Selasa, 17 November 2009

Negara tanpa Kerangka

Raras kang halenggah neng aparan rukmi, akarya asmara, hanawung sembada, hawingit weh wing wrin, wimbaning narpati, siniwaka kadya, sang maha Bathara tumurun mandana, pra sidaning dadi, harjaning praja

Tersebutlah di Gupit Mandragini, Sang Prameswari Raja Giyantipura Prabu Karempatnyana, Dewi Mustikawati istri Prabu Bomanarakasura nampak murung, berduka hatinya, duduk membelakangi suaminya yang baru datang dari meeting di pasewakan beberapa jam yang lalu. Prabu Boma nampak bingung, melihat perubahan sikap permaisurinya. Ia mencoba merayu beberapa kali namun sedikitpun Dewi Mustikawati tidak mau membalikkan wajahnya.
”Garwaning pun kakang Dewi Mustikawati?, aku kok jadi ndak mengerti apa maksudmu kok tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?, tolong berbicaralah..”
”Kaka Prabu pepunden kula, sesembahan kawula..” jawab Dewi Mustikawati dengan membelakangi suaminya
”Yaa, bicaralah, apa maumu”
”Aku punya keinginan, dan kakang harus memenuhi semua itu, sekarang berjanjilah”
”Yaa, aku akan berjanji menuruti semua keinginanmu. Apa keinginanmu, seluruh dewa menyaksikan sumpahku ini”
”Kaka Prabu, aku ingin kakang membuatkan jalan yang lurus seperti jalan tol yang mulus antara Giyantipura dan Trajutrisna. Dan kakang harus berjalan di sana lurus tanpa menoleh kanan dan kiri, apalagi berbelok arah...”
”Ha...ha...ha...., oooalaaah kecil itu bocah ayu, jangan kuwatir, nanti akan kakang carikan Dana Alokasi Khusus, dana PNPM mandiri, dansos, dan lain-lain” jawab Prabu Bomanarakasura yang tidak paham dengan bahasa sasmita yang baru saja diucapkan istrinya
”Kula nyuwun paduka prasetya ngugemi janji menika, kaka Prabu?”
”Yaaa, aku bersumpah aku akan menepati janji, dan aku berjanji pula bahwa kraton dan seisinya bakal menjadi milikmu. Namun untuk menunaikan ini semua aku akan minta doa dan restu dari Ramanda Prabu Kresna di Dwarawati, dan ibunda Bethari Pertiwi di Ekopratala..”
”Menapa kula kepareng handherekaken paduka ?”
”Waah ora usah nanti malah ngriwuk-ngriwuki lakuku, wis yayi aku njaluk pamit, reksanen praja Trajutrisna lan Giyantipura”
”Kasinggihan kaka prabu, sugeng tindak...” jawab Dewi Mustikawati sewot
Prabu Bomanarakasura segera berjalan memanggil sopir pribadinya dan meluncur dengan mobil kijang warna biru menuju negeri Ekopratolo tempat ibundanya.
Sementara itu Patih Pancatnyana nampak panik dan nggondhok hatinya. Ia ndak terima dengan omelan Prabu Kresna tempo hari. Kalau bukan mertua Prabu Boma pastilah ia sudah dilumat habis-habisan. Untunglah Patih Pancatnyana masih bersabar hatinya. Kemudian ia segera merogoh celana jins-nya mengambil HP, menelpon komandan prajurit Ditya Satrutapa dan Ditya Satrutama untuk segera menemuinya
”He!, lu lagi ngapain ?”
Ditya Satrutapa bangun terkesiap!, ia segera mencari arah suara alarm HP yang berdering.
“Oh, kasinggihan gusti!”
“Lu segera ke sini, cepaaat !!” teriak Patih Pancatnyana lewat HP-nya
“Oh siap !! gusti” jawab Dityo Satrutapa sambil berlari
Tidak beberapa lama Dityo Satrutapa dan Ditya Satrutama sudah datang menghadap bersama ratusan prajurit.
“Wonten dhawuh manapa Patih”
“Iki begini, ... lu berdua kan selama ini belum pernah menunjukkan baktimu pada negara ta?”
“Maksudipun??”
“Seprana-seprene kowe sakaloron itu kan belum naik pangkatnya ta?, nah iki gusti prabu bakal mengadakan kenaikan pangkat bagi prajurit yang setia mendarmakan baktinya kepada beliau. Tidak tanggung-tanggung, bagi siapa yang berprestasi tinggi bakal mendapatkan pangkat yang tinggi, itupun masih ada syaratnya, yaitu bagi mereka yang tidak berkelamin ganda, atau tidak menjabat dilain tempat, atau telah memperoleh sertifikasi di tempat lain, kalau demikian berarti mereka telah berani menyaingi kekuasaan tertinggi di negeri ini, piye kowe sakaloron wis siap?”
“Wah lha ya siap ta Patih, terus tugas kami apa?”
”Kowe sakaloron tak kon ngrebut bojone Raden Samba, gawanen mlayu, sowanna marang Prabu Boma”
”Lho ???”
”Aja sumelang, gusti dhewe sing pingin ngersakake, arep digarwa. Bener dheweke ijik adik ipare, nanging Prabu Boma wis kandung gandrung kapirangu, mula kowe kudu bisa nyowanake. Yen kowe gagal taruhannya adalah jabatanmu. Kursimu bakal digantikan oleh orang lain, alias kowe bakal nampa pidana pemecatan, bareng karo para prajurit sing jumlahe ana 30 wong. Malah iki SK pemecatan kanggomu uga wis rampung disiapake, sak mangsa kowe gagal nindakake tugas iki, surat pemecatan langsung ndak kekne kowe…”
Ditya Satrutapa ndak begitu nggubris dengan gertak sambal yang tidak didasari oleh landasan hukum tersebut. Ia menganggap keputusan itu adalah keputusan liar. Keputusan pemerintahan tanpa kerangka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar