Dalam hutan Krendhayana, terdapat beringin putih berjajar tujuh, dan randhu alas berjajar sembilan. Di dalamnya terdapat watu gilang sebesar gunung. Di situlah sebuah tempat yang disebut Kahyangan Setra Gandamayit, ya di Dhandhang Mangore. Tidak ada manusia satupun yang berani merambah. Apalagi polisi hutan, perambah berdasi, pencoleng kampungan, dan para bandit-bandit yang kebal hukum. Yah !, hutan ini terhitung masih perawan thing..thing, gawat keliwat-liwat, wingit kepati-pati, hewan singgah bersimbah darah, manusia singgah, pulang hanya tinggal namanya. Mereka bakal dieksekusi, seperti ayam potong, kres !!, modar alias codeet tanpa bekas. Kenapa kok segawat itu, memang, di situlah pusatnya segala kejahatan. Di situ pulalah berkumpul jin, setan, demit, iblis, ilu-ilu banaspati, gandarwa, bajubarat, myang brekasaan, santhet, tenung, teluh braja, bondhet pilut, gendam, semuanya tumplek bleg, jadi satu di Dhandhang Mangore. Para setan semuanya dibekali senjata, drengki, srei, jail, dahwen, panasten, senang kekerasan, apus-apus, cinta perselisihan, menjahui perdamaian. Oleh karena itu tidak aneh jika sang surya mulai tenggelam, maka benda-benda yang ada di situ terlihat hitam remang-remang, diliputi oleh suasana angker, dan berbau anyir darah. Sementara di bawah terlihat rimbun daun ilalang dan rumput kalanjana, sulur-sulur akar beringin seperti rambut yang menjurai tak pernah disisir, silir-silir tertiup angin malam, sulur beringin itu mirip rambut raksasa, menakutkan. Sedangkan di tengah sepi, terdengar gemercik air gerojokan, memberikan daya getar menakutkan di dalam hutan. Sementara di atas pohon terdengar burung kolik tuhu tengah mengumandangkan berita kejahatan, disambut suaranya ular mendesis, disusul oleh jeritan seekor kijang yang baru saja ditubruk oleh harimau.
Kasad mata tempat itu adalah berujud hutan biasa. Tapi kalau anda waskita, di situlah sebenarnya Kahyangan pusatnya kerajaan Dewa Penggoda, dengan sesosok makhluk penguasa yang disebut Pandya Bathari Durga, alias Hyang Pramoni. Sebenarnya awalnya, dia adalah seorang bidadari jelita. Akan tetapi karena perbuatannya yang melanggar kode etik bidadari, maka Sang Hyang Jagadnata memberikan sanksi wajahnya disiram air keras, dan berubahlah menjadi jelek.
Ya, Hyang Premoni inilah sang penguasa tunggal, dengan sepasukan bajubarat, lelembut, arwah nyasar, iblis, brekasaan yang bertugas menggoda para manusia baik hati, brahmana, mubalig, santri, kiai, guru, kepala sekolah, jaksa, hakim, polisi, petugas PLN, dan sebagainya. Belum lama dia berada di beranda istananya, tiba-tiba datang anaknya yang semata orang, bangsawan dari Tunggulmalaya, Prabu Dewasrani. Sowan menghadap ibundanya. Begitu mendekat ia kemudian berlutut, memberikan sembah. Nampak di wajahnya raut sungkawa alias lagi susah, gundah dan sedih. Wajahnya pucat pasi, seperti orang kurang gizi. Tidak ketinggalan asisten dan sopir pribadinya mengawal sang Dewasrani. Lengkap dengan para iblis pilihan, yang jumlahnya tak terhitung sangking banyaknya. Sang Bethari Durga amat tanggap dengan wajah anaknya yang kelihatan kumal seperti baju yang ndak pernah disetrika. Dia kamitenggengen alias ndak mentala nyawang anaknya. Dia terpaku, heran, padahal semua fasilitas telah diberikannya. Ndak biasanya anaknya sedih hingga seperti itu.
”Hong thethe dewangkara, Rudra manik raja dewaku, ini kalau ndak salah anakku Dewa Srani, ngger kulup, padha kanthi raharja sak sowanmu ana ngersane mami, ngger ..”
