Hiruk pikuk bangsa Wayang begitu menggema saat mendengar keputusan sidang itsbat yang menetapkan keberadaan rembulan, sehingga lebaran bisa ditetapkan secara pasti. Memang yang satu ini senantiasa menjadi titik ‘perawan’ yang seringkali menimbulkan rangsangan birahi pertengkaran antara bidang sensitive yang tidak jarang melahirkan jurang-jurang perpecahan antara umat satu kitab, satu tujuan, dan satu Tuhan. Secara nalar memang menggelikan, bayangkan, di bulan yang lain, nggak pernah diributkan tentang jadual sembahyang, kalender bulanan, kalender tahunan, kalender pasaran, wuku, dan sebagainya. Padahal semua itu berdasar hitungan-hitungan. Sekarang yang menjadi pertanyaan, jika tanggal satu lebaran berubah, apakah secara serta merta tanggal-tanggal yang ada di kalender tersebut tidak berubah total?. Ternyata sampai saat ini wayang-wayang yang mengaku pakar ngelmu planet , tidak pernah mengadakan perubahan itu. Intinya bulan Syawal dengan bulan yang lain berbeda. Bulan ini hanya bisa dihitung berdasarkan kesaksian belaka, sedangkan bulan yang lain ya terserahlah. Mereka tidak pernah memasalahkan, meributkan, apalagi berselisih kemudian mengadakan perubahan tentang itu.
Sekarang adakah yang mau berpikir praktis, efektif, efisien, padahal setahun sebelumnya gerhana bulan saja bisa dihitung, kenapa bulan yang satu ini, sering dituduh mengingkari janji?, mungkinkah ada pihak-pihak yang tidak legawa dengan kecanggihan ilmu pengetahuan modern?. Jawabnya ada di kotak kuno yang menyimpan fosil-fosil tulang-tulang dan kitab-kitab peninggalan jaman batu tua. Bukalah dan cari sendiri kunci jawabanya. Wariskan ngelmu kontradiksi, dan ajarkan kekerasan untuk menentang ngelmu modern, sehingga generasi muda nanti lebih brutal menyikapi setiap perbedaan.
Kita tinggalkan dulu para pemabuk kekuasaan yang tengah gentayangan di negeri Kurukasetra tersebut. Sekarang kita kembali meniti langit singgah di kawasan Dhandhang Mangore meliput kejadian ndik sana.
“Dersanala garwane pun kakang, wong manis, ayo manuta Dewa Srani, ndak emban, ayo cah ayu ndak pondhong, jangan kuwatir kamu kelaparan, aku wis nyiapne rumah gedong magrong-magrong, olehku lumpuk-lumpuk saka Dana Alokasi Khusus, hayo cah ayu tambanana brantane pun kakang nimas..” pinta Dewa Srani merayu.
“Oh, keparat Dewa Srani, yen nganti kowe cilike nyenggol kulitku, gedhene mbeset kulitku, oh aku bakal lapor nyang komnas HAM, apa maneh kowe nawani aku Dana Alokasi Kusus, oh sorry Srani, bandamu mau ora kalal, mokal yen kowe bisa menehi aku barang karam, barang olehe mbajing, titenana kabeh mau bakal ndadekne penyakit” ancam Dewi Dersanala
“Ha … haa…, ning nggonku DAK iku wis lumrah nggo bancaan para pejabat. Mulai bupati, DPRD Tingkat I, II, Diknas dan UPDT, kabeh mau kan ya ngetokne jasane ta cah ayu…, dadi wis wajibe yen para petugas datang kerumah-rumah jemput bola nyambangi para kawula sing wis entuk dana mau banjur asok glondhong pangareng-areng, wis ta laah, kowe ora susah mempermasalahkan itu . Percuma, wong wis dadi khalal kok. Sing penting hayo sekarang manutlah…Lan mangertiya ya Dersanala, paribasan sira iku iwak kecemplung wuwu, kowe wis ora bisa obah maneh”
Belum selesai Dewa Srani merayu, tiba-tiba dari balik pendapa pertamanan, muncul Ki Lurah Petruk menyahut tubuh Dewi Dersanala, berlari secepat kilat meninggalkan Dewa Srani dan Bethari Durga. Keduanya tercengang tidak percaya, melihat kejadian yang cepat itu
“Oh keparat kowe Petruk, hayo ndelika nyang endi wae aku bisa nggoleki kowe, wis ayo ngger andum gawe, kowe mlayua ngetan, aku ndak mlayu mangulon” teriak Dewi Durga sambil melesatkan tubuhnya.
