Jumat, 14 Januari 2011

Sayembara Nguntal Bola Ki Setyo Handono

Ndik Kahyangan Alang-Alang Kumitir tiba-tiba yang namanya sepak bola heboh menggila. Tua muda, widadara, widadari, bathara, bathari, dewa dan dewi tumplek blek membanjiri pertandingan akbar antara kesebelasan nasional Alang-Alang Kumitir melawan kesebelasan Dandang Mangore asuhan Bathara Kala.
Icon baru sepak bola kahyangan bak mercusuar, bersinar menerangi jagat pewayangan. Dua pemain asing yang dinaturalisasi, Irfan Petruk, dan Christian Antarja memberikan andil yang sangat luar biasa atas kebangkitan nasionalisme sepak bola kahyangan.
Petruk yang berhidung mancung membuat para gadis belia tergila-gila menjadi supporter dadakan. Mereka histeris tatkala Petruk bermain di tengah lapangan. Mereka pun berebut tanda tangan , foto bersama, bahkan ciuman. Wah pokoknya edan banget.
Melihat fenomena seperti ini tak urung membuat para politisi kahyangan sibuk mencari akal bagaimana agar para supporter bola itu tertarik memilih dirinya untuk macung capres pada pemilu yang akan datang. Maka tak kurang jurus seribu bayangan telah ia lakukan mulai dari banjir bonus, istighosah, makan bareng, pembagian tiket gratis dan sebagainya. Mereka berbaur dengan pemain timnas, tebar senyum, tebar jasa, dan mengumbar seluruh kehebatannya, agar tersiar di media massa.
Sementara itu pejabat teras PSSI kahyangan Nampak bersitegang. Bathara Guru pemegang otoritas tertinggi PSSI kahyangan tidak setuju kalau lembaganya disaingi oleh Ki Lurah Semar dan Ki Lurah Togog yang mendirikan lembaga sepak bola lain. “Pokoknya yang paling syah hanyalah PSSI, titik!!” tegas Bathara Guru.
“Pokoknya LPI milik sampeyan tidak syah!!!”
“Oh, dasar dewa goblok!, awakmu itu kudu bersukur, kalau masyarakat beramai-ramai mendirikan kejuaraan bola, itu artinya masyarakat merasa memiliki, masyarakat ikut peduli dengan masa depan sepak bola kahyangan, lha wong ora mbayari saja kok repot!!” sahut Semar ketus
“Begini lho Manikmaya, awakmu ya jangan otoriter, ibaratnya sekolah, nggonmu sekolah negeri, sedangkan sekolahku, dan sekolah kakang Semar, sekolah swasta. Ayo mlaku bareng-bareng, endi sing apik ayo didukung. Aja terus melarang-melarang, pemainku, pemaine Kang Semar ora bisa jadi pemain nasional, memangnya ini negaramu sendiri apa?” sahut Togog super jengkel
“Tapi…”
“Eh, iya, aku ngerti kalau kamu takut kalah bersaing denganku. Kamu curiga kalau aku berdua bakal menggunakan bendera partai…. Ealah Guru….Guru…. dangkal banget nalarmu. Malah sebaliknya aku itu sudah curiga kalau kamu ndekem di PSSI itu Cuma cari muka agar sukses membawa bola ke dalam partai, hayo…iya ta…?”
Belum selesai mereka ngobrol, tiba-tiba dari balik pintu luar ada orang gemuk masuk.
“Eeeee, mrekencong….mrekencong kayu dhoyong dicolong wong, wong PSSI udele bodong, ethok-ethok dadi penolong, tak tahunya sundel bolong…. Eh Adhi Guru, tak denger-denger kok makin seru aje, ada musyawarah apa ini??” Tanya Narada ikut nimbrung
“Iya Kakang Kanekaputra, iki ana kahanan kang gawat. Kakang Semar dan Kakang Togog mengancam mendirikan lembaga bola baru….”
“Ealaah, mrekencong-mrekencong, ngelmumu cupet pikiranmu kosong, itu namanya bukan ancaman, tapi sarana koreksi diri kalau kepemimpinan Adi Guru sangat mengecewakan. Masyarakat tidak puas alias kecewa, malah sebaliknya jika Adi Guru tetap bercokol di PSSI, wah nasib sepak bola kahyangan justru semakin terancam. Sudahlah Adi Guru, letakkan saja jabatan sebagai ketua umum, kasihan sepak bola nasional nanti”
“Itu namanya ndak adil. Pokoknya aku tetap pada pendirianku. PSSI di bawah kepemimpinanku, adalah lembaga yang syah, yang diakui FIFA…”
“Ora isa Narada!!!, Guru juga ndak adil!!!” sahut Semar sengit
“Iya Narada, aku juga ndak setuju” sahut Togog mendukung
“Sudah…sudah…, sekarang aku puny aide. Aku akan menguji kalian semua. Pokoknya bagi siapa saja yang sanggup ‘nguntal bola yang aku bawa ini, maka dialah yang berhak menyelenggarakan pertandingan sepak bola nasional”
Semua dewa PSSI terlihat terperangah. Ide gila yang ditawarkan oleh Narada terasa janggal, tapi itulah cara satu-satunya menormalkan ingatan orang-orang PSSI agar tidak gila terus-menerus.
“Oke Narada, aku setuju” jawab Semar dan Togog serempak
“Aku ya setuju, kakang”
Tidak lama kemudian, perlombaan nguntal bola segera dilakukan. Bathara Guru yang pernah kursus ngelmu sulap kepada Mr Tarno Nampak komat-kamit merapal mantra. Sedangkan Ki Lurah Semar Nampak santai, ia menimang-nimang bola sambil sesekali membersihkan sarungnya yang masih dipenuhi debu volkanik. Sementara Togog Nampak pemanasan memasukkan bola pada bibirnya yang lebar.
“Oke, waktunya sudah cukup !” teriak Narada mengingatkan
Perlombaan pun segera dimulai. Bathara Guru, secepat kilat mampu menyulap bola itu menjadi jeruk manis, dan langsung ditelannya mentah-mentah. Ki Lurah semar tidak kurang akal, digembosnya bola PSSI itu, kemudian ditelannya sedikit-sedikit, tanpa cabe. Maklumlah cabe semakin mahal. Sedangkan togog, tanpa ba, bi, bu, bola itu langsung diuntalnya mentah-mentah, sehingga mulutnya semakin dower.
“Bangus… eh bagus…bagussss… tepuk tangan semuanyaaaa….”
“Aku pemenangnya !!!” sahut ketiganya sambil mengangkat tangannya
“Betul !!!, kalian semua telah memenangkannya. Dengan demikian, Kakang Semar, Adhi Guru, dan Kakang Togog, berhak menyelenggarakan sepak bola nasional. Dan kepada Adi Guru, ndak usahlah pakai ancam-mengancam, kita orang bersaudara, kita semua ingin memajukan sepak bola nasional, dan kita semua punya tanggung jawab memajukan olah raga di negeri ini”
Akhirnya Semar dan Togog pulang dengan wajah ceria. Sedangkan Manikmaya Nampak tidak puas. Ia pun memilih terbang menemui Sang Hyang FIFA, untuk melaporkan kejadian yang merugikan dirinya.
******

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS SENI BUDAYA (PTK) MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGGAMBAR PERSPEKTIF DENGAN TEKNIK LACAK GAMBAR MELALUI KERJA KE

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Permasalahan yang sering timbul dalam pembelajaran menggambar perspektif adalah keluhan anak karena rumitnya garis yang membalut bentuk benda yang diperagakan guru. Guru terkesan tidak mengindahkan kemampuan siswa dalam hal pengamatan gambar perspektif. Mereka kurang sabar dalam membimbing siswa. Sehingga faktanya siswa sering menganggap bahwa materi ini rumit dan sulit sekali. Akhirnya tidak jarang, pembelajaran ini sering ditinggalkan begitu saja oleh guru yang bersangkutan dengan alasan demi terkondisinya pelajaran seni budaya yang nyaman-nyaman saja.
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis berkeyakinan bahwa dengan metode melacak gambar bisa dijadikan cara untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman peserta didik dalam menggambar perspektif. Dari cara tersebut anak menjadi faham asal-usul gambar yang dikerjakan. Dengan demikian tidak sadar, mereka akan menemukan teori menggambar perspektif yang selama ini dianggapnya sulit dan rumit.