”Kawula nuwun inggih mami, niskala sowan saya, tidah lupa sembah bakti saya mami”
”Tak terima kulup, tidak lupa terimalah pangestune mami”
”Dahat katedha kalingga murda kanjeng mami, semoga menjadikan darah kemuliaan”
”Patih Jentha Yaksa, bagaimana kabarmu tih !”
”Pangestu mami bethari, sehat kuwarasan”
”Kembali kepadamu Srani, jika mami perhatiken dari ujung mata hingga ujung jempol kaki, seperti ada perasaan gundah kulup, hayo kataken semua pada mami ..”
”mami, seperti hancur perasaan saya, kenapa hingga saat ini saya belum mendapatkan wanita pujaan hati. Padahal aku ini kan seorang raja, tapi kenapa belum ada wanita seorangpun yang mau denganku mami...”
”Weladalah, jebul kamu itu pingin rabi ta ..., oalah mbok ya ngomong terus terang sejak tadi. Lha apa kira-kira kamu sudah punya pandangan kulup ?”
”Nuwun sewu kanjeng Mami, setelah lama aku pertimbangkan, ternyata hanya Bathari Dersanala, putra pukulun Bathara Brama, yang menjadi pujaan saya ...”
Kagyat risang kapirangu rinangkul kinempit-kempit dhuh sang retnaning bawana, Ooooong...
”Waduh, ngger ... mangertia ya, Dersanala itu sudah menjadi isteri sah Janaka, mami ndak setuju jika kamu akan merebutnya, sudahlah ngger cari yang lain saja, di Unmuh sana masih banyak mahasiswa yang cantik-cantik, ke sana saja ngger ...”
”Kanjeng mami, bagiku sudah tidak ada pilihan lain. Seandainya mami tidak mau mengusahakan, maka aku akan bunuh diri saja mami ...”
”Duh jagad dewa bathara, ya iya ta ngger, mami tidak akan tinggal glanggang colong playu, jika maumu begitu, anak polah mami yang bakal berusaha, wis kalau begitu kamu tinggal dirumah saja, mami akan membujuk ayahmu Bethara Guru di kahyangan Suralaya” Bersambung
Selasa, 23 Juni 2009
Jalur Tikus PSB (Penerimaan Siswa Bodong) Ki Setyo Handono
Sepulang Harya Setyaki, dan Raden Samba, istana Dwarawati kembali sunyi. Para juru pengrawit yang bertugas di ruang diskotik mulai mengumandangkan gendhing Titipati laras slendro Pathet 6, nampak dari balik bunga adenium, taman sari, dua orang emban, Bibi Cangik dan Limbuk, keluar sambil membawa hamburger, roti bakar,soto daging dan softdrink, menu paten kesukaan Dewi jembawati, Dewi Rukmini dan Dewi Setyaboma. Cangik yang bertubuh kerempeng itu nampak di jidatnya menempel dua lembar koyok untuk menghilangkan penyakit pusing separo yang sudah menahun. Sedangkan Limbuk si gemuk itu nampak megal-megol mengayunkan pantatnya sambil sesekali mendendangkan lagunya Dewi Persik dan Inul Daranista. Keduanya adalah pembantu setia yang mengabdikan dirinya seumur hidup. Dia tidak pernah mengeluhkan jumlah gaji yang dibayarkan kepadanya. Mereka melaksanakan kewajiban yang ditimpakan kepadanya dengan senang hati. Dia tidak memikirkan upah minimum regional, dia tidak pernah memikirkan mogok kerja, tapi dia mengabdikan dirinya murni untuk beribadah. Namun siang itu Cangik kelihatan tidak bersemangat. Biasanya dia selalu meluncurkan kata-kata bijak kepada anaknya Limbuk tentang perikehidupan. Dia nampak murung di sudut taman sambil sesekali menghela nafas panjang. Limbuk mencoba mendekati simboknya yang mulai kelihatan renta.
”Mbok , sampeyan kok ndak seperti biasanya ceria, ada apa ?”, tanya Limbuk sambil meraih pundak simboknya.
”Oalah embuh nduk, simbok dewe juga bingung kok ”
”Bingung itu mestinya kan ada yang menyebabkan to Mbok ?, coba jelaskan apa penyebabnya ?”
”Begini lho nduk, aku itu tengah memikirkan nasib anakmu mbesuknya ...”
”Tentang apa ?”
”Aku membayangkan, jika simbok ini sudah ndak kuat bekerja terus siapa yang akan membiayai sekolah mereka. Simbok miris, nduk jika melihat kedaan pendidikan sekarang ini. Majunya belum tentu tapi permintaan fasilitas dan biayanya sudah selangit...”
”Maksudnya simbok ?”
”Hiya nduk, terbukti, sekarang ini walau gaji pegawai negri, pegawai dewan,dan pejabat dinaikkan, tapi mental korupnya tidak kunjung mereda. Malah-malah semakin merajalela, terbukti pungli di mana-mana, selingkuh di mana-mana. Semua akibat kerja ringan bayar besar. Sehingga di otak mereka adalah bagaimana uang-uang yang mereka punyai itu dapat mereka habis-habiskan. Mungkin dalam benak mereka nyari uangnya kan gampang , jadi ya begitulah syahwatnya semakin mendapatkan fasilitas yang lebih. Gelar sarjana dan pasca sarjana seperti S2, S3, bukan merupakan jaminan ngger, mereka kuliah tinggi hanya untuk menacari gelarnya saja, nyatanya pendidikan tak semakin berkualitas, tapi semakin jauh merosot dari harapan para pendahulu kita ngger..., mereka serba ber-portopolio, makanya pantes kalau mereka pada kena penyakit polio, jalannya tidak lurus, tapi bengkok-bengkok..”
”Aku kok ora ngerti to karep sampeyan ...”
”Oalaah nduk..., awakmu itu kok ndak peka jaman, Simbok ngoceh ini terus terang lagi jengkel !!”
”Jengkel karena apa Mbok ?”
”Apa ora ngerti ngger, simbok semalam dipanggil kepala sekolah ning SMP paporit Dwarawati kene, ngenani nasib anakmu sing ora ketampa ning sekolah sana”
”Simbok di takoni apa wae ?”
”Bu Cangik, sampeyan ndak perlu kawatir, putu sampeyan bisa sekolah ndik sini, tapi ada syarat khusus yang harus sampeyan penuhi ...”
”Syarate apa Mbok ?”
”Lha ya itu ngger, awalnya hatiku itu bahagia, putuku bisa sekolah ndik sekolah paporit, aku mikir tak kira syarat mau mung perkara nggolek surat keterangan tidak mampu dari RT, Desa dan Kecamatan, ealah jebulnya ...”
”Sampeyan kon ngapa Mbok ?”
”Jare, kepala sekolah durung nduwe mobil, durung nduwe omah nggo anak-anake, mula simbok ya rada bingung, lha wong simbok iki mung trimo babu, lha apa ya klakon isa nukokne mobil karo omah mau, lha wong simbok dewe wae ora gablek omah kok, dasar !!! pejabat wis padha dadi pemeras, pelopor KKN, oh titenana yen tuwa mbesuk pada struk, kencing manis, darah tinggi...”
”Wis mbok sampeyan ndak usah duka!, aku lila kok menawa anakku ora sekolah, sebab sekolah ndak menjamin anakku bisa nyambut gawe...wis mengko tak ajaknya saja suwita ikut ndara Jembawati ndik sini ”, jawab limbuk sambil membenahi kembennya yang nyaris mlorot.
”Oh syukur nduk, menawa awakmu ndak gela atimu, oh yen begitu ayo, diterusken nyuci piringnya” Bersambung
”Mbok , sampeyan kok ndak seperti biasanya ceria, ada apa ?”, tanya Limbuk sambil meraih pundak simboknya.
”Oalah embuh nduk, simbok dewe juga bingung kok ”
”Bingung itu mestinya kan ada yang menyebabkan to Mbok ?, coba jelaskan apa penyebabnya ?”
”Begini lho nduk, aku itu tengah memikirkan nasib anakmu mbesuknya ...”
”Tentang apa ?”
”Aku membayangkan, jika simbok ini sudah ndak kuat bekerja terus siapa yang akan membiayai sekolah mereka. Simbok miris, nduk jika melihat kedaan pendidikan sekarang ini. Majunya belum tentu tapi permintaan fasilitas dan biayanya sudah selangit...”
”Maksudnya simbok ?”
”Hiya nduk, terbukti, sekarang ini walau gaji pegawai negri, pegawai dewan,dan pejabat dinaikkan, tapi mental korupnya tidak kunjung mereda. Malah-malah semakin merajalela, terbukti pungli di mana-mana, selingkuh di mana-mana. Semua akibat kerja ringan bayar besar. Sehingga di otak mereka adalah bagaimana uang-uang yang mereka punyai itu dapat mereka habis-habiskan. Mungkin dalam benak mereka nyari uangnya kan gampang , jadi ya begitulah syahwatnya semakin mendapatkan fasilitas yang lebih. Gelar sarjana dan pasca sarjana seperti S2, S3, bukan merupakan jaminan ngger, mereka kuliah tinggi hanya untuk menacari gelarnya saja, nyatanya pendidikan tak semakin berkualitas, tapi semakin jauh merosot dari harapan para pendahulu kita ngger..., mereka serba ber-portopolio, makanya pantes kalau mereka pada kena penyakit polio, jalannya tidak lurus, tapi bengkok-bengkok..”
”Aku kok ora ngerti to karep sampeyan ...”
”Oalaah nduk..., awakmu itu kok ndak peka jaman, Simbok ngoceh ini terus terang lagi jengkel !!”
”Jengkel karena apa Mbok ?”
”Apa ora ngerti ngger, simbok semalam dipanggil kepala sekolah ning SMP paporit Dwarawati kene, ngenani nasib anakmu sing ora ketampa ning sekolah sana”
”Simbok di takoni apa wae ?”
”Bu Cangik, sampeyan ndak perlu kawatir, putu sampeyan bisa sekolah ndik sini, tapi ada syarat khusus yang harus sampeyan penuhi ...”
”Syarate apa Mbok ?”
”Lha ya itu ngger, awalnya hatiku itu bahagia, putuku bisa sekolah ndik sekolah paporit, aku mikir tak kira syarat mau mung perkara nggolek surat keterangan tidak mampu dari RT, Desa dan Kecamatan, ealah jebulnya ...”
”Sampeyan kon ngapa Mbok ?”
”Jare, kepala sekolah durung nduwe mobil, durung nduwe omah nggo anak-anake, mula simbok ya rada bingung, lha wong simbok iki mung trimo babu, lha apa ya klakon isa nukokne mobil karo omah mau, lha wong simbok dewe wae ora gablek omah kok, dasar !!! pejabat wis padha dadi pemeras, pelopor KKN, oh titenana yen tuwa mbesuk pada struk, kencing manis, darah tinggi...”
”Wis mbok sampeyan ndak usah duka!, aku lila kok menawa anakku ora sekolah, sebab sekolah ndak menjamin anakku bisa nyambut gawe...wis mengko tak ajaknya saja suwita ikut ndara Jembawati ndik sini ”, jawab limbuk sambil membenahi kembennya yang nyaris mlorot.
”Oh syukur nduk, menawa awakmu ndak gela atimu, oh yen begitu ayo, diterusken nyuci piringnya” Bersambung
Terbakarnya Lantai 8 Swargadahana Oleh: Ki Setyo Handono
Prabu Anom Gatutkaca segera menggeser tempat duduknya, kemudian membenahi rompi anti peluru bergambar sinar matahari , dia berjalan mundur sambil lampah dhodhok memberikan sembah
”Kalau begitu Wa, kula tunggu di luar, ... Kangmas Paranggaruda dan Paman Swalabumi ,sorry saya mau menunggu di teras saja…” , pinta Prabu Anom Gatutkaca sambil menenteng HP terbarunya.
”Oh iya yayi Prabu, sebentar lagi aku juga segera pulang kok”
”Lho kok ndak berlama-lama di sini”
”Ora yayi, aku ada perlu arep ndaptarne keponaamu sing nomer papat ning SMP berstandar internasional, Paranggaruda sana...”
”Demikian juga paman ngger, aku juga ada perlu untuk segera pulang, ... mau mbayar pajak di samsat..”, jelas Setyaki sambil menunjukkan STNK sepeda motor cekeh keluaran tahun enampuluhan.
”Kulup Samba dan yayi Setyaki, kalian aku beri tugas piket, menggantikan tugasku mengawasi jalannya pemerintahan, sebab sekarang juga aku harus menuju Ngamarta, awasi dengan ketat seluruh pegawai pemerintahan baik di daerah maupun yang ada di lantai delapan, jangan biarkan mereka keluyuran di warung-warung, di pasar loak, di losmen-losmen, ataupun di tempat perbelanjaan pada jam-jam kerja, kerahkan Satpol PP untuk melakukan penertiban ...”
”Nuwun inggih , sendika ngestoaken dhawuh, dewaji”
”Demikian juga kami Setyaki, siaga selalu kaka Prabu”
Tidak lama berselang, suasana istana Dwarawati menjadi sepi. Prabu Kresna segera bergegas meninggalkan istana menuju Ngamarta bersama dengan Prabu Anom Gatutkaca. Keduanya terbang hingga ketinggian 10.000 kaki melanglang angkasa dengan kecepatan melebihi pesawat supersonik, nyaris semua radar yang canggih sekalipun tidak mampu menangkap keduanya. Keduanya memang penerbang yang telah memperoleh seribu limaratus jam terbang, sebuah prestasi yang belum ada tandingnya. Angkasa pagi itu terasa dingin, angin dari selatan tersa amat kencangnya. Sementara di bawah sana banyak umat manusia yang tengah mengadakan pesta pernikahan untuk putra-putrinya. Memang bulan itu dipercaya sebagai bulan baik, walaupun hanya mitos yang tidak ada dasar hukumnya, sehingga cukup membuat pusing bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan sementara ulem-ulemnya menumpuk di meja. Apakah mereka tidak pernah membuktikan bahwa di luar sana ternyata semua hari baik ?, pernahkah mereka merenungkan untuk tidak ’membisniskan pesta pernikahannya ?’. ”Ah inilah barangkali jaman telah rusak, manusia berebut serakah, mencari untung di balik sedekah, ah dasar serakah... ”, batin Prabu Kresna .
Sementara itu lain lagi keadaannya di Swargadahana . Remaja-remaja di sana tengah asik dengan dunia gemerlap, atau ’dugem’. Mereka berpesta pora menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua untuk pesta minuman keras, narkoba, seks bebas dan untuk pembuatan video porno yang akan disebarkan kepada pelajar dan generasi muda. Satu tujuannya, yaitu agar generasi dan negara menjadi rusak. Sedangkan tidak jauh dari diskotik, dan pusat hiburan malam tepatnya di Swargadahana lantai delapan, Sang Harjuna tengah berasyik ’masyuk’ melepas dan menancapkan panah asmara yang tengah membara. Dewi Dersanala nampak tersenyum pasrah, dia memeluk erat kekasih hatinya. Dia pasrahkan seluruh jiwa raganya , sementara burung-burung gereja yang menyaksikan lewat lobang-lobang angin hanya kelihatan mengulum air liur, satu persatu berdatangan , kemudian mereka terbang menjauh dengan membawa kekasih barunya terbang menjauh mencari tempat-tempat rindang, seperti pohon akasia, ruang parkir, pinggir pantai, toilet, losmen luar kota, serta ruang-ruang yang jarang dilewati orang pada saat jam-jam tersebut, semisal mushola atau ruang-ruang lobi. Yah !, cinta kilat, memang memerlukan waktu kilat untuk melepas napsu syahwat, Jrat !!!, njepat, muncrat !!, bagaikan ulat tersengat strum 220 volt, satu hidup satu mati. Yang kesetrum mati, menahan malu, tapi yang nyetrum hanya cengar-cengir , besuk cari kesempatan yang lain lagi, katanya. Tak terasa waktu hampir dua jam Sang Harjuna bermain asmara, membuat udara lantai delapan panas membara, dari kejauhan nampak asap membubung. Kontan para dewa yang lagi ’work shop’ di sana lari semburat memanggil petugas pemadam kebakaran. Bersambung
”Kalau begitu Wa, kula tunggu di luar, ... Kangmas Paranggaruda dan Paman Swalabumi ,sorry saya mau menunggu di teras saja…” , pinta Prabu Anom Gatutkaca sambil menenteng HP terbarunya.
”Oh iya yayi Prabu, sebentar lagi aku juga segera pulang kok”
”Lho kok ndak berlama-lama di sini”
”Ora yayi, aku ada perlu arep ndaptarne keponaamu sing nomer papat ning SMP berstandar internasional, Paranggaruda sana...”