Namun baru saja terbang dengan ketinggian dua ribu kaki, tiba-tiba di depannya sudah ada Kiai Semar yang menghadangnya
“Eh Durga, ngakua ana ngendi Bathari Dersanala sak iki !!”
“Eh keparat Semar elek kaya telek, Dersanala wis kebacut tak daupake karo anakku lanang Si Dewa Srani, kowe arep papa?”
“Aih !, pancen kowe ki dewi keparat, jajal laknat, oh klakon ndak mutilasi kowe”
Gending sampak bertalu riuh. Kiai Semar segera menjambak rambut, dan menghajar habis-habisan tubuh Bethari Durga. Dewi Durga nampak babak belur. Pipinya lebam, giginya banyak yang tanggal, bajunya robek separo. Untung baju yang bagian belakang, sehingga hanya nampak seperti sundel bolong.
Tidak puas dengan yang begituan, Ki Lurah Semar terpaksa menggunakan senjata pamungkasnya, kentut Lumpur lapindo
“Nyoh tampanana, kentutku Durga…. Nyuuuuuuuuusssssss”
Dewi Durga terpelanting kurang lebih satu kilometer jatuh di depan Dewa Srani. Kentut Ki Lurah Semar padahal tidak bersuara keras, tapi daya jelajahnya dan baunya ampun-ampun…..dahsyat booo..
Jumat, 02 Oktober 2009
Selasa, 15 September 2009
Diskualifikasi Wahyu Kanarendran
“Hati-hati bagaimana?, lha wong aku sudah mantap dengan Dewi Dersanala kok”
“Bukan masalah itu ngger, wis pokoknya kamu jangan cemas. Bagi mami, tidak ada istilah hati-hati, ragu-ragu, yang penting maju terus entah bagaimana nanti jadinya. Bethari Durga bisa meperoleh dengan segala cara. Tidak ada kamus menyesal. Yang penting kita jalan dan jangan menengok kiri kanan, pokoknya rawe-rawe rantas malang-malang ayo diputung, memang aku takut apa sama Semar, wis ngger ayo jalan terus !!”
Dewa Srani menjadi semakin bingung dengan kata-kata yang diucapkan maminya. Ia sendiri ndak mudeng dengan perilaku papa dan mamanya. Ayahnya terkenal dengan suami takut istri. Sedangkan dirinya terpaku menjadi anak dewa yang cengeng, dan ndak bisa mandiri. Sementara ibunya adalah dewi rakus yang ingin menguasai rejeki orang lain. Ia selalu menanamkan kecurangan , keculasan, apus-apus, kepura-puraan, dan kemunafikan. Tidak jarang para manusia dan dewa-dewa tergiur ke jalan yang sesat, setelah mendapatkan wejangan dari mami bethari. Bahkan belum lama ini Kahyangan Suralaya tengah mengadakan sertifikasi untuk meningkatkan profesionalitas kalangan satriya di Mayapada. Mami Bethari tahu kalau satriya yang sudah memperoleh sertifikasi bakal menerima gaji yang tinggi, oleh karenanya beliau menyarankan agar aku mengikuti sertifikasi ksatriya
“Wis ngger pokoknya kamu ikut saja, nanti aku yang bakal ngakali”
“Tapi mami ? aku ndak punya kelengkapan yang memadai”
“Oalaaah ngger, itu barang yang sepele, sudahlah percayakan pada mami. You kan tahu ta, siapa mami” jawab Bethari Durga sombong
“Iya, ya. Mami kan rector universitas Dhandhang Mangore”
“Naaa, kamu mulai cerdas sekarang. Ora rugi mama nyekolahne kowe nganti S3”
“Terus pripun niki mangke?”
“Ngene ngger anakku Srani, ini kebetulan, Universitase mami entuk kapercayan dadi mitrane asesor Sang Hyang Wenang, oleh karena itu amrih nggancarne lakumu nggayuh profesi kesatriyan, jeneng kita ulun dandani dadi asesor mewakili universitase mami, nyoh iki tampanana nomer induk asesor saka ulun”
“Lho mami, aku ini kan dewa ta, apa ya bisa dewa menjelma menjadi kesatriya manusia?”
