Jumat, 05 Februari 2010

FUNGSI DAN PERAN PAGELARAN WAYANG PURWA BAGI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BANGSA

Tiga pendapat budayawan di atas dapat dipastikan berlandas-kan pada hasil pengamatan mereka yang panjang dan serius terhadap pertunjukan wayang kulit purwa. Mudah-mudahan ketiga kelompok pendapat ini dapat mewakili acuan berpikir dalam diskusi.

Fungsi dan peran pertunjukan wayang purwa dapat dirinci sebagai:

1. sarana ungkap orang Jawa dalam memahami alam semesta, baik rohani maupun bendawi;
2. penghubung antara budaya tradisional klasik (baca kraton) dengan budaya tradisional kerakyatan; serta
3. frame of referance dalam mengeseimbangkan ekspresi moral (etika), keindahan seni (estetika), peribadatan (devosional), dan hiburan.

Pertunjukan wayang purwa sangat sarat dengan konsep hidup orang Jawa, di bidang politik pemerintahan (baca janturan pada jejer pertama).

Eksistensi Dalang
Eksistensi wayang sekarang bukan hanya terganggu oleh pendangkalan makna dan estetika belaka. Tingginya kualitas seni, dalam tataran bahasa dan filosofinya, juga mempersulit pemahaman kebanyakan orang awam. Jadi masalah kualitatif itu juga merupakan kendala tersendiri. Peran dalang yang paling menentukan juga berpengaruh terhadap kualitas pentas wayang dalam masyarakatnya. Salah satu ciri khas wayang sebagai teater tradisional adalah keterbukaannya terhadap kemungkinan berimprovisasi.
Cerita atau lakon boleh sama, diambil dari Ramayana atau Mahabharata. Tetapi setiap dalang punya ciri khasnya masing-masing dan memiliki kemampuan berimprovisasi yang berbeda. Ada dalang yang improvisasinya memperkuat daya tarik terhadap publiknya. Seperti joke, iringan gamelan, lakon-lakon carangan dsb. Namun ada pula dalang yang memiliki daya improvisasi yang lemah sehingga ia kurang atau tidak populer. Lemahnya daya tarik menyebabkan banyak dalang yang berguguran, tidak lagi ada penanggapnya.
Sangat menarik untuk ditilik, bahwa di Jawa Tengah, dalang-dalang pesisir minggir dan dalang - dalang dari pegunungan tetap bertahan bahkan mengalami suksesi atau regenerasi. Dalang-dalang wayang yang kini masih manggung (berpentas) adalah mereka yang berasal dari Surakarta, Yogyakarta dan Banyumas atau sekitarnya.
Banyak dalang misuwur berkat kecanggihannya, tetapi juga banyak dalang yang tidak mashur karena tidak mampu berimprovisasi. Dalam sejarah pewayangan di Indonesia, nama Ki Narto Sabdo merupakan sosok dalang wayang yang luar biasa daya pesonanya. Selain kemahirannya dalam gerak fisik (sabetan), ia juga sering menampilkan kemampuannya menguasai nilai-nilai filosofis dengan bahasa sastra jawa yang fasih. Ia menyajikan kemampuannya dengan lancar sekali. Setelah kepergian Ki Narto Sabdo, kita belum pernah punya dalang yang sekelas beliau.
Selain mumpuni dalam ilmu pewayangan, Ki Narto Sabdo yang pantas digelari Empu Dalang itu juga kreatif dan produktif, menghasilkan lagu-lagu ciptaannya sendiri, yang secara literer enak dinikmati juga punya daya hibur tersendiri. Nilai hiburannya itu hanya sebagai pembungkus nilai-nilai pedagogis yang terkandung di dalamnya.
Teori Pengembangan Sastra Pedalangan
Apabila kita cermati, sejak awal pertumbuhannya (Ramayana/Mahabarata) hingga dewasa (cerita yang dibawakan oleh dalang modern) boleh dikatakan semua cerita mengandung unsur kritik dan pesan sosial walau dengan tingkat intensitas yang berbeda. Ada yang tersembunyi, terang-terangan, keras, kasar, lembut, dan terputus-putus. Karena karya sastra pedalangan merupakan peniruan dari kejadian alam, sosial kemasyarakatan sebagaimana diisyaratkan dalam teori mimesis.
Ketika dalang menjadi anggota sosial masyarakat, kemudian terilhami oleh realitas sosial dan diekspresikan dalam bentuk karya, maka di sinilah sebenarnya tergambar kedekatan antara pengarang dan karyanya dengan kondisi sosial kemasyarakatannya. Dengan demikian karya sastra (pedalangan) mencerminkan latar belakang sosial pengarangnya. Kita ambil contoh, bagaimana Pramudya Ananta Toer mampu merefleksikan derita manusia Indonesia dalam zaman kolonial, zaman kemerdekaan, dan zaman rezim orde baru. Demikian halnya dengan karya sastra wayang yang ada di koran ini. Kemudian juga Saman (1998) pada tulisan ini yang dijadikan sebagai objek adalah kondisi sosial masyarakat di masa orde baru yang bengis, kejam, manipulatif, kolutif yang dibingkai atas nama pembangunan. Dan, oleh pengarangnya dibingkai dalam setting kehidupan mutahir, dengan menggambarkan lingkar sosial yang dibentengi aktivitas LSM yang menegakkan HAM dan jurnalistik dalam frame informasi besar globalisasi dan komunikasi
Teori sosial sastra berkaitan dengan teori Marxisme yang telah dikembangkan oleh G. Plekhanov. Dia mengatakan bahwa seni (sastra) adalah cermin kehidupan sosial, dan ada insting estetis yang sama sekali non sosial dan tak terikat pada kelas sosial tertentu. Umar Kayam menyinggung hubungan sastra dengan realitas sosial dalam kerangka struktural genetik.
Fungsi Sosial
Dialog pedalangan (sastra lisan) dalam lingkungan sosial masyarakat secara langsung atau tidak langsung akan berdampak dengan segala ekses yang akan ditimbulkannya. Oleh karena itu fungsi sosial pedalangan merupakan ukuran , yaitu sampai sejauh mana nilai sastra pedalangan berkaitan dengan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Fungsi sosial dalang dapat menjadi kontrol karena kritik-kritik sosial yang dikemukakannya. Dalam posisi yang demikianlah seringkali karya sastra mengalami berbagai bentuk pelarangan. Hal ini karena pemahaman yang sempit dan dangkal bagi orang yang merasa eksistensi/ jabatan/ kedudukannya terganggu.
Lebih dari itu, fungsi sosial sastra pedalangan menawarkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang dapat diambil oleh pendengar/ pembacanya. Terhadap penggambaran/pengimajinasian kekerasan sekalipun. Karena sesungguhnya karya sastra khussusnya pedalangan tidak dimaksudkan untuk mengajarkan kekerasan. Tetapi sebaliknya, bagaimana dapat dipahami bahwa kekerasan, keculasan, pemerkosaan hak-hak, hanya melahirkan derita yang berkepanjangan. Dengan demikian sastra pedalangan berfungsi untuk menyebarkan nilai-nilai yang bersifat alternatif bagi nilai-nilai yang sedang berlangsung demi perubahan sosial yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar