Minggu, 27 Mei 2012

Wayang Kemplo

Wayang Kemplo Gerr
Lampahan DEWA RUCI
Seri DURYUDONO KEMPLO
Ki Setyo Racethocarito

Leng-leng ramyaning kang sasangka kumenyar oong Mangrengga ruming puri, mangkin tanpa siring halep nikang umah mas lir murubing langit.. ooong tekwan sarwa manik ooong, tawingnya sinawung sasat sekar sinuji unggyan Banuwati ywan amrem alangen myang nata Duryudana ooong myang nata Duryudana….
Tersebutlah negeri Ngastino yang gemah ripah lohjinawi, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Aspal, gedung, jembatan, dan proyek APBD jadi makanan. Orang bilang negeri itu taman surga yang indah. Surganya bagi semua orang yang menghuni ndik sana. Tak terkecuali para koruptor, politikus busuk, politikus setengah busuk, dan politisi penguk. Semua menikmati taman firdaus yang sedang digelar ndik sana.
Siapakah yang sekarang menguasai negeri tersebut. Tersebutlah Prabu Kurupati Kemplo, seorang pangeran putra dari Dewi Gendari dan Destrarastra. Ia adalah pangeran yang terlahir dari kaum gedongan. Ia nggak pernah mengenyam pendidikan formal. Ia hanya lulus sekolah dasar saja. Sedangkan SMP , SMA dan Sarjana hukumnya hanya diselesaikan via kejar paket saja. Ia tergolong pejabat yang nggak beres sekolahnya. Dan memang baginya sekolah itu ndak penting, lha wong tamatan SD saja bisa jadi ratu kok. Paparnya dalam komprengsi pers beberapa pekan yang lalu.
Dan memang benar. Ngastina sekarang dipegang olehnya. Ngastino yang dulu moncer, kondang kaonang-onang, kini tersa semakin gelap, alias peteng ndhedet lelimengan. Sang Prabu yang ola-olo, nggak punya latar pendidikan yang layak, terasa semakin kocar-kacir memipmpin negeri. Mulai dari rekruitmen PNS, pengangkatan Sekda hingga jual beli jabatan, yang melibatkan Patih Haryo Sengkuni.
Di samping nggak becus ngurus pemerintahan, Sang Kurupati juga punya hobi selingkuh dengan istri orang lain. Selingkuhannya adalah Bakul tahu yang masih terlihat kinyis-kinyis. Konangannya ketika indehoi di sebuah hotel, terpergok oleh wartawan. Kemudian untuk tutup mulut, sang Kurupati terpaksa nguras uang APBD Ngastino untuk menyumpal mulut wartawan, agar tidak menguap di Koran.
Kebetulan pagi itu, sang padukendro lagi lenggah siniwoko, dihadap oleh seluruh pejabat eselon satu dan dua yang lagi mendapat tempat basah mutasi. Mereka pun Nampak sumringah, mesam-mesem, pangkat yang nemplek dipundak terlihat semakin nggedibel, ada yang jalannya sampai miring, termasuk otaknya. “Wah abdiku semuanya jegeg” puji sang Kurupati Kemplo, bangga dengan anak buahnya yang nggak nggenah tersebut.
“Kula dhahat, kula pundi mugi ndadosno jejimat sinuwun…, dosa menapa ingkang kula sandang, keparengo paduka paring sabdo…” Tanya salah satu anak buahnya yang ndak kalah kemplonya
Patih Sengkuni, yang juga teman kuliah Prabu Kemplo Kurupati di Universiatas Hukum Fakultas Penjara, terlihat mesam-mesem geli.
“Mas pejabat eselon…, sinuwun itu dereng ndangu paduka lho?, kenging menapa kok sampun cadhong deduka, paring pidono… ooo dasar pejabat eselon kemplo”
Sang pejabat eselon yang baru saja menjabat kepala dinas itu Nampak tersipu malu. Dia malu lantaran baru pertama kali dia menjadi pejabat yang langsung diangkat sinuhun Prabu Kurupati. Sebab, dia sendiri sebenarnya nggak layak menyandang gelar pejabat eselon tersebut. Akan tetapi karena dorongan istrinya, dia pun merelakan tujuhratus lima puluh juta untuk membeli jabatan itu agar terlihat mentereng di mata masyarakat. Toh uang sogokan itu, baginya mudah mengembalikan, jika jabatan basah itu telah disandangnya. 
Sementara Sang Dursasana terlihat terpingkal-pingkal melihat ulah para pejabat Ngastina yang semakin lama semakin kemplo semua.
“Pun man… pokoknya kula mboten melu-melu. Nggo njenengan rusak negeri Ngastino, kula tak pamit wangsul mawon…” sahut Dursasana sambil ngeloyor meninggalkan pasamuan***BERSAMBUNG LHO…
70 Milyar Uenak Tenaaan!!
Ki Setyo Racethocarito

Rongeh jleg tumiba gagaran santosa wartane meh teka sikara karodha barang-barang ngerong dicolong adipati sing ndomblong, saguh tanpa ringo-ringo, tan pekewuh sanadyan ora biso opo-opo, katalika pra kawulo kuciwo, sigra wruh manowo sang padukendra kagungan tindak sikara murang tata…ooonggggg
Sepeninggal Dursasana, tiba-tiba dari arah pintu gerbang dikejutkan dengan kedatangan Sang Resi Bisma yang naik taksi dari Talkanda. Beliau langsung njujug di pasewakan, diantar oleh beberapa pengawal setianya. Sontak semua hadirin kecuali Duryudono memberikan salam hormat sambil menundukkan kepala.
Memang hari itu ada meeting yang sangat penting. Para petinggi Kurawa tengah gelisah  mencemaskan sikap Begawan Durno yang kini tengah main mata dengan para anak-anak Pendowo. Sikap cemas itu memang sangat beralasan. Di samping akan menambah kuatnya Pandowo,  maka di satu sisi akan melemahkan Kurowo dalam perang Bontoyudo besok.
Oleh karena itu Prabu Kurupati segera mengumpulken pejabat sepuh adisepuh, ,para sesepuh ,stakeholder, pejabat eselon, salon, dan paralon, lurah, demang hingga Pak RT yang selalu menjadi king maker atau ujung tombaknya kebobrokan negeri Ngastino. Sehingga paseban pringgitan sore itu penuh sesak. Semua pejabat dan penjahat bersatu, dengan mengusung tema ‘manunggaling cipto roso karso memacu hancurnya kebaikan bumi reog’
“Kaki Prabu, jauh-jauh dari Talkanda eyang ke sini, hanya menginginkan agar gossip yang menimpa Pandita Durna ini jangan sampai berlarut-larut. Menurut saya sikap sebagai guru harus mencurahkan semua kasih sayangnya kepada semua siswanya. Baik yang bangsawan, rakyat biasa maupun, rakyat miskin papa sekalipun. oleh karena itu sikap Pandito Durno sudah pas dan adil, dia sudah memerankan guru professional walaupun test PLPG belum lulus” jelas Resi Bismo bijaksana
“Nanging, pendita Durna menika gesang sajroning negri Ngastino. Dia mendapaat gaji juga dari Negri Ngastino. Oleh karena itu jika Pandito Durno sekarang ini jadi gurunya anak-anak Pandowo, itu namanya berkhianat. Tindakan ini termasuk indisipliner, melanggar undang-undang guru Ngastino. Di samping itu, saya kuwatir, jika Pandita Durno memberikan piwulang kepada mereka, maka anak-anak Pandawa menjadi sakti-sakti semua. Sebab Pandita Durna punya banyak ngelmu Kanoragan” debat Duryudono ngeyil
“Kaki Prabu, saya mengharap masalah ini dibicarakan berdua saja. Jangan sampai pertemuan ini terkesan menjastifikasi seseorang. Ini melanggar HAM, memperbesar kemaluan eh mempermalukan orang lain di depan umum. Semua harus diklarifikasikan dengan hati yang dingin”
“Betul yayi prabu, rakanto ing Ngawonggo juga setuju dengan eyang Bismo. Lebih baik masalah paduka dengan Begawan Durno diselesaikan di dalam ruangan tertutup saja!” sahut Basu Karno tangkas
“Sudah begini saja sekarang, saya ini adalah raja negeri Ngastino, saya harus bertindak tegas. Sebab sebentar lagi kita akan menghadapi perang brantayuda jayabinangun yang keempat. Kita butuh kekuatan, dan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, saya tidak setuju, jika Ngastina dan kurawa bersatu. Saya harus merebut Ngamarto, dan membunuh semua anak turun Pandawa. Dan saya tidak mau menuruti kemauan Eyang Bismo, oleh karena itu siapa yang tidak setuju dengan keputusan ini silakan meninggalkan Ngastino!!”
Mendengar kata-kata yang pedas dari Duryudono, Resi Bismo merah padam telinganya. Amarahnya memuncak sampai kucir ujung kepala.
“Heh Duryudono, yen wis mbok karepne koyo mangkono, aku ora bakal melu-melu. Mbuh mbesuk dadi opo, aku ojo mbok katut-katutne….” Sergah Resi Bismo sambil meninggalkan pasamuan.
Tidak lama kemudian patih Sengkuni yang berperan sebagai Pak RT nya Ngastino, segera mendekat…
“Sinuwun… ini merupakan kesempatan untuk menaikkan anggaran APBD, kita buat dana siluman sebnyak 70 milyar saja. Alasannya Negara dalam keadaan darurat, perlu dana buanyaaak. Nanti orang-orang dewan kita kasih cipratan dikit-dikit saja… untuk uang tutup mulut… sudahlah, nanti Pak RT ini lho yang ngatur semuanya…” bisik Sengkuni licik




Begawan Kemplo Datang (BKD)
Ki Setyo Racethocarito

Satu per satu tokoh penting yang diundang Prabu Kurupati meninggalkan pasamuan. Resi Bismo mearasa dilecehkan, semua nasehatnya tidak ada yang diperhatikan. Ia pun pergi tanpa pamit sambil ngedumel, kaya orang mendem. “Adoh-adoh dari Talkanda, Cuma dilecehkan. Kurang ajar, tau rasa kamu Duryudono, titenono, negaramu bakal hancur…” omel Resi Bismo sambil melangkahkan kaki keluar.
Di tengah perjalanan, Resi Bismo masih terdengar ngomel-ngomel nggak karuan. Ia melihat ketidakadilan di negeri Ngastino semakin membengkak melebar, menghilangkan norma-norma yang telah ada. BKD menjelma menjadi Badan Korupsi Daerah. SEKDA menjadi Sekretaris nDak Ada. Semua proyek sudah dikuasai oleh keluarga patih Ngastino. Sekarang ndak ada tender-tenderan. Pokoknya Wadip (Wakil Adipati) yang sekarang ini menjadi ratu sejati, ia menguasai semua proyek-proyek, semua asset pemerintahan, agen jual beli jabatan, agen jual beli PNS dan sebagai pengendali adipati yang sekarang sedang memerintah Ngastino.
Begitulah Ngastino sekarang. Para notoprojo kemplo telah menjadi penguasa yang hanya menghabiskan uang Negara. Mereka bukan dari professional yang berangkat dari jenjang  bawah. Akan tetapi berasal dari tokoh-tokoh yang lemah dalam bidang manajerial, moral dan keakademisan. Maka tak heran jika pemerintahan di Ngastino, meraih prestasi memalukan. Adipatinya ola-olo, dan kemplo. Korupsi, pungli, dan manipulasi yang dilakukan anak buahnya tidak bisa ia kendalikan.
“Pejabat itu harus memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan malah memberikan pungli padanya” pungkasnya dalam sebuah acara.
Rakyat yang mendengar kritis ganti berargumen. “Alaaaah, lha wong mau jadi PNS dan pejabat saja adipati dan kawan-kawan sudah memberikan pungli kok. Bagaimana rakyat mau mendengar nasihatnya… gajah diblangkoni… iso kojah ra iso nglakoni mas…”
Akhirnya Ngastino yang sekarang dikuasai oleh pejabat-pejabat ndak nggenah semakin kehilangan arah. Mereka –para pejabat- terpengaruh atas ketidakmampuan sang adipati, yang sekarang pakai gelar MSi (Megister Sekedar Iseng). Gelarnya ternyata hanya agar terlihat mentereng saja. Sementara kompetensi  imbas dari gelarnya tidak ada sama sekali. Maklumlah, gelarnya, kuliahnya, thesisnya, skripsinya, hanya cuma beli saja. Jadi semuanya diperoleh dari jalan yang tidak normal, jalur ilegal. Maka jangan heran, orang yang mendapatkannya juga tidak normal. Dan adipati tidak ngerasa kalau predikatnya sekarang  sebagai perusak pendidikan.
“Sinuwun… keparengo kula matur”
“Hiya, ada apa paman?”
“Miturut pamawas pun paman, negeri Ngastino menika sekedap malih bakal ajur mumur, awit Kakang Pandito Durno sampun selingkuh kalian para anak-anak Pandowo. Piyambakipun medhar sedoyo ngelmu kanoragan dumateng Werkudoro. Suwalikipun, sang Pandito Sukolima meniko nglirwakaken dumateng anak-anak Kurowo. Nuwun sewu menika sinuwun, menawi menika dipun lulu, dibiarkan terus, maka akan menjadi boomerang yang akan menghancurkan Ngastino” jelas Sengkuni persuasive..
“Lajeng kepareng paman pripun?”
“Ah gampil niku. Mumpung piyambakipun wonten, mbok monggo panjenengan dangu piyambak”
“Nggih paman, sak menika sumonggo panjenegan timbali marak ngarso”
Patih Sengkuni segera mendekati Pandita Durna yang tengan main game bersama Werkudoro di teras pendopo Ngastino.
“Assalamu ngalaikum Wakne Gondel?” sapa Sengkuni sambil njawil Pandito Durno yang tengah asyik main game.
“Eh…lole…lole soma lole, mprit ganthil buntute mah joglo, cuplak andheng-andheng yen dibukak marakne kenceng…., eh iya … ada apa Sengkuni??”
“Nggih nuwun sewu kakang panembahan, kula diutus sinuwun Prabu Duryudono kinen nimbali panembahan marak sowan ing sitinggil, sak menika ugi”
“Ana perlu apa??”
“Kula mboten kepareng njlentrehaken perkawis menika, ringkesing rembak, monggo, panembahan kula larab dumateng pendapi praja”
“Oh, iya Sengkuni, hayo ndak derekne” BERSAMBUNG


Perayaan Ulang Tahun yang Keempat
Ki Setyo Racethocarito


Berita kelicikan Begawan Durno dan Prabu Duryudono Kemplo,SH, MSi, akhirnya terendus oleh para pandawa. Begawan Durno sengaja memilih Werkudoro dijadikan siswanya, karena pertimbangan politis. Durno menjelaskan bahwa kekuatan Pandawa terletak pada Werkudoro. Jika Werkudoro berhasil dibunuh, maka kekuatan Pandawa tinggal seperlimanya. Oleh karena itu, pilihan itu tidak terlepas dari perhitungan yang matang. Pertama; Werkudoro adalah ksatriya yang punya kepatuhan yang tinggi pada orang tua dan gurunya. Kedua; Werkudoro adalah ksatriya yang mempunyai kekuatan super tinggi, yang tiada tandingnya.
Prabu Kresna yang tanggap ing sasmito segera meng-esemes saudara-saudaranya Pandawa  untuk meeting di Kantor redaksi Media Mataraman. “Wah, gawat Yayi Samiaji. Kita segera perlu membahas sikap Werkudoro yang nekad berguru kepada Durno” kata Prabu Kresno via tlepon selulernya.
Prabu Puntodewo yang punya naluri kepemimpinan yang tinggi segera memanggil saudara-saudaranya termasuk Werkudoro, untuk segera meeting di kantor redaksi Media Mataraman.
“Yayi Werkudoro, Janoko, Pingsen lan Tangsen, aku ingin kalian segera datang menghadapku di kantor redaksi Media Mataraman”
“Oh iya kakang, sebentar saya segera ke sana!” jawab mereka kompak

Sementara itu, di Banjarjunut, Patih Ngastino – Haryo Sengkuni,M.Pd – yang didapuk sebagai ketua Duryudono Centre, tengah berjalan tergesa-gesa menemui Dursosono yang tengah main gaple dengan Aswotomo di bawah pohon beringin.
“Wah, dasar bocah eidaan…kowe ndek wingi tak kongkon opo?”
“Oh inggih Man, kulo kinen nglobi poro Wartawan, dalah poro pemilik kolowarti utawi pemilik Koran supados mboten ngritik Prabu Duryudono,SH,M.Si, pedes-pedes…”
“Piye? Opo usahamu wis kasil?”
“Woooh, pancen nggih cocog, kalian kahanan. Senadyan ta sampeyan niku nutup-nutupi sang prabu, waaah rakyat niku sampun ngertos sedoyo menawi Prabu Duryudono ingkang ngagem gelar SH, MSi niku super kemplo… ha…ha…ha…oalaah to Man… Man,,, mbok nggih nyebut kemawon… Kulo niku nggih paham kalih sampeyan niku… Tundone tiyang niku yen niyate olo oooh bakal konangan,…. Kok Man”
“Oh, kowe ojo ndakwo aku sing ora-ora lho Dur!, tak suwek lambemu!!, ngertiyo yo, Prabu Duryudono iku wus kasil mbangun Ngastino kanthi prestasi tinggi, pro rakyat lagi !!”
“Nopo?, pro rakyat??, ooooh sampeyan wus kuwalik imane. Cobi sampeyan pirsani. Sak niki niku, sing jenenge indomart, alfamart, tambah ngremboko wonten sak dengah panggenan. Poro pedagang kecil sami bangkrut, gulung tikar. Nopo niku sing jenenge prestasi dalah pro rakyat. Ingkang kaping kalih, sedoyo proyek sampun sampeyan kuwasani, ooalaah to Man…Man.. mentang-mentang dadi patih, sampeyan niku ngetokne srakahe. Lan kulo ngerti kok Man… anane sampeyan ngathok niku ing tembe sampeyan niku ngersakne jabatan kepala dinas, pingin dadi rojo…. Oalaah Man…Man, sampeyan bakal kelakon dadi Rojo… ning rojo koyo….ha…ha…ha..”
“Lha terus kesanggupanpu tak kongkon nglobi dek wingi kae piye??”
“Wah pun ta kajenge. Menu pedes niku kathah manpangatipun. Sepindah kangge ngencerne otak sing lagi njendhel, utek sing lagi kelebon endhut utawa air comberan. Ing tembe supoyo sing maune nduwe sifat kewan biso owah dadi sifat manungso ihsani. Kaping kalih, minongko kangge ngetest gelar MSi ingkang sampun kasandhang dening Prabu Duryudono. Awit yen ningali wicanten dalah solah bawane, gelar meniko kok katingal meragukan… malah kulo meniko tumut isin… saben mimpin rapat, kok dadi rapati nggenah, saben pidato, kok dadi kampanye…oalaaah Megister.. kok ngisin-isini…ha…ha…ha…”
Patih Sengkuni wajahnya menjadi merah padam. Dia segera meninggalkan Dursosono dan Aswotomo.
“Mo, aku itu juga kuwatir dengan ebesmu”
“Kuwatir apaan?”
“Kalau ngelmu kanoragan semuanya diberikan kepada Werkudoro, apa dikira bakal tidak menjadi boomerang bagi Ngastino?”
“Ah, sampeyan itu terlalu curigation pada bapakku. Padahal bapakku sebenarnya hanya ingin menjebak Werkudoro agar mau tenggelam di Samodra. Dia disuruh oleh bapak mencari tirto mahening suci, yang tempatnya ada di tengah samodra. Maka untuk mendapatkan air itu, syarat satu-satunya adalah harus mencebur ke tengah samodra…”
Dursosono akhirnya menjadi paham dengan semuanya. Oleh karena itu dia segera beranjak dari duduknya, dan mengajak Aswotomo menuju Ngamarto untuk menemui para pemilik Koran untuk tetap memberikan kritik yang pedas dan tajam, dalam rangka menguji kesarjanaan, dan kemesgiteran Prabu Duryudono SH,MSi. Sarjana-sarjanaan atau Megister Sekedar iseng belaka.
Aswotomo tidak lupa membawa kue tart susun empat, tanda ucapan ulang tahun kepada Media Mataraman. Sedangkan Dursosono membawa oncor, sebagai ganti lilin, pertanda sebagai ucapan kepada Media Mataraman agar menjadi Koran pelopor yang menerangi bangsa dan Negara Ngastino. Dan menerangi hati manusia agar berlaku terang, jujur, tidak suka berbohong seperti tingkahnya Prabu Duryudono,SH,MSi.


Bancaan APBD SILUMAN
Ki Setyo Racethocarito

Bumi reog gonjang-ganjing lir kincanging alis, risang maweh gandrung sabarang kadulu APBD moyag-mayig oooong

Tepat jam sepuluh pagi, sang panembahan Pandita Durno memasuki ruang sidang paripurna. Ndik sana udah ada Prabu Kemplo Duryudono,SH,MSi. Wabub Patih Sengkuni, asisten satu Durmogati, asisten dua Citraksi, asisten tiga Citraksa, dan asisten empat Kartomarmo. Mereka sengaja mengadakan meeting terkait rumor dana siluman, dan  isu negative tingkah laku Begawan Durno terhadap anak-anak Pandowo.
Sebelum acara dimulai, seperti biasanya diadakan apel alias upacara resmi. Yang pertama dilakukan adalah menyanyikan lagu kebangsaan Ngastino. Kemudian dilanjutkan pembacaan Pancasila.
Nah, pada saat membaca Pancasila ini, Prabu Kemplo Duryudono,SH. MSi, kelihatan aslinya. Ratu Ngastino yang punya gelar palsu ini ternyata hanya jebolan sekolah dasar saja. Lha wong hanya tinggal membaca saja ternyata ndak bisa, ndak bisa. Macih kalah ama anak kecil …”Ah, malu-maluin…memperbesar kemaluan…” Pancasila yang mestinya lima dasar, ia hilangkan sebagian tinggal empat dasar saja. “Oalaah.. kemplooo…kemplo..” ujar beberapa lurah yang dulu pernah mengusungnya jadi adipati, kecewa.
Suasana di pendopo kadipaten terlihat semakin semrawut, amburadul. Adipati sang megister palsu persis seperti tayangan tukar nasib. Ia nggak paham dan nggak mudeng apa yang menjadi tugas adipati dalam pemerintahan. Lurah-lurah yang dulu memperjuangkan untuk jadi adipati-pun nampak mulai meninggalkan dukungannya. Mereka para lurah dan kepala desa merasa tertipu. Mereka merasa menyesal, karena ikut menyesatkan masyarakat Ngastino memilih adipati kemplo. Buktinya janji-janji yang pernah diberikan sang adipati ketika macung dulu, satupun ndak bisa direalisasikan.
Para kepala desa serta perangkatnya gigit jari kaki dan tangannya. Alias ngaplo seperti wayang kemplo. Ola-olo koyo wong pelo. Mereka dulu dijanjikan bakal diberi peningkatan pendapat.. ee bareng jadi beneran tak sepeserpun peningkatan itu diberikan. “Lha mau diberikan bagaimana. Lha wong membaca saja nggak bisa?, apalagi menyusun program anggaran, program pemerintahan, dan program strategis lainnya?? Nggak mudeng mas, mangkanya sekarang ini negeri Ngastino anyep njenjet, paket lebaran nggak ada, baju seragam nggak ada, bahkan kenaikan pangkat juga nggak ada lagi. Adipatinya linglung, bingung, maklumlah… hanya lulusan sekolah dasar saja”
“Wonten kerso menapa dene padukendra nimbali kula pun Durna ngger”
“Inggih eyang… kula bade minta keterangan eyang Durna babagan sesambetan eyang kalian Werkudara”
“Oh, dugrahat…dugrahat, loleeee…loleee soma lole mprit ganthil buntute mah joglo, adipatine plola-plolo, katon bodho koyo kebo… oalaah mung iku ta ngger… Nggih, menawi ngaten kula akeni bilih sedaya menika sampun kula sengaja bilih Werkudara ing ri kalenggahan menika dados siswa kula…”
“Lha rak leres ta sinuwun… menawi mekaten ateges Bapa Durna bade adamel ringkihipun Kurawa. Wosipun kanthi nggladhi Werkudara ateges sedaya ngelmu kanoragan badhe lumuntur dumateng Werkudara. Lan menika badhe nambah sentosanipun para Pandawa. Pramila kanthi menika sinuwun…, Bapa Sokalima sampun tumindak subversive, merorongrong kewibawaan Ngastina, pantes menawi Kakang Durna lumebet kunjara…”
“Piye Eyang Durna??”
“Oh… loleeee…loleee soma lole, wong kok cubluk banget nalare… bodho banget pamikire. Wong koyo Sengkuni niku sing pantes diukum mati. Wong mung bisane dadi provokator, tumbak cucukan. Mula kowe kuwi dijenengne Sengkuni. Seng iku mambu, Kuni iku telek. Dadi sengkuni iku ngemu teges ‘mambu telek’….”
“Wah, sampeyan iku nambahi ruwet rentenge praja wae…”
“Nggih, sak niki ngaten mawon sinuwun…, kula badhe blakasuta mawon…”
“Ngatos-atos sinuwun… sok sok kakang Durna niki tinggal glanggang colong playu, pramila sedaya pocapanipun badhe kula rekam…”
“Pun, sak niki paduka mirengaken kula menapa tekek elek Sengkuni niki, menawi paduka mirengaken Sengkuni kula tak nyuwun pamit mawon…”
“Lho rak tenan ta sinuwun… mesti piyambakipun badhe tinggal gelanggang colong playu…”
“Oalaah, ngrungokne kok ngrungokne wong bodho, wong culas, wong mendho, wong rakus, dadine ya kaya ngono kuwi. Dadi wakil adipati ya adipati rakus. Sak eneke proyek dikuasai kabeh. Nganti duwit APBD diuntal, untung adipatine mendho.. dadi  bisa mbok apusi… bisa mbok kerjain… Wis kateg-kategna Sengkuni… Gusti Murbeng Dumadi ora tau sare. Bandha karam sing mbok untal bakal dadi penyakit!!!