“Srani kowe kok mbalik cengoh, eh goblok. Mangertiya ya ngger ulun iku lulusan Aper jurusan bedah plastic, dadi yen mung nyulap kowe dadi satriya sing melu sertifikasi kae garapan gampang. Ulun mung pingin mbales budi marang kowe dene kalenggahanku ing UNDANG (Universitas Dhandang Mangore : red) awit saka perjuanganmu. Ulun eling mula sakwuse ulun entuk panguwasa, iki ngger ana jabatan menggiurkan ‘asesor sertifikasi’ tampanana…”
Bathari Durga dan Dewa Srani tidak mengira kalau percakapannya diintai oleh Bathara Narada. Kontan semua percakapannya masuk dalam rekaman tape recorder Sang Kaneka Putra. Pagi itu juga Sang Narada bergegas terbang menuju pusat penyelenggara sertifikasi Rayon Alang-alang Kumitir, tempat Sang Hyang Wenang berada.
“Iki ndak waspadakake kaya titah ulun Kanekaputra”
“Ouwww… pak-pak pong sertifikasi lowong nggo rebutan wong, ainjih leser, eh leres pukulun. Inggih kula-pun Nerada ingkang sowan tanpa tinimbalan, pangapunten pukulun…”
“Hiya Narada ora dadi apa. Mula enggala aturna apa wigatinira, sowan tanpa tinimbalan”
“Inggih waleh-waleh punapa sepindah, titah paduka ngaturaken kasugengan, ingkang kaping kalih kula ngaturaken ruwet rentengipun perkawis sertifikasi ingkang paduka wontenaken”
“Kepriye larah-larahe?”
Bathara Narada segera menceritakan kisahnya. Tidak beberapa lama Sang Hyang Wenang segera mengeluarkan secarik kertas lengkap dengan tulisan, stempel dan tanda tangan.
“Wis ngene wae Nerada, sira ndak usah kuwatir, iki ulun maringi surat diskualifikasi marang Si Dewa Srani. Lan mulai dina iki aku putus hubungan diplomatic dengan Universitas Dhandhang Mangore saklawase. Awit Si Durga wis mblenjani janji. Ternyata jabatan yang aku berikan hanya untuk bagi-bagi kekuasaan dengan kroni-kroninya. Rupa-rupanya sifat pembohongnya tidak juga hilang…”
“Wah sokor pukulun, menawi ngaten kula umumaken dhateng nginternet mawon”
“Oh iya Narada, aja nganti kedoliman iki ngambyawara, mesakne para kawula, yen isa Si Bathari Durga uga pecaten, aja mung Si Srani, nyoh iki uga Ulun titip surat pemecatan kanggo sakarone”
“Alkamundulilah ….”
“Bukan masalah itu ngger, wis pokoknya kamu jangan cemas. Bagi mami, tidak ada istilah hati-hati, ragu-ragu, yang penting maju terus entah bagaimana nanti jadinya. Bethari Durga bisa meperoleh dengan segala cara. Tidak ada kamus menyesal. Yang penting kita jalan dan jangan menengok kiri kanan, pokoknya rawe-rawe rantas malang-malang ayo diputung, memang aku takut apa sama Semar, wis ngger ayo jalan terus !!”
Dewa Srani menjadi semakin bingung dengan kata-kata yang diucapkan maminya. Ia sendiri ndak mudeng dengan perilaku papa dan mamanya. Ayahnya terkenal dengan suami takut istri. Sedangkan dirinya terpaku menjadi anak dewa yang cengeng, dan ndak bisa mandiri. Sementara ibunya adalah dewi rakus yang ingin menguasai rejeki orang lain. Ia selalu menanamkan kecurangan , keculasan, apus-apus, kepura-puraan, dan kemunafikan. Tidak jarang para manusia dan dewa-dewa tergiur ke jalan yang sesat, setelah mendapatkan wejangan dari mami bethari. Bahkan belum lama ini Kahyangan Suralaya tengah mengadakan sertifikasi untuk meningkatkan profesionalitas kalangan satriya di Mayapada. Mami Bethari tahu kalau satriya yang sudah memperoleh sertifikasi bakal menerima gaji yang tinggi, oleh karenanya beliau menyarankan agar aku mengikuti sertifikasi ksatriya
“Wis ngger pokoknya kamu ikut saja, nanti aku yang bakal ngakali”
“Tapi mami ? aku ndak punya kelengkapan yang memadai”
“Oalaaah ngger, itu barang yang sepele, sudahlah percayakan pada mami. You kan tahu ta, siapa mami” jawab Bethari Durga sombong
“Iya, ya. Mami kan rector universitas Dhandhang Mangore”
“Naaa, kamu mulai cerdas sekarang. Ora rugi mama nyekolahne kowe nganti S3”
“Terus pripun niki mangke?”