1.2 DEFINISI OPERASIONAL
Melacak gambar adalah kegiatan yang dilakukan siswa terhadap gambar bentuk perspektif yang diberikan guru. Dalam kegiatan ini siswa melacak garis-garis perspektif dengan penggaris, dilakukan secara berkelompok dengan teman sebangku. Tujuannya adalah mencari asal-usul bentuk gambar perspektif untuk digambar ulang dalam bentuk yang sama (reproduksi).
1.3. PEMBATASAN MASALAH
Penelitian ini berfokus pada gambar perspektif dengan teknik melacak gambar perspektif yang sudah jadi, untuk dicari asal - usul gambar perspektifnya. Fokus penilaian dilakukan pada proses dan hasil karya siswa. Hal ini untuk mengetahui kualitas pembelajaran, yang dilakukan guru dalam upaya mengukur daya serap terhadap teori yang diujicobakan dalam penelitian ini.
1.4. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah dengan teknik lacak gambar , siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman dapat meningkatkan keterampilan menggambar perspektif?
2. Bagaimanakah penerapan laacak gambar untuk meningkatkan prestasi menggambar perspektif siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman?
3. Apakah dengan teknik lacak gambar, pembelajaran perspektif di kelas VIII SMPN 2 Kauman minat siswa meningkat?

1.5. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan keterampilan menggambar perspektif bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman Tahun Pelajaran 2010-2011
2. Mendeskripsikan implementasi menggambar perspektif dengan teknik lacak gambar
3. Meningkatkan minat menggambar perspektif bagi siswa kelas VIII SMPN 2 Kauman Tahun Pelajaran 2010-2011

1.6. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan memberikan manfaat kepada
a. Guru yang bersangkutan
Sebagai tambahan literasi model pembelajaran, dan alat evaluasi diri terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga mendapatkan metode yang ideal terhadap materi yang akan disampaikan kepada siswa
b. Bagi Siswa
Penerapan teknik lacak gambar sangat berguna untuk mempermudah siswa memahami teori menggambar perspektif. Diharapkan setelah mereka mengetahui teknik menggambar perspektif, siswa dapat menggambar bentuk perspektif dengan model yang bervariasi.
c. Bagi Lembaga
Dengan terlaksananya penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh sekolah sebagai inspirasi bagi guru yang lain agar dapat digunakan sebagai masukan untuk penelitian pembelajaran di kelas.
KAJIAN TEORI
2.1. PENGERTIAN PERSPEKTIF
Menurut Leonardo da Vinci, perspektif adalah sesuatu yang alami yang menampilkan yang datar menjadi relief dan yang relief menjadi datar. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memproyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam bidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas. Kata “Perspektif” berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berarti “gambar pandangan”.
2.2. PRINSIP DASAR PERSPEKTIF
Dalam penggambaran perspektif terkonstruksi, diumpamakan bahwa pengamatan obyek berasal dari satu titik pandang. Yaitu titik tempat pengamat berdiri memandang obyek. Sudut dipersempit secara relatif, dan dengan cara ini garis-garis lurus akan tetap lurus dan menghasilkan gambar perspektif yang tidak terdistorsi.
2.3. ISTILAH DALAM KONSTRUKSI PERSPEKTIF
a. Objek
Objek yang berbentuk garis lurus, siku dan teratur, sangat mudah digambar. Sisi objek yang semakin hidup atau berbentuk tidak teratur, semakin sulit untuk digambar. Kesulitannya pada ketidakaturan objek tersebut. Untuk penggambaran- nya dibutuhkan ketepatan dalam gambar tampak atas, muka dan samping.
Sering dijumpai gambar perspektif dengan satu sisi vertikal atau satu rusuk vertikal objek menempel pada bidang gambar; dengan demikian didapatkan garis vertikal pada gambar perspektif, yang menjadi pedoman langsung bagi ukuran sebenarnya.
b. Titik pandang
Titik pandang merupakan tempat pengamat berada. Semakin jauh pengamat berada dari objek, semakin luas pula areal yang mampu dipandang pengamat.
c. Bidang gambar
Bidang Gambar adalah bidang khayal yang tembus pandang untuk melihat ke daerah yang akan digambar. Bidang gambar dapat divisualisasikan sebagai kaca rak -sasa yang berdiri tegak antara pengamat dan daerah yang akan digambar.