”Demikian juga paman ngger, aku juga ada perlu untuk segera pulang, ... mau mbayar pajak di samsat..”, jelas Setyaki sambil menunjukkan STNK sepeda motor cekeh keluaran tahun enampuluhan.
”Kulup Samba dan yayi Setyaki, kalian aku beri tugas piket, menggantikan tugasku mengawasi jalannya pemerintahan, sebab sekarang juga aku harus menuju Ngamarta, awasi dengan ketat seluruh pegawai pemerintahan baik di daerah maupun yang ada di lantai delapan, jangan biarkan mereka keluyuran di warung-warung, di pasar loak, di losmen-losmen, ataupun di tempat perbelanjaan pada jam-jam kerja, kerahkan Satpol PP untuk melakukan penertiban ...”
”Nuwun inggih , sendika ngestoaken dhawuh, dewaji”
”Demikian juga kami Setyaki, siaga selalu kaka Prabu”
Tidak lama berselang, suasana istana Dwarawati menjadi sepi. Prabu Kresna segera bergegas meninggalkan istana menuju Ngamarta bersama dengan Prabu Anom Gatutkaca. Keduanya terbang hingga ketinggian 10.000 kaki melanglang angkasa dengan kecepatan melebihi pesawat supersonik, nyaris semua radar yang canggih sekalipun tidak mampu menangkap keduanya. Keduanya memang penerbang yang telah memperoleh seribu limaratus jam terbang, sebuah prestasi yang belum ada tandingnya. Angkasa pagi itu terasa dingin, angin dari selatan tersa amat kencangnya. Sementara di bawah sana banyak umat manusia yang tengah mengadakan pesta pernikahan untuk putra-putrinya. Memang bulan itu dipercaya sebagai bulan baik, walaupun hanya mitos yang tidak ada dasar hukumnya, sehingga cukup membuat pusing bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan sementara ulem-ulemnya menumpuk di meja. Apakah mereka tidak pernah membuktikan bahwa di luar sana ternyata semua hari baik ?, pernahkah mereka merenungkan untuk tidak ’membisniskan pesta pernikahannya ?’. ”Ah inilah barangkali jaman telah rusak, manusia berebut serakah, mencari untung di balik sedekah, ah dasar serakah... ”, batin Prabu Kresna .
Sementara itu lain lagi keadaannya di Swargadahana . Remaja-remaja di sana tengah asik dengan dunia gemerlap, atau ’dugem’. Mereka berpesta pora menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua untuk pesta minuman keras, narkoba, seks bebas dan untuk pembuatan video porno yang akan disebarkan kepada pelajar dan generasi muda. Satu tujuannya, yaitu agar generasi dan negara menjadi rusak. Sedangkan tidak jauh dari diskotik, dan pusat hiburan malam tepatnya di Swargadahana lantai delapan, Sang Harjuna tengah berasyik ’masyuk’ melepas dan menancapkan panah asmara yang tengah membara. Dewi Dersanala nampak tersenyum pasrah, dia memeluk erat kekasih hatinya. Dia pasrahkan seluruh jiwa raganya , sementara burung-burung gereja yang menyaksikan lewat lobang-lobang angin hanya kelihatan mengulum air liur, satu persatu berdatangan , kemudian mereka terbang menjauh dengan membawa kekasih barunya terbang menjauh mencari tempat-tempat rindang, seperti pohon akasia, ruang parkir, pinggir pantai, toilet, losmen luar kota, serta ruang-ruang yang jarang dilewati orang pada saat jam-jam tersebut, semisal mushola atau ruang-ruang lobi. Yah !, cinta kilat, memang memerlukan waktu kilat untuk melepas napsu syahwat, Jrat !!!, njepat, muncrat !!, bagaikan ulat tersengat strum 220 volt, satu hidup satu mati. Yang kesetrum mati, menahan malu, tapi yang nyetrum hanya cengar-cengir , besuk cari kesempatan yang lain lagi, katanya. Tak terasa waktu hampir dua jam Sang Harjuna bermain asmara, membuat udara lantai delapan panas membara, dari kejauhan nampak asap membubung. Kontan para dewa yang lagi ’work shop’ di sana lari semburat memanggil petugas pemadam kebakaran. Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)