“Ngene ngger anakku Srani, ini kebetulan, Universitase mami entuk kapercayan dadi mitrane asesor Sang Hyang Wenang, oleh karena itu amrih nggancarne lakumu nggayuh profesi kesatriyan, jeneng kita ulun dandani dadi asesor mewakili universitase mami, nyoh iki tampanana nomer induk asesor saka ulun”
“Lho mami, aku ini kan dewa ta, apa ya bisa dewa menjelma menjadi kesatriya manusia?”
“Srani kowe kok mbalik cengoh, eh goblok. Mangertiya ya ngger ulun iku lulusan Aper jurusan bedah plastic, dadi yen mung nyulap kowe dadi satriya sing melu sertifikasi kae garapan gampang. Ulun mung pingin mbales budi marang kowe dene kalenggahanku ing UNDANG (Universitas Dhandang Mangore : red) awit saka perjuanganmu. Ulun eling mula sakwuse ulun entuk panguwasa, iki ngger ana jabatan menggiurkan ‘asesor sertifikasi’ tampanana…”
Bathari Durga dan Dewa Srani tidak mengira kalau percakapannya diintai oleh Bathara Narada. Kontan semua percakapannya masuk dalam rekaman tape recorder Sang Kaneka Putra. Pagi itu juga Sang Narada bergegas terbang menuju pusat penyelenggara sertifikasi Rayon Alang-alang Kumitir, tempat Sang Hyang Wenang berada.
“Iki ndak waspadakake kaya titah ulun Kanekaputra”
“Ouwww… pak-pak pong sertifikasi lowong nggo rebutan wong, ainjih leser, eh leres pukulun. Inggih kula-pun Nerada ingkang sowan tanpa tinimbalan, pangapunten pukulun…”
“Hiya Narada ora dadi apa. Mula enggala aturna apa wigatinira, sowan tanpa tinimbalan”
“Inggih waleh-waleh punapa sepindah, titah paduka ngaturaken kasugengan, ingkang kaping kalih kula ngaturaken ruwet rentengipun perkawis sertifikasi ingkang paduka wontenaken”
“Kepriye larah-larahe?”
Bathara Narada segera menceritakan kisahnya. Tidak beberapa lama Sang Hyang Wenang segera mengeluarkan secarik kertas lengkap dengan tulisan, stempel dan tanda tangan.
“Wis ngene wae Nerada, sira ndak usah kuwatir, iki ulun maringi surat diskualifikasi marang Si Dewa Srani. Lan mulai dina iki aku putus hubungan diplomatic dengan Universitas Dhandhang Mangore saklawase. Awit Si Durga wis mblenjani janji. Ternyata jabatan yang aku berikan hanya untuk bagi-bagi kekuasaan dengan kroni-kroninya. Rupa-rupanya sifat pembohongnya tidak juga hilang…”
“Wah sokor pukulun, menawi ngaten kula umumaken dhateng nginternet mawon”
“Oh iya Narada, aja nganti kedoliman iki ngambyawara, mesakne para kawula, yen isa Si Bathari Durga uga pecaten, aja mung Si Srani, nyoh iki uga Ulun titip surat pemecatan kanggo sakarone”
“Alkamundulilah ….”
Janaka Gendhong
Ki Lurah Semar segera duduk ‘nglesot’ menemui Raden Janaka. Sementara Ki Lurah Petruk menjauh menuju bawah pohon trembesi yang rindang. Ia tengah menikmati lantunan lagu-lagu hadrah dan santapan rokhani, sambil menanti buka puasa tiba.
“Arep ndongeng apa kakang?”
“Nggih Gus, sampeyan mirengke nggih”
“Suatu hari, ketika panjenengan tengah memadu kasih dengan garwa panjenengan, tiba-tiba datanglah utusan Bathara Guru yang menghadap, untuk mengantarkan surat perintah yang isinya bahwa Dewi Dersanala harus menghadap Pikulun Bathara Guru tanpa harus didampingi oleh suaminya… Sebuah surat perintah yang mencurigation, atau sangat mencurigakan. Dan sampeyan pasti ndak ngerti dengan semua itu, inggih ta?”
“Benar kakang, aku benar-benar ndak paham dengan itu semua”
“Begini nggih den, sejatinya panjenengan niku ajeng dipegatne kalian keng garwa Dewi Dersanala. Awit menurut alasannya, seorang manusia ndak boleh menikah dengan bangsa dewa. Kuwalat, dan menyalahi undang-undang kadewatan. Itu hanya alasan yang dibuat-buat saja, tetapi sebenarnya adalah, ketika itu Bathara Guru sedang diprotes oleh istrinya Si Bathari Durga, kenapa Bathara Guru telah berbuat ndak adil dengan anaknya sendiri Si Dewa Srani , malah dewekne lebih memperhatikan Janaka, makhluk berbeda yang berada di luar structural kadewatan. Dia dinikahkan oleh Bathara Brama dengan anaknya yang bernama Dewi Dersanala. Padahal gadis kinyis-kinyis itu telah ditaksirnya sejak SD, eee.. lha kok ujug-ujug dinikahkan dengan Janaka, edan piye, “Anak pukulun kan masih jomblo ta pikulun?, kenapa sampeyan membiarkan Janaka menikahi Si Dersanala, itu namanya ndolim, ndak adil, alias panjenengan menika mban cinde mban siladan, pilih kasih, padahal nuwun sewu lho, Janaka menika kan bangsa manusia, apa nanti pukulun ndak dikutuk Sang Hyang Wenang, cobi ta menika panjenengan galih, malah sak menika putra Paduka mboten purun sekolah, menika rak malah nambahi ruwet rentengipun Suralaya?”
“Iya Permoni, aku khilaf. Yen ngono piye karepmu?”
“Pokoknye Si Janaka harus dipaksa cerai dengan Si Dersanala, jangan sampai telat sekarang juga ia harus dipanggil paksa. Sebab kalau telat, salah-salah dia telah hamil duluan” pinta Dewi Durga memaksa.
Bukan rahasia lagi kalau Bathara Guru adalah anggota suami-suami takut istri, oleh karena itu, ketika dia mendapat tekanan yang mematikan dari Dewi Durga, dia langsung bertekuk lutut tersungkur di bawah anderoknya. Nggak peduli bau kecut, penguk dan asem. Pokoknya Bathara Guru ndak bisa berkutik dan akhirnya menuruti kemaluan eh kemauan istrinya. Dia kemudian membujuk mertuamu Dewa Brama untuk mengurungkan pernikahanmu. Awalnya Brama ndak mau menuruti kemauan ayahndanya, tetapi karena Bathara Guru ngancam akan mencopot jabatannya, maka Brama akhirnya luluh juga. Naaah, ketika Dewi Dersanala dipanggil keluar dari kamarnya, dia menjelaskan dan menolak ide gila ayahnya untuk bercerai. Dia bilang kalau sekarang telah berbadan dua. Mendengar keterangan yang mengagetkan itu, seketika Bathari Durga naik pitam, kemudian Dersanala diculik dibawa terbang.
Kira-kira satu jam kemudian perjalanan itu telah sampai di atas kawah Candradimuka. Maksudnya Durga adalah mengaborsi jabang bayi agar orok tersebut mau keluar dn akan dilenyapkan di sana. Akan tetapi takdir berkata lain, jabang bayi yang keluar itu ternyata menjadi bocah yang sakti, tampan dan cerdas. Bayi itu berhasil saya rawat. Karena dia besar di dalam bara api, maka bayi itu aku beri nama Raden Wisanggeni
“Oh, kakang ….”
“Betul ndara, Wisanggeni ini anak sampean”
Raden Janaka berlari dan memeluk, mencium Wisanggeni dengan hangatnya.
“Arep ndongeng apa kakang?”
“Nggih Gus, sampeyan mirengke nggih”
“Suatu hari, ketika panjenengan tengah memadu kasih dengan garwa panjenengan, tiba-tiba datanglah utusan Bathara Guru yang menghadap, untuk mengantarkan surat perintah yang isinya bahwa Dewi Dersanala harus menghadap Pikulun Bathara Guru tanpa harus didampingi oleh suaminya… Sebuah surat perintah yang mencurigation, atau sangat mencurigakan. Dan sampeyan pasti ndak ngerti dengan semua itu, inggih ta?”
“Benar kakang, aku benar-benar ndak paham dengan itu semua”
“Begini nggih den, sejatinya panjenengan niku ajeng dipegatne kalian keng garwa Dewi Dersanala. Awit menurut alasannya, seorang manusia ndak boleh menikah dengan bangsa dewa. Kuwalat, dan menyalahi undang-undang kadewatan. Itu hanya alasan yang dibuat-buat saja, tetapi sebenarnya adalah, ketika itu Bathara Guru sedang diprotes oleh istrinya Si Bathari Durga, kenapa Bathara Guru telah berbuat ndak adil dengan anaknya sendiri Si Dewa Srani , malah dewekne lebih memperhatikan Janaka, makhluk berbeda yang berada di luar structural kadewatan. Dia dinikahkan oleh Bathara Brama dengan anaknya yang bernama Dewi Dersanala. Padahal gadis kinyis-kinyis itu telah ditaksirnya sejak SD, eee.. lha kok ujug-ujug dinikahkan dengan Janaka, edan piye, “Anak pukulun kan masih jomblo ta pikulun?, kenapa sampeyan membiarkan Janaka menikahi Si Dersanala, itu namanya ndolim, ndak adil, alias panjenengan menika mban cinde mban siladan, pilih kasih, padahal nuwun sewu lho, Janaka menika kan bangsa manusia, apa nanti pukulun ndak dikutuk Sang Hyang Wenang, cobi ta menika panjenengan galih, malah sak menika putra Paduka mboten purun sekolah, menika rak malah nambahi ruwet rentengipun Suralaya?”
“Iya Permoni, aku khilaf. Yen ngono piye karepmu?”
“Pokoknye Si Janaka harus dipaksa cerai dengan Si Dersanala, jangan sampai telat sekarang juga ia harus dipanggil paksa. Sebab kalau telat, salah-salah dia telah hamil duluan” pinta Dewi Durga memaksa.
Bukan rahasia lagi kalau Bathara Guru adalah anggota suami-suami takut istri, oleh karena itu, ketika dia mendapat tekanan yang mematikan dari Dewi Durga, dia langsung bertekuk lutut tersungkur di bawah anderoknya. Nggak peduli bau kecut, penguk dan asem. Pokoknya Bathara Guru ndak bisa berkutik dan akhirnya menuruti kemaluan eh kemauan istrinya. Dia kemudian membujuk mertuamu Dewa Brama untuk mengurungkan pernikahanmu. Awalnya Brama ndak mau menuruti kemauan ayahndanya, tetapi karena Bathara Guru ngancam akan mencopot jabatannya, maka Brama akhirnya luluh juga. Naaah, ketika Dewi Dersanala dipanggil keluar dari kamarnya, dia menjelaskan dan menolak ide gila ayahnya untuk bercerai. Dia bilang kalau sekarang telah berbadan dua. Mendengar keterangan yang mengagetkan itu, seketika Bathari Durga naik pitam, kemudian Dersanala diculik dibawa terbang.
Kira-kira satu jam kemudian perjalanan itu telah sampai di atas kawah Candradimuka. Maksudnya Durga adalah mengaborsi jabang bayi agar orok tersebut mau keluar dn akan dilenyapkan di sana. Akan tetapi takdir berkata lain, jabang bayi yang keluar itu ternyata menjadi bocah yang sakti, tampan dan cerdas. Bayi itu berhasil saya rawat. Karena dia besar di dalam bara api, maka bayi itu aku beri nama Raden Wisanggeni
“Oh, kakang ….”
“Betul ndara, Wisanggeni ini anak sampean”
Raden Janaka berlari dan memeluk, mencium Wisanggeni dengan hangatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)