Minggu, 05 Desember 2010

Paradigma Guru Masa Depan Guru Selalu Belajar OLEH: SETYO HANDONO

Dalam pandangan lama, guru adalah pendidik yang bertugas mengajarkan ilmu kepada siswa di dalam kelas. Ia, adalah tokoh sentral, tokoh serba bisa dan sumber satu-satunya yang mampu menjawab semua masalah materi pelajaran yang terjadi dalam kelas. Guru jaman dulu adalah ‘digugu lan ditiru’, pameo lama yang mengesankan betapa otoritariannya seorang guru dalam memberlakukan ketaatan yang kaku kepada murid-muridnya.
Muhtar Buchori (Kompas, 12 Februari 2010) mengatakan, Belajar dari guru yang terus membaca( belajar : pen.), rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi mau membaca (belajar), seperti minum air comberan.
Tulisan ini serasa membuka mata saya yang tengah terlena dari mimpi-mimpi indah di alam tidur. Saya membayangkan, sendainya di suatu kelas, gurunya mau belajar ( mau belajar mengurai kekurangan dirinya, mau belajar mengenali kebutuhan muridnya, dan mau belajar untuk menemukan solusi pembelajaran inovatif pada mata pelajaran yang diampunya) maka , alangkah dinamisnya sebuah kelas. Guru dan peserta didik sama-sama bersemangat untuk belajar, bertemu dalam satu ruangan. Maka terjadilah interaksi social yang penuh makna, Peserta didik pasti merasakan bahwa kebutuhan spiritualnya terpenuhi. Ia kemudaian akan mencatat dengan tinta emas, seluruh pribadi guru yang bersangkutan di sanubari, disepanjang hidupnya. Pameo ‘ digugu lan ditiru’ benar-benar bukan lagi keterpaksaan, akan tetapi merupakan penghargaan tertinggi, yang lahir dari sanubarinya.
Tulisan di atas harus dijadikan penyemangat bagi guru di Indonesia untuk segera berbenah diri dan instropeksi diri terhadapa semua yang sudah dan yang akan dilakukan. Intinya guru harus senantiasa rajin belajar , senantiasa membaca , senantiasa mengkaji dan senantiasa meneliti, agar kualitas keilmuannya semakin tinggi. Dengan demikian seorang guru akan memiliki ketajaman spiritual, yang menjadikan hati, pikiran, tutur kata, dan perilakunya selalu segar , sejuk, dan membahagiakan kepada peserta didik .
Buat saya pribadi,ketajaman spiritual seorang guru harus senantiasa hadir berdampingan dengan proses belajar dan mengajar di kelas. Ketajaman spiritual , akan melahirkan kerinduan untuk salalu bertemu, berpadu membangun makna dan melahirkan karya-karya nyata yang berharga , dan bermakna bagi hidupnya.
Guru profesional bagi saya bukan datang dari seberapa banyak penghargaan yang didapat. Akan tetapi seberapa dalam kepedulian kita terhadap kebutuhan peserta didik, sehingga mereka mampu membangun hidupnya penuh dengan makna.
Sebab penghargaan sering bersifat nisbi. Ia sering memperlihatkan wajah berserinya ketika tampil di panggung pentas, tetapi ketika ia kembali pada peraduannya, ia seringkali memperlihatkan bentuk aslinya. Guru professional adalah lahir dari kedalaman hati untuk ikhlas memberi dan membangun makna dalam kehidupan nyata. Ia ada, bukan karena ingin dihargai, akan tetapi ia selalu berkarya tanpa mengharap penghargaan.
Masih menurut Mochtar Buchori, seorang guru baru dapat disebut ”guru profesional” kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt), tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang senantiasa belajar mengistropeksi dirinya, agar selalu berkembang maju.
Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru adalah guru-guru yang mempunya semangat untuk senantiasa maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Bukan guru yang senantiasa berusaha meningkatan kemampuan keuangannya, dan kementerengan hidupnya.
Guru profesional memang enak terdengar di telinga, tetapi serasa berat untuk dijalankan karena beban moral yang harus dijaga. Solusinya hanya satu!, berkaryalah dengan hati sanubari, tanpa mengharap kepada manusia disekitar, akan tetapi semata-mata karena iklhas lahir batin, maka kita akan menemukan makna hidup sebanyak-banyaknya. Isya Allah barokah dunia akhirat. Ingat!!, hidup tidak untuk dipikirkan, akan tetapi untuk dikerjakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar