Kamis, 29 Oktober 2009

Banjaran Samba Juwing Walaka niring Weweka

Caos uninga yekti, jatosipun kesagedan kula, dereng sepintena kathah ,teka gumagah purun, angrakit basa gitadi, dahat dera tan ngrasa, lamun maksih kuthung, walaka niring weweka, sepen kawruh cubluk tuna ing pambudi, cupet mring panggraita
Mboten sande kathah kang ngesemi, awit saking kathahing luputing tumindak, datan pakoleh tanduke, tyas berung kadlarung, kebat kliwat nora nyukupi, sasar kurangan nalar, lelabete tan antuk, ing wewulang prasarjana, kang wus putus mumpuni salwiring kawrin, marma sanget kuciwa .....

Begitulah pesan Prabu Kresna kepada Boma Narakasura anak kandungnya, yang intinya sampaikan dengan jujur bahwa sejatinya kamu itu masih miskin ilmu, akan tetapi nyatanya kamu itu keminter, kementhus, rumongso bisa. Hanya kelihatanya saja bahasamu dingin dan sejuk, lebih baik berterus terang, jentelmen, agar terhindar dari petaka, berterus teranglah kalau kamu itu sebenarnya masih bodoh dan belum mempunyai etika, tatakrama dan tepaslira. Tak pelak jika kamu memaksakan diri, maka banyak yang mencibir, sebab sudah terbukti banyak kesalahan yang telah kau lakukan, maka percuma yang telah kamu perbuat, malah akhirnya menjadi rusak berkepanjangan, dan akhirnya hati merana ,harapannya hampa, semua itu akibat karena nafsu serakah kebodohanmu, perjuanganmu sia-sia walaupun kamu telah mendapat aneka macam ilmu kesarjanaan, maka lihatlah semua orang kecewa yang mendalam....
Mendengar wejangan dari ramandanya, Prabu Boma Narakasura terbakar hatinya. Ia ndak terima dikatakan ndak becus mengurusi pemerintahannya, maka ia segera memanggil Patih Pancatnyana
”He Patih!!, segera kumpulkan seluruh kawula, prajurit dan pejabat negara, undang mereka ke gedung bundar kerajaan, katakan kepada mereka bahwa kerajaan ada dana seratus juta bisa digunakan untuk senang-senang, foya-foya, tamasya bersama seluruh keluarga dan pulang disediakan oleh-oleh komplit, dan baju seragam”.
”Lho kok kados lare alit mawon ta Prabu, menapa semudah itu mereka bisa merubah sikapnya, soale sampun kathah ingkang ngraosaken numpak motor iber, la mangke menawi namung numpak bis dateng Jogja, nopo sampun marem....??”
”Wis cangkemu menenga Patih, iki politik tingkat tinggi, utekku lagi bingung, pemerintahanku ora duwe program, bisaku ya mung iki, wis kamu nggak usah ngomentari perintahku, ayo segera laksanakan, yen perlu aku mengko ethok-ethoke arep menyatakan siap mengundurkan diri, terus bocah-bocah cilik kae tak kon podho nangisi aku” gertak Prabu Boma Narakasura yang aslinya berwatak pengecut dan brangasan.
”Oh pangapunten gusti, mbenjang menapa kula bidhal”
”Aja ndadak ngenteni tak pecat, sak iki wae enggal budhala” kata Boma Narakasura sambil menjambak rambut kepalanya Patih Pancatnyana.
Patih Pancatnyana segera pergi menjalankan tugas yang telah diamanatkan kepadanya. Dia segera memanggil sopir kerajaan untuk segera membagikan undangan kepada seluruh punggawa dengan membawa mobil Panther warna biru.
Memang!, Prabu Boma Narakasura akhir-akhir ini tengah menjadi pembicaraan banyak orang, lantaran perilakunya mirip orang yang menderita psikopat , suka menari di atas penderitaan orang lain, dan selalu menggunakan orang lain untuk memperoleh ambisi pribadinya. Tak heran jika pada suatu hari dia mengalami kegagalan, maka orang lain pula yang disalahkan. Bahkan tidak jarang mereka langsung dipecat, dan diusir dari kerajaan. Itulah sifat iblis yang dibawanya sejak lahir. Nggak perduli walau ayahnya seorang narendra gung binathara yang bernama Prabu Kresna sekalipun.
Dan kebetulan kali ini ambisinya adalah merebut isterinya Samba, adik tirinya lain ibu. Ndilalah Samba pada waktu itu sedang ndak ada di Kerajaan Paranggaruda. Sehingga nafsunya menggebu-gebu untu menculik adik iparnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar