Selasa, 15 September 2009

Janaka Gendhong

Ki Lurah Semar segera duduk ‘nglesot’ menemui Raden Janaka. Sementara Ki Lurah Petruk menjauh menuju bawah pohon trembesi yang rindang. Ia tengah menikmati lantunan lagu-lagu hadrah dan santapan rokhani, sambil menanti buka puasa tiba.
“Arep ndongeng apa kakang?”
“Nggih Gus, sampeyan mirengke nggih”
“Suatu hari, ketika panjenengan tengah memadu kasih dengan garwa panjenengan, tiba-tiba datanglah utusan Bathara Guru yang menghadap, untuk mengantarkan surat perintah yang isinya bahwa Dewi Dersanala harus menghadap Pikulun Bathara Guru tanpa harus didampingi oleh suaminya… Sebuah surat perintah yang mencurigation, atau sangat mencurigakan. Dan sampeyan pasti ndak ngerti dengan semua itu, inggih ta?”
“Benar kakang, aku benar-benar ndak paham dengan itu semua”
“Begini nggih den, sejatinya panjenengan niku ajeng dipegatne kalian keng garwa Dewi Dersanala. Awit menurut alasannya, seorang manusia ndak boleh menikah dengan bangsa dewa. Kuwalat, dan menyalahi undang-undang kadewatan. Itu hanya alasan yang dibuat-buat saja, tetapi sebenarnya adalah, ketika itu Bathara Guru sedang diprotes oleh istrinya Si Bathari Durga, kenapa Bathara Guru telah berbuat ndak adil dengan anaknya sendiri Si Dewa Srani , malah dewekne lebih memperhatikan Janaka, makhluk berbeda yang berada di luar structural kadewatan. Dia dinikahkan oleh Bathara Brama dengan anaknya yang bernama Dewi Dersanala. Padahal gadis kinyis-kinyis itu telah ditaksirnya sejak SD, eee.. lha kok ujug-ujug dinikahkan dengan Janaka, edan piye, “Anak pukulun kan masih jomblo ta pikulun?, kenapa sampeyan membiarkan Janaka menikahi Si Dersanala, itu namanya ndolim, ndak adil, alias panjenengan menika mban cinde mban siladan, pilih kasih, padahal nuwun sewu lho, Janaka menika kan bangsa manusia, apa nanti pukulun ndak dikutuk Sang Hyang Wenang, cobi ta menika panjenengan galih, malah sak menika putra Paduka mboten purun sekolah, menika rak malah nambahi ruwet rentengipun Suralaya?”
“Iya Permoni, aku khilaf. Yen ngono piye karepmu?”
“Pokoknye Si Janaka harus dipaksa cerai dengan Si Dersanala, jangan sampai telat sekarang juga ia harus dipanggil paksa. Sebab kalau telat, salah-salah dia telah hamil duluan” pinta Dewi Durga memaksa.
Bukan rahasia lagi kalau Bathara Guru adalah anggota suami-suami takut istri, oleh karena itu, ketika dia mendapat tekanan yang mematikan dari Dewi Durga, dia langsung bertekuk lutut tersungkur di bawah anderoknya. Nggak peduli bau kecut, penguk dan asem. Pokoknya Bathara Guru ndak bisa berkutik dan akhirnya menuruti kemaluan eh kemauan istrinya. Dia kemudian membujuk mertuamu Dewa Brama untuk mengurungkan pernikahanmu. Awalnya Brama ndak mau menuruti kemauan ayahndanya, tetapi karena Bathara Guru ngancam akan mencopot jabatannya, maka Brama akhirnya luluh juga. Naaah, ketika Dewi Dersanala dipanggil keluar dari kamarnya, dia menjelaskan dan menolak ide gila ayahnya untuk bercerai. Dia bilang kalau sekarang telah berbadan dua. Mendengar keterangan yang mengagetkan itu, seketika Bathari Durga naik pitam, kemudian Dersanala diculik dibawa terbang.
Kira-kira satu jam kemudian perjalanan itu telah sampai di atas kawah Candradimuka. Maksudnya Durga adalah mengaborsi jabang bayi agar orok tersebut mau keluar dn akan dilenyapkan di sana. Akan tetapi takdir berkata lain, jabang bayi yang keluar itu ternyata menjadi bocah yang sakti, tampan dan cerdas. Bayi itu berhasil saya rawat. Karena dia besar di dalam bara api, maka bayi itu aku beri nama Raden Wisanggeni
“Oh, kakang ….”
“Betul ndara, Wisanggeni ini anak sampean”
Raden Janaka berlari dan memeluk, mencium Wisanggeni dengan hangatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar