Minggu, 27 Mei 2012

NJAYUS

NJAYUS
    Ki Setyo   

Kapan istilah ‘njayus’mulai popular menggantikan kata ngerumpi, rasan-rasan atau ngudoroso, merakyat di kalangan masyarakat Surukubeng. Yang jelas kata ini sudah terlanjur lekat pada identitas bahasa gaul-nya wong Surukubeng.
Saya ingat waktu kecil dulu, ketika lampu mati di sebuah gedung bioskup, orang teriak “Ayo lo Ruuunnn”. Teriakan itu lama-lama begitu popular, sehingga kalau ada lampu mati, wong Surukubeng -kebanyakan- teriak “Ayo lo Ruuun”
Barangkali begitulah muasal kata ‘njayus’ begitu popular yang mengambil dari tokoh, mungkin Pak Jayus yang dulu terkenal di masyarakat perkotaan suka ngomong ngethuprus, nggak habis-habis. Maka untuk mengkonotasikan orang yang banyak omong, orang yang suka ngobrol, mereka ‘marapi’ dengan ‘njayus’.
Nah, sekaligus untuk mengenang tokoh di atas, NJAYUS akan selalu hadir pada rubric Media Mataraman, dengan menghadirkan dialog imajiner antara tokoh-tokoh Babad Surukubeng seperti, Suryo Ngalam, Batoro Katong, Kyai Mirah, Honggolono, Joko Lancur,Suromenggolo, Surogentho, dll.
Njayus para tokoh ini tentu saja bersifat imajiner, sekaligus untuk mengenalkan kepopuleran para tokoh di atas kepada generasi sekarang, bahwa tokoh-tokoh di atas pernah ada dan pernah memimpin pemerintahan di Surukubeng.
Bagaimana kisahnya?, Anda ikuti terus ‘njayus’ mulai minggu depan. Yang tersinggung berarti melakukan. Yang tertawa berarti juga mengalami kejadian itu. Yang diam saja berarti nggak mudheng… he..he… hee***


BLOKO SUTO

Sebelum berangkat ke ladangnya, seperti biasa Ki Demang Kutu singgah dulu di warung kopi milik Pak Man, yang letaknya tepat di pinggir jalan raya Surukubeng. Di sana sudah ada Suryodoko, Suryolono, dan lain-lain.
“Monggo…monggo Ki… “ sapa Suryolono ramah
“Oh iya, matur nuwun”
“Sudah apa parinya, Ki?” Tanya Surydoko, sambil mengangkat wedang kopinya
“Waah, lagi njebul, tapi punyaku kayaknya lagi kurang baik, mudah-mudahan tidak gagal panen..”
“Ngersakne ngunjuk nopo Ki?” Tanya Cempluk membagikan Ki Suryongalam
“Biasa kopi ginasthel”
“Waaah, Ki Demang ini masih kuat saja minum legi panas kenthel, hati-hati lho kena dibetes…”
“Yang penting hidup itu selalu bersih hatinya, bersih pikirannya, saya kira kok nggak bakalan terkena penyakit macem-macem”
“Betul Ki, kalau kita lihat jaman sekarang ini, banyak orang penyakitan macem-macem gara-gara banyak pikiran yang mengotori dirinya. Mulai dari tidak jujur dalam kerjanya, korupsi, manipulasi, kolusi dan makan barang yang bukan miliknya, dan sebagainya…” jawab Suryolono
“Waah, memang sudah jamannya lho kang, kalau kita nggak pakai KKN mustahil kita dapat kerjaan. Apalagi Cuma mengandalkan kepinteran, tetapi nggak pake duit, ya mustahil saja. Makanya, anak-anakmu besok nggak usah sekolah ngoyo-ngoyo, beli saja ijazah sarjana. Siapa tahu anakmu nanti jadi adipatiSurukubeng, hee…he…he…” jelas Suryodoko ngeledek
Ki Demang Suryongalam mengernyitkan dahinya. Ia kelihatan prihatin dengan kondisi Surukubeng yang semakin tidak terarah. Keadilan seakan telah sirna di kadipaten yang terkenal gemah ripah serta banyak orang-orang terpelajar di sana. Akan tetapi, sekarang Surukubeng lagi kena musibah pepeteng, gerhanan, gelap gulita. Orang pinter benar-benar tersingkir. Yang berkuasa sekarang adalah kezaliman. Orang bodoh, pemabok, tukang medok, kini berkuasa.
“Terus terang romo prihatin dengan Surukubeng ngger. Kowe kabeh aja nggugu karo pendapate wong bodo. Brasthanen kedloliman ing tlatah Surukubeng kene. Sekolahno anak-anakmu sing bener,aja mung tuku ijazah. Dadio wong kang jujur, aja ambeg angkoro murko. Ayo memayu hayuning bumi Surukubeng. AJa kosok balen mbok rusak, kanthi milih pemimpin sing sing ora bener. Mongko yen wis kedadean koyo mangkene sing rugi sopo? Rakyat ta. Lan sing untung yo politisi busuk kae?”
“Sinten romo?”

HIDUPKAN HATI

Sabtu  31 Desember , usai sholat  Isya berjamaah , Raden Katong , patih Seloaji dan Suromenggolo, mencoba berjalan-jalan di pinggir jalan Setono menyusuri perkampungan dan melihat langsung para kawulo Surukubeng dalam menyambut datangnya tahun baru masehi.  Raden Katong  melihat sendiri tingkah polah para kawulo dengan mengelus dada prihatin. 
“Berapa banyak orang Islam yang menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah  hidup sementara. Mereka kebanyakan  hatinya 'sudah mati'? Sukar menghitung jumlah pastinya. Miliaran jiwa mungkin. Mereka yang memilih merayakan pergantian tahun Masehi dengan menghamburkan uang dan berhura-hura ketimbang berzikir, misalnya” kata Raden Katong  kepada Seloaji dan Suromenggolo pelan.
“Memang ini soal pilihan, ibarat  hidangan; ada hidangan lezat menyehatkan, lezat memabukkan, lezat beracun, dan lezat mematikan . Dan inilah pilihan  yang sangat menentukan. Siapa memilih makanan yang salah, maka ia akan merayakan pergantian tahun Masehi,  dengan penuh kesiaan dan kemaksiatan” tukas Seloaji , SH , ilmiah.
" kalau memang ummat Islam komitmen dengan Islamnya, maka Zikir jelang tahun baru  adalah pilihan yang teramat mulia.  Zikir itu untuk menghidupkan hati orang-orang Islam agar jangan mati, sebab terus terang saja saya prihatin dengan  pergaulan anak-anak muda jaman sekarang. Mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi sudah terlanjur kebablasan.  Waktu saya berkunjung ke sekolah SMP, pernah saya tanyakan pada seorang anak putri yang kebetulan masih  duduk di kelas dua, dia sudah pacaran dan sering melakukan  hubungan suami istri di hotel kawasan telaga Ngebel, dan memang di sana ada kamar khusus  yang katanya diperuntukkan bagi pelajar dan orang dewasa yang selingkuh atau pingin mesum, terus apa kata mereka ,  perbuatan itu sudah menjadi kebutuhan ketika  pacaran " sahut Suromenggolo kecewa.
“Wah ngobrolnya kok jadi serius nih, hayo ke warung Niken Gandini dulu. Kita nanti ngobrol di sana sepuasnya sambil minum dan makan jajanan lezat menyehatkan..”
“Makanan apa itu Raden?”
“Klenyem, pisang goreng, dan singkong rebus” jelas Raden Katong mantap.
Ketiganya terus berbelok arah menuju warung yang ditunjukkan  Raden katong, yang ternyata warung milik istrinya. Semua ini sekedar untuk mendekatkan seorang Adipati dengan para kawulonya. Sebab adipati tidak digaji seperti sekarang ini. Kalau adipati sekarang Gajinya banyak, ditambah dengan uang-uang gelap dari tanda tangan pengadaan proyek-proyek Negara. Oleh karena itu, agar ekonominya cukup, Raden Katong buka warung kopi dengan istrinya.

Sesampai di dalam warung, Nyai Katong segera mempersilakan masuk .
Sambil membenahi duduknya, Raden Katong kemudian   berandai-andai  kembali.
“ jika bergepok-gepok uang untuk membeli kembang api itu dialihkan untuk sedekah. Misalnya  dipakai pemerintah untuk membelikan gerobak siomay bagi masyarakat miskin . Ini akan memberi manfaat bagi banyak pihak. Bagi pengangguran yang akhirnya bisa berjualan, bagi penjual di pasar, bagi pedagang sembako, dan seterusnya. Pada akhirnya, uang itu bisa sedikit menolong mengurangi penduduk miskin di Surukubeng yang masih banyak”
“ Tetapi kan nyatanya tidak to raden.  Pemerintah  terlalu royal, sementara prestasi tidak pernah ditunjukkan. Sementara kemaksiatan terus berjalan kencang. Pergaulan bebas merajalela, korupsi di pemerintah daerah  semakin membudaya. Bisa jadi itu mengapa selama ini Allah SWT menarik keberkahan dari bumi Indonesia. Keamanan yang tidak stabil dan besarnya nilai impor jadi bukti Indonesia sedang diperingatkan Allah SWT”.
“Bagaimana minyak, beras, hingga garam masih diimpor. "Ini adalah cara Allah untuk mempermalukan bangsa Indonesia," . Oleh karena itu, Raden Katong mengajak masyarakat beramai-ramai memaknai pergantian tahun sebagai pergantian perilaku. Orang yang selama ini menyia-nyiakan agama, ujarnya, harus berani menjadi orang yang taat agama.
“Kalau saya sangat setuju, bahwa kita harus berubah menjadi lebih baik. Kalau dulu kita bangsa yang korup, maka sekarang kita menjadi bangsa yang taat kepada undang-undang dan peraturan. Demikian juga dengan pergaulan bebas. Maka mulai sekarang  tempat wisata harus kita awasi bersama agar tidak terjadi lagi perbuatan mesum” sahut Niken Gandini  semangat.
Jumbleng, WC. Kakus atau Apalah
Ki Setyo
Sepulang dari sholat maghrib berjamaah, Kyai Muslim dan Ki Honggolono Nampak berjalan beriringan menuju warung Lik Sibo Nggandukepuh. Di sana ternyata sudah ada Jaka Lancur , anak sulung Ki Honggolono, yang sudah ngopi, bersama para santri Kyai Muslim.
Keduanya segera masuk, dan memilih bangku di sebelah timur yang kebetulan masih kosong.
“Jik sepi Lik?”
“Wah, nggih mboten, niki wau  nembe kula tilar  sholat dateng langgar. Dados kulo tutup sekedap. Lan niki wau Mas Joko Lancur nggih nembe kemawon dugi” jells Lik Sibo, sambil meracik dua cangkir kopi kesenangan Kyai Mirah dan Ki Honggolono.
“Pondokipun kok sepi Kyai?” Tanya Ki Honggolono membuka dialog
“Oh, inggih Ki. Lare-lare sami wangsul liburan semester”
“Piye Le, kowe mau kok wis teka kene. Apa wis sembahyang” Tanya Ki Honggolono pada anaknya.
“Sampun romo, nanging niki wau dereng ngaos. Mangke mawon bakdo ngopi, kulo bade dateng langgar malih” jawab Jako Lancur penuh dengan rasa kuwatir, takut dimarahi ayahnya.
“Niki kopinipun!. Ngersakne dhahar nopo Kyai?” tawar Lik Sibo
“Pecele taksih Lik?, kulubanipun nopo?”
“Bayem, kenikir, godhong so, kembang turi, kacang, kalih capar … ngersakne nopo?”
“Wah, cocok sedoyo kyai, aku kabeh wae, Lik”
“Kulo nggih sami Ki Honggolono, Lik” sahut Kyai Muslim
“Lawuhipun??”
“Nopo lawuhipun?”
“Niki, wonten iwak kali, urang, wader, lele, nopo tempe mawon?”
“Komplit Lik, yen iso paringana siji-siji, yo tempene, yo wadere, you range…”
“Aku yo iyo, Lik” sahut Ki Honggolono nggak mau kalah
Ketiga orang yang makan di warung Lik Sibo terlihat lahap menyantap habis menu warung sederhana milik Lik Sibo. Tak sedikitpun nasi yang tercecer di piringnya. Semua makanan yang tersedia memang miroso, bersih, dan sehat. Maklumlah Lik Sibo memang orangnya gemati, sabar, iklas, dan ramah. Tak heran jika warung Lik Sibo kondang di kawasan Surukubeng.
Sudah setengah jam, mereka menikmati makan sore di warung Lik Sibo. Ki Honggolono masih menikmati secangkir kopi yang masih utuh. Sedangkan Joko Lancur, masih terlihat menghisap rokok tingwe, dengan bau klembak yang harum.
“Mas Kyai, lha iya ya, anggota dewan DPR pusat, itu neko-neko saja ya”
“Anu ta, soal jumbleng ta??”
“Jumbleng niku napa Kyai” Tanya Joko Lancur terdengar asing di telinganya
“Alaaah Le…Le.. jumbleng itu kalau sekarang toilet itu lho” sahut Ki Honggolono menjelaskan
“Oooo niku ta. Kulo nggih nggumun kok. Lha ngendikane makili rakyat, lha kok barang taksih sae kok dibongkar, lha niku rak nggih namung buang-buang dana kemawon”
“Kae ngono ora mbuang duwit, nanging duwe niat ngemplang duwit. Nganakne proyek supoyo pemerintah ngetokne duwit. Terus mengko laporane dimanipulasi. Laporane nganggo ragat rong milyar, nanging sing dinggo mung sak milyar. Lho kan untung ta deke? Yen aku pilh buang air besar di kali saja, kita juga bisa ngasih makan ikan-ikan, atau cukup di jumbleng saja, sambil ngrabuk tanduran… lumayan ta iwake sehat-sehat, guede-gede,rasane yo enak” jelas Ki Honggolono diplomatis
Kyai Muslim hanya terlihat senyum dan manthuk-manthuk. Sementara Joko Lancur Nampak tersenyum lebar mendengar tuturan ayahnya yang terdengar nggak konteks dengan era WC nisasi.
“Sampun Lik, sedoyo pinten?”
Kyai Muslim segera membayar semua makanan yang telah dilahap oleh semua yang ada di warung itu. Mereka segera meninggalkan warung untuk menunaikan sholat Isyak berjamaah. Mereka tidak mau mempedulikan lagi anggota dewan yang suka menghambur-hamburkan uang Negara. “Semua itu agar anggota dewan tidak ‘berak’ di mana-mana lagi” desah Kyai Muslim mahfum.


MUSIM DURIAN dan DARAH TINGGI
Sore itu Patih Seloaji terlihat menggeber sepeda motornya tergesa menuju rumahnya di Setono.  Di kanan kiri body motornya terdapat rentengan buah durian yang diikat dengan tali raffia. Dia ingin segera samapi kerumahnya, segera menikmati durian murah yang habis dibeli ketika ada penjual buah durian mampir di pendopo Setono.
Sementara itu, di Pendopo Setono, Sang Adipati Bathoro Katong masih terlihat berdiskusi dengan Suromenggolo, berkaitan dengan musim durian yang lagi semarak di Surukubeng.
“Kenapa penderita tekanan darah tinggi dan jantung koroner tidak dianjurkan mengkonsumsi buah durian Kyai? “ Tanya Suromenggolo
“Pertama2 kita perlu mengetahui zat apa saja yang terkandung dalam buah durian? Ini adalah komposisi kandungan utama dari durian: 27.9 gr karbohidrat,  2.7 gr protein,  3.4 gr lemak tak jenuh,  40 mg kalsium, 1.9 mg zat besi, 150 mg vitamin A, 23.3 mg vitamin C, Alkohol (ethanol, methanol) Disamping komposisi utama, terdapat 63 senyawa yang mudah menguap (volatile compounds), termasuk 30 esters, 5 ketones dan 16 senyawa belerang yang berperan dalam aroma buah durian. Dalam buah durian juga ditemukan adanya senyawa ethanol, methanol, ethyl metacrylate dan berbagai senyawa sulphur” jelas Kyai Muslim yang tengah duduk di samping Adipati.
“Orang yang mengidap penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dianjurkan sebaiknya membatasi makan durian, bukan saja karena kandungan kolesterol yg tinggi, tetapi juga salah satu alasan utamanya disebabkan karena kandungan alkohol yang cukup tinggi dalam buah durian disamping kalori yang dihasilkan buah durian cukup tinggi” sahut Bathoro Katong menambahkan.
“Total Kalori yang dihasilkan buah durian per 100 gram (sekitar satu potong) adalah 150 - 160 Kalori, jadi waspadalah  pada orang-orang  yg melakukan pembatasan kalori (misalnya pada penderita DM). Buah durian apabila dimakan cukup banyak, misalnya 300 gram saja, kalori yang ditimbulkannya sudah lebih dari 500. Kalori yang tinggi tersebut akan menghasilkan pembakaran yang berlebihan dalam tubuh sehingga menimbulkan manifestasi terasa panas dalam tubuh. Tubuh orang yang menderita diabetes mellitus akan terasa terbakar, keluar keringat, dan panas” jelas Kyai Muslim
“Dalam darah terjadi hemokonsentrasi dimana terjadi kehilangan cairan ke ekstra selular. Ditambah dengan adanya senyawa yang mengandung alkohol dalam durian, akan menyebabkan pembuluh darah tubuh mengalami vasokonstriksi. Hal-hal tersebut akan membuat shear stress meningkat, sehingga tekanan darah akan semakin tinggi, bahkan dapat berakibatkan terjadinya stroke, bahkan kematian” jelas Kyai muslim menambahkan.

“Kalau efeknya ke jantung apa Kyai?”
“Demikian halnya di jantung, akibat panas dan pembakaran kalori yang berlebihan maka jantung dipaksa untuk beradaptasi meningkatkan suplai darah sesuai kebutuhan saat itu. Pada penderita penyakit jantung koroner, pembuluh darah koroner yang menderita aterosklerotik, selain menjadi tidak elastis, juga mengalami penyempitan sehingga tahanan terhadap aliran darah dalam pembuluh koroner juga naik. Dengan adanya kandungan alkohol dalam durian, maka akan membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Hal ini menyebabkan kebutuhan sel miokard otot jantung meningkat dan suplai di pembuluh darah koroner tinggi. Jika melebihi ambang batas akan menyebabkan terjadinya serangan jantung, dan kematian mendadak”
“Nah sekarang bagi para kawula Surukubeng, yang hobi makan durian, perlu juga untuk menguranginya. Agar kesehatan kita terjaga sampai tua nanti. Ingat kesehatan itu mahal harganya lho. Biasanya orang baru merasakan betapa nikmat sehat itu sangat mahal. Setelah mereka menderita sakit.  Nah, mulai sekarang, aturlah pola makan anda. Terutama untuk durian ini. Sekali-kali boleh lah... tapi jangan terlalu banyak” pungkas Suromenggolo menyiarkan ilmunya kepada warga Surukubeng.


Politik Gobak Sodor
Ki Setyo

Sore itu Suromenggolo terlihat membaca secarik Koran local yang diraih dari bawah dipan cakruk yang berada di depan gerbang puri Setono. Ndik Koran itu ada berita menggelikan tentang Surukubeng, tentang sang adipati yang semakin terlihat tidak mampu alias tidak propesional lagi.
Ndak beberapa saat Patih Seloaji menghampiri Suromenggolo yang terlihat mesam-mesem kecut. “Ada berita apa Kang Suro” Tanya Seloaji yang mengagetkan. “Eh, Mas Patih ta… ini lho… kelihatannya Surukubeng sekarang ini kok semakin amburadul, adipatinya semakin linglung”
“Itulah yang disebut beli kucing dalam sarung..eh karung”
“Kamsudnya?”
“Dulu orang hanya menilai suaranya yang merdu saja, tanpa fit and propertest, alias tidak diuji kelayakannya, aung…auuung…meooong… jebule bareng dibukak kucing lumpuh..naa sing rugi sopo sekarang?”
“Lha rakyat kabeh, ta Mas. Malah yen miturut pamawasku, sekarang ini sang adipati sedang terkena politik permainan gobak sodor”
“Mangsudnya?”
“Dia sekarang terjebak dalam satu kotak yang dijaga oleh dua politisi busuk agar tidak bisa lolos menyelesaikan permainannya. Sedangkan teman-teman seperjuangannya sudah dibebaskan oleh para politisi itu, dan kini berlenggang merayakan kemenangannya. Mereka pesta pora, menjarah, makanan di luar kotak alias di luar ketentuan hukum yang ada. Dan kini pun mereka bersorak-sorak melihat sang adipati terkurung dalam kotak”
“Dia nggak mungkin bisa lolos ya”
“Di Negara kita tidak ada yang mustahil. Yang penting ada deal-deal politik, alias suap menyuap, si kolusi, ada etungannya, sebenarnya bisa lolos kok. Cuma yang terjadi sekarang ini, sang adipati kelihatan culun. Ya, maklumlah, memang latar pendidikannya tidak memungkinkan, jadi ya hasilnya seperti ini. Adipati hanya symbol untuk permainan para politisi yang mengusungnya. Wibawa adipati ndak ada sama sekali. Malah sekarang ini, lebih berwibawa anak buahnya ketimbang adipatinya…”
“Karena anak buahnya lebih menguasai pemerintahan dari padanya?” Tanya Suromenggolo agak mudeng
“Ya, betul. Wong Londo kondo yen sing dipimpin luwih pinter ketimbang pemimpine disebut counter power. Menawa bawahane mengko kontra karo sang adipati,wooo bahaya. Luwih-luwih , menawa bawahane kompak, oh sang adipatibisa ajur mumur lan biso mundur, mulo ben bawahan ora macem-macem, Pak RT yang sekarang ini mengendalikan adipati, bisik-bisik poro pejabat dimutasi…”
“Waa, kadipaten Surukubeng soyo nelongso yo. Yen aku luwih becik ndang diganti wae Mas Patih. Lha piye maneh,… awake dewe iki podho karo mabayari wong ora iso opo-opo, mbayari adipati nganggur… tak kiro dudu kelase menawa dadi kepala daerah. Pantese ya mung kelase kepala desa wae…. He…he…he”
“Betul, nanging yo kudu taren disik karo rakyat. Sebab sing milih biyen yo rakyat”


Mister JEGEG
Ibarat burung menco, sang dipati itu di manapun memberikan wejangan, kata ‘jegeg’ itu senantiasa hadir. Entah itu sebagai ungkapan rasa kagum,rasa senang, rasa gembira ataupun rasa dalam hati yang lainnya. Orang yang niteni dan selalu mengikuti dia, pastilah tebak-tebakan, kalau kata itu mesti keluar dari mulut sang dipati di manapun memberikan sambutan formalnya.
Jegeg, menurut kosa kata Ponoragan berarti, luar biasa, hebat, wah, nyengsemake, nggumunake, atau jadi pangeram-eram. Tetapi disisi lain, kata jegeg yang meluncur dari seorang pejabat sekelas sang dipati adalah, ungkapan motivasi, bagi orang yang dipujinya. Dan bagi seorang politikus, kata tersebut sering dikonotasikan ‘basa basi’ alias tebar pesona saja.
Nah, terlepas dari hal tersebut di atas, kalau kita jujur dan cermat, kata jegeg yang meluncur dari sang dipati, semuanya tidak terlepas dari dialog rakyat yang sudah kadung melekat dalam dirinya. Dan itu kalau menurut saya adalah wujud kepribadian, atau karakter yang sudah terbentuk ketika dia belum menjabat sang dipati dulu.Dan dia nggak merasa kalau kata-kata itu sudah dititeni oleh rakyatnya. 
Begitulah, kalau yang mengucapkan itu adalah seorang adipati. Sabdo pandito ratu datan keno wola-wali. Apa yang disabdakan senantiasa dititeni. Sedangkan bagi yang sering mendengarnya, maka, kata-kata itu menjadi membosankan karena terlalu monoton.Seperti tidak ada istilah lainnya yang pas. Dan terkesan sang dipati kalau miskin istilah, miskin kata-kata, dan miskin pengetahuan. Tetapi biarlah, isone mung itu kok.
Begitu pulalah akhirnya kata-kata itu menjadi trade mark sang dipati, menjadi kata sandang, yang selalu lekat dalam ‘basa-basinya’. Tetapi sekali lagi, kita nggak bisa menyalahkannya. Sang dipati sudah menjadi pilihan rakyat. Arepo dikoyo ngopo, dia adalah ‘sesembahan’ para abdi kadipaten.
Biarlah rakyat menjadi tersadar, untuk tidak mengulangi memilih pemimpin yang keliru lagi. Dan sekarang Mister Jegeg, telah menjadi figure yang lagi menjalankan amanah. Yakni amanah membangun Kadipaten Surukubeng menjadi negeri yang ‘jegeg’. Jegeg prestasinya, jegeg reputasinya, jegeg pembangunannya, jegeg menjadi negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertoraharjo. Terbebas dari koruptor, bromocorah, politisi busuk, maling, bandit, kebodohan,Kebohongan,dan makelar yang menjual kursi lowongan PNS.
Kalau sang dipati bisa mewujudkan cita-cita luhur di atas, maka dia pantas menyandang gelar Mister Jegeg. Mister yang berpangkat master Jegeg. Artinya maha guru yang benar-benar jegeg. Jos, atau top markotop. Mungkinkah??? Yo embuh, lha wong mbaca Pancasila saja masih salah, apalagi ngangkat sekda… weee…… tambah bingung mas. Jaaan jegeg tenan bingunge….


Duratmoko Bancaan 70 Milyar
Ki Setyo
Sore itu Ki Honggolono masih terlihat gerah uyang, puyeng mumet cuekot-cuekot. Makan nggak terlalu nikmat, minum ndak terlalu segar. Dia memilih thenguk-thenguk cangkrukan bersama Ki Ageng Mirah di pinggir kali Golan dan Mirah.
Mereka berdua tertawa cekikikan, mengenang masa lalu tentang sumpah serapah yang pernah mereka ucapakan, sehingga dua kali yang bertemu di desanya nggak mau akur. Dia benar-benar menyesal. Lebih-lebih, seperti sekarang ini akibat main sumpah sembarangan itu berakibat orang Mirah dan Golan susah bersilaturahmi, apalagi kalau mantu, nanam kedelai, mepe kawul, dan sebagainya kerap menemui kendala yang nggegirisi. Yang mantu jadi ndak mateng masaknya, yang nanam kedele nggak bakal hidup, yang mepe kawul bakal terbakar, dan sebagainya.Pokoknya sumpah tersebut menjadikan tali kerukunan antarwarga benar-benar terganggu.
“Wah kita dosa lho di, masa, mung perkoro arep mantu wae kok main sulap-sulapan segala…, coba kalau dulu kita undang Mas Deddy Corbuzer, atau Uya Kuya, waaa, mbok menowo, kita nggak jadi terhalang perjalanan kita masuk surganya Alloh…”
“Iya, ya kakang Kyai, aku dulu memang terlalu angkuh, kenapa kok main sumpah serapah, main sulap seperti Mister Tarno saja. Coba kalau sumpah itu kita terapkan pada aparat pegawai di Surukubeng, woooo negeri kita bakal makmur…ndak ada pejabat yang merangkap jadi maling dan garong, itu saya kira sumpah yang memberikan manfaat”
“Maksudnya???” Tanya Ki Ageng Mirah
“Lho la iya to Kyai, coba kalau sumpah kita, kita satukan, kita padukan, misalnya, sok sopo wae pejabat sing gelem mbadhog, nguntal barang,utowo duwite negoro kanthi cara sing ora kalal, omahe kobong, awake lara, pikirane dadi edan, ora iso mingkem, utawa ora iso mlaku… oh tak kiro Surukubeng bakal makmur. Ora koyo sak iki iki…”
“Lho, Kakang mireng pawarto nopo to?, kok ujug-ujug gemes karo pejabat Surukubeng?”
“Wah sampeyan niku ketinggalan jaman Kyai. Lho niki lho, sampeyan waos pawarto saking Koran-koran, yen Adipati, lan Patih utawi Wadip, dalah dewan, sampun tumindak jubriyo, dados duratmoko,tumindak culika,apus krama,nedho dana karam, dana APBD ingkang gunggungipun pitung puluh milyar, modus operandinipun, kanthi cara meminta jatah kepada seluruh dinas yang mendapat proyek sekian persen, nanti kalau ada pemeriksaan, dana niku wau diwangsulne sementara, lha menawi pengawas sampun kesah mangke disuwun malih kalian adipati, ingkang diseponsori Pak RT saking dewan” tunjuk Ki Honggolono pada berita hot dari sebuah Koran local yang terpercaya
Kyai Mirah terlihat getem-getem geregetan mendengar paparan dari Ki Honggolono. Wajahnya yang biasa lembut berubah menjadi merah padam. Dia segera mengernyitkan dahinya. Sepertinya ada sesuatu yang perlu segera di lakukan.
“Sudah begini saja kakang, ayo, sumpah sing biyen awake dewe lakoni, dicabut. Murih anak putu anggone podho satru enggal babar dados kerukunan. Mbok bilih para wargo badhe tetanen menopo kemawon supados ical raos was sumelangipun, dene ingkang kagungan kerso mantu, mbok bilih wonten sanak kadang saking Nggolan dalah Mirah mulai dinten sak mangke saget mbang sinambang, datan wonten sambekolo… lan kula gadah angen-angen, pripun menawi sumpah supoto niki kito patrapaken dumateng para pejabat sak indenging Surukubeng?”
“Wah, kula sarujuk Kyai. Lan mangga, sumpah kito alih fungsikan dumateng para pencoleng negari, mulai saking adipati, wabub, staf, dalah para anggota dewan, ingkang sampun purun tumindak dados duratmoko, kita sedakaken dados lutung,bisu, lumpuh, griyane kobong, uripe sengsoro”
“Wah, kasinggihan kakang”
Ki Ageng Mirah dan Ki Honggolono, sepakat, bahwa sumpah lama yang pernah diterapkan sehingga merugikan tali silaturahim dan persatuan warga segera mereka cabut. Dan mulai sekarang, supoto tersebut diberlakukan kepada kepala daerah, wakilnya,stafnya,serta PNS lainnya, yang ngemplang duit Negara bakal menerima supoto tersebut.Oleh karena itu waspadalah…waspadalah.


Megister Sekedar Iseng (MSi)
Ki Setyo
Hari Senin yang lalu, seluruh keluarga Ki Suryongalam ‘nglumpuk’ liburan di Padepokan Kutu. Niken Gandhinidatang dengan Raden Katong suaminya. Sedangkan Suromenggolo dan Suryohandoko datang sendirian. Istri dan anak-anaknya lagi liburan imlek di aloon-aloon Surukubeng melihat pertunjukan barongsay.
Ki Suryongalam masih terlihat sehat dalam usianya yang sekarang ini. Walau umurnya hampir sama dengan ulang tahunnya Kabupaten Surukubeng.
“Wah Romo kok saget njagi kesehatanipun, nopo resepipun?”
“Olah raga, olah rasa, istirahat teratur,jujur, sabar, lembah manah,gelem nglakoni laku prihatin, poso senin kemis, poso dawut, njogo ati, pikiran, mata, tutuk,lan tumindak kang ora becik”
“Byuuh ora ndlomok tenan Romo ini, syarat kok sak krenjang, lha yen aku ora sanggup nglakoni, to mak” sahut Suryohandoko, sambil nglinting rokok klobotnya.
“Awakmu iki pancene ora tahu laku prihatin kok. Sholat ra tahu, poso ra tahu. Rino wengi mung PS-an wae. Lha piye, sekolah wae mbolosan. Mulakno ijazahmu mung tekan kejar paket wae…” pungkas Suromenggolo sambil ngemil singkong ketan yang disuguhkan ayahnya
Suryohandoko yang memang hanya punya ijazah kejar paket itu hanya mesam-mesem. Dia terlihat mau mengungkapkan sesuatu, untuk mengeyil kakaknya.
“Alaah, la wong kejar paket saja bisa jadi adipatikok” jawab Suryohandoko ketus.
Raden Katong, Niken Gandini, dan Ki Suryongalam terlihat tersipu geli, mendengar ‘pengeyelan’ Suryohandoko yang terbilang paling bandel tersebut.
“Ya begitulah, dia nggak juga bisa disalahkan. Demokrasi sekarang ini hanya menampilkan pemimpin yang popular tanpa diseleksi dengan cara-cara yang cermat. Pokok terkenal, dan punya duit, maka jadilah ia. Dan parahnya lagi setelah ia terpilih maka, kerja nggak bisa, buat program nggak bisa. Bisanya Cuma korupsi,manipulasi, dan apus-apus… bahkan kalau sudah jadi adipati, apapun bisa dilakukan. Mulai dari selingkuh, foya-foya, hingga beli gelar” jelas Raden Katong prihatin
“Mangkanya, saya ndak usah sekolah,ataupun kuliah. Saya akan macung adipatisaja. Kalau besok jadi adipatibeneran, saya akan beli gelar SH, MSi, dan Doktor. Romo, Raden Katong, dan Kang Nggolo tahukah kalian, apa kepanjangan gelar-gelar yang baru saya ucapkan tadi??”
“Ah, kamu itu mesti guyon saja. Nggak tahu aku, sudah nyerah saja room” jawab Ki Suryongalam jujur
“SH itu singkatan Sarjana Hiburan, kalau MSi singkatan Megister Sekedar Iseng…”
“Kalau Doktor???” sahut Niken Gandini
“Dokar Montor” sahut Suryohandoko sambil ngeloyor keluar menuju garasi bentor (becak motor) yang diparkir. Dia berangkat ngojek di pasar Jetis.
Orang se kademangan Surukubeng tertawa terpingkal-pingkal mendengar Suryodoko alias Surogentho mendapat gelar SH,MSi.

Biang Korupsi Daerah (BKD)
Ki Setyo
Manusia kian bingung rebutan mencari makan. Mereka tidak mengikuti  aturan Negara lagi. Mereka tidak punya moral, tidak punya etika, tidak punya hati, dan tlah kemanjingan nafsu serakah nggragas dan cluthak. Uang Negara, uang rakyat, uang mutasi, uang sertifikasi, uang grafitasi, uang kenaikan berkala, dan lain sejenisnya, semua disikat tanpa kompromi.
Tujuh tahun BKD berkuasa telah  menyebar dan menanam   penyakit yang berbahaya luar biasa. Di sana-sini banyak rajapati ,orang saling bunuh, mati sia-sia. Mati hati nuraninya. Mati imannya, mati pikiran sehatnya. Dan mati seluruh sistem pemerintahan yang ber-Pancasila.
Sementara hujan turun di sepanjang masa. Tidak tepat pada waktunya. Angin besar disertai banjir bandang menerjang  pohon-pohon hingga tumbang. Rumah suci hanyut,  para ulama mati, jalan-jalan tertutup lumpur dan puing-puing bangunan menimbun seluruh jalan kebenaran. 
“Begitulah  kondisi Kadipaten Surukubeng  yang tengah kehilangan nurani . Orang yang tidak punya kompetensi di bidang pemerintahan telah menjadi penguasa. Sementara orang pinter jelas-jelas semakin keblinger, kedanan harta dan jabatan, memanfaatkan kelemahan sang dipati” jelas Raden Katong pada acara Rebon Pagi di pendopo Setono.
“Apakah Surukubeng sudah termasuk katagori sakit, Raden?” Tanya Suromenggolo serius
“Saya pastikan ya, tengah sakit kronis. Rakyat telah dibelokkan ke jalan yang bengkok oleh politisi busuk, untuk memilih pemimpin yang bodoh. Aku ngerti lan tanggap ing sasmita, menawa kuwi mau mung akal-akalan murih si pemimpin bisa disetir, dikendalikan, lan dipermainkan. Ujung-ujunge nggo ngeruk kekayaan pribadi lan kekuasaan sing bakal teka”
“Apakah ada bukti yang mengarah ke ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola Negara?” Tanya Patih Seloaji analitis
“Ooo, jelas sekali. Lihatlah, ekonomi sekarang tidak pro rakyat, sekda yang dikatakan oleh wabub beberapa bulan yang lalu katanya September kelar, mana buktinya. Sampai sekarang masih PLT. Dan lihatlah, kepala BKD yang sudah dijabat selama 7 tahun…gak ganti-ganti…”
“Banyak terindikasi sarang korupsi lagi” celetuk Kyai Mirah prihatin
“Malah ada yang ngatain kalau pemerintah bisu dan tuli lho” sahut Suromenggolo mengingatkan
“Kalau menurut saya, nggak bisu dan tuli. Memang adipati yang sekarang ini nggak tahu apa-apa kok. Jadi kesannya bisu dan tuli. Tapi aslinya dia itu nggak bisa apa-apa kok. Coba, sekarang mau diajak lari ke mana?, wisss pokoknya nggak nutut” bantah Raden Katong gemas dan prihatin
“Ha…ha…ha…” hadirin yang ada di pasamuan maklum, tertawa kecut.
“Tapi gelarnya sarjana megister lho, jangan disepelekan, kuwalat nanti” sindir Patih Seloaji
“Alaaah, paling buat skripsi saja nggak mudeng. Apalagi membuat thesis?, kalau saya jujur saja. Itu namanya ngapusi awake dewe. Lha wong kemampuannya Cuma sederajat sekolah dasar saja kok pake gelar gituan.. ah rakyat jangan dilatih berbohong lah, lucu dan pamali” potong Kyai Mirah mengingatkan.
“Mungkin anu Kyai, dulu, ketika ditanya oleh pengelola perguruan tinggi pasca sarjana begini “ He mahasiswaku yang gagah dan cantik, pakultas pascasarjana memberi kemudahan lho, ama bapak dan mbak. Yang penting bayarnya dilunasin ya. Setelah itu gue tawarin, kira-kira wisuda duluan baru thesis, apa thesis dulu baru kemudian wisudaaaaaa…” jawab keduanya “Wisudaaaaaaaaaaaaaaaaa duluuuuu!!!”  canda Suromenggolo sambil melempar udengnya.
Raden Katong, Patih Seloaji, Kyai Mirah dan Suromenggolo, tertawa terpingkal-pingkal. Oalah, jamane jaman edan. Wong Surukubeng ketularan edan. Milih pemimpin kok yo wong…., yen ora edan ora dadi PNS. Oalaaaah…oalaaaah… politikuse yo wong …. Yen ora edan ora iso dadi tikus edan…. Niku jaman siyen lho!!

Adipatinya perlu Diganti
Ki Setyo


Pagi uthuk-uthuk Raden Katong, Kyai Mirah, Ki Honggolono, Suromenggolo, dan Ki Suryongalam terlihat jalan santai mengitari jalan baru, di sebelah selatan stadion.  Mereka terlihat diskusi serius sambil jalan. Beberapa kali jalannya terlihat berhenti. Sedangkan beberapa rombongan yang mendahului sesekali menyapa Raden Katong dan kawan-kawan. “Monggo Raden…” sapa mereka. “Oh injih kisanak..” jawab Raden Katong sopan.
Beberapa saat mereka pun berhenti di kedai susu sapi. Raden Katong segera melepas sepatu, diikuti oleh Kyai Mirah, Ki Honggolono, Suromenggolo, serta Ki Suryongalam. Mereka duduk di atas karpet, sambil meraih Koran ‘surya’ yang tergeletak di depannya.
“Ngersakne susu kalih roti bakar?” Tanya pedagang susu
“Anu kisanak, saya roti bakar rasa jahe, sedangkan susunya juga rasa jahe”
“Saya juga sama dengan Raden!!” teriak Kyai Mirah, Ki Honggolono, dan lainnya.
“Sampeyan wis miring, pawartane kadipaten Ponorogo yang terhangat?” sapa Ki Honggolono membuka pembicaraan.
“Tentang apa Ki?” sahut Ki Suryongalam
“Wah, kalau saya agak dengar dikit aja. Soal sekda kan?” pungkas Suromenggolo faham.
“Wah!, awakmu itu pantes jadi juru nujum!!” sahut Kyai Mirah tertawa.
Semua penggede Ponorogo itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Kyai Mirah yang suka mbanyol itu. Pembicaraannya pun makin lama makin terlihat serius.
“Nuwun sewu kakang, kula sak mangke tambah prihatos menawi ngawuningani kahanan ing bumi reog sak mangke. Korupsi, kolusi lan nepotisme, tambah ndodro, tambah nggladrah. Para pamong projo sami kecalan moral, sami nilaraken paugeran, sami rebut panguwaos, sami rebutan sego, mblendhukne waduk…” jelas Raden Katong jengkel
“Semanten ugi kula Raden. Kula tumut isin, lha jare piyambakipun menika ngendikane dados kiyai, lha kok konangan selingkuh niku pripun. Mbok ya inggih leren kewolo anggen dados adipati. Mesakna mring para kawula. Lha wong nyatane dados adipati nggih mboten saget menapa-napa. Terus niku namine pripun??” pungkas Kyai Mirah
“Wah, senajyan mekaten titelipun SH,MSi lho Kyai?”
“Gelar ngono ora mung kanggo gagah-gagahan wae. Ananging pawongan sing duwe gelar kudu sumbut karo cak-cakaning ngelmu tumrap bebrayan. Arepo gelare sak thekruk, ananging ora iso opo-opo yo percuma. Lan awake dewe iku wis mangerteni, menowo gelar-gelar iku mau biso tinuku kanthi dhuwit. Alias STKIP !, Sekolah Tidak Kok Ijazah Punya. Wis ngene wae, yen kowe ora percoyo, coba Adipatimu sing nganggo gelar SH MSi kae, takonono babagan cara nggawe skripsi lan thesise… oh yen iso kethoken drijiku iki” cibir Ki Demang Surukubeng serius
“Interupsi Ki!!”
“Ono opo Nggolo?”
“Niki guyon mawon. Menawi kala emben sang adipati niku angsal pepaparap mister jegeg, krana asring ngucapaken kata-kata jegeg ing sadhengah panggenan. Lha sak niki niki, menawi kula mirengaken piyambak, piyambakipun sering ngucap ‘seje silit, seje anggit’…”
“Karepmu?”
“Lha inggih, menawi makaten peparap menika nggih perlu diganti ta…”
Orang empat yang ada di kedai itu mulai paham, dengan apa yang diinginkan Suromenggolo. “Oh karepmu ngerti aku… hayo coba aturna wae”pinta Kyai Mirah sambil bercanda.
Suromenggolo kemudian meletakkan gelas susunya, dan menghela nafas dalam-dalam. Kyai Mirah, Raden Katong,  Ki Suryongalam, dan Ki Honggolono, saling jawil bersiap-siap ketawa dan ketiwi jika Suromenggolo menjawab permintaan itu.
“Nggih ngaten kemawon Raden, gandeng adipati Ponorogo sak menika winastan adipati ingkang mekaten kala wau, menawi kula peparapi mister anggit kok rasanipun mboten pas, mboten cocog kalian kahanan. Pramilo ingkang pas…………mister ……. ????”
“Haaaaa…. Ha… haaaaaaa… haaaaa…….. oalaaah…. Edannn… kemplo” semua tertawa terpingkal-pingkal


SEGERA HADIRRR !!
WAYANG KEMPLO SUPER GERRR

Para penggemar wayang kocak yang pingin ngobati rasa strees, kami pasukan wayang kemplo akan hadir di setiap penerbitan Media Mataraman hingga hari kiamat nanti, he…he..he…
Agar kemasan wayang ini menambah hot super hot, kami akan selalu koneks dan konteks dengan situasi yang berkembang di jagad alam dunia sekarang ini. Isinya tersaji yang membuat panas telinga, panas kepala, tetapi dingin di hati. Maklumlah ini hanya ulah para wayang yang kurang ajar. Jadi Anda sebagai orang yang masih ketitipan kesaktian ‘iman’ nggak usahlah digagas hingga keluar masuk rumah sakit. Tapi cukup ditelan pelan-pelan kemudian ludahkan sampai ‘kecer ati’ terasa pahit.
Begitulah dunia wayang, selalu identik dengan bayang-bayang manusia, atau gambaran duplikasi menungso. Yang selalu ngongso-ongso rakus serakah, dan ngawur sikut sana sikut sini. Tepang sana tepang sini, dan sebangsanya. Pokoknya kalau Anda nggak mbaca satu kali saja pasti deh, anda guetuuun pool. Dijamin pokoknya bakal ngamuk mencari Media Mataraman sampai kolong jembatan sekalipun. Ach!!!
Bagaiamana???, mangkanya ikuti saja. Pokoknya semua strees bakal ‘oncat’ dari jiwa raga panjenengan. Tapi bagi yang tersinggung nggak usah ngamuk, kemudian menyewa pembunuh bayaran untuk menghakimi dalangnya… semua hanyalah fiksi tapi nyata di dunia alam semesta ini… sudahlah Anda nggak usah gelisah… mari menebar senyum bersama kami… Wayang Kemplo Super Gerrr.


Kemploisme?
Kemplo dalam kamus ensikemploispedia berarti dhedhel, keminter, kemeruh, ngawur, sok  tahu, dan sok merakyat, serta sok serba bisa. Istilah ini tergolong  satire yang dialamatkan pada oknum pemimpin karena ketololannya, ketidakbecusannya, kemendhoannya, kengawurannya dan kekemploannya dalam memimpin. Sehingga pemerintahan yang dipimpinnya menjadi rusak. Nepotisme, koncoisme, dulur-isme, sopirisme (kerabat sopir kabupaten:red), semuanya menjarah rayah, ajimumpung jadi adipati kemplo, jadi sopir kemplo, jadi lurah kemplo, jadi dewan kemplo, dan jadi tim sukses kemplo. Untuk makan uang APBD, menjadi PNS, beli gelar, beli jabatan, beli ijazah, dan menguasai semua proyek pembangunan.
Begitulah kemploisme akhirnya memerahkan telinga para founding father, ajisepuh,sesepuh Ponorogo. Mereka pun segera meeting di warung Ki Demang Surukubeng. Mereka menganggap persoalan ini sangat urgent untuk dibicarakan. Mereka menganggap Ponorogo dalam keadaan genting, pemerintahan dalam keadaan rusak, adipati sudah nggak becus dan memang nggak becus ngurusi pemerintahan.
“Ki, nampaknya kita perlu segera turun gunung” kata Ki Demang Kutu mengingatkan
“Setuju Ki, rakyat Ponorogo telah keliru memilih adipati” sahut Ki Ageng Mirah
“Ini akibat penipuan para politisi busuk yang mengusung pemimpin tersebut” tukas Ki Honggolono
“Ya begitulah, pembodohan kepada rakyat telah dilakukan. Rakyat telah dibeli dengan rupiah… rakyat telah dikibuli. Dan sekarang adipati disetir oleh; sopirnya, Pak RT, kepala desa  dan tim suksesnya… perbuatan yang terang-terangan melanggar hukum..  akibatnya pemerintahan menjadi rusak, adipati nggak becus buat  konsep, adipati nggak tahu pekerjaannya, adipatinggak mudeng dengan tugas-tugasnya, adipati dirongrong oleh orang-orang yang lebih pinter darinya… dan adipati hanya berjalan ngawur  tanpa tujuan…. oalaaah dasar kemplo…kemplo… adipati kok keluyuran tak terarah…” sergah Surogentho kesal
“Yaaah, arepo dikoyongopo sing jenenge pendidikan itu perlu… sekarang ini jangan hanya mengandalkan bolonya banyak saja… adipati itu memerlukan kecakapan dalam bidang pemerintahan, ketatanegaraan, sosiologi, ekonomi, dan sebagainya… coba sekarang kalian lihat, Ponorogo sekarang  sudah rusak parah. Adipatinya nggak tahu apa-apa… ini semua akibat dari latar pendidikan yang tidak memenuhi syarat. Benar sarjana, tapi hanya sarjana dipaksakan… Sarjana Hiburan, dan MSi nya hanya Megister Sekedar Iseng saja, coba kalau nggak percaya sampeyan tanyakan bagaimana cara membuat skripsinya, bagaimana cara membuat tesisnya…pasti nggak tahu dia… rumangsanya kalau sudah pake gelar gituan orang menjadi takjub, orang menjadi silau, orang menjadi takut… orang mengatakan hebat…oalaah.. kemplo… kemplo… ngapusi awake dewe kok ora bar..bar…, berkatalah jujur, jangan menunggu Ponorogo hancur… dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa adipati yang sekarang ini tidak layak memimpin Ponorogo…. Dan sebelum kita turun gunung sebaiknya adipati segera lengser, meletakkan jabatan, pilih adipati baru dan benar-benar baru, bukan dari wakilnya yang sekarang ini…”
“Kenapa Ki ??” tanya Surogentho
“Jas bukak iket blangkon, sami juga sami mawon”
Ki Ageng Kutu, Surogentho, Ki Ageng Mirah, dan Ki Honggolono tertawa bersautan. Mereka tertawa lantaran kemploisme benar-benar terjadi di pendapa kabupaten Ponorogo. Orang-orang yang tidak bisa apa-apa telah menjadi penguasa. Mereka menjadi tayangan tukar nasib. Nggak tahu malu, nggak punya etika, dan nggak punya bekal ilmu. Mereka hanya menjadi badut-badut politik yang manggung di atas penderitaan rakyat. Dan rakyat sudah tahu semua kalau gelar-gelar yang nempel di pundak hanyalah gelar palsu. Nggak usah ditutup-tutupi, kasihan rakyat yang menderita. Yang untung hanya para badut dan tim pengusungnya. “Selamat mandi lumpur, wajah anda terlihat semakin jelek. e –KTP gratis kok!”. Ujar Ki Ageng Kutu menggerutu.


PONOROGOKU untuk para PEJUDI
Ki Setyo Mangunprodjo
GAWAT!!!. Itulah kata yang pantas terucap pada Kabupaten Ponorogo sekarang ini. Predikat kota santri, kota kiyai, kota pelajar, tempatnya orang shaleh terpelajar nyaris hilang dalam kurun dua tahun terakhir ini. Betapa tidak gawat!. Identitas itu kini telah luntur seiring kesalahan masyarakat Ponorogo dalam memilih pucuk pimpinan pemerintahan. Lho kok?. Oleh karena itu para pendiri Ponorogo segera meeting di suatu tempat
“Begini lho Raden, pemilukada yang baru lalu tidak lepas dari permainan dari para pejudi yang berasal dari Surabaya, Semarang, Wonogiri, Jombang, Nganjuk, dan lain-lain termasuk Ponorogo sendiri. Mereka sengaja memilih pemimpin yang lemah dengan tujuan untuk dapat mencari keuntungan lewat kelemahannya itu. Mereka bisa mengiming-imingi sejumlah harapan dan keuangan… bahkan kalau perlu pancing dengan wanita –wanita cantik…mereka tahu itu, kalau dulu adipatinya nggak pernah punya uang sebanyak itu… mereka tahu kalau adipatinya senang itu…oleh karenanya kalau ingin banyak keuntungan pilihlah adipati yang lemah…agar mudah dikendalikan…” keluh Kyai Ageng Mirah memulai pembicaraan
“Bahkan sekarang ini sudah Nampak jelas sekali kalau Ponorogo diacak-acak oleh pejudi. Coba lihat saja kakang, Pilkades sengaja diadakan dengan tidak serempak, itu saya yakin kalau Adipati sudah dikendalikan oleh mereka. Tujuannya adalah agar kepala desa bisa dijadikan taruhan…dan nantinya para kepala desa yang dibantu pejudi-pejudi itu bisa mereka kendalikan…bahkan jangan harap ke depan ada kepala desa yang berkualitas…, makanya mereka sengaja menghembuskan fitnah-fitnah kepada calon kepala desa dengan isu golongan, kelompok-kelompok garis keras keagamaan, kemudian menjatuhkan orang baik-baik dengan fitnah yang keji. Kalau perlu generasi muda dibeli dengan minuman keras dan judi… itulah strategi mereka untuk mengacak-acak Ponorogo sekarang ini…” imbuh Raden Katong serius
“Kita sekarang ini kembali lagi pada jaman jahiliyah modern. Sekarang ini kalau sampeyan ke Ngebel, di hotel-hotel sana itu sering dimanfaatkan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa untuk berbuat mesum, berhubungan badan layaknya suami istri. Bahkan tidak itu saja, warnet, kafe, dan tempat hiburan lain, sekarang ini dijadikan tempat aman untuk perbuatan tersebut, bahkan saya melihat sebuah kafe di daerah saya, agar tidak ketahuan bejatnya, semua sudut bangunannya dikasih kubah masjid, itu di daerah saya..lo. Sementara pemerintah sekarang ini buta, tuli, dan sangat tidak mampu untuk mengatasi kerusakan generasi muda di kabupaten ini, ini menunjukkan bahwa dampak negative dari kepemimpinan yang lemah bakal berakibat rusaknya tatanan kenegaraan, pemerintahan daerah, dan rusaknya tatanan social… saya doakan mudah-mudahan secepatnya pemimpin yang demikian segera diturunkan, dilengserkan oleh kekuatan Tuhan…” sahut Ki Demang Suryongalam tidak sabaran
“Amin!!!!, tapi begini lho kakang… sesuatu itu kalau dipegang oleh orang yang tidak ahli, kata Nabi, maka tunggu kehancurannya. Dan sekarang ini Ponorogo sedang terjadi seperti itu. Pemerintahan sudah dipegang oleh orang yang bukan ahlinya… pemerintah sudah hancur…dan sekarang ini semua lapisan masyarakat, kecuali yang pernah didatangi rumahnya ketika mantu atau yang lainnya… mereka sudah merasakan bahwa pemimpinnya nggak bermutu, tidak berkelas, tidak bisa menjadi adipati sejati… akan tetapi hanya adipati gambar, adipati wayang, yang gerakannya dikendalikan oleh dalang yang bernama preman-preman. Dan itu tidak saja dirasakan oleh kalangan bawah… akan tetapi orang-orang cerdik pandai, orang akademisi, camat, lurah, kepala desa yang dulu mendukungnya dan staf kabupaten - kecuali yang telah mendapat jabatan- mereka merasakan kalau pemimpinnya tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa… tidak pantas jadi adipati…tidak pantas menjadi orang nomer satu di kabupaten ini…saya ikut prihatin Raden… oleh karena itu saya mohon kepada Alloh agar amanah yang telah diberikan kepada adipati segera dicabut” pinta Kyai Mirah setuju dengan ide Ki Suryongalam dan yang lainnya
“Amiiiiiin….” Jawab hadirin serempak, mewakili rakyat Ponorogo

Ditemukan RT GILA
Ki Setyo Mangunprodjo
Periodisasi zaman menurut falsafah jawa dibedakan menjadi lima periode yaitu zaman kemasan, zaman perak, zaman perunggu, zaman besi, dan zaman imitasi. Zaman kemasan, tingkat kejujuran manusia masih bisa dipertanggungjawabkan kemurniannya. Bila ia ngomong tidak ya tidak beneran. Dari perlambang ini, maka jika seorang pemimpin hidup pada zaman itu, maka dia adalah pemimpin beneran. Bukan pemimpin karbitan ataupun pemimpin jadi-jadian.
Berikutnya zaman perak. Pada zaman ini, tingkat kejujuran manusia sudah mulai terkontaminasi oleh sedikit godaan. Akan tetapi dampak negatifnya belum signifikan dirasakan oleh sebagian besar komunitas manusia. Orang masih enggan berbuat jahat, karena masih punya hati nurani. Orang masih malu jika menggunakan gelar palsu, apalagi beli gelar, alias sarjana atau megister tumbasan.
“Kalau zaman perunggu bagaimana Kyai?”
“Kalau zaman perunggu, kadar kejujuran lebih rendah dari zaman perak. Orang sudah mulai banyak tergoda rayuan iblis. Akan tetapi, pada zaman ini orang juga masih punya hati nurani. Orang masih menjaga hukum adat, hokum pemerintahan, walau satu dua sudah ada yang mulai menyeleweng, akan tetapi kondisinya masih bersinar walau mulai redup” jelas Kyai Mirah filosofis
“Kalau zaman besi kondisinya seperti apa Kyai?” Tanya Batara Katong serius
“Begini Raden (sambil menghela nafas)… pada zaman ini orang jahat dan orang baik sama-sama kuatnya. Keduanya saling memberikan pengaruh yang sama kuatnya. Orang pada zaman ini berhati keras, mudah putus asa, inginnya jalan pintas. Korupsi kolusi, nepotisme, apus-apus, mulai merajalela…, tata Negara, tata kehidupan, mudah karatan, dan mudah rusak”
“Terus, kalau jaman imitasi seperti apa Kyai?” sahut Suromenggolo mulai tertarik
“Naaa, inilah zaman yang tengah kita lewati sekarang ini. Pada zaman ini orang sudah menunjukkan sifat kemunafikan atau kepalsuan. Orang atau pemimpin pada zaman ini sudah tidak bisa dipercaya lagi. Seandainya pakai gelar ya gelar palsu. Seandainya haji, ya haji palsu, seandainya adipati, ya adipati palsu. Seandainya anggota dewan ya anggota dewan palsu. Janjinyapun juga janji palsu, sumpahnyapun juga sumpah palsu.”
“Tapi walaupun palsu, kita mudah tertipu lho kyai…”
“Ya jelas to, lha wong memang awal penampilannya menarik kok. Jadi kita mudah sekali tertipu. Apik njaba bosok njero, baik penampilannya tetapi buruk keadaan aslinya. Pada zaman ini pemerintahan dikendalikan oleh tokoh munafik…”
“Wah jangan-jangan Ponorogo sudah masuk pada zaman ini, Kyai”
“Weeeladalah… awakmu itu belum tahu ta?, semenjak adipatinya yang sekarang ini, kepalsuan, kemunafikan, dan kerusakan mulai membumi pada pemerintahan di Ponorogo. Mulai jual beli ijazah dan gelar, jual beli jabatan, jual beli PNS, serta perbuatan-perbuatan yang tidak lazim dilakukan oleh adipati, anggota dewan, serta orang-orang yang tidak termasuk dalam lingkungan structural, semisal sopir dan anggota tim sukses ketika pemilukada dulu, mereka ini, sekarang ini menjadi orang-orang yang ikut-ikutan menata jabatan, plus merangkap calo atau makelar jabatan. Mereka menjadi orang-orang gila, mabuk kehormata. Bahkan jalur terendah dari sistem pemerintahan seperti RT, sekarang ini menjadi pusat pengendali pemerintahan…, sekarang ini Pak RT menjadi king maker, yang menentukan hijau merahnya pemerintahan, jadi dia termasuk RT gila juga”
“Dengan demikian dia akan menutupi kebobrokan pemerintahan yang sekarang ini dengan beragam cara, ya Kyai?”
“Oh tentu!, orang itu kalau masuk dalam katagori tokoh munafik selalu berfikiran muslihat, bagaimana agar kebohongan dan kepalsuannya tidak terbongkar dan tercium oleh masyarakat. Maka ia akan berusaha dengan beragam cara. Misalnya, membeli media masa, membeli kolumnis, menyewa jago pukul, intimidasi, dan macam-macam keculasan yang bakal dilakukan demi tujuan menutupi kebobrokannya… untuk memperoleh tujuan jahatnya…”
“Wah, kalau begitu pemerintahan yang demikian itu memang benar-benar ada ya Kyai?”
“Weeeeladalah, ya juelas-jelas ada ta… bahkan sekarang Ponorogo tengah mengalami krisis yang sangat-sangat mengkuwatirkan. Dan ini bukan mengigau ataupun mimpi belaka, tetapi pemerintahan rusak itu benar-benar ada, dan sedang terjadi. Nah sekarang kamu bisa melihat sendiri bahwa dalam pemerintahan Ponorogo ada tokoh-tokoh munafik yang mengendalikan ?”
“Ya, benar  Kyai… memang benar-benar adanya”

Ach! Memalukan!!
Ki Setyo Mangunprodjo

Kepercayaan itu datangnya hanya satu kali saja. Ketika seseorang sudah nggak bisa dipegang ucapannya, maka kepercayaan pada dirinya itu lambat atau cepat bakal sirna, dan ndak ada yang mau dengar lagi. Pun demikian berlaku pada adipati Ponorogo, yang dulu –baca orang yang tertipu kamuflasenya- menganggap, bahwa sang dipati orangnya bersahaja, merakyat, jujur, pinter, alim, dan seabrek ‘pangalembono’ padanya.
Eeee tak tahunya itu hanya cerita ngoyoworo, ngawur, bin apus-apus. Nggak satupun predikat tersebut melekat pada diri sang dipati. Bahkan dengan keangkuhanya kini dia sedang membangun istana dengan balungan kayu jati senilai 3 Milyar, yang diminta paksa dari dinas pertanian. Otomatis sang kepala dinas puyeng kepalanya. “Ah dasar dipati kemplo!, mentang-mentang berkuasa menggunakan aji mumpung, rumangsanya kalau sudah jadi adipati bisa berbuat semena-mena…apa nggak melihat, rakyat semakin mlarat bahkan banyak terkena gizi buruk, bisanya jangan hanya njingkat pura-pura kaget” desah Sang Kepala Dinas Pertanian berkecemuk.
Baru saja enak-enak melamun, tiba-tiba dari samping kanan datang Ki Suromenggolo mendekat. “Lagi mikirin apa kisanak?” Tanya Suromenggolo mengagetkan.
“Eh,,, anu…anu… ini lho Ki, sedikit ada masalah…”
“Masalah apa ya?, kelihatannya kok seru banget!?”
“Ah, biasaa, sekarang ini sang dipati kan mau mbangun istana ta Ki, jadi kita sebagai bawahan harus menyediakan upeti, biasalah… kalau nggak mau nuruti kehendaknya pastilah jabatan taruhannya. Dan dia kini bersama kroni-kroninya bagaikan raja bengis yang siap memangsa siapa saja yang melawan kehendaknya. Selain itu yang lebih mengerikan adalah jiwa komersilnya telah memakan banyak korban. Anak-anak pinter Ponorogo tetapi miskin dijamin tidak bisa menjadi PNS di daerahnya. Demikian juga orang baik atau pejabat baik jangan harap bisa mendapat jabatan jika nggak mampu membayar...”
Ki Suromenggolo yang dulu ikut mendirikan Ponorogo, terlihat hatinya gundah. Dia pun menarik nafas dalam-dalam. Dia prihatin dengan keadaan Ponorogo yang semakin bubrah semenjak dipimpin dipati yang sekarang ini.
“Dan ketahuilah kisanak, saat ini saya mendengar dan melihat sendiri, bahwa tiga tahun pertama berdasarkan keterangan dari kroni-kroni yang dimotori oleh Pak RT bahwa pemerintahan dipati dikendalikan oleh anak-anak brandal yang biasa cangkrukan ning sor ringin, maka sasaran utama adalah mengeruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya demi nyaur hutang dan membangun kekuatan untuk pemilukada berikutnya. Kedua kalinya, tebar pesona melalui tilik sekolah. Karena disadari bahwa anak sekolah adalah sasaran empuk untuk mendulang suara pada pemili nantinya. Maka mereka harus dikibuli, dan dikebuli dengan aneka ramuan kesukaan anak-anak muda. Pun demikian, agar adipati terlena, maka dipancing dengan perempuan cantik dan rumah mewah, seperti yang sudah sampeyan siapkan kayu seharga tiga miyar tadi. Baru kemudian dua tahun terakhir nanti pemerintahan dikembalikan kepada sang dipati, dengan kendali ketua adipati center, guru SD- family istrinya-, serta sopir pribadi, ditambah para kepala desa, dan beberapa pengusaha, yang masih diuntungkan dan loyal padanya”
“Waaah, panjenengan tahu saja dengan situasi pemerintahan Ponorogo saat ini. Terus, kalau begitu, saya harus berbuat bagaimana Ki?”
“Kalau sudah menyangkut masalah itu, berpulang pada pribadi masing-masing. Kalau sampeyan ingin menyelamatkan Ponorogo, saya ingatkan jangan sekali-kali berkonspirasi dengan para penjahat tersebut. Kasihan rakyat, daerah, dan pemerintahan Ponorogo yang semakin amburadul. Biarkan adipatimu seperti itu. Dia lagi diuji oleh Alloh dengan kesenangan jabatan, dan harta kebendaan. Dan yakinlah bahwa Yang Maha Kuasa tidak tidur. Maka tidak lama berselang kebatilan itu akan hancur, amanah yang diberikan bakal ditarik kembali. Maka jangan kaget kalau nanti ada adipati, plus anggota dewan, sopir dan kroni-kroninya masuk penjara”
“Amin”
Suromenggolo akhirnya meninggalkan kepala dinas pertanian sendirian. Dia memilih njajah deso milangkori, melihat perkembangan kerusakan Ponorogo dari dekat. Dan di sepanjang jalan ia ngundomono “Ach! Benar-benar memalukan, mosok kutho santri, kutho pelajar, dan banyak orang-orang terpelajar, milih pemimpin aja pemimpin yang nggak bener…memalukan…sungguh memalukan!!”