d. Kerucut pandang dan sumbu pandang
Untuk menghindari distorsi gambar, jarak antara pengamat dan objek diatur oleh sudut pandang, yaitu sudut pada titik pandang yang dibentuk oleh sinar-sinar dari pinggir objek. Sudut pandang 90o merupakan sumbu pandang pada gambar perspektif, dan sudut pandang antara 30o-60o merupakan kerucut pandangnya.
e. Garis cakrawala atau garis horison
Yang dimaksud bidang cakrawala dalam gambar perspektif adalah garis mendatar, dengan ketinggian mata pengamat dan memisahkan gambar yang di atas dan di bawah mata. dengan garis cakrawala.
f. Titik hilang
Titik hilang adalah titik dalam gambar perspektif di mana garis-garis yang sesungguhnya dalam keadaan sejajar akan menghilang menuju titik ini. Objek-objek yang pada kenyataannya sama besar, bila posisinya menjauhi pengamat akan tergambarkan lebih kecil daripada objek yang lebih dekat dengan pengamat. Letak titik hilang segaris lurus dengan garis cakrawala (untuk perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang)
g. Titik ukur dan titik diagonal
Titik ukur dalam konstruksi perspektif berfungsi untuk mengukuhkan kedalaman suatu objek dengan akurat. Dengan adanya titik ukur, maka penggambaran perspektif akan lebih akurat. Titik diagonal berfungsi untuk menarik garis yang dalam keadaan normal memiliki sudut 45o, ke dalam gambar perspektif. Biasanya digunakan pada perspektif yang menggunakan bujur sangkar (segi empat sama sisi) sebagai tolok ukurnya.
2.4. METODE KERJA KELOMPOK
Kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar dimana siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran tertentu.
III. METODE PENELITIAN
3.1. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di SMPN 2 Kauman , Jalan Sayang Ayu no. 2 Sumoroto Ponorogo . Perencanaan tindakan berdasar refleksi yang ditulis pada proposal dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2011 sampai dengan 26 Februari 2011. Pelaksanaan tindakan dikerjakan mulai pada tanggal 2 Maret 2011 sampai dengan 30 Juni 2011. Jadwal pelajaran dilaksanakan setiap hari Selasa, masing-masing 2x 40 menit (1 kali pertemuan).
3.2. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Kauman Ponorogo dengan jumlah siswa 36 orang. Nama-nama siswa yang terlibat dilampirkan pada lampiran 1. Guru Seni Budaya yang terlibat pada penelitian ini adalah Arum Amiwati, S.Pd. (40 tahun), sebagai observer, dan guru seni budaya kelas VII.
3.3. PROSEDUR PENELITIAN
3.3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas untuk mengkaji dan merefleksikan secara mendalam yang terjadi pada proses pembelajaran Seni dan Budaya yang meliputi performance guru, interaksi guru-siswa, interaksi antar siswa, dan hasil karya siswa. Semua itu untuk menjawab permasalahan penelitian.
Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat langkah, yang meliputi; a) perencanaan, yang berisi rumusan masalah, menentukan tujuan, metode penelitian dan membuat rencana tindakan, b) tindakan , berupa upaya nyata untuk merubah kesalahan/kekeliruan yang telah dilakukan, c) observasi, berupa tindakan pengamatan lapangan untuk mengetahui hasil dan kemajuan dalam proses belajar mengajar, dan d) refleksi, mengkaji secara mendalam dan mempertimbangkan keberhasilan dan merekomendasikan tindakan apa yang harus dilakukan pada siklus berikutnya.
3.1.2. Pelaksanaan Penelitian
Secara operasional prosedur penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini terperinci sebagai berikut:
3.1.2.1 Siklus Pertama
Kegiatan yang dilakukan meliputi:
1) Perencanaan
Peneliti menyiapkan: a) bahan ajar, b) satuan acara pembelajaran (SAP), c) rencana pembelajaran (RP), d) skenario pembelajaran , e) tugas-tugas individu, f) lembar observasi/penilaian.

2) Pelaksanaan
a) Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran menggambar perspektif dengan metode melacak gambar perspektif . Dalam hal ini siswa diberikan satu lembar copy gambar perspektif.
b) Siswa melacak garis diagonal untuk menemukan garis horizontal dan titik mata
c) Peneliti membantu siswa yang mengalami kesulitan melacak garis horizontal dengan memberikan contoh dari mana titik mata diperoleh dan bagaimana menentukan garis diagonal.
d) Setelah titik mata ditemukan, siswa melacak gambar bantuk dengan menghubungkan semua bentuk dengan titik mata, dan menirukan garis vertikal yang ada di gambar bentuk tersebut. Dalam hal ini, siswa bertugas menambah satu cm dari ukuran yang ada di copy gambar perspektif yang dilacak.
3. Pengamatan
a) Peneliti melakukan observasi setelah semua permasalahan siswa diterangkan kepada masing-masing siswa, yaitu dengan lembar observasi yang berisi; nama, kemampuan siswa melacak garis dan titik mata, kemampuan siswa mereproduksi karya, yang berisi cheklist ; baik sekali, sedang, kurang, dan mencatat semua kejadian dalam proses pembelajaran.
4. Refleksi
a) Peneliti menganalisa dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran siklus pertama dan memberikan penilaian hasil gambar siswa.
b) Mencatat segala kekurangan dan kelemahan dan melakukan perbaikan untuk diterapkan pada siklus berikutnya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus I disajikan pada Tabel berikut:
Aspek Target Pencapaian Siklus I Cara Mengukur
Kemampuan melacak gambar perspektif 75% Diamati pada saat siswa membuat garis pada gambar perspektif yg dibagikan kpd siswa
Kemampuan mereproduksi gambar perspektif 75 % Diamati dari gambar reproduksi siswa yang sudah selesai
Ketuntasan hasil belajar 75 % Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 6 dinyatakan tuntas


Siklus Kedua
Pada siklus kedua dilakukan tindakan-tindakan dengan menggunakan empat tahapan seperti yang telah dilakukan pada siklus pertama. Pada siklus kedua ini didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama. Semua kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak akan diualang kembali dalam siklus kedua.
Beberapa alternatif perbaikan untuk mengoptimalkan metode melacak gambar pada siklus kedua ini diberikan secara mendetail. Diharapkan dengan langkah-langkah pembaharuan pada siklus kedua ini, siswa lebih paham dan termotivasi untuk menggambar perspektif tanpa sedikitpun timbul keraguan atau kekurangpercayaan terhadap dugaan dan angannya.
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus II diuraikan pada tabel berikut ini:
Aspek Target Pencapaian Siklus II Cara Mengukur
Kemampuan melacak gambar perspektif 85 % Diamati pada hasil lacak gambar siswa
Berupa garis-garis perspektif pada lembar tugas yg diberikan
Kemampuan mereproduksi gambar perspektif 85 % Diamati dari gambar reproduksi siswa yang sudah selesai
Ketuntasan hasil belajar 100 % Dihitung dari rata-rata nilai gambar, siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 6 dinyatakan tuntas

3. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lembar observasi, kuesener terbuka, tes hasil karya menggambar ilustrasi, dan catatan guru selama proses belajar mengajar. Kuesener terbuka digunakan untuk mengawali pembelajaran menggambar dengan metode mencontoh dengan variasi cerita berantai, dan tes hasil karya menggambar digunakan untuk mengetahui kualitas hasil belajar.
Tabel 5 : Sistem Penskoran Hasil Gambar Perspektif
No Kriteria Nilai
1 Garis perspektif tidak tepat pada titik mata (Gambar rusak) 5
2 Gambar reproduksi ada yang menyimpang dari titik mata (Gambar mirip) 6
3 Gambar reproduksi ideal sesuai dengan gambar asli 7

5. Pengumpulan dan Analisa Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi dan tes hasil karya dalam bentuk gambar dan deskripsi cerita. Teknik dokumentasi untuk mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Teknik observasi digunakan untuk merekam kualitas proses belajar mengajar dengan menggunakan catatan. Sedangkan tes menggambar dan menulis deskripsi cerita digunakan untuk mengetahui kualitas hasil belajar.
Data hasil observasi , catatan guru, dan hasil karya siswa dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui kualitas belajar mengajar. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan kualitas hasil belajar dilakukan skor individu baik berupa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran maupun pada hasil gambar.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Temuan-temuan pada siklus 1
1. Contoh gambar yang diperagakan guru terlalu rumit
2. Contoh penyelesaian gambar perspektif yang diperagakan guru terlalu cepat
3. Siswa kurang mampu dalam menangkap teknik penyelesaian gambar, yang diperagakan guru, karena guru memulai dari bagian bawah
4. Guru kurang memberikan kesempatan siswa untuk bertanya secara individu
5. Siswa banyak yang tidak membawa penggaris panjang
4.2. Rekomendasi Perbaikan untuk Siklus 2
1. Guru memberikan contoh gambar yang sederhana agar mudah dipahami siswa
2. Guru harus memberikan contoh secara pelan-pelan dan berulang-ulang untuk memberikan kesempatan yang luas kepada siswa yang kurang mampu dalam menggambar.
3. Guru sebaiknya menggambar dari bagian atas proyeksi agar tidak membingungkan siswa
4. Guru harus mewajibkan siswa membawa penggaris dan buku gambar
5. Guru memberikan kesempatan yang luas siswa bertanya
4.3. Pelaksanaan Siklus 2
4.3.1. Pelaksanaan
Pada siklus kedua dilakukan tahapan-tahapan seperti pada siklus pertama. Pada siklus kedua didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang direkomendasikan pada siklus pertama. Pelaksanaan perubahan itu antara lain:
a) Siswa dibagi ke dalam kelompok
b) Peneliti mendemonstrasikan langkah-langkah menggambar konstruksi secara mendalam
c) Peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk melacak gambar perspektif yang telah dibagikan dan dikerjakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dicontohkan guru.
d) Peneliti melakukan observasi kepada masing-masing siswa dan membimbing masing-masing siswa yang kesulitan menggambar.
4.3.2. Pengamatan
a) Peneliti melakukan pengamatan dengan lembar observasi segala aktifitas yang terjadi pada masing-masing siswa
b) Sebelum melakukan penilaian, guru memeriksa hasil gambar siswa
c) Peneliti memberikan penilaian
Tabel 3.2. Indikator keberhasilan proses pada siklus I diharapkan meningkat pada siklus II
Aspek Pencapaian Siklus I Realita Pencapaian Siklus II
Kemampuan mencontoh 75 % 85%
Ketuntasan hasil belajar 75 % 100%
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil implementasi metode yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa:
1. Penggunaan metode melacak gambar konstruksi dapat membngkitkan ide dan gagasan siswa dalam mengeksplorasi kreativitasnya dalam menggambar perspektif. Kemampuan tersebut dapat dibuktikan pada siklus I dengan ketuntasan 75% dan siklus II dengan pencapaian 100%
B. Penggunaan metode melacak gambar dapat dilakukan efektif dan efisien jika guru dapat membimbing secara intensif, serta mampu memberikan contoh yang mudah dalam menggambar perspektif. Dari pengalaman ini peserta didik menjadi senang karena mereka mengetahui cara menggambar perspektif dengan baik dan benar.
C. Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kajian tentang implementasi model siklus belajar dengan model yang telah penulis lakukan di kelas ini dapat disarankan bahwa:
1. Pemecahan masalah kualitas proses dan hasil belajar seni budaya dapat dilakukan dengan mengkombinasikan dua metode mengajar seperti melacak gambar dan metode bimbingan intensif sehingga dapat memberikan jalan mudah dan sekaligus mengurangi kegamangan siswa dalam kegiatan menggambar.
2. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas penggabungan kedua metode ini dapat dilakukan penelitian lanjutan berupa penelitian eksperimental sehingga variabel-variabel yang terlibat dapat dikontrol
3. Jangan ragu menggunakan beragam metode –walau itu dianggap kuno-untuk membantu pemahaman siswa. Karena metode-metode tersebut bersifat kondisional, sehingga masih relevan jika kondisi peserta didik masih memerlukan.

Tamsil Burung Beo Ki Setyo Handono

Pagi itu, burung Kepodang, Prenjak, dan Kutilang tengah asyik bercengkerama di atas dahan pohon beringin. Tubuhnya meliuk menukik, memamerkan tubuh eloknya di semak daun beringin yang mulai tumbuh menghijau. Bulunya masih Nampak mengkilap. Si Prenjak yang dipasrahi nunggu Beringin oleh bangsa burung itu melompat ke sana kemari mencari perhatian. Sedangkan Kutilang dan Kepodang memilih bertengger agak jauh , ia serius membicarakan sesuatu.
“Sebentar lagi Negeri Burung Merak akan menghelat pemilu kada lho” ujar Kutilang mengingatkan
“Ya, kita sudah lama nggak berkuasa. Ingin rasanya kita yang tinggal di pohon beringin ini kembali berkuasa, tapi kita nggak punya jago, nih?!, terus kira-kira siapa yang bisa menggaet masyarakat bawah nanti?”
“Gampang, dia adalah tokoh masyarakat yang pernah ‘duduk-duduk’ di pemerintahan, dia nggak usah pinter-pinter, yang penting merakyat!!” jawab Kepodang berargumen ngawur
“Apa kriteria merakyat itu?”
“Alaah.. gitu aja kok repot. Merakyat itu kalau diundang kenduri, slametan, mantenan, sunatan ya datang. Kalau diajak pesta miras, judi, …ya datang, itulah merakyat yang sesungguhnya…” jelas Kepodang super ngawur
“Wah, jawabanmu memang lumayan gila. Cuma persoalannya kalau dia nanti jadi beneran gimana?” Tanya Kutilang meragukan
“Gampang, nanti kita bentuk tim ahli, atau kabag-kabag yang mendampingi sang bupati” jawab Kepodang singkat
“Wah, itupun juga masih meragukan, sekarang coba sampeyan bayangkan, jika sang bupati itu juga ternyata nggak bisa menjabarkan program, nggak mampu membaca program, nggak menguasai aplikasi program, dan nggak mengerti apa itu program, terus bagaimana anak buahnya menjalankan program????” jawab Kutilang sengit
“Kutilang yang baik hati, ini adalah dunia politik, dunia curang, dunia apus-apus,… sudahlah, sampeyan jangan termakan teori-teori menyesatkan. Sekarang ini yang penting adalah berkuasa dulu. Kita bohongi masyarakat, kita suap tokoh-tokoh masyarakat untuk memuluskan rencana kita. Titik !!!”
“Terus, siapa kira-kira tokoh yang sampeyan kriteriakan lagi?”
“Burung Beo !!!!”
“Haaa!!!!, sampeyan itu apa nggak berfikir to, Si Beo itu Cuma bisa ngomong Assalamu’ alaikum dan ‘selamat pagi doang’, benar dia mau datang di mantenan, di kenduri, di sunatan, dan lain-lain tapi sekolahnya, ijazahnya instan, beli doang..”
“Stttt, jangan seru-seru….!!!, ini po-li-tik!!!, sudahlah kamu jangan panik, jangan stress, nanti biar aku yang bergerilya meyakinkan Si Beo di desa-desa” ujar Kepodang meyakinkan
“Terus akan dipasangkan dengan siapa??”
“Agar formasi politik tingkat tinggi ini jreng, akan aku sandingkan dengan Si Prenjak. Pertimbangan saya, dia itu cantik, istrinya burung kaya, sedang menguasai pohon beringin, dan bisa menarik kaum muda, …karena dia itu artis dangdut lo…”
“Tapi, dia itu kan ya sama saja dengan Si Beo ??”
“Ealaaah, sampeyan itu ndak mudeng-mudeng juga, ini namanya politik tingkat tinggi tau !!!”
***
Kocap kacarito !
Si Beo dan Si Prenjak kini telah bertengger di sangkar emas. Kebiasaan menghadiri undangan mantenan, khitanan, sunatan, dan kenduri tak pernah lepas darinya. Gelar merakyat semakin menggila. Setiap kali ada pertanyaan apapun, baik dari sekda, kabag, staf, camat, lurah, RT, RW-, maupun dengan lapisan masyarakat bawah, maka selalu ia jawab ‘assalamu’alaikum’ dan ‘selamat pagi’
Itulah tamsil beo, pinter ngomong tetapi nggak tahu maksudnya
Dikagumi banyak orang hanya bermodalkan bisa menirukan suara manusia
Ia bisa menirukan salamnya manusia, karena ia sering mendengarnya
Bangsa manusia pun sebentar kagum,
Tapi.. lama-lama bosan juga
Karena kata-katanya itu-itu saja
Ada kata tapi tiAda makna
Beo jadi
Pajangan
Suara
saja