Sopir Pejabat Siluman
Ki Setyo Racethocarito


Kadipaten Ngastino kian hari paham kemploisme kian melanda pada gundulnya pejabat. Hal ini tentu saja alir kebijakan dari sang dipati kian menambah semarak perkemploisme di sana. Tak terkecuali tiga kusir kadipaten yang ngurusi tiga kereta siluman kini beralih menjadi juru racik jabatan. Mereka adalah Haryo Condowiseso, Haryo Kardiosamapto, dan Tumenggung Saguhlorolopo.
Banyak orang kadipaten yang nggak paham dengan ketiga kusir tersebut. Masyarakat hanya mengenal kalau ketiganya adalah penasihat spiritual. Mereka keluar masuk blusukan di istana kadipaten tanpa protokoler.  Mereka juga sebagai penghubung dengan masyarakat, ketika ada kajatan, kenduri, tingkeban, RT an, sunatan, arisan, mantenan, dll. Mereka tahu kelemahan sang dipati. Yaitu takut kalau mengikuti kalangan akademis. Takut kalau pengapesannya ketahuan.
Begitulah keberadaan tiga kusir kereta siluman itu. Mereka adalah penasihat sekelas penasihat keprisidenan dan hulubalang. Mereka punya kekuatan untuk mengangkat pejabat, mengangkat pegawai negeri, bahkan keluarga yang tadinya pengangguran-pun tahu-tahu dapat jabatan. Maka jangan heran jika di instansi pemerintah daerah, tiba-tiba ada pegawai titipan, bidan titipan, guru titipan, karyawan titipan, satpam titipan, dan sebagainya. Mereka merasa kalau Ngastino adalah miliknya.
Sementara itu, Pandito Durno yang sedang diadili oleh Adipati Kemplo Duryudono dan patih Sengkuni,  masih memaparkan visinya
“Begini lo ngger… kenapa eyang memilih Werkudoro sebagai siswa Sokalima…. Ini adalah politik tingkat tinggi ngger. Werkudoro kula pilih jalaran piyambakipun tiyang ingkang patuh lan taat dumateng guru. Menawi kula ingkang ngutus, mesti menapa kemawon bade dipun lampahaken, kosok wangsulipun menawi piyambakipun kula penggak, menika inggih bade tuhu bektos miturut ngger…”
“Interupsi wakne gondhel… “
“Iyo, ono opo Sengkuni”
“Kakang Panembahan mau kandha apa?”
“Werkudoro mono siswa sing patuh lan mituhu dhawuhe guru!”
“Terus mbok kongkon opo Werkudoro!”
“Werkudoro tak kongkon njegur segoro, nggoleki tirta pawitra mahening suci sing panggone ana telenging samodra”
“Numpak gethek apa speetbot?”
“Oh, loleeee…loleeee, bocah kok cengoh koyo adipatine, malah kowe ki patih lha kok yo kalah kalah karo sopirmu… oalaah patih karo adipatine pisan kok yo kemplo kabeeeeh, iki mengko Negara arep dari opo to yo…yo…, iki ngene lo Sengkuni, Werkudoro mengko tak kon njegur tanpa bantuan alat apapun termasuk plampung, lan tabung oksigen…”
“Weee, gurune tibake ya luwih kemplo… coba ta sampeyan penggalih maneh ta panembahan. Werkudara kae dedek piyadege yen lumebu segoro mula ora bakal kleleb… lan maneh deweke duwe anak sing bisa ambles bumi, aku yakin deweke mesthi njaluk bantuan si Antarja…yen koyo ngono tenan politik tingkat tinggimu diragukan, bisa-bisa kowe bakal kewirangan…”
“Ah nonsense…omong  kosong. Sopo sing durung kenal karo aku…, aku iki wis pengalaman, Senadjan aku ora duwe titel SH,MSi, nanging aku luwih pinter tinimbang kowe. Aku elek-elek ritek tahu sekolah, sekolahku kanthi cara sing bener, ora tuku ijazah koyo kowe… arepo kowe sarjana utowo megister , nanging aku yakin sarjana lan megistermu mung kanggo gagah-gagahan, lha wong skripsi wae ora cetho gawe, apa maneh tesis… hayo kethoken drijiku yen kowe sarjana lan megister tenan…” cecar Durna muangkel kel
“Bapa Durna…Bapa Durna…”
“Oh inggih ngger..”
“Sakniki mboten sisah panembahan eker-ekeran rebut bener. Sampeyan pun ngelek-elek kula. Sanadya kula namung alumni kejar paket, nanging kula niki adipati Ngastina lho, menawi kula mentolo, jengandika saget kemawon kula lereni dados PNS…”
Durna jadi terdiam. Sengkuni, berikut tiga sopir yang paling berpengaruh di Ngastina segera meninggalkan pasamuan.  Akhirnya negeri Ngastina semakin runyam, karena ulah para pejabat yang berpaham kemploisme telah mendominasi semua lini. Sang adipati yang lemah pun semakin lemah, pidatonya semakin ngawur, karena hapalannya habis. Nyaris sekarang seperti burung beo, yang hanya bisa membunyikan kata dan ayat-ayat yang sama di manapun berada. Dan sekarang gelarnya bertambah menjadi Adipati Beo Kemplo Duryudono, SH,MSi.




SOPIR SAKTI
Ki Setyo Racethocarito

Sejenak di pendapa pringgitan para hadirin terlihat terdiam. Orang dekat Prabu Kemplo Duryudono,SH,MSi, seperti Haryo Suman,MPd, Kartomarmo,SH, Citraksi, Sangguplorolopo, Condowiseso, dan Kardiolumaksono, selalu menjadi penerima tamu saat ada tamu penting yang datang ke pendapa. Ketiga orang tersebut, dalam struktur pemerintahan tidak ada hubungan structural. Akan tetapi karena mereka adalah orang-orang dibalik suksesnya Prabu Duryudono jadi ratu, maka mereka diberi kesempatan menjadi penggede di pringgitan Ngastino. Bahkan mereka juga yang ikut jadi makelar yang menata jabatan di Ngastino, sehingga pemerintahan menjadi runyam nggak karuan.
Lucu, menggemaskan, dan mencemaskan. Sebuah pemerintahan formal dikendalikan, oleh juragan gunung gamping,  dan sopir pribadi sang Prabu Duryudono. Dianggapnya kalau sudah sukes jadi tim sukses  bisa berbuat semena-mena, sebebas-bebasnya, tanpa etika, tanpa aturan. “Oalaah kemplo…kemplo…., wong ki yen ora tahu oleh pendidikan karakter yo ngono kuwi” keluh Begawan Durno
Begitulah kemploisme telah melanda pemerintahan Ngastina. Semua itu tidak terlepas dari pucuk pimpinan yang nggak becus  memimpin. Dan nafsu serakah tim suksesnya untuk melahap kue pemerintahan sehingga, dulur, sanak kadang, suami, istri, dan rakyat yang sanggup membeli jabatan dapat jatah di pemerintahan daerah. Pemerintah Ngastino persis pemerintahan preman. Mereka berjalan di atas penderitaan orang lain.
Melihat dan mendengar pemerintahannya bubrah, Prabu Kemplo Duryudono,SH,MSi beserta dua sopir dan satu juragan gamping -tim suksesnya- jingkrak-jingkrak nggak mudeng. Mereka bangga dalam ketidakmudengan. Mereka tidak mudeng karena karakter kemplonya sudah diraih ketika menjadi preman hingga mendapat gelar megister kemplo di universitas ra nggenah dulu.
Itulah pemerintahan ra nggenah, pemerintahan kacau bin ngawur yang pernah terjadi di OVJ kini menjadi kasunyatan di ngalam ndonya Ngastino. Tapi walau ngawur ,mereka –tim sukses kemplo- cukup terhibur karena sang Prabu sangat merakyat.  Betapa tidak, walau di pemerintahan ndak mudeng, tapi ketika ada undangan di sunatan, di warung, di RT, di tingkeban, di zikir widak, di yasinan, di brokohan, dll. Kecuali undangan seminar, paparan visi dan misi, undangan akademik, dan undangan pinangan partai, dia ndak berani… takut kalau konangan kedua kalinya.
“Niki pripun ngger, sinuwun Prabu?”
“Menapane?”
“Oh…. Loleeee…lole… numpak sekuter nyang Ponorogo… jare megister .. jebul kok ora biso opo-opo…, duh grahat…duh grahat… dimar mati minyake kosong… oh loleee…loleee  jare gelare  bupati… nanging kok domblang-domblong, kosong mlompong, plenggang-plenggong…. Koyo Bagong…Duhgrahat…duhgrahat, ndonya tandane arep kiamat oleh pemimpin modale mung merakyat.. tata negoro ora kerumat, dhasare mung bondho nekat, rumangsane dadi bupati lungguhe nikmat, tanda tangan tondo mupangat, saguh mbangun makmuring rakyat, pranyata upakardi mung kianat, nglarani atine rakyat. Bondho karam podho disunat… duhgrahat… duhgrahat… Ngger Prabu Duryudana… menawi Ngastina menika tetep ngugemi paduka… oh mbenjang ing prang Bratayuda Jayabinangun Ngastina bakal ajur mumur, ngger…pramila kula mboten lepat menawi si Werkudara kula lamar dados ketua partai, eh mahasiswa kula ngger, mbenjang kula bujuk, bade kula wisuda dados Megister Sosiologi… sinten ngertos mbenjang pikantuk suara mayoritas wonten ing pemilu 2014…”
“Oh inggih eyang, nanging kula dereng pitados menawi Werkudoro dereng dipun sowanaken sak menika…”
“Oh… loleee…loleee, kasinggihan ngger, dinten sak menika pun Werkudara sampun kula SMS, malah menika kula sampun nelasaken pulsa sak rinjing…”
“Oalaaah, pulsa opo lo kok sak rinjing?, pendita ki yen pendito kemplo ya kaya pendita wakne gondel ngene iki… pulsa kok sak rinjing, rumangsane gaplek piye…”
“Wis Man, Suman…lambemu aja ndomble wae… ngko ra tak dadekne kepala dinas kapok kowe…, ning kene iki sak iki rol e aku, ngerti ora…, kowe macem-macem tak kandakne tim suksesku, ooo kowe bakal dimutasi, biso-biso leren dadi PNS kowe…”
“Wah, dadi pendito pisan wae kok galak temen ta… hayo  sak iki sampeyan timbale si Werkudoro, yen nyoto sampeyan konsisten pingin nggembosi Pandowo…”
“Oh loleee…loleee, adipati karo patihe kok jebul podho wae… coba sawangen mburi kae… si Werkudoro awit mau wis karo aku….”

Orang sak pringgitan kaget, ternyata Werkudoro sudah hadir di tengah-tengah mereka. Haryo Suman, Kartomarmo, Citraksi, Durmogati, dua sopir sang Prabu, serta juragan gunung gamping pura-pura menyambut Werkudoro ramah. Mereka berada di pintu gerbang pringgitan, layaknya manggoloyudo… “Piye, awakmu teh opo kopi… Tanya Condowiseso kepada Prabu Duryudono, nggak punya etika.




Pegawai Siluman
Ki Setyo Racethocarito
Kita tinggalken dulu kisah orang-orang kemplo yang memegang tampuk kepemimpinan negeri Ngastino. Sekarang kita lihat Raden Dursasono yang kedarang-darang meninggalkan pasamuan, akibat ketidakcocokannya dengan Prabu Duryudono dan wakilnya Haryo Suman, M.Pd. Dia sekarang berada jauh dari pendapa pringgitan. Dia berkeliling menjaring aspirasi masyarakat terkait kepemimpinan Prabu Kemplo Duryudana,SH.MSi,
Jujugan pertama kali adalah warung iwak kali, yang dijadikan berkumpulnya para proletar alias rakyat jelata. Tempatnya berada di pinggir kali Sekayu Ngastina. Setiap hari para pegawai rendahan dan masyarakat beramai-ramai makan ndik sana. Sang Dursasono pun ndak mau ketinggalan.
Dengan bersandal jepit, Dursasono nyingklak sekuter Congo berwarna biru menuju warung yang ramai jadi jujugan masyarakat. Di sana sudah banyak yang tengah makan dan ngantri membeli nasi pecel iwak kali untuk dibungkus dibawa pulang.
Dursasono segera menghentikan skuter dan memarkirnya di bawah pohon bamboo, cukup digeletakkan saja. Maklumlah jagragnya sudah patah. Dia nggak mau berpenampilan ala anggota dewan yang kemaruk dengan kemewahan. Dia jadi orang biasa saja. Walau pejabat tinggi, tetap merakyat, tetap kritis terhadap kebijakan pemimpinnya. Dan dia tidak ngawur seperti Prabu Kemplo Duryudono, SH,MSi, yang pakai gelar palsu hanya untuk gagah-gagahan saja.
“Sarapan Bu…” ucapnya singkat
“Ngersakne pecel nopo iwak kali thok !?”
“Menawi bungkuse thok pripun ???”
Orang-orang di dalam warung menjadi tertawa semua. Pagi itu suasana menjadi gayeng lantaran pemilik warung humoris dan pinter membuka suasana. Pantaslah warung itu selalu ramai dikunjungi warga masyarakat.
Setelah sarapan pagi selesai, Raden Dursasono segera beranjak meninggalkan warung, dan segera ngeloyor keluar meninjau satker-satker yang ada di negeri Ngastina. Konon satker-satker yang dikepalai oleh seseorang itu sekarang –semenjak Prabu Kemplo Duryudono berkuasa- merangkap juga menjadi makelar pegawai-pegawai siluman atas prakarsa tim sukses dan Prabu Kemplo sendiri. Setiap satu gundhul pegawai siluman, ia mendapat upah lima juta rupiah. Sebuah pekerjaan haram tapi menjanjikan.
Tidak beberapa lama, Raden Dursasono pun nyampai juga di ruang kerja para satker. Ia melihat pemandangan lucu. Para pegawai siluman itu ternyata tidak punya pekerjaan. Mereka sudah pakai seragam PNS lengkap dengan asesorisnya. Sedangkan SK nya hanya berdasarkan perintah lisan dari para calo atau makelar yang mengusungnya. Sehari-hari pekerjaannya hanya duduk pethongkrongan di lahan parkir, kedatangannya seperti orang yang mau kenduri saja. Orang-orang yang sudah lama tinggal di satker tersebut mendadak kebingungan dengan datangnya mereka.
Bahkan seorang bidan protes keras, lantaran diperintah oleh kepala satker untuk menggaji mereka.
“Wah ini jelas-jelas perbuatan edan Mas!” kata seorang bidan tatkala dikunjungi oleh Dursasono.
“Edan pripun?”
“Pripun nggih, lha wong duginipun mriki mawon mboten jelas kok, lha kok kula niki kapurih nggaji piyambakipun niku pripun??, dasare menapa??”
“Weeelhadalah… dasare nggih kemplo niku, Negara niku mawa tata, mawi aturan, rumangsane yen wis dadi bupati bisa sak karepe dewe…. Oh… mang titeni, tiyang niku yen nggendhong milik lali… oh wekasane bakal ciloko, dudu darbek lan wewenange barang diuntal, dicolong, dibadhog… oh wadhuke bakal mbrodhol ususe… cangkeme bakal suwek mebrek-mebrek… pun ta niku mesti …”
“Inggih raden… kula inggih mesakne dumateng lare-lare menika. Piyambake minongko korban para calo ingkang dipun pandhegani dening wadya balanipun bupati kemplo Ngastino ingkang dasar cubluk, kumalungkung, sopo siro sopo ingsun,  ora ngerti tata krama, tata Negara, dalah tata susila, sandyan ta agelar sarjana hukum, nanging gelar menika pranyata namung gelar lamis, gelar ingkang sinandang mung kangge pantes-pantesan kewala. Isi nipun kosong mlompong, pindha genthong bolong, santer suwantenipun, nanging jebul mboten saget menapa-menapa….”
“Nanging wonten lho ingkang panatik, menawi piyambakipun menika saget mrantasi damel ing babagan pemerintahan , nanging gandeng anak buah ipun kathah ingkang saking bupati lawas, pramila menika dados pepalangipun pemerintahan…. Yen kula nambahi soyo yakin bilih bupati kemplo menika nedahaken derajat kemplonipun semakin tinggi. Tiyang niku yen pinter, ngadepi sinten mawon rumaos gampil lan sekeco, mbuh niku warisan bupati lawas manapa bupati kinyis-kinyis… pun ta pokoke kula yakin bilih Ngastina bakal rusak menawi bupati ingkang sak menika tetep lungguh dampar denta… lha wong nuwun sewu nggih… sak dangune dadi bupati mawon ngangkat lan mensiunake sekda mawon bingung kok… menapa malih… niki entheng-enthengan mawon… perkawis maca Pancasila mawon kliru lo.. coba… lan malih menawi piyambakipun pidato… teng pundi mawon nggih namung niku-niku mawon… njelehi… wis ora nyambung… omongane ngalor ngidul… oalaaah man…man… kapan Ngastina maju… lha mung lulusan SD kok dadi bupati… oh ora klakon man majune… entek-entekane mung nggo dolanan makelar…ooooohho…”





Hidup Wakil Rakciat
Ki Setyo Racethocarito

Raden Dursasono segera meninggalkan lembaga pemerintah Ngastino yang ternyata juga menjadi pusatnya orang-orang gila seperti halnya kampoeng dan RT-RTnya orang –orang yang diberitakan beberapa media local. Sasaran berikutnya adalah pendopo pringgitan Ngastino, dan gedung dewan. Di sana konon merupakan dua lembaga penyebar virus yang menyebabkan orang-orang gila semakin merajalela di Ngastino.
Tidak tanggung-tanggung virus kemplo bin edan beneran merambah mulai bupati, camat, kepala desa, lurah, guru betulan, guru siluman, pegawai beneran, pegawai siluman, sopir beneran, sopir siluman, hingga anggota dewan beneran , anggota dewan siluman, RW dan RT siluman. Semuanya nyaris terkena virus edan, gila, setengah gila, dan setengah waras, campur aduk membuat pemerintahan Prabu Kemplo Duryudono,SH.MSi, rusak berantakan persis dengan pikirannya yang nggak waras.
Kesimpulan yang didapat Raden Dursasono menyatakan bahwa negeri Ngastino masuk dalam katagori Negara Gila. Betapa tidak, lha wong di semua lembaga sekarang ini selalu ditemukan orang-orang gila. Kepala satkernya gila jabatan, gila harta, sementara pegawai siluman gila kedudukan. Klop!, maka mereka kemudian membangun kampung gila, kampung idiot, dan kerja saling cokot.
Raden Dursasono terlihat semakin geli melihat pemerintahan kemplo, yang hanya terjadi di Ngastino saja. Bahkan menurutnya ini adalah pemerintah yang menjijikkan, nggilani, dan ngisin-isini. Semua sektor dikomersilkan, mulai camat, kepala desa, guru, pegawai, satker, kepala dinas, pegawai kontrak, bidan kontrak, dokter kontrak, hingga kontraktor, dan koruptor. Hal inilah kemudian yang menimbulkan karut marutnya penataan pegawai negeri. Sampai-sampai di suatu lembaga kelebihan tenaga atau pegawai.
“Nuwun sewu mas, apakah sampeyan nggak nolak, ketika ada pegawai drop-dropan seperti ini?” Tanya Dursasono mengklarifikasi kepada kepala sekolah
“Sebenarnya saya sudah menolak mas, tapi kemudian saya dipaksa menandatangani pernyataan, wah kalau ada unsur politik begini saya nggak berani mas?!”
“Oooo… kranjingan, kabeh tularan virus kemplo… ooo trembelane…, nggih pun mang trimak-trimakne riyin, pun ta pokoke sampeyan titeni, suro diro jayaning kang rat, lebur dening pangastuti, becik ketitik ala ketara, sapa sing nandur ala, oooh bakale katara, sapa sing gawe rusaking Negara bakal mlebu kunjara, pun ta mang titeni… nggih pun kula tak nglajengne lampah…”
Raden Dursasono segera meninggalkan sekolah di pelosok desa yang sering jadi pusat penyebaran guru-guru siluman oleh orang-orang kemplo anak buah Prabu Kemplo Duryudono,SH.MSi. Kali ini ia njujug di gedung dewan perwakilan rayat, eh rakyat. Ndik sana sudah ada Mahapatih Haryo Suman, MPd, ketua Prabu Duryudono Center, dan sekaligus dewan penasihat spiritual, dan sekaligus juga anggota dewan yang mulia, wakil rakyat yang merakyat ketika ada hasrat yang mencuat.
“Waaah pagi Man !?”
“Weeeladalah… bocah ke yen ora kedunungan iman yo ngono kuwi. Eee mbok yen ngucapne salam ke asalamu ngalaikum apa piye ngono rak ya kepenak yen dirungokne. Aku iki anggota dewan lho Dur, titelku RT alias Raden Tumenggung, dadi kowe yen nimbali aku cukup RT Haryo Suman,MPd. Kowe ya kudu ngerti menawa Ngastina ing dino iki dadi panguwasanku. Sak eneke pejabat termasuk rekruitmen pegawai negeri kudu mbayar lewat aku. Termasuk kowe yen pingin diangkat ning kutha, mula cepakno dhuwit satus yuta….”
“Oooo RT dhegleng, layak ta Ngastino iku mau malih rusak merga pokal gawemu, oh titenono Man, kabeh mau bakal ndak tulis ning media masa”
“Alaaaah, mokal Dur, ora mungkin kowe bisa nulis ning Koran. Ngertiya ya , sak iki iki Koran Radar Ngastina wis ndak tuku, Koran-koran local wis ndak duwiti kabeh. Dadi masyarakat mung bisa maca menawa pemerintahan Ngastino, kondusif, bertabur prestasi, lan tambah ngayem-ayemi, lan kanggo pejabat sing ora gelem mbayar menyang aku bakale tak lengserne..”
“Oaaalah, RT ke yen bosok uteke, bosok pikirane, lan bosok atine ya kaya sampean niku. Anane mung tumindak ala, tumindak culika, tumindak durjana, layak ta sanadyan sampeyan niku umroh bolak-balik, entek-entekane ya bali ngedrink malih, medok malih… oaallahh RT dhegleng, pun sak niki sampeyan niku napa mboten mesakne kalian rakyat?”
“Oooo bocah ke yen ora cetha ya kayak owe kuwi. Aku iki sebagai anggota dewan wis menjalankan amanah penderitaan rakyat lho Dur”
“Contone?”
“Yen rakyat pingin urip nikmat, pingin turu angler, pingin mangan enak, pingin omah mewah, pingin cewek cantik, pingin mobil mewah, pingin omah, sawah sing mblasah ning endi-endi duwe, kabeh mau wis ndak wakili…. Wis ta rakyat ndak usah kuwatir… merdeka untuk anggota dewan, hidup!...hidup ! dewan!”
“Ooooo trembelane…, nuwun sewu Man, sampeyan nopo dereng nate diuyuhi segawon… monggo njenengan mangap, pun kula dados segawon mboten menopo… sing penting kula badhe caos pelajaran dumateng anggota dewan ingkang kados sampeyan niku…”




Istana Aji Mumpung
Ki Setyo Racethocarito

Guru yang satu ini memang terbilang sakti juga. Dia punya aji kesaktian yang bernama aji mumpung . Jenis ajiannya sama dengan aji-aji yang dipakai oleh sopir kadipaten Ngastino tempo hari. Tapi dia tidak kalah sakti dengan mereka. Sebab dia punya hubungan darah merah dengan Kanjeng Mamy, istri Adipati Kemplo Duryudono,SH.MSi. Namanya Resi Lucitrowiyoto,S.Pd. Dia, di samping sebagai resi atau guru, dia juga terbilang menjadi jalan tol, alias makelar jabatan bagi siapa saja yang mampu membayarnya. Lumayanlah, di samping dapat jatah sertifikasi, dia juga kebagian kue basah, setelah saudara iparnya jadi raja di negeri Ngastino.
Begitulah negeri Ngastino kini bagaikan negeri milik Prabu Kemplo Duryudono,SH,MSi. Sekeluarga, dan kroni-kroni jahatnya. Semua sektor yang dapat digunakan untuk mengeruk keuntungan, tidak ada yang luput dari bisnis culas alias ngawur, yang merugikan orang lain yang berhak menerimanya. Mumpung semua orang berada di bawah kakinya, mumpung dia berkuasa, maka jadilah ia raja bengis raja yang tidak pakai nalar dalam bertindak. Pokoknya ada untungnya, maka semua diembat tanpa sisa sedikitpun.
Memang, nasiblah yang menghantarkan Prabu Kemplo Duryudono jadi orang nomer satu di Ngastino. Bermula dari kepala desa, hingga wakil adipati yang tidak diberi kesempatan oleh juragannya memimpin pemerintahan. Lantaran memang nggak bisa dan ndak punya kemampuan untuk itu. Maka kesempatan menganggur di pemerintahan kala itulah kemudian ia keluyuran menjadi pejabat tinggi yang rajin menghadiri pesta rakyat seperti mantenan, kenduri, sunatan, tingkeban, dan lain-lain.
Berkat ‘kerja kerasnya’ itulah ia kemudian mendapat predikat pemimpin bersahaja, merakyat, dan enthengan. Maka pada pemilukada yang sudah lewat dia dipilih oleh partai besar di Ngastino sebagai orang yang dianggap mampu mendulang suara mayoritas lantaran reputasi merakyatnya melebihi dua kandidat lainnya, yaitu incumbent adipati dan ketua dewan pada waktu itu. Alhasil, berkat kampanye yang dilakukan oleh para tim suksesnya maka ia pun mampu menjadi pemenang di antara tiga kandidat yang sama-sama buruknya tersebut. Dan ketika menang, maka hasil kepemimpinannya pun seperti yang telah diduga jauh-jauh hari sebelum dia resmi dilantik jadi adipati. Jeblok, mengecewakan, memalukan, dan ternyata ia adalah ular berbisa yang siap menelan benda apa saja ketika kelaparan. Maklumlah dulu ketika masih jadi kepala desa belum pernah membayangkan duit milyaran. Jadi begitu tahu, nafsu libidonya menggelora. Maka tak heran cewek cantik, rumah mewah pun kini jadi target untuk tenger jika dia pernah jadi orang luhur di Kadipaten Ngastino.
“Piye Man, apa sampeyan masih jadi pengagum Prabu Kemplo ?”
“Weee.. kowe ki piye ta Dur, lha yo juelas ta Dur. Pranyoto menak tenan dadi pejabat tinggi kuwi. Proyek-proyek bisa ndak  kuasai, sanak sedulur lan para kroni bisa nyambi dadi makelar pegawai, bisa ngatur para pejabat, termasuk para camat sing biyen dadi juragane sang dipati. Lumayan lho Dur yen kowe gelem dadi kepala dinas wae, gampang yen musuh aku. Cukup mbayaro pitung atus seket juta wae, dene yen kowe pingin dadi camat ning kutho, cukup asok duwit satus selawe juta wae. Dene yen kowe pingin dadi PNS, cukup mbayar rong atus skeet juta wae. Iki mau kabeh harga bersaing, wis ta pokoke yen kowe kelakon, gambang duwit mau mbalike. Akeh proyek sing biso mbok korupsi… contone wae Prabu Duryudono, ngerti kowe.. senadyan lagi wae dadi ratu, buktine biso mbangun istana sing kayu jatine rego telung milyar, durung  pengaji tembok, gendeng, wesi, lan asesorise…piye Dur… tertarik ora, bathine gedhe lho?”
“Ooooalaaah, Man…Man… sampeyan niku mbok nggih dilereni dados menungsa sing ora nggenah niku. Lha wong mimpin rumah tangga mawon mboten becus lha kok mimpin Negara, angsal-angsale nggih ngoten niku. Rumangsane yen dadi pemimpin niku namung ngge pados bathi, padhos duit, numpuk bondho, selingkuhane teng pundi-pundi, saget meksa lan meres kepala dinas, saget adol jabatan, lan saget menapa kemawon… oalaah Man…Man, ngoten niku nedah aken menawi sampeyan niku pemimpin rendahan, pemimpin mendho, pemimpin sing mboten  professional, srakah, rakus, nggragas, lan ora duwe duga. Lha mosok ta, adipati lha kok ora duwe program  pemerintahan, malah saben dino ora tahu ngurusi pemerintahan, malah sing dipentingke undangan manten karo undangan genduren… oalaah Man…Man… adipati cap napa niku, adipati gombale mukiyo… Pun ta Man… Man… ken leren mawon dipati  sampeyan niku. Mesakne para kawulo, sing nandang gizi buruk, urip kesrakat, lan mesakno praja Ngastino, Negara tambah bubrah, pemerintahan amburadul, sing untung mung keluarga lan kroni-kroni, termasuk sampeyan niku ta…”
“Kowe ki ngibarate kaya cecak arep nguntal helicopter. Senadyan ta cangkemmu mbok bukak sak meter, tangeh lamun kowe bisa nyeramahi wong pinter koyo aku iki. Aku iki wis puluhan tahun dadi politisi. Kanggoku, duwit bukan nomer satu. Tapi tanpa duit aku ora mungkin bisa nomer satu. Ngono iku semboyane politisi. Dadi sapa sing bisa mbayar gede yaiku sing bakal kawentar. Nanging kosok baline, yen kowe dadi politisi jujur ngono kuwi, tangeh lamun yen kowe bisa duwe omah mewah, mobil mewah, dadi bupati, dadi anggota dewan, apa maneh bisa dadi wakil bupati kaya aku iki… maeng mula aku rak wis kondo, dadio wong kang culiko, duroko, durjana, lan duratmoko, wis ta.. kowe bakal kelakon dadi wong kang minulyo… sekolah ora perlu duwur-duwur, lha wong jeneng palsu wae bisa dadi bupati kok, aja maneh kaya aku iki, cukup lulusan SD wae wis beres kok…”
“Ooooalah, guneman kok karo wong gendheng, ah ora ana rampunge. Nggih, saran sampeyan kula rungokne, nanging mboten kula gugu. Pun kula tak ndem-ndeman mawon kalih lare-lare nakal teng sor ringin nika…”
“eee sik ta disik, kowe aja ning sor ringin kono, ning kana cedak karo Pak RT lho, mengko dikiro aku sing marahi”
“Alaaah, lha sing ngebossi malah Pak RT kok, nggih kajenge!” sahut Dursosono ngawur.



Soreng Takir, Soreng Ambruk, dan Soreng Damplo
Ki Setyo Racethocarito

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap lir kincanging alis, sabarang kadulu Ponorogo morat-marit… oooong…
Pangeran Haryo Dursasono,SH.MSi,  terlihat nyengir kinyis-kinyis begitu mendengar wejangan ndak nggenah dari Sang Patih Haryo Suman,M.Pd. Di dalam hatinya tetap ndak terima dengan keadaan Ngastino yang semakin semrawut akibat ulah para kaum benconges, kaum preman-preman politik yang dipandhegani oleh Soreng Takir, Soreng Ambruk dan Soreng Damplo. Tiga sandi inilah yang sekarang menguasai seluruh sendi pemerintahan Ngastino, dari hulu hingga hilir, dari juragan hingga sopir, dari istri hingga selir, dari pegawai siluman hingga pegawai halaman parkir, dari yang waras hingga yang kenthir, dan dari yang utuh hingga yang suwir dawir-dawir.
Pemerintahan Ngastino nyaris berakhir. Luka, borok-borok, krowok-krowok, pating ndemblok, terlihat mencolok. Adipati dan wakilnya lholhak-lholhok, mripate plorak-plorok, pikirane pating plenok, nyawang kadonyan ning gulu nggondhok, ana kursi banjur diemplok, ana anggaran ya diemplok, ana kesempatan ya dicaplok, ana prawan ayu lha ya diemplok…,” ini namanya kekuasaan, jangan sia-siakan”. Bisik Gudhayitma pada telinga adipati dan kroni-kroninya.
“He!, para bromocorah, para benconges, para preman politik, dalah para soreng, mrenea ingsun pingin ketemu jeneng sira, hayo pada mreneo” teriak Gudhayitmo
Spontan para benconges Ngastino mlumpuk menghadap Gudhayitma seketika. Mereka membawa stopmap yang berisi program-program pengrusaan Negara, yang berisi perkembangan kerusakan, kebejatan, dan kejahatan yang telah diberikan olehnya. Mereka pun satu persatu menghadap dan mempresentasikan dengan program powerpoint pada LCD. Giliran pertama, Soreng Damplo!
“Pangeran Gudhayitma, perlu kula aturaken bilih negari Ngastina sampun kasil kula rusak. Mas picis rajabrana sampun kula kuras, kula colong lan kula tumpuk wonten griya kula. Dene pemerintahan sampun saget kula obrak-abrik dados pemerintahan terkorup sak ngalam donya….”
“Haa…haa…ha..ha…, bagus!, kowe meh oleh drajat iblis kaya aku!, bagus…bagus… terus apa program mu sak teruse?, he!”
“Program kawula, wonten ing wekdal tiga tahun pertama, pemerintahan kajenge dipun cepeng kula sak kanca, dene dua tahun ingkang pungkasan malih kajenge dipun cepeng Dipati Kemplo…”
“Ha…ha…ha…, apa karepmu kok mangkono?”
“Inggih, leres gusti, pikajengan kula menawi ing tahun pertama niki, kula saget ‘nyrakahi panguaos, nyrakahi bandha donya, nyrakahi proyek-proyek, lan niki mangke saget kenging kangge mbangun utawi rebut panguwaos tunggal wonten ing pemilu ingkang badhe dateng. Dene dua tahun pungkasan, kula pasrahaken dumateng Adipati Kemplo malih, menika namung strategi, akal-akalan, supados masyarakat punya kesan tersendiri tarhadap kasunyatan bobrok lan kemplonipun pemerintahan, saenggo brand image masyarakat belum hilang dalam ingatan masyarakat pada waktu pemilu digelar. Lan menika saget kula angge bahan kampanye untuk memojokkan Dipati Kemplo agar tidak terpilih lagi, lantaran prestasi kerjanya yang buruk di awal dan akhir pemerintahannya…. Dene kangge ngepik-pik ben kebobrokan kula mboten konangan dening masyarkat, kula sampun ndamel Koran, lan nyuap para wartawan kinen nulis prestasi ingkang sampun kula tampi…”
“Oooooohalaah, degleng…degleng…, padahal kowe karo adipati ya padha dheglenge, padha ora isone…padha kemplone, padha-padha ora because ngurusi pemerintahan, terus oleh prestasi gombale mukiya kuwi. Paling-paling prestasi apus-apus, prestasi mbajing, ngutil, ngenthit, nyolong, lan njupuk…hhoooo…hoooo, pemerintahan degleng…degleeeeng”
“Kasinggihan leres makaten…” ucap Soreng Damplo jujur, sambil mengemasi laporan, dan menyilakan teman soreng lainnya untuk presentasi di hadapan Prabu Gudhayitma.
“Sak iki genti giliranmu!” tunjuk Prabu Gudhayitma pada Soreng Ambruk.
“Amit-amit kaliman tabih, tinebihna iladuni, mimbuhana ing warana, sembah bekti kula konjuk gusti…”
“ha…ha..ha…, iya Soreng Ambruk!, sembah bektimu ingsun tampa, puja pangastawaku tampanana, mugiya dadi jebate nata praja..”
“Inggih Hewang Pambejating Ndonya, kula tampi mugi ndadosna piandel kula anggen kula sedya damel rusaking kawula, rusaking Negara, lan rusaking tatanan ing  ndonya…”
“ha…ha… ha…bagoes!...bagoes!, pancen kuwi sing ndak ajab, rusaken tatanan becik, rusaken para muda taruna, ujanen omben wuru, pil koplo, main kertu, pergaulan bebas, siapna hotel, kafe, lan warnet, murih para muda, lan ndonya Ngastina rusak, ajur mumur, jarah mrayah,  rusak mblasah, bondho kadonyan lan panguasa colongen, kutilen, entekna sak mblendhuke wadhukmu…. Ha…ha…ha…, ingsun melu mangayubagya… turus program-programmu apa wae, Soreng Ambruk?”
“Inggih sinuwun, kula sampun ndamel konsep ppemerintahan rusak lan njlomprongaken dipati kemplo supados tambah ola-olo, dene rencang kula sampun kula caosi panguwaos dumateng proyek-proyek ingkang saget nambahi kikiyatan CV lan bisnis keluarganipun…. Ing pangajab mangke, sagetta dados adipati wanodya ingkang dados panguwaos ing Ngastina, nggentosi Adipati Kemplo sak menika”
“Ha…ha…ha,,, bagoes…bagoes…, kowe pancen spesialis apus-apus, dadi luwes yen njlomprongne rakyat, njlomprongne adipati kemplo…yaaa… aku melu seneng, muga-muga suk kowe dadi pejabat bejat sing duwe wewenang kang ora winates. Wis ya terusna anggonmu duwe gegayuhan ngrusak ndonya…aku ndak mlebu ana ing sanggar pamujan dhisik”
BERSAMBUNG



Negeri diambang Bangkrut
Ki Setyo Racethocarito


Awan gelap menyelimuti negeri Ngastina. Burung-burung gagak beterbangan, membawa berita bahwa negeri ini bakal menerima bencana, lantaran ulah  pejabat Negara yang semakin hari menunjukkan daya rusaknya terhadap tatanan Negara yang semakin parah. Lihatlah, Sang Dipati Kemplo terlihat bangga duduk-duduk di atas gelondongan kayu jati seharga 3 milyar hasil dari ‘merampok’ dari kepala dinas pertanian yang menjadi kekuasaannya. Ya, itulah istana aji mumpung yang dibangun dengan menggunakan kesempatan, mumpung masih bergelar adipati, yang punya kesaktian tunjuk sana, tunjuk sini, perintah sana, perintah sini, minta sana, minta sini, ancam sana, ancam sini, peras sana, peras sini, mirip seorang raja pada komedi kethoprak yang tengah acting di panggung.
Namun nampaknya rakyat sudah mulai tersadar, bahwa sang dipati yang memegang amanah rakyat, ternyata tidak menguasai pemerintahan. Bahkan boleh dikata, dipati yang bergelar  sarjana hukum ini tidak tahu judul skripsi yang telah dibelinya. Maka tak heran jika ketika memberikan pembinaan kepada stafnya, yang muncul hanyalah banyolan-banyolan katrok layaknya orang-orang desa yang tidak pernah mengenyam pendidikan.
Begitulah, akhirnya sang dipati tidak tahu etika pemerintahan, tidak paham dengan hukum  tatanegara, dan tak paham konteks pembicaraan. Sehingga omongannya selalu ngawur, ngelantur, monotone, tidak bermutu, membosankan, karena hanya bermodal hapalan sebatas kualitas menu anak desa yang hanya jebolan sekolah dasar. Tak heran jika yang mendengarkan menjadi ikut-ikutan kemplo bilung eh bingung pikirannya. “Ini tadi apa sih tema nya, lha kok gak nyambung blas, Joko Sembung naik patas, gak nyambung blas”
Itulah nasib negeri gemah ripah lohjinawi yang kini ibarat mati di dalam lumbungnya sendiri. Rakyat telah salah memilih seorang pemimpin. Dan yang terpilih tidak mau menyadari kalau dirinya tidak bisa memimpin pemerintahannnya. Maka tak heran jika keadaan negeri di ambang kebangkrutan. APBD  Ngastina habis hanya untuk membayar gaji rutin pegawai hingga 68%. Sebuah pengelolaan pendapatan yang tidak ideal lagi. Bahkan dalam kondisi yang demikian ini justru sang dipati bermain di air yang keruh. Dia malah mengangkat pegawai-pegawai siluman, dan memperkaya dirinya sendiri.
“Pun!, sak niki pripun Man?, yen Ngastina bangkrut, sampeyan ya kudu melu tanggunjawab lho.  Sebab yen sampeyan ora melu cawe-cawe… ooo bakale negera niki bade  dipun marger kalian negeri pandawa, sampeyan bade dados gedibalipun lare-lare pendowo… pripun? Sampeyan gelem ora?”
“Oooo, toblas…toblas, wah yo kojur no Dur yen Ngastina marger karo Ngamarta…”
“Maeng mula, sing jenenge pendidikan niku nggih penting kok Man, mila mbenjang menawi milih pemimpin niku nggih sing sae niku  ingkang latar pendidikane maton, prestasine nggih jelas, mpun kados niki? Nggih nuwun sewu kula mboten ngenyek lho, cobi mang titeni, teng pundi kemawon sinuwun pidato, kula kok mboten nate kepireng pidatone niku ilmiah, gathuk kalian tema acaranipun, malah kosok wangsulipun pidatone nggladrah, rusak, mboten karu-karuan. Malah sak niki masyarakat mbiji menawi niku sanes pengarahan, nanging kampanye, oalaaah Man…Man… dipati napa kepala desa, sinuwun sesembahan sampeyan niku?, malah..malah moco Pancasila mawon mboten godak, niku rak nambahi ketingal bodonipun…ha…ha…ha…”
“Kae ngono ora kok ora bisa moco Pancasila, nanging sinuwun prabu pas dalam kondisi menyepelekan, mentang-mentang wis apal di luar kepala, mula bareng disodori teks banjur keliru…”
“Kliru kok bolak-balik… oalaaah Man…Man… koyo ngono kok di bela-bela, mbok nggih mpun, sampeyan niku nyadarke sang dipati, ken leren mawon anggene dados adipati Ngastina, mesakna kalih kawula, mesakne kalih Negara, aja malah sampeyan ngeruk keuntungan, memperkaya diri, dodol jabatan, dodol PNS, lan sanes-sanesipun. Malah niki kula kepireng kabar jare sang dipati ditimbali presiden… nggih ta Man?”
“Iya”
“Niku terkait kalian penolakan sang dipati dumateng BBM kepengker nggih?”
“Iya”
“Wah kula namung mbayangke, gek teng mrika nika, mesti bade pinanggih tiyang-tiyang pinter, menawi sarjana nggih sarjana beneran, menawi bupati ngaten nggih bupati beneran. Sanes sarjana tukon, utawi bupati kethoprak ingkang kados sinuwun sampeyan niku. Lajeng kula mbayangne, oalaaah mangke rak tambah ketingal kemplonipun, ketingal gelar palsunipun… oalaaah Man…man mirang-mirangke Ngastina. Nduwe adipati wae kok adipati kemplo…, oalaah man…man, mbok sampeyan batalne mawon anggene sowan…”
“Dur, kowe ra sah sumelang. Sinuwun prabu wis duwe piandel pembisik mutahir, yaiku camat sinoman yang tidak diragukan keilmuannya. Aku yakin menawa Pak Camat mau bakal memberikan bekal sebelum menghadap presiden…”
“Oalah, adipati cap napa niku, adipati sarjana kok ora godak njawab masalahe dewe, wah kula yakin yen adipati Ngastina niki namung adipati gadungan, pun man yen ngaten ken leren mawon adipati sampeyan sing mboten nggenah niku”
Sengkuni menjadi kecut hatinya. Dia kecewa dengan kritik Dursasana yang memerahkan telinga. Ia pun segera membawa masalah ini dalam diskusi kehumasan di lantai delapan negeri Ngastina.
“Pun Man, sampeyan diskusikan sampai jebol kucirmu ora-ora yen bakal kelakon merubah situasi. Lha wong sing bermasalah niku adipati sampeyan kok, dasare ora pinter, sekolahe mawon nggih mboten  nggenah kok, napa malih gelaripun…alaaaah paling namung tumbasan, pun ta senadyan ta pembisike niku pinter-pinter, kula yakin, mboten bade kelampahan deweke niku mudeng, malah malah nambahi kemplonipun…. Ha..ha..ha..ha….”

UNAS
(Ulah Nakal Adipati Semprul)

Surem-surem diwangkara kingkin lir manguswa kang layon denya ilang memanise, wadananira landhu kummel kucem rahnya maratani ooooong….

Kadipaten Ngastino semakin hari semakin semrawut tak tertata bagaikan batu bata yang berserakan. Semua jabatan diperjualbelikan mirip dengan barang dagangan yang digeber di paseban. Semua kroni dan permili sang dipati benar-benar memanfaatkan kesaktian yang dimiliki Adipati Semprul untuk menggasak habis peluang surat keputusan dengan uang. Taruhlah mulai dari ajudan, hingga nak sanak kidang, eh kadang, permili, adik ipar, sopir, dan yang terakhir camat taruna yang bernafsu mendapat jabatan tinggi nan basah, kini mereka meramaikan bursa enthit-mengenthit, lar-makelaran, thok-perngathokan, tuh-menjatuhkan lawan politik, lek-menjelekkan pada orang yang tidak mau asok gelondhong pangareng-areng, dan non-jobkan bagi yang tidak mau setor keuntungan.
Gempar, dan masuk dalam situasi ‘nggilani’ menjijikkan, tidak pantas selayaknya adipati ulama, yang bergelar sarjana hukum melakukan tindakan di luar hukum. Bayangkan, di satu sisi KKN diberangus untuk dilenyapkan dari muka bumi Ngastino, ee.. malah ini diberdayakan kembali melalui praktik-praktik pemerintahannya. Eidan!!, dasar adipati semprul, pemerintahannya amburadul, omongannya ndal-ndul, esuk beras, sore kawul, pakemnya ngalor, komentarnya ngidul, dasar semprul, nyambut gawe koyo wong ucul, maklumlah ngelmune nul, srunthal-srunthul mijet SMS grothal-grathul, nelpon cewek sing bokonge mental-mentul, atine kanyut imane ucul, mboking hotel, wartawan mencungul. Kapok kowe!, adipati semprul klakon cucul, pingin gaul ketiban pacul. Awak sak kojur mrenthal-mrenthul. Pingin aman jo nganti siaran mencungul. Tombok arto sak wakul. Sang Dipati asline mencungul. Untung duwit staf bisa kasangkul. Aman, sang dipati ambegan masgul.
“Onten nopo malih Man?”
“Asem tenan Dur, gustimu meneng-meneng kreatif, iki gustimu arep duwe parigawe ngumpulne lurah, kepala desa sak Ngastino ditambah para staf, kroni, nak sanak, lan para permili tim suksesse”
“Wah dengaren uteke rada cerdas Man?”
“Husss, lambemu!, sesembahanmu kok di utek-utekke, ora sopan ngono kuwi”
“Haaallaaah, wong sesembahan kok ora godak nopo-nopo kok dibanggakan. Njur teng nopo nglempakne kepala desa niku?, kampanye?, napa pamer kekuasaan?”
“Ora, nanging gusti Prabu Kurupati Kemplo bin Semprul alias Sontoloyo, bakal njlentrehake bab APBD, dalah rencana pembagian sekuter gratis, lan kembul bujono andrawina, makan bareng ing warung kulon kadipaten”
“Nggih ngaten niki lho Man, bedane antarane bocah Ngastino kalih bocah Pendowo. Yen Bocah Ngastino niku sing dipentingne namung badhogane mawon. Sithik-sthik yen ora ana untunge, yen ora mangan enak, dho ora gelem nglakoni. Suwalike, yen lare-lare Pendowo niku mentingne kualitas pekerjaanne, gelem laku prihatin, purun poso, purun nahan hawa nepsu, lan tansah paring manfaat wonten ing pundi kemawon. Lha niki mboten, lare-lare Ngastina niku sithik-sithik njaluk, ‘ piye iki aku arep mbangun omah, tulung cepakna kayu jati 3 milyar…’ ha…ha…ha… lha wong ngurusi pemerintahan wae ora jegos, lha kok wis nagih kepenake… oalaaahh Man…Man. Kula ngertos bilih para kepala desa menika sampun kraos bilih pemerintahan Ngastina sampun kolaps, bangkrut, krana kepemimpinanipun Prabu Kemplo Kurupati Semprul bin Sontoloyo, mboten saget nampung aspirasinipun. Pun ta Man, senadyan para kepala desa wau panjenengan paringi sepeda motor gratis, makan gratis, kula jamin, bilih dukungan dumateng pemerintahan sampun musna, sampun telas, pun sampeyan lereni mawon anggen sampeyan bersekongkol kalian njeng gusti paduka…”
“Kowe iki bocah cilik wingi sore wis ora mudheng karo politik tingkat tinggi, kowe kudu eling, menawa sak iki akeh para pejabat sing mulai sadar bergabung karo pasukan perkemploan. Dadi barisan sang dipati tambah ngrembaka, tambah gayeng, lan tambah kekuatane….”
“Alaaah paling dho golek jabatan, aku negrti kok Man!”
“Wis, iki mengko malah ora sido mangan bareng-bereng, hayo bis plat abang kae ndang wetokno, wetengku selak luwe”
“Nggiiiih, monggo.. oalaah dasar weteng kebak porang, dadi ya luwe wae. Sampeyan niku takerane mboten wareg, nanging kesel. Pokoke yen mangan dereng kesel, sampeyan niku dereng mandheg. Lan kula nggih pingin midangetaken gusti sampeyan, pripun anggenipun njlentrehaken APBD sing amburadul menika, Jangan-jangan APBD menika singkatan Aku Pingin Bagian Duwite, wah menawi mekaten Ngastina tambah rusak Man!. Nanging kula pun bosen kok, yen masalah tehnis menika mesti, gusti sampeyan niku pun mboten mudeng blas, pramila mangke mesti damel kuciwanipun para pamiarsa ingkang midhangetaken, luwih becik mangan mawon ingkang wareg, tinimbang midhangetaken keterangan ingkang mbulet,  lha kok niki nyekel panguwaos… kinggilen Man!!”
“Wis!, aja kakean cangkem, bis ndang lakokna, sing penting ayo podho nguntal panganan enak!”
“Nggiiiih, kula manut mawon, sing penting gratis!!!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar