sifatnya tidak sembarang orang bisa dan kuat menerimanya, hanya orang yang berhati mulia , suci lahir dan batinnya , untuk itu mustahil jika orang-orang yang berwatak rakus, seperti produsen susu yang meracuni produk susunya dengan bakteri akan menerima wahyu ini, untuk itu kamu jangan berpura-pura menjadi Begawan Kamunayasa, hayo segera buka topengmu, sebelum ulun masukkan neraka jahanam !!!”
“Aduh pikulun…”, “Aduh pikulun”, “Aduh pikulun “
Ketiganya roboh seketika. Begawan Kamunayasa berubah wujud menjadi Dewa Srani, Bambang Sekutrem berubah jadi Bethara Kala, sedangkan Cantrik Supalwa berubah wujud menjadi Bethari Durga…
“Wis ngger hayo mlayu wae, hayo dikejar wahyu saing dibawa oleh kakang Semar itu , jangan kawatir emak masih punya senjata biologis yang ampuh untuk menggagalkan turunya wahyu itu"
“Apa itu ? “
“Entero Bachter Sakazaki “ Bersambung
“Eih thole , mbokmenawa awaknya dewe harus segera meninggalkan Alang-alang Kumitir , makanya ayo semua segera dipersiapkan jangan ada yang tertinggal”
“Oh iya Mo, awaknya dewe ndak boleh enak-kepenak ndik kene, ayo Kang Gareng, ayo Gong , mesakne para kawula ing Saptaarga pada hidup sengsara”
“Oh iyo Truk, ayo budal”
“Eh mesthinya kan ya pamitan dulu karo Sang Hyang Wenang, seperti orang ndak pernah makan meja sekolah saja, datang pergi ndak pake aturan…”
“Wis ta Mo sampeyan saja yang mewakili, aku hanya ngikut saja”
“Pikulun, mbok bilih anggen kawula sowan sampun sauntawis, gandeng SK Wahyu Witaradya sampun saya peroleh , mohon diijinkan kula sak rombongan nyuwun pamit”
“Semanten ugi kula-pun Petruk, Kang Gareng, dalah Bagong , nyuwun pamit, nyuwun tambahing pangestu, mugi-mugi kula sak rombongan slamet…”
“Iya Punakawan, jangan kau kurangi kewaspadaamu, sebab di tengah jalan banyak yang mengincar wahyu yang engkau bawa itu..”
“Nggih pikulun , kepareng …”
Keempatnya segera jalan jongkok menjabat tangan Sang Hyang Wenang . Semar nampak kikuk, lantaran pantatnya yang terlalu besar, sedangkan Gareng nampak terpincang-pincang lantaran kakinya yang cacat tetap dari lahir. Sementara Bagong nampak cengengesan ndak peduli dengan sopan santun yang mengikatnya. Keempatnya segera lenyap menyusup mega-mega musim penghujan yang berbarengan menghempaskan pesawat-pesawat komersil yang sudah uzur dimakan wereng coklat.
Sementara itu sepeninggal Punakawan , Sang Hyang Wenang nampak terkejut dengan kehadiran tiga orang wayang ….
“Hong awignam astu, ulun lihat ini seperti Kamunayasa, Bambang Sekutrem, dan Cantrik Supalwa yang datang..”
“Betul pikulun “
“Ada perlu apa kamu Kamunayasa, apa mau merebut Wahyu Witaradya ?”
Ketiganya terperanjat kaget, ternyata niat busuknya sudah diketahui oleh Sang Hyang Wenang. Nampak buliran keringat mulai membasahi tubuhnya.
“Ketahuilah Kamunayasa, wahyu itu itu sifatnya tidak sembarang orang bisa dan kuat menerimanya, hanya orang yang berhati mulia , suci lahir dan batinnya , untuk itu mustahil jika orang-orang yang berwatak rakus, seperti produsen susu yang meracuni produk susunya dengan bakteri akan menerima wahyu ini, untuk itu kamu jangan berpura-pura menjadi Begawan Kamunayasa, hayo segera buka topengmu, sebelum ulun masukkan neraka jahanam !!!”
“Aduh pikulun…”, “Aduh pikulun”, “Aduh pikulun “
Ketiganya roboh seketika. Begawan Kamunayasa berubah wujud menjadi Dewa Srani, Bambang Sekutrem berubah jadi Bethara Kala, sedangkan Cantrik Supalwa berubah wujud menjadi Bethari Durga…
“Wis ngger hayo mlayu wae, hayo dikejar wahyu saing dibawa oleh kakang Semar itu , jangan kawatir emak masih punya senjata biologis yang ampuh untuk menggagalkan turunya wahyu itu"
“Apa itu ? “
“Entero Bachter Sakazaki “ Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)