Tomcat, BBM, dan Popularitas
Ki Setyo Mangoenprodjo

Nama kumbang Tomcat tiba-tiba meroket bagaikan BBM yang sedang ancang-ancang naik. Nama yang pertama meroket karena sengatan dengan racun yang membuat kulit atau wajah menjadi melepuh telah banyak memakan korban di berbagai wilayah di Jawa Timur bahkan di seluruh Indonesia. Sedangkan nama yang kedua, tiba-tiba juga meroket lantaran mata mahasiswa melihat ada kecemasan yang menghimpit ekonomi rakyat kecil, yang diakibatkan oleh kenaikan BBM. Maka tak pelak, beban ekonomi masyarakat juga pasti bertambah naik dan rakyat kecilpun semakin menderita pula. Itulah dua nama dari kacamata berbeda, yang tengah menjadi buah bibir masyarakat.
Namun demikian dari dua  nama – Tomcat dan BBM- tersebut, rupa-rupanya juga tidak menyebabkan penurunan pendapatan pegawai sekelas adipati dan wakil adipati Ponorogo. Justru dengan kenaikan BBM tersebut dimanfaatkan oleh adipati dan wakil adipati Ponorogo untuk menaikkan rating pesona melalui demo bersama mahasiswa. Tak ayal keanehan ini jadi perbincangan tokoh kesohor Ponorogo; Raden Katong, Kyai Mirah, Kyai Honggolono, Suromenggolo, dan Suminten (tapi masih setengah edan lo). 
“Wah, tambah gayeng nih!, lagi diskusi apa ini” Tanya Suminten memecah ketegangan para stakeholder Ponorogo.
“Wah, kamu itu datang-datang, nggak pake uluk salam. Mbok ya assalamungalaikum, atau apa kek!” Sahut Kyai Mirah mengingatkan
“Yaaa, begitu aja pake formal-formalan segala. Lha wong nggak pake formal aja nggak apa-apa kok. Buktinya nih gue, walau nggak pake formal-formalan, gue bisa dapat ijazah, dapat gelar, dan dapat predikat ratu, yang bisa menguasai proyek-proyek, dan bisa apa saja, wah popularitas saya bisa melebihi si kumbang Tomcat, dan BBM yang tengah melambung saat ini…”
“Awakmu ngerti ora apa bedane kumbang Tomcat, BBM, dan wakil adipati?” sahut Suromenggolo bercanda.
“Wah ini mesti plesetan, hati-hati Suminten, Suromenggolo itu mesti njebak kamu lho?” potong  Raden Katong mengingatkan
“Saya ngerti, kalau Tomcat sekarang itu sedang melakukan program tilik ke kota, kalau wakil adipati sedang tilik ke desa. Demikian juga, kalau nanti BBM nggak jadi naik, maka nama wakil adipati menjadi naik..”
“Lho, kok bisa???” sahut Kyai Honggolono nggak mudeng
“Lho, ya iyalah, biasaaalaaah, mental politisi itu seperti itu. Kalau berhasil, maka semua keberhasilan itu katanya berkat dirinya. Tapi kalau gagal, pasti menyalahkan orang lain. Demikian halnya dengan rencana kenaikan BBM yang disambut oleh mahasiswa dengan demo penolakan, dan diamini oleh adipati dan wakil adipati Ponorogo, pastilah ujung-ujungnya hanya ingin mendapatkan popularitas, agar pemilukada yang akan datang dapat simpati dari kalangan mahasiswa. Itu pasti, dan teramat gamblang di depan mata. Rakyat nggak bisa ditipu dengan kamuflase murahan seperti itu, apalagi masuk ke sekolah-sekolah, oalaah cah sekolah ngerti kabeh yen sekolahe adipati biyen wis ora beneeer, percum tak bergun, he…hee…he…”
“Wah omonganmu kok nggak semakin bener gitu ta?, ingat lho ya kita itu berpikir serius untuk Ponorogo lho?!” pinta Kyai Mirah mengingatkan
“Ki, sampeyan ya kudu menyadari lho, … Suminten niku radi kirang waras” bisik Raden Katong
“Ooooo iya ya. Tapi hari ini saya mendengar, deskripsinya ilmiah lho Raden. Memang ada benernya omongan Suminten itu. Benernya, apa yang diomongkan itu sesuai dengan keadaan Ponorogo saat ini. Pemerintahannya rusak, awur-awuran, anane mung dodolan jabatan, dodolan pegawai, golek untung nggo  mblendukne wetenge para penguasa. Malah-malah sak iki, fungsi media masa sebagai alat pengontrol pemerintah, sengaja dibungkam. Koran local dituku, murih mberitakne kebaikane pemerintah. Padahal yen di tamatke tenanan, ora koyo mangkono, malah sing jenenge kerusakan sistem pemerintahan sak iki-iki wis masuk katagori mengkhawatirkan. Orang parpol dan sopir serta tim sukses pemilukada di luar sistem pemerintahannya telah menjadi tim pengendali pemerintahan memanfaatkan kelemahan adipati yang memang nggak mudeng pemerintahan” jelas Kyai Mirah analitis
Raden Katong terlihat mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapat Kyai Mirah. Dia pun menggeser posisi duduknya menatap Suminten yang tengah memasak air, tepat di depannya.
“Ten, yen nurut awakmu kepriye, menewa ana adipati lan wakile melu-melu demo mahasiswa nolak kenaikan BBM?”
“Waa, niku namine saru, ora patut. Lha wong adipati niku kepanjangan pemerintah lho. Mestine rak nggih maringi penerangan, lan penjelasan, ngenani alasan pemerintah pusat menaikkan BBM, mboten kok malah cari keuntungan pribadi, kampanye dini, pamer kekuatan iki lho aku pemimpin aspiratif. Niku klintu, lan malah nedahaken bodo lan kemplonipun…”
Orang-orang se rumah tertawa terpingkal-pingkal. Mereka terkejut dengan penjelasan Suminten yang melebihi pendapatnya seorang megister. Dan menurut mereka Sumintenlah yang patut mendapat gelar Adipati Ponorogo. Karena wawasannya luas, tajam, dan paham pemerintahan. Sementara Suromenggolo mesam-mesem, kayaknya ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Suminten.
“Ten, satu lagi pertanyaan untukmu. Kalau tadi perbedaannya, sekarang apa persamaan anatara BBM, Tomcat, dengan penguasa Ponorogo saat ini…” Tanya Suromenggolo penasaran
“Jawabnya gampang dan singkat ‘sama-sama MERESAHKAN!!!’”
“ha…ha…haa….ha…hhaaaa!!!” orang serumah tertawa riuh


Bareng –Bareng Menunggu Sanksi

Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan terjadinya ledakan (outbreak) demo penolakan BBM yang dilakukan kepala daerah akhir-akhir ini. Di antaranya,  pertama, kepala daerah karena ingin cari muka di mata mahasiswa, dan rakyat, bahwa dialah pahlawan sejati yang pantas dipilh kembali dalam pemilukada berikutnya.  Kedua, kepala daerah yang  oportunis  alias tidak punya pendirian, lantaran takut menghadapi tekanan masyarakat.  Ketiga, kepala derah  yang rendah IQ-nya sehingga tidak tahu tugas dan fungsinya  dalam menjalankan perundang-undangan  dan kebijakan pemerintahan pusat .
Untuk criteria kepala daerah yang pertama, jelas mereka bekerja untuk kepentingan perutnya daripada kepentingan Negara. Mereka maunya disanjung-sanjung, dihargai, dielu-elukan, dan dianggap sebagai pahlawan. Kerjanya hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kroni-kroninya. Jasanya minta dikenang, sumbangsihnya tidak sampai di sanubari. Mereka pintar menebar pesona. Perjuangannya tidak ikhlas, lantaran ada pamrih dan maunya. Senyumnya senyum kepalsuan, janjinya hanya di bibir saja, alias janji palsu belaka.
Tipe kedua, kepala daerah oportunis adalah sosok plin-plan yang memilih opsi yang menguntungkan kedudukan sesaat. Orangnya tidak pinter dan bodoh amat. Kecerdasanya lambat, miskin kreativitas dan inovasi. Dia mudah terpengaruh oleh orang yang dianggapnya lebih pinter darinya. Dan diapun takut banget ketika orang banyak, teriak-teriak padanya. Maka tak heran jika kebijakannya selalu berubah, mengikuti tekanan dari orang yang lebih kuat.
Sedangkan kepala daerah tipe ketiga  seperti tersebut di atas adalah sosok kepala daerah yang tidak punya ijazah normal, sehingga tidak punya ilmu pemerintahan, tidak lancar baca tulis, kemplo, bin ola-olo, mendo plonga-plongo, seperti wayang, yang didalangkan oleh orang-orang yang mengusungnya. Kepala daerah semacam ini sejenis kepala daerah gadungan, kepala daerah palsu, persis ‘tayangan tukar nasib’ yang ada di televisi swasta Indonesia.
Padahal, kalau kepala daerah itu cerdas, maka hal tersebut tidak bakal dilakukan. Sekarang mari kita pahami, bahwa pengelolaan minyak dan gas di Negara kita ini, sebenarnya telah dicurangi oleh kontraktor asing. Dari penghasilan 900.000 barel minyak per hari, kita diberi 85% minyak mentah yang harus diolah lagi oleh kontraktor asing, dengan imbalan biaya produksi sebesar 35%. Sehingga nyaris dari 900.000 BPH,yang dihasilkan  kita hanya dapat laba bersih 375 ribu BPH. Padahal kita di setiap harinya butuh  1.200.000 BPH. Berarti kita harus beli 825 ribu BPH, yang diambilkan dari APBN.
“Nah, sekarang kalau kita nggak peduli dengan keadaan ini, kapan Negara kita maju? Kita harus ‘jer basuki mawa bea’, kita seyogyanya berfikiran positif pada kebijakan pemerintah. Jadilah  kepala daerah cerdas yang senantiasa memikirkan Negara. Jangan malah mencari keuntungan pribadi, eee… baru saja jadi kepala daerah, sudah kuat bangun rumah, bangun istana dengan kayu jati 3 milyar. Apa itu namanya bukan adipati kemplo, adipati nggak tahu diri. Prestasi  sudah nggak ada, ini malah aji mumpung, ngeruk kekayaan Negara, untuk kepentingan pribadi… adipati , wakile, sak anggota dewan sing ngusung edan kabeh” desah Suromenggolo kecewa
“Lho kok nyrempet-nyerempet yang lain ta Ki?” Tanya Den Mas Broto nggak ngerti
“Lho ! ya iya ta Brot!, adipati kita dulu yang mengusung  kan mereka. Pandangan mereka dialah mesin suara yang kala itu jadi mesin alternative yang bisa menyedot pemilih. Dan saya yakin  kalau itu semua hanya untuk menjadikan adipati yang sekarang ini jadi ajang legitimasi untuk mengeruk keuntungan dari  proses pemerintahannya oleh tim pengusung  Pak RT, Mr. AM, Tuan S dan Istrinya, sopir pribadi dan familinya, istri alias kanjeng mami dan familinya. Bahkan saya mendengar kalau jalur kesehatan yang meliputi obat-obatan, serta alat-alat kesehatan bakal dikuasai oleh wakil adipati dan keluarga, yang berarti lewat satu pintu darinya. Lumayanlah dari keuntungan obat dan alat kesehatan itu, mereka bakal tertimbun harta hingga mati kelak”
“Maaf Ki, tadi kok ada Mr. AM, dan Pak RT , terus apa peran mereka.  Mr. AM, bertugas membuat konsep keadipatian. Dari dia sebenarnya konsep-konsep pemerintahan dijalankan. Tapi sayang karena  adipatinya kemplo, jadinya ya nggak bisa membaca dan mengimplementasikan  konsep. Terus kalau Pak RT, bertugas mengeksekusi kebijakan sekaligus makelar jabatan yang berada pada garda terdepan sebagai Raja Tega yang menggunakan jargon perjuangan “membela yang mbayar”
“Kalau Mr. S dan keluarganya?”
“Ya.., sekarang ini mereka  jadi raja yang menguasai proyek-proyek, dan menguasai pemerintahan yang berasimilasi dengan koleganya tadi. Tujuannya untuk membesarkan lahan bisnisnya sehingga perusahaan lain gulung tikar, alias mati suri. Maka jangan heran jika mini market asing menjamur di Ponorogo ini, dan semua proyek ia kuasai” Jelas Suromenggolo.
Surogentho yang sedari tadi ndloham-dlohom Nampak tersipu mangkel, mendengar cerita nyata dari Suromenggolo. Dia melihat, bahwa Ponorogo di ambang kehancuran. Adipati Kemplo yang ternyata doyan selingkuh ini telah merobek lambung kapal, sehingga orang se Kadipaten Ponorogo bakal tenggelam. Nah dari peristiwa ini  pastilah dia bakal dapat SANKSI hukum dari mendagri. Pertanyaannya, mampukah dia bisa membela sendirian???.  Kita lihat saja nanti , bagaimana Sang Sarjana hukum ini membela diri. Nah dari sini bakal ketahuan gelarnya asli atau tidak!!!.Ya kan…


Mobil Mewah Mogok
Ki Setyo Mangoenprodjo

Hujan campur badai baru saja turun menggenangi sawah ladang dan perkampungan. Halaman rumah banyak yang tergenang akibat air tidak punya lagi tempat meresap ke dalam bumi. Semua resapan tertutup oleh paving dan cor beton yang tiada memberi manfaat bagi kesuburan tanah. Tak pelak, airpun memilih meresap dalam ruang tamu dan kain pel yang digunakan sang tuan rumah tatkala hujan deras mendera.
Begitulah semrawutnya otak manusia yang telah terkotori oleh virus teknologi, tanpa mengindahkan lagi keselamatan lingkungan dan sekitarnya. Pun demikian akhirnya merepotkan manusia sebagai empu lingkungan itu sendiri.
Simpulannya adalah, kerusakan di bumi sumbernya adalah manusia itu sendiri. Demikian juga, rusaknya tatanan di bumi ini, semuanya adalah karena rusaknya pejabat pemerintahan yang memulai. Hal ini terindikasi karena gelar Raden Ngabehi alias raden serakah di semua lini. Misalnya serakah jabatan, serakah kekuasaan, serakah harta-benda, serakah wanita selingkuhan, serakah pendapatan, dan sebagainya.
Keadaan pemerintahan Ponorogo-pun tidak luput dari biang keserakahan tersebut. Dulu, para sopir yang sedianya memberangkatkan calon adipati adalah membiarkan sang sopir nyetir sendiri roda pemerintahan hingga akhir masa jabatannya. Akan tetapi, karena di tengah jalan sang sopir ‘hanya plingak-plinguk’ tolol, bengong, kemplon, tak punya SIM, tak punya rebues, dan baru sekali itu numpak mobil mewah, maka Kadipaten Ponorogo laksana mobil mewah mogok di tengah jalan raya.
Para sopir sejati yang tadinya nyurung sang adipati, tiba-tiba berubah pikiran. Mereka memanfaatkan ‘kemogokan’ mobil sang dipati untuk segera mengatur lalu-lintas, memberikan pungutan liar bagi siapa yang ingin lancar jalannya, dan membuka usaha jual beli tukang parkir dengan iming-iming jadi tukang parkir Negara, dengan syarat mebayar sekian ratus juta. Sementara Sang Sopir Gadungan dibiarkan saja terpesona dengan alat-alat canggih, serta asesoris mobil mewah, sambil terkagum-kagum, melambaikan tangan kanan dan kirinya, pada rakyat yang melintas di sampingnya.
Sang Dipati pun dengan girang mengundang seluruh keluarga, kolega, tim sukses, dan kroni-kroninya, untuk numpang mobil mewah yang mogok di tengah jalan. Mereka pun memanfaatkan kemewahan itu dengan cara dan polahnya sendiri-sendiri. Ada yang lungguh jigang, melonjak-lonjak, makan dan minum, teriak-teriak, berak dan kencing, bahkan ada yang nyolong asesoris mobil dan onderdilnya. Sang dipati senangnya bukan kepalang. Mulutnya berkali-kali berucap “Wah jegeg…jegeg” sambil mengacung-acungkan jempol tangannya, bak orator ulung yang tengah kampanye, berapi-api.
Sementara di kediaman sang Wadip (wakil Dipati), sang wadip tengah mengumpulkan para wartawan terkait berita wayang yang dirasa mengganggu stabilitas kebobrokan pemerintahannya. Dia pun bagi-bagi dana produksi untuk para kuli berita agar menebar berita-berita baik kepada masyarakat, dan menutupi borok-borok pemerintahan sedemikian rupa sehingga terkesan pemerintahan yang sekarang ini berjalan dengan taburan prestasi yang membanggakan masyarakat Ponorogo. Dan bagi Koran yang jujur memberitakan apa adanya, serta berani mengkritik pemerintahannya, maka harus diberangus dan dijadikan musuh bersama.
Akan tetapi, rakyat pengguna lalu-lintas sudah tersadar betul, jika mobil mewah yang mogok dan sedang dihuni oleh keluarga, kolega, dan kroni-kroninya, kini dalam keadaan mendekati rusak parah. Mobil mewah itu telah menjadi barang rosok, yang semakin merosot harganya. Sementara sang dipati –yang tengah mabuk- hanya dipasok jatah makanan hasil dari pungli di jalan raya. Mereka dijanjikan oleh sang wadip, untuk tetap tenang, jangan panic “ sudahlah sampeyan nggak usah sumelang, sampean bermain-main di dalam mobil aja, nanti aku buatkan rumah mewah, rumah sampeyan yang di desa itu biar ku pugar, nanti kayu jatinya aku mintakan pada dinas pertanian, .. yah paling tidak kayu jati kw 1 senilai 3 milyar-lah” ucap salah seorang kroni wadip, menghibur.
Tak ayal, degan kemogokan mobil mewah di tengah jalan itu, membuat seluruh pengguna lalu-lintas kini semakin jengkel dengan ulah sang dipati yang menghalang-halangi jalan mereka.  Kesempatan itu rupanya menjadi ladang emas bagi sang wadip untuk tampil gagah berani, sebagai pahlawan pengatur lalu-lintas, dan ‘sebagai pejabat bijak’ yang welas asih, mau bagi-bagi, kepada rakyat kecil, dan peduli dengan anak sekolah, serta rakyat desa, dengan programnya, tilik sekolah dan tilik desa.
“Wah, kami sudah sadar betul kok. Kalau ada pejabat yang demikian itu, pastilah ada maunya. Itu hanya muslihat, usaha tebar pesona, kampanye, demi ambisinya menguasai Ponorogo pada masa pemerintahan berikutnya. Sekarang saja mana prestasinya?, korupsi dan keserakahan saja yang menonjol. Sementara rakyat kecil tetap berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan adipati dan wakilnya hanya memanfaatkan pemerintahannya untuk koleksi, dan mengeruk keuntungan pribadi saja. Ah!! Rakyat sudah ngerti semua kok” ujar sebagian warga terus terang.

Mari Kita Lawan Kebatilan
Ki Setyo Mangoenprodjo

Pakar ngelmu sosiologi dari Departemen Perdukunan, Fakultas Pernujuman Institut Perkemploan Ponorogo, mengungkapkan, ada kemungkinan menjamurnya para penjilat, para makelar, para preman politik, sopir sakti, ajudan sakti, guru sakti, lurah sakti, dan para makelar sakti dari sektor keluarga serta kroni familinya  akibat dari terciptanya habitat baru yang bernama surge dunia yang  menggiurkan, menjanjikan, dan menguntungkan. Meski begitu, harus tetap diwaspadai karena bila mereka terganggu atau secara tidak sengaja terpijit atau setidaknya konangan ulahnya, maka mereka akan mengeluarkan cairan yang bila kena kulit akan menyebabkan gejala memerah dan melepuh seperti terbakar (dermatitis). Tapi ya ada kok yang begitu tersentil, segera menutupi dengan uang, agar tutup mulut tidak menyebarkan ke masyarakat luas. Sehingga terbebas dari dermatitis, tetapi malah, dapat uang pembinaan lah.
Jujur harus diakui bahwa perkembangan kehidupan kebangsaan di Ponorogo semakin hari semakin kompleks dan ruwet. Dalam tatanan pemerintahan yang semakin ruwet tersebut, justru para petinggi dan elit negri ini –dari puncak hingga ke bawah- persoalan korupsi, nepotisme,  kolusi, mafia hukum, politik uang, dan carut marut sistem pemerintahan seolah sudah sampai ke titik nadir. Terbukti banyak pegawai-pegawai siluman gentayangan di instansi tanpa SK yang jelas. Hal tersebut tentu saja membuat prihatin para pendiri Ponorogo di alam gaib sana.
“Di tengah banyak masalah bangkrutnya Ponorogo, elit politik Ponorogo banyak kehilangan sensitivitas, bahkan menunjukkan sikap hidup serba menjengkelkan masyarakat. Dari pamer hidup mewah, korupsi, dan skandal, hingga perilaku gila harta dan kuasa” Ungkap Ki Ageng Mirah mengawali diskusi Rebu Legi di rumahnya
“Dan para elit itu menunjukkan ketidakseriusan dan ketidakmampuan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan daerah yang rumit dan sarat beban itu. Lebih-lebih jelang Pemilu 2014 dan berbagai pemeilihan kepala daerah, kepala desa yang sarat ambisius, transaksi-transaksi uang dan kursi, serta beragam kepentingan yang melunturkan komitmen. Uang dan kekuasaan begitu bersenyawa dan diperebutkan dengan banyak cara yang tidak halal” sahut Raden Batara Katong serius
Ki Ageng Kutu terlihat menarik nafas dalam-dalam, kemudian menyambung pembicaraan dua orang temannya. ..” Yaaah, kalau kita lihat sekarang ini, yang semula memperjuangkan reformasi banyak yang berguguran dan berubah haluan menjadi pengejar uang dan kursi dengan beribu kedok dan alasan. Akhirnya reformasi di Ponorogo ibaratnya mati di lumbungnya sendiri, dan yang tersisa ialah keserbabolehan dalam segala hal. Politik yang dikumandangkan mulia, bermanfaat, berguna, untuk kebajikan public pun hanya sebatas retorika dan bahkan menjadi alat paling produktif untuk mengkapitalisasikan kursi dan materi diri sendiri, kroni, dinasti dan sopir sakti. Rakyat Ponorogo akhirnya hanya sekedar diatasnamakan dalam kondisi hidup yang miskin, marjinal, dan terabaikan di tengah kemegahan hidup elit politik, bupati, wakil bupati, dan anggota dewannya”
“Di sinilah Ki, kita berharap ada kekuatan social masyarakat yang masih idialis untuk segera bersikap, bagaimana melakukan tindakan penyelamatan Ponorogo terhadap kondisi yang semakin carut-marut ini. Setidak-tidaknya menjadi penyeimbang, daya kritis, dan terus menyuarakan pesan kebaikan, memberantas kemunkaran, dari lubuk yang autentik. Dan kita harus mendukung setiap ikhtiar yang bijak, cegah setiap muslihat, dan melangkah untuk memberikan solusi agar bangsa dan negeri ini tidak terjerembab ke jurang kehancuran untuk ke sekian kalinya. Oleh karena itu Ki, terus terang saya ikut prihatin dengan keadaan APBD yang dinyatakan bangkrut sekarang ini. Dan saya yakin bahwa semua itu karena ulah elit politik yang telah melampaui batas” Sahut Ki Ageng Mirah
“Betul Ki, suara moral betapapun kecil dan lirih, dicibir, dan dipandang angin lalu tidak boleh berhenti. Dan kepada media masa, jangan sampai berubah menjadi penjilat yang merugikan rakyat. Tetaplah jadi media jujur dan berani menyuarakan dan menegakkan keadilan. Jangan malah menjadi gedibal kezaliman, yang ujung-ujungnya hanya mencari untung , dan mengorbankan hati nuraninya untuk rakyat. Kasihan rakyat yang menderita, kasihan rakyat hanya dibodohi dengan berita-berita palsu, yang sama sekali tidak menginformasikan kondisi pemerintah sebenarnya, itu adalah termasuk pengkhianat perjuangan pers sendiri”
“Dan kepada kamu, ngger Raden Mas Subroto, dan kamu Suryolono. Kalian adalah sebagai asistenku. Jangan kamu teruskan ulah nakalmu menjual SK, SK yang baru saja aku tandatangani. Kamu jangan ikut-ikutan preman-preman politik di Ponorogo ini, bekerjalah dengan hati nuranimu. Jangan kerja dengan nafsu serakahmu. Paham!!!” Pesan Adipati Katong kepada dua asistennya.
“Paham, sinuwun”
“Nah Mulai sekarang jadilah kamu asisten yang baik, nggak usah ikut-ikutan jadi maling, jadilah asisten yang sesuai dengan tugasmu. Jangan memancing di air yang keruh, pastikan jika kamu tetap menjadi maling, kamu bakal menerima akibatnya
Pemerintahan Prasmanan
Ki Setyo Mangoenprodjo

Pemerintahan Adipati Kanthong Bolong terasa semakin hari semakin kosong melompong alias tidak menampakkan sedikitpun prestasi. Hal ini tentu saja mendapatkan sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat awam yang mendukungnya. Brolll!!, keringat sebutiran kelereng keluar dari tubuh sang dipati. Buru-buru dia menelpon penguasa kampoengmuda kesayangannya untuk segera bergerak cepat mengumpulkan korcam kades se Kadipaten ,dan paguyuban kades serta perangkat desanya.
Mereka disegarkan kembali dengan acara makan bersama seperti halnya ‘nylimur’ anak kecil dengan janji diberi permen legit agar tidak nengkari lagi. Begitulah pemerintahan kadipaten tidak ubahnya seperti arena prasmanan. Mereka makan tanpa mengindahkan persediaan.  ibaratnya seperti kue basah yang setiap saat bisa dicicip, dimakan, dan dipurak bersama-sama. Mereka makan telap-telep, lupa daratan. Tak terasa kue makanan yang bernama APBD itu, tau-tau dinyatakan kolaps.
“Preeet!!!”, semua teori seakan tiada manfaatnya. Maklumlah, sang dipati nggak mengenal teori-teori tetek bengek. Semakin dia mendapatkan teori, dia tambah linglung dan nggak mudeng sama sekali. Yah, walaupun bagaimana  latar pendidikan yang serba instan, membuat dirinya gaptek, gabsos, gaplek, dan gagap tugas-tugas pemerintahan dan gagap intelektual sehingga kinerjanya persis pada tayangan tukar nasib. “Kemampuannya cupet”. Oleh karena itulah, setiap ada persoalan yang menghimpit dirinya, dia hanya bisa konsultasi pada penguasa kampoeng muda kesayangan dengan “pripan, pripun, niki mas”. Dia nggak punya jawaban yang terlahir dari intelektualnya yang memang tercipta mini, minim, dan cupet. Sehingga ketika menjabarkan konsep bisikan itu sering salah ucap, dan seringkali jadi bahan tertawaan. “Dipati kita lucu ya” ucap anak SD sambil main kelereng
“Preet!!. Akhirnya dia kini disetir oleh sang penguasa kampoengmuda, yang konon bakal diorbitkan jadi Sekda, mendampingi sang dipati yang semakin hari-semakin linglung dengan tugas dan jabatannya. Tak heran, jika sang penguasa kampoengmuda, yang tadinya berangkat jadi sekcam kini melejit bak meteor, sebagai anak emas yang digadang-gadang menjadi sekda ideal, sekelas hulubalang, atau penasihat raja. Lumayanlah, cukup dengan ‘bisikan maut’ sang penguasa kampoeng bisa menaklukkan barisan pasukan kemplo, kemudian bisa menorehkan prestasi jabatan basah, yang selama ini jadi barang mahal nan langka dengan harga selangit.
Begitulah, akhirnya sang dipati mulai kelihatan ‘cerdas’ setelah sang penguasa kampoengmuda berhasil masuk dalam barisan pasukan kemplo. Terbukti, setelah terdengar rumor para lurah dan kades berpaling meninggalkan dukungannya, dia segera membisikkan angin sorga, resep jitu, menghimpun para kades, sekdes, bedes (bendahara desa), berkumpul di warung terkenal di luar daerah, makan bersama, dan memberikan wejangan serta janji-janji menggiurkan jika para kades mau balik kucing mendukung pemerintahan. Lumayanlah, sebuah sepeda motor baru and kinyis-kinyis.
Ironis memang, di tengah usaha sebagian pihak menjadikan kadipaten  sebagai kota wisata kuliner, eee… malah makan saja harus ke luar daerah. Apalagi, sekarang ini APBD tengah kolaps, dimakan Buto Ijo, jadi klop, dengan pepatah ‘ jika sang imam itu kentut, maka makmumnya ikut batal semuanya’, demikian juga kalau pemimpinnya kemplo, maka semua anak buahnya ikut kemplo semuanya. “Nah terbukti kan?”. Mereka ternyata tidak tahu nasionalisme kadipaten.
Pantaslah kiranya jika ke depan, kadipaten membutuhkan pemimpin sejati, bukan pemimpin gadungan seperti saat ini. Oleh karena itu hendaknya jangan sekali lagi masyarakat tergiur dengan uang suap dua puluh ribuan dalam pemilukada nanti. Masyarakat harus cerdas, bahwa jika pemimpin yang dipilih salah, maka kerusakan kadipaten bakal bertambah parah lagi.
“Bagaimana Kakang Muslim, apakah dua-duanya kita pertahankan?”
“Saya tidak setuju sama sekali. Yang pertama tidak memenuhi syarat, karena latar pendidikannya, serta kemampuannya sangat rendah. Sedangkan yang kedua, lebih kea rah kapitalisme. Serakah, licik, ingin diri dan keluarganya menjadi penguasa harta benda, dan jadi raja yang menguasai sumber dana, dan sumber daya kadipaten. Pokoknya kita harus bisa mengambil pengalaman sekarang ini. Terbukti ta, semua proyek dan asset daerah sekarang ini masuk dalam mulutnya. Ini sangat berbahaya. Dengan demikian dua-duanya tidak layak jadi pemimpin di kadipaten”
“Oooo, begitu, kalau begitu kita cari saja pemimpin independen, yang mumpuni di segala bidang, tidak seperti pemimpin yang sekarang ini”
“tapi kita butuh seleksi yang ketat dan mendalam lo”
“Iya kakang”

Konsep Kepemimpinan Jawa
Ki Setyo Mangoenprodjo

Saat itu memasuki  Ponorogo berada pada tahun yang sinengkalan ‘ Nagaraja catur tunggal’  atau tahun 1418 tahun Saka. Sedangkan tahun Masehi dengan Sengkala ‘Manising Gapura catur budhaya’  atau tahun 1496. Bathara Katong dan seluruh sesepuh sedang melakukan pembicaraan serius terkait berdirinya Kadipaten Ponorogo, dengan adipati yang pertama Raden Bathara Katong.
Malam itu juga, sebelum prosesi pelantikan Sang Katong menjadi adipati pertama, Kyai Mirah terlebih dahulu memberikan wejangan kepada Raden Katong terkait amanah kepemimpinan yang bakal dijalani
“Kepemimpinan menurut budaya Jawa bentuk dan konsepnya multi varian, bahkan setiap genre kepemimpinan pasti memiliki corak yang berbeda. Kendatipun demikian, konsep-konsep tersebut arahnya menuju sebuah paradigma kinerja berkeseimbangan [equilibrium]yang menuju konsep kinerja berkarakter ihsan. Yaitu kerja iklas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas. Namun demikian saya terlebih dahulu akan menjabarkan tujuh konsep kepemimpinan Jawa  yang bakal Raden Katong emban mulai besok pagi. Adapun Kriteria ini menurut konsep kekuasaan jawa  yang harus Raden jalani terdapat tujuh macam yang apabila dimiliki oleh manusia maka ia akan jadi manusia paling sempurna dan patut di pilih sebagai seorang pemimpin. Berikut ini ialah beberapa kriteria yang dapat dipertimbangkan bagi Adipati Ponorogo  dalam menjalankan kepemimpinan”
1. Manjing ajur ajer
Pada dasarnya setiap pemimpin harus memiliki sifat manjing ajur ajer, yaitu suatu sikap yang dapat beradaptasi dengan keadaan, dapat menyatu dengan kelompok manapun. Sifat ini berarti pemimpin dituntut untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golonganya sehingga dengan demikian ia dituntut untuk mengayomi segala golongan dalam wilayah yang dipimpinnya.
2. Sakelaking pekik
Sakelaking pekik ialah suatu kriteria yang kasat mata, yang dapat dilihat oleh mata. Maksud dari sakelaking pekik disini ialah seorang pemimpin harus memiliki kesehatan baik jasad maupun batin. Jasad dari seorang pemimpin harus bersih tanpa cacat sehingga akan menimbulkan wibawa pada dirinya, selain itu kesehatan ini penting untuk mendukung kinerja dari seorang pemimpin sebab dengan kesehatan ia akan mampu memiliki kriteria nunggak jarak.
3. Nunggak jarak
Sifat nunggak jarak yaitu suatu kemampuan untuk mempertahankan diri dari bahaya yang mengancam bagi keselamatan kepemimpinan dengan perbuatan baik. Jika dulu hal ini di wujudkan pemimpin yang memiliki kesaktian tinggi, maka pada saat ini seorang pemimpin  harus memiliki kemampuan khusus untuk menangani suatu masalah  dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spritual Sehingga ketika ia tertimpa suatu masalah ia tidak akan gampang emosi, marah-marah, ngamuk, panggil sana-sini, mutasi sana-sini, apalagi hukum sana-sini.
4. Wong agung
Wong agung disini maksudnya ialah seorang pemimpin yang memiliki kualitas memenuhi syarat kepemimpinan. Dia menguasai tatanegara, tata pemerintahan, program jangka pendek, program jangka menengah, dan program jangka panjang, lengkap dengan tatacara penerapannya. Dan dia dipilih berdasarkan seleksi yang ketat untuk menguji kemampuan handalnya.
5. Wikan wekoning samudra
Kriteria ini merupakan perwujudan dari pentingnya pendidikan karena dalam kriteria ini seorang pemimpin diharuskan memiliki suatu pengetahuan yang luas dan menyeluruh seperti luas dan dalamnya samudera. Dia menempuh pendidikan dengan benar, dan berkualitas. Bukan beli ijasah ataupun beli gelar. Hal ini telah di buktikan pada saat perjuangan kemerdekaan dimana pelopor pendiri negara ini dihasilkan dari perjuangan  para cendikiawan sehingga perjuangan kemerdekaan melalui diplomasi dan kepandaian , kemerdekaan dapat dimenangkan
6. Melok tanpa aling
Pada dasarnya seorang pemimpin harus memiliki suatu sifat percaya diri yang kuat sehingga ketika akan mengambil suatu keputusan tidak dipengaruhi oleh pihak lain. Jangan sampai terjadi, ketika datang seorang menteri, seorang Adipati bingung bagaimana menyampaikan pidatonya. Sehingga ketika ngomong di hadapan menteri ‘ngisin-isini’. Berarti ada seorang pemimpin yang demikian, berarti ia belum pantas jadi adipati. Ini sangat memalukan Raden” pinta Kyai Mirah menutup wejangannya.
“Inggih, Kyai, kula namung nderek dhawuh kiyai. Mugi-mugi Ponorogo pikantuk pemimpin ingkang leres-leres sae bebudene, lan sae kualitas kepemimpinane”


Janmo Nora Bisa Kiniro
Ki Setyo Mangoenprodjo

Usai sembahyang tahajud, Raden Katong, Kyai Mirah, Ki Seloaji, dan Ki Joyodipo, serta Ki Suromenggolo, terlihat berzikir, memohon kekuatan kepada Alloh Yang Maha Kuasa, agar Kadipaten Ponorogo diselamatkan dari pemimpin yang menyesatkan dan merugikan masyarakat Ponorogo.
Sementera, Ki Suromenggolo terlihat berdiri, berpamitan sebentar untuk buang air kecil, setelah semalaman minum air kelapa kebanyakan. Tidak beberapa lama, Ki Suro itu kembali ke dalam ruangan, kemudian menunaikan sholat tahiyatal masjid dua rakaat, sebelum memulai kembali sarasehan menjelang pelantikan Raden Katong pagi itu. Kyai Mirah pun segera mendekat pada Raden Katong, dan berujar…
 “Raden, sak derengipun panjenengan winisuda, taksih wonten malih kapribaden ingkang panjenengan kedah sinandang minangka jejering narendra, inggih menika sepindah; Aja Dumeh Kuwasa, Tumindake daksura lan daksia marang sapada-pada, ( janganlah mentang –mentang sedang berkuasa, segala tindak-tanduknya pongah dan congkak serta sewenang –wenang terhadap sesamanya).  Kapindo, Aja dumeh kuat lan gagah, tumindake sarwa gegabah (jangan mentang –mentang kuat dan gagah lalu tindakanya serba gegabah ) Katelu, Aja dumeh sugih, tumindake lali karo sing ringkih ( jangan mentang –mentang kaya lalu tingkah perbuatanya tidak mengingat kepada yang lemah ekonominya) Ongko papat, Aja dumeh menang, tumindake sewenang-wenang (jangan mentang-mentang dapat mengalahkan lawan lalu tindakanya sewenang –wenang kepada lawan), Kalimo, Aja nyepelekne tiyang. Awit kathah tiyang sak mangke kecelik awit namung mandeng tiyang sanes krana dedeg piadege, pangkat lan drajate, ayu lan baguse kemawon. Dereng kantenan Raden, senadyan ta tiyange niku alit, melas, lusuh, reget, menawi  tiyang niku bebudene ala. Mboten saget nopo-nopo… oh klintu raden. Malah, kathah ingkang kados menika mboten kathah dosanipun, mboten purun neka-neka, nanging jebul nggembol watu item, pinter lan wasis ing samubarang. Suwalikipun, kathah tiyang kecelik kanthi kahanan kang nyengsemaken, nanging ing wingkingipun mawa racun, kepara saget nyedani tiyang sanes. Ka enem, Aja kibir, ngantos ngendika yen bumi Ponorogo sak isine kagungan paduka. Para PNS ingkang dados staf paduka gesang pejah, paduka ingkang nguwasani. Oh… menika ngrisak sarak, ngrisak Islam paduka. Paduka sampun laku syirik. Pejah gesang, rejeki, pati, jodo, sandang pangan, bahagia, sengsara, sampun ginaris dening Alloh. Bumi Reog menika sanes kagungane Raden Katong, sanes kagungane sinten-sinten, bumi menika kagungane Alloh. Pramila mangga kita reksa sesarengan karahayonipun. Sampun ngantos dicepeng dening tiyang ingkang nalingsir saking bebener. Yen ta wonten, inggih tugas kita mbrastha, kanthi cara alus ”
“Inggih Kyai, kula sarujuk. Mangga kita sesarengan mbangun Ponorogo kanthi laku kang bener miturut undang-undang pemerintahan, agami, lan norma-norma ingkang sampun wonten. Dalang di balik pemerintahan kita inggih hati nurani, ingkang kapancar saking Nur Illahi. Lan kita sepakat, korupsi, kolusi, nepotisme, jual beli jabatan, jual beli PNS kita pungkasi sesarengan kawiwitan ing dinten sak mangke. Lan katur sedaya masyarakat Ponorogo, mugia ing pemilukada ingkang bade dateng sampun ngantos klentu malih milih pemimpin. Pilihlah pemimpin ingkang leres-leres sae. Sae intelektualipun, sae emosionalipun, lan sae spiritualipun. Pramila kanthi menika, kanthi maos bissmillahirrohmanirrohim, kula sangkul amanah dados adipati ingkang kawitan, kanthi semboyan,  kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja tuntas. Mugi-mugi Gusti Alloh ngijabahi. AMIEN”


Menipu Diri
Ki Setyo Mangoenprodjo

Pengalaman yang tinggi dari seseorang belum tentu mendapat jabatan sesuai dengan keilmuannya, jika tidak ada gelar yang disandangnya. Pendapat sempit tersebut sering terlintas dalam pola pikir seseorang yang berpendapat bahwa dengan banyak gelar yang disandang, berarti menunjukkan tingkat ‘ketinggian’ ilmu seseorang, sehingga dipastikan produk kepemimpinan pasti ideal, berhasil, dan bermutu tinggi. Jawabnya belum tentu. Karena gelar di negeri ini bisa dibeli oleh pejabat. Sehingga gelar yang lekat pada dada, pundak, punggung,  leher, dan pantatnya, tidak bakal berpengaruh pada kinerja, pola pikir, serta kreativitasnya. Intinya gelar hanya untuk gagah-gagahan saja!!!.
. Beranjak dari pembahasan ini, fenomena sosial yang terjadi saat ini sedikit banyak telah merubah tatanan moral masyarakat. Bagi seseorang yang merasa punya pengaruh, punya jabatan , dan  sudah terbiasa disanjung masyarakat- kemudian ada kesempatan untuk mempopulerkan diri dalam suatu even- mereka kemudian berfikir instan untuk menambahi asesoris dirinya dengan gelar yang tidak pantas disandangnya. Hal ini tentu saja  bakal menimbulkan kerusakan moral yang cukup krusial, pada tatanan sistem pendidikan, sistem pemerintahan, sistem masyarakat, serta sistem perundang-undangan yang lebih luas. Apalagi pelopornya adalah seorang yang berpredikat seorang pemimpin.  “kenapa sih ngoyo-ngoyo sekolah formal?, lha wong ijasah dan gelar bisa dibeli aja kok?”
Akhirnya dengan adanya ‘tuntutan’ tersebut orang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Di sisi lain karena jabatan, hanya didapat karena Cuma kebetulan saja –tanpa uji kelayakan- kepemimpinan tipe manusia ini,  mulai banyak menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan sepak terjangnya. Baginya kritik, dan perbedaan pandangan, dianggap sebagai ancaman, yang bakal menngancam istana, periuk nasi, dan kedudukannya. Akan tetapi jika jabatan itu benar-benar didapat karena kapasitas kepemimpinannya terpenuhi, maka bisa saja pemimpin tersebut menghantarkan manusia untuk mewujudkan cita-cita manusia sebagai khalifatullah fil ardhi, hingga sedikit banyak orang mencapai keberhasilan dengan melalui wasilah jabatan yang disandangnya.
Sebagian ahli hikmah, ulama besar, orang sufi, Pujangga Jawa Kuno, Orang cerdas nan bijaksana, wong sing Njowo (orang yang berkemampuan batin), jabatan dianggap sebagai bangkai yang tidak patut disentuh apalagi disajikan. Dalam analisis ini para ahli hikmah lebih menonjolkan sisi preventif terhadap segala macam upaya nafsu untuk membelokkan kepada kesesatan. Hingga akhirnya, mereka sama sekali tidak memerlukan jabatan, beli gelar, berburu gelar, ataupun tebar pesona, pamer kekuasaan,  untuk meraih sesuatu di dunia ini, kecuali hanya dengan ikhtiar dan tawakal kepada Allah semata.
Fenomena masyarakat Indonesia yang notabene dalam strata ekonomi menempati negara dunia ketiga ini, tidaklah heran apabila nilai, simbol atau gelar akademis menjadi suatu yang sangat berharga dan dihargai keberadaannya. Akan tetapi beberapa oknum masyarakat tidak menyadari adanya bahwa jabatan hanya sebuah sarana untuk menggapai suatu maksud. Beberapa di antara mereka mencoba mengelabui pihak masyarakat awam untuk mengangkat status dirinya menjadi seorang yang lebih, dengan berupaya membeli gelar dari sebuah instansi X, yang melayani jasa itu. Bagi masyarakat yang tahu kepribadian sang pemimpin, melihatnya sebagai bayi tua yang baru lahir, tidak lucu, wagu, dan ngisin-isini.
Hal itu yang kemudian banyak disoroti oleh pelaku pendidikan, bahwa upaya pengelabuhan seperti itu akan berakibat pada perusakan moral, karakter, dan mental masyarakat. Betapa tidak! Tindakan itu jelas-jelas telah dicontohkan oleh seorang pemimpin. Ada pepatah, jika seorang imam kentut, maka makmumnya batal semua. Demikian halnya, jika seorang pemimpin telah rusak moralnya, maka anak buahnya bakal tertular kerusakan itu. Ironisnya kasus seperti itu sempat menjadi trend dari masyarakat menengah keatas, tidak lepas itu, bupati, artis, anggota dewan, sampai-sampai kiai yang nota bene menjadi panutan masyarakat menjadi ternodai oleh budaya miring nan ngawur ini. Walhasil mereka akan semakin tergila-gila dengan sebuah symbol, gelar, dan sarana yang semakin menjauhkan mereka dari ridlo Allah dan RasulNya.
MUI Jatim Haramkan Jual Beli Gelar
Seperti yang dilansir (Suarabaya, CyberNews) Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Prof DR H Ahmad Zahro MA menilai jual beli gelar itu haram, termasuk berbagai kasus jual beli gelar seperti kasus Institut Managemen Global Indonesia (IMGI).
"Jual beli gelar itu merusak moralitas dan menghancurkan dunia pendidikan yang sudah susah payah dijalani banyak orang, karena itu jual beli gelar itu haram," kata guru besar ilmu Al-Qur`an IAIN Sunan Ampel Surabaya itu di Surabaya.
Ia mengemukakan hal itu menanggapi kasus IMGI yang diduga sejak 31 Oktober 1999 sampai 25 September 2000 telah memberikan ijasah palsu kepada 2.685 orang yakni gelar profesor 38 orang, PhD (66 orang), MSc (305), BBA (641), MBA (570), MMA (10), DBA (7), MBC (2), BA (1) dan Bsc (5).
Menurut dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya yang dikukuhkan pada 30 Juli lalu itu, jual beli gelar itu jika dibiarkan terus sampai menjadi trend, maka akan menjadi virus yang menghancurkan sendi-sendi bangsa karena semangat belajar akan melemah..
Namun, kata dosen yang juga mengajar di Pesantren Tambakberas dan Peterongan di Jombang itu, kasus jual beli gelar itu yang paling banyak bukan di MUI, melainkan justru di kalangan politisi atau aktivis Parpol dan kalangan birokrat.
Secara terpisah, sosiolog Prof H Soetandyo Wignjosoebroto MPA mengusulkan audisi (fit and proper test) untuk menduduki jabatan tertentu dan bukan lagi didasarkan pada gelar sebagai solusi mengatasi kasus ijazah palsu IMGI.
"Kita sudah terbiasa dengan sesuatu yang serba instan, dan gelar saat ini sudah berubah dari status akademik menjadi status sosial, karena untuk menjadi Kadinas memang harus memiliki gelar tertentu," katanya.
Menurut Guru besar emeritus Universitas Airlangga Surabaya itu, pandangan terhadap gelar akademik sebagai status sosial atau untuk kepentingan jabatan tertentu itu menyebabkan “gelar akademik membuat orang menjadi silau dan akhirnya menempuh segala cara untuk memperoleh secara mudah “.Dampak yang lebih luas adalah menciptakan budaya culas, dan budaya malas. Dan akhirnya bangsa kita bakal hancur karena kehilangan semangat kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Oleh karena itu, jika ada sosok pemimpin yang seperti itu, berarti telah menggadaikan negeri ini dengan bangkai kehancuran. Tidak layak kita dukung, tetapi harus segera disingkirkan jauh-jauh dalam kubangan.***


SIFAT PEMIMPIN NJOWO
Menjelang detik-detik pelantikan menjadi seorang Adipati, Raden Katong terus mendapatkan nasihat berharga dari Kyai Mirah yang selalu mendampinginya. “Raden, saya ingin mengatakan satu hal penting lainnya lagi…”
“Ya Kyai, saya ingin semua ilmu kepemimpinan dari Kyai bisa saya dapatkan”
“Begini Raden…, Dalam penciptaan alam semesta ini sebenarnya Gusti Alloh memberikan tanda-tanda bagi orang yang berilmu dan beriman agar banyak belajar dari hal tersebut. Sekarang saya akan jelaskan satu per satu tentang benda-benda alam tersebut;  1) SURYA (MATAHARI) 2) KARTIKA (BINTANG), 3) CANDRA (BULAN), 4) BAWANA (BUMI), 5)TIRTA (AIR), 6) MARUTA (ANGIN), 7) DAHANA (API), dan 8) SAMODRA (LAUTAN), ini dalam konsep Jawa disebut Astabrata. ..”
“Brata yang pertama adalah SURYA yang berarti matahari. Matahari adalah pusat kehidupan planet dalam suatu sistem tata surya. Peredaran planet-planet dalam tata surya dikendalikan oleh matahari yang memiliki sifat-sifat : (a) menerangi alam semesta, (b) sebagai sumber energi, (c) keberadaannya sangat dibutuhkan oleh semua planet dan makhluk yang hidup di bumi. Seorang pemimpin harus memiliki sikap seperti matahari, yang memiliki peran sebagai pengarah dan pengendali, sebagai sumber kekuatan yang digunakan untuk mempengaruhi pengikutnya, keberadaan dan kehadirannya sangat dibutuhkan oleh rakyat. Sifat menerangi yang dimiliki oleh matahari dalam bahasa jawa dimaknai sebagai “gawe pepadang marang ruwet rentenging liyan” yang berarti harus mampu membantu mengatasi kesulitan atau memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh anak buahnya. Kehadiran matahari adalah membuat dunia terang, yang dapat dimaknai adanya peningkatan dari kegelapan menjadi terang, dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari bodoh menjadi pandai, dan dari tidak berdaya menjadi berdaya, kalau dalam konsep modern disebut dengan educator, yaitu orang yang berpendidikan, dan cerdas lahir dan batinnya, yang sanggup mencerahkan dan mencerdaskan orang-orang yang dipimpinnya”
“Brata yang kedua adalah BAWANA yang berarti bumi. Bumi memiliki atmosfer yang melindungi semua makhluk yang hidup di bumi dari radiasi matahari. Tanpa atmosfer, bumi akan sangat panas, dan tidak mungkin makhluk akan dapat hidup di dalamnya. Dengan atmosfer pula benda-benda langit seperti meteor, bila jatuh ke bumi akan terbakar dan kemudian musnah. Bumi juga merupakan tempat untuk mencari nafkah dan mencari sumber kehidupan. Bumi diibaratkan sebagai ibu pertiwi. Sebagai ibu pertiwi, bumi memiliki peran sebagai ibu, yang memiliki sifat keibuan, yang harus memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi anak-anaknya. Implementasinya adalah kalau sanggup menjadi pemimpin harus mampu menjadi manager yang dapat  mengayomi dan melindungi anak buahnya”.
“Brata yang ketiga adalah CANDRA yang berarti bulan. Bulan memiliki sifat-sifat enak dan menyenangkan bila dipandang. Bulan juga dapat digunakan sebagai pedoman perhitungan yang sangat tertata dan teratur. Oleh d karena itu dalam proses kepemimpinan, perlu diberikan sebuah perhitungan, peraturan, sehingga seluruh staf senantiasa berada pada garis edar yang menyenangkan. Bercahaya di kegelapan.”
Brata keempat adalah KARTIKA yang berarti bintang. Secara alami, bintang dapat menunjukkan arah diwaktu malam. Bintang dapat menggambarkan dambaan cita-cita, tumpuan harapan, sumber inspirasi. Seorang pemimpin harus memiliki cita-cita yang tinggi, berpandangan jauh kedepan, pemberi arah, dan pedoman yang terukur”
“Brata yang kelima adalah TIRTA yang berarti air. Secara alami, air selalu mengalir kebawah. Air selalu berubah bentuknya sesuai tempat dimana air tersebut ditampung. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya (adaptif). Air selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan masyarakat bawah”
“Brata yang keenam adalah MARUTA, yang berarti angin. Secara alami angin memiliki sifat menyejukkan, angin membuat segar bagi orang yang kepanasan. Angin sifatnya sangat lembut. Angin selalu hadir di tempat yang kosong. Seorang pemimpin harus bisa membuat suasana hampa menjadi sejuk, kepemimpinan sejuk,  dan menyegarkan. Sifat angin yang lembut juga menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat lemah-lembut dengan rakyatnya”.
“Brata yang ketujuh adalah DAHANA, yang berarti api. Secara alami, api memiliki sifat panas, dan dapat membakar dari yang mentah menjadi matang. Seorang pemimpim memiliki sifat pembakar semangat, pengobar semangat, dan memiliki peran sebagai motivator dan inovator bagi terciptanya jiwa yang matang dan professional”.
“Brata yang kedelapan adalah SAMODRA, yang berarti lautan atau samudra. Secara alami, lautan sangat luas melebihi luas daratan. Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam samudra. Tidak bermodal merakyat saja, akan tetapi harus punya wawasan yang luas, ilmu yang dalam,  berjiwa lapang, mudah memaafkan kesalahan orang lain. Samudra juga bersifat menampung seluruh air dan benda-benda yang mengalir kearah laut. Seorang pemimpin harus memiliki sifat menampung semua kebutuhan, kepentingan, dan isi hati dari pengikutnya, serta pemimpin harus bersifat aspiratif. Dengan demikian, Raden harus juga menyiapkan calon pemimpin yang bisa mewariskan semua ini setelah raden. Jangan sampai kita salah pilih lagi memilih pemimpin yang bodoh, untuk memimpin kadipaten ini”***

Menyiapkan Pemimpin Ideal
Kinerja organisasi pemerintahan sangat  dipengaruhi oleh kualitas  pemimpin yang memegang kendali dalam pemerintahan. Jika pemimpinnya sontoloyo, maka anak buahnya ikut tertular penyakit memble alias kemplo loyo-loyo. Oleh karena itu jika Anda menginginkan kesinambungan dalam tumbuh kembangnya organisasi pemerintahan yang ideal, maka di pemilukadal yang akan datang, masyarakat harus mempersiapkan lebih awal figure pemimpin yang benar-benar punya kadigdayan ngelmu sejati yang mumpuni. Sehingga jangan sampai kita salah pilih dan tertipu oleh pemimpin sontoloyo seperti sekarang ini.
Suryo Danisworo mantan Presiden Direktur BNI Securities dalam bukunya yang bertajuk Warisan Kepemimpinan Jawa untuk Bisnis, Suryo menggarisbawahi bahwa ada tiga hal pokok dari sifat pemimpin yang kerap dibutuhkan oleh suatu kelompok atau organisasi. Yakni, berada di depan, mengayomi, dan mencerahkan. Lebih jauh, ia menyatakan, sikap batin akan selalu mendominasi unsur pemimpin dalam ketiga sifat tersebut, karena segalanya bermula dari karakter dan komitmen. “Unsur sikap batin akan selalu lebih banyak dari unsur lain yang merupakan kecerdasan atau keterampilan seorang calon pemimpin,” tulis pria kelahiran Surakarta, 14 November 1947, ini dalam bukunya.
Sikap “berani” berada di depan, menyatakan bahwa pemimpin harus berani bertanggung jawab dan bukanlah orang yang berkarakter pengecut. Apalagi stress berat ketika ada acara formal lantaran tidak ada yang membuatkan naskah pidato. Kalau kita jumpai pemimpin seperti ini, dapat dipastikan kalau ia hanyalah pemimpin jadi-jadian, alias pemimpin gadungan yang sengaja dipoles seperti pemimpin sungguhan . Selain itu, konteks “berani” yang dimaksudkan adalah suatu sikap batin yang sportif, fair, dan wajar. Tidak dibuat-buat, jujur kalau dirinya tidak mampu, fair kalau gelarnya hanya beli, sportif kalau pemerintahannya amburadul. Sebab, menurutnya, pemimpin sejati adalah orang-orang yang tidak hanya berani tampil di kala kelompoknya senang, melainkan juga bertanggung jawab ketika kelompoknya dalam kondisi sulit. “Dia (pemimpin) harus habis-habisan untuk melindungi kelompoknya. Apalagi, seorang pemimpin sejati akan muncul untuk mengambil alih tanggung jawab ketika kelompoknya dalam kondisi berbahaya.
Memang tidak mudah menemukan calon pemimpin yang benar-benar memenuhi kriteria berani berada di depan. Dari pengalamannya sebagai tenaga profesional, teman-teman sesama profesinya sering bependapat, posisi untuk berani di depan adalah sikap batin yang perlu dipertimbangkan secara profesional. Dengan kata lain, perlu dihitung untung dan ruginya.Namun demikian yang terjadi sekarang ini, seorang pemimpin hanya berani karena bombongan saja. “Berada di depan lebih dari sekadar gaya atau acting sok jagoan, biar dilihat sebagai orang hebat,  tetapi di sisi lain ia sendiri menjadi bagian dari suatu sistem yang tidak fair dan dari suatu keadaan yang tidak bersih,” .
Bagi pemimpin sejati, sikap untuk siap menjadi korban agar organisasi pemerintahannya bisa menjadi lebih baik bukanlah  sikap bodoh. Menurutnya, sikap itu timbul bukan karena ingin tampil sebagai ksatria, tetapi timbul dari sikap moral seorang manusia yang berjiwa pemimpin sejati. “Secara moral, bila tidak ada pilihan lagi, pantaskah dia sebagai pemimpin membiarkan dirinya selamat dan kelompoknya yang celaka? Karena pemimpin bukanlah pemimpi. Pemimpin sejati tidak akan segan mengambil tanggung jawab anak buahnya,” tutur Suryo menandaskan. Jadi, menurutnya, menerima jabatan sebagai pemimpin berarti harus berani menerima segala konsekuensi, tidak hanya kenikmatannya, tetapi juga risikonya karena jabatan pemimpin adalah jabatan yang mendapatkan privilege.
Sikap batin kedua adalah mengayomi. Dijelaskan Suryo, mengayomi adalah sikap batin yang lebih dari sekadar melindungi. Sikap ini mampu menciptakan keteduhan, yang akan membangun sinergi dan daya bagi kelompoknya.Bukan sebaliknya. Ketika usai dilantik, malah menimbulkan kegalauan, ketidakpercayaan, jadi rasanan, dan menimbulkan kekisruhan. Oleh karena itu jika seorang pemimpin tidak punya sikap batin dan kemampuan untuk mengayomi, maka kinerja dari kelompok menjadi tidak terarah dan tidak optimal.
Secara mendalam, Suryo menyatakan, bahwa daya kekuatan batin yang ditimbulkan oleh unsur mengayomi dari seorang pemimpin sangatlah dahsyat. “Saya menjadi saksi bagaimana team work yang merasakan sifat pengayoman dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Team work yang optimal akan menghasilkan daya yang optimal,” tuturnya memastikan. Misalnya, jika seorang karyawan merasa terayomi di lingkungan kerjanya, tentu akan membuat dia merasa nyaman dalam bekerja sehingga akan tercipta produktivitas yang tinggi bagi perusahaan, karena karyawan akan lebih mampu berkreativitas. Oleh karena itu, jika seorang bodoh dijadikan pemimpin , maka hubungan batin antara pemimpin dan yang dimpin dipastikan bakal terjadi kecemasan yang sangat mendalam. Ujung-ujungnya staf bagian humas bakal sakit jantung jika sang pemimpin mudah tersinggung.
Ciri ketiga, ialah “mencerahkan”. Ia menjelaskan, pemimpin harus mampu memberi pencerahan kepada anggota kelompoknya. Seorang pemimpin harus memeiliki kecerdasan, sejarah pendidikan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan dan punya keterampilan memberikan pencerahan, wawasan, pendidikan pada staf yang dipimpinnya.” Kecerdasan itu dapat berupa keterampilan dan pengetahuan di bidang manajemen atau umum, namun juga termasuk hal-hal yang khusus sesuai disiplin ilmu yang disyaratkan bagi seorang pemimpin untuk menjalankan fungsi memimpin perusahaan atau organisasi”.
Nah, dari uraian di atas, akankah kita salah pilih lagi memilih pemimpin kita di masa datang?. Jawabnya tergantung Anda juga. Toh kalau ‘serangan fajar’ biasanya yang terjadi, kualitas pemimpin ini menjadi kabur dan menghilang tatkala uang dua puluh ribu masuk di saku Anda. Maka jadilah negeri ini disantap oleh para penyamun politik yang rakus dengan harta, tahta, dan wanita-wanita binal.***

Pemimpin Pinter Tenan
Ki Setyo Mangoenprodjo

Apabila seorang pemimpin itu pinter lahir batinnya, maka ia adalah sebagai sang  pencerah, yang dapat memberikan pencerahan kepada seluruh anak buahnya dan masyarakat luas yang dipimpinnya. Berbagai kenyataan dapat kita lihat  pada pemimpin pemerintahan yang selalu menyatukan ide, pikiran, dan kinerja karyawan, maka pencerahan tersebut  menjadi daya dahsyat yang akan membawa pemerintahan ke posisi yang ditargetkannya. Akan tetapi jika pemimpin pemerintah itu pilon, bloon, plonga-plongo, maka para karyawan juga ikut-ikutan o’on, dan plonga-plongo, ketularan pemimpinnya.
Oleh karena itu, karyawan membutuhkan seorang pemimpin yang bisa memberi pencerahan yang mampu menyatukan mereka. Kekuatan pencerahan yang dimaksudkan adalah direction atau arahan ke mana mereka harus bergerak. “Pencerahan akan membuat karyawan dan unit bisnis merasa diakui kontribusinya,”  Akan tetapi jika sang pemimpin tidak mampu memberikan arahan, maka seorang bawahan akan kehilangan arah, mereka bingung mau mengerjakan apa. Lha wong pemimpinnya saja bingung ketika ada gubernur atau menteri  datang, katanya meyakinkan.
Agar pemimpin mampu memberikan pencerahan secara optimal, prinsip “7-T” dari Suryo dapat dijadikan referensi bagi para pemimpin. Prinsip 7-T meliputi: Toto, Titi, Titis, Temen, Tetep, Tatag, dan Tatas. “Agar tercipta suasana yang mengayomi dan mencerahkan, serta mampu menciptakan suasana sejuk seperti feel at home, ada ajaran Jawa yang saya peroleh dari kakek, almarhum KRMTA Poornomo Hadiningrat, yaitu 7-T. Ajaran ini belum terlampau tua jika dibandingkan dengan falsafah Jawa yang lain,” tutur Suryo yang tertuang dalam bukunya.
Ia menceritakan, prinsip 7-T merupakan hasil pengalaman kakeknya selama menjabat pamong praja. Pengalaman itu kemudian diajarkan kepada dirinya agar dapat dijadikan pedoman dalam bekerja. “Beliau selalu menekankan, kita harus selalu me-review diri sendiri sebelum memberikan keputusan maupun bertindak,” ujarnya menyadur ucapan sang kakek. Jadi, seorang pemimpin harus selalu mengkaji, apakah dalam kesehariannya dia telah memenuhi prinsip-prinsip 7-T dengan baik.
Mengenai prinsip 7-T, Suryo menjelaskan, 3-T pertama (Toto, Titi, dan Titis) merupakan skills (keterampilan), yang juga dipengaruhi oleh kecerdasan seorang pemimpin. “Bahwa arti Toto itu teratur, Titi itu teliti, dan Titis itu tepat. Nah, tiga skill itu yang sebenarnya amat diperlukan seorang pemimpin,” ujarnya menegaskan. Misalnya, pada prinsip Toto, seorang pemimpin dituntut untuk berpikir, berbicara, dan bekerja secara teratur atau sistematis. “Karena pemimpin harus mampu menciptakan rule of the game atau standard operating procedures (SOP),” katanya memberi alasan. Tidak sebaliknya, ngomongnya ngelantur, ceplas-ceplos, procat-procot, tidak terkonsep. Sehingga ketika ngomong , akhirnya tidak runtut, tidak sistematis, sehingga ketika omongannya nyuprus ngalor ngidul, sering terucap  seorang pemimpin kemplo “Aku ngke omong opo?”. Yang dengar Cuma mesam-mesem kecut. Pemimpin apa ini, mending pemain kethoprak, masih runtut dan enak didengar. Lha ini, blas, ora mudeng dengan tema pembicaraan.
Kemudian, prinsip 4-T berikutnya adalah Temen, Tetep, Tatag, dan Tatas merupakan suatu sikap atau tekad yang diwujudkan dalam bentuk perilaku, yang diiringi dengan suatu kegiatan atau action. “Prinsip 4-T berikutnya, yang terdiri dari Temen (jujur atau tulus), Tetep (konsisten), Tatag (tabah), dan Tatas (tegas) merupakan komitmen atau niat yang harus terwujud pada perilaku atau sikap pemimpin sehari-hari dalam memimpin kelompok atau perusahaan,” Ia memastikan, pemimpin yang Temen atau jujur dalam pola pikir dan perilakunya, akan diikuti dengan ketulusan anggota tim dalam bekerja sesuai sasaran yang ingin dicapai. Akan tetapi jika seorang pemimpin sekelas bupati/gubernur/menteri, atau presiden sekalipun tidak punya prinsip di atas, maka tunggulah kehancuran sebuah pemerintahan. Dan sekarang bukti nyata itu tengah kita alami dan kita saksikan bersama. Negeri yang dipimpin oleh raja semprul bin sontoloyo. Selamat menikmati!!.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar