Selasa, 03 Agustus 2010

Koalisi Setengah Hati Ki Setyo Handono

Suasana menjadi hening ketika Resi Bisma ingin mengeluarkan kata-katanya.
“Anak prabu…., setiap kali aku datang kemari kamu kok kelihatan cemas, kuwatir, dan seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Terbukti dudukmu tidak tenang, wajahmu kelihatan pucat pasi. Ngger… mumpung para pinituwa lagi pada berkumpul, bicaralah apa adanya, e e e, siapa tahu diantara kita ini ada yang bisa mengurai masalahmu. Sudahlah anak prabu, berterusteranglah, jangan terbiasa menyimpan masalah, nanti akibatnya kurang baik lo….”
Tiba-tiba Drestrarastra menundukkan wajahnya menangis pilu. Sendhon Tlutur, laras slendro pathet nem membahana mengharukan…

Surem-surem diwangkara kingkin, lir manguswa kang layon , denya ilang memanise. Wadanananira landhu kummel kucem rahnya mratani, oooong………

“Oh Rama… tetungguling barata, betapa kengennya hati ini tatkala paduka lama tidak berkunjung kemari. Akan tetapi tatkala paduka sudah berada di tempat ini, hati ini laksana disasyat sembilu, sedih, pedih, kami bingung, stress berat, terus mau berbuat apa?, bunuh diri?, ngamuk bakar-bakar gedung, pendapa kabupaten,mobil, atau rumah dinas, oh tidak rama… saya tidak serendah mereka, saya masih punya sifat welas asih rama, tolonglah kami rama, tubuh ini seakan dibelenggu oleh api yang membara rama…”
“Oh… jagad dewa bathara, iya ngger semua manusia nggak ada yang tidak pernah merasakan kecewa, sedih, dan takut. Lebih-lebih jika menghadapi pemilu kada seperti akhir-akhir ini….”
“Lho Rama kok menyangkutpautkan dengan pemilukada ta, maksudnya gimana?”
“Eh hiya anak prabu, sekarang ini bumi Ngastina lagi panas membara. Orang-orang pemburu harta dunia berebut jabatan. Mereka menebar muslihat, obral janji, kipas sana kipas sini, menebarkan permusuhan, pura-pura dermawan, memproklamirkan diri bagai pahlawan. Dana hutang-hutangan milyaran rupiah, mereka hambur-hamburkan, menggalang dukungan dan menggalang kebencian kepada lawan. Siang malam relawan, alias makelar bayaran bergerilya mengobral fantasi sang kandidat ibarat pahlawan tanpa cacat, tubuhnya mengkilat bagai mobil yang baru dicat, bersinar tajam bagaikan kilat. Sigap trengginas bagaikan pesilat.Pokoknya fanatisme bayaran telah mengaburkan niat jahat dari sang kandidat, tak peduli, rakyat, pejabat atau aparat, mereka ngadat bakal disikat …”
“Wah nuwun sewu resi,…” sela Durna
“Hiya , ada apa adhi Resi”
“Politisi itu modalnya ada dua kok. Satu, obral janji, yang kedua ingkar janji. Jadi kalau jabatannya sudah di dapat, kita jangan mengharap janji-janji itu terpenuhi, pokoknya jangan percaya sama politisi…”
“Eh, saya kira nggak semuanya begitu. Cuma ya sedikit sekali yang tidak ber-money politik, dan ingkar janji seperti itu, tapi ya rata-ratalah mereka seperti itu. Sudah… sudah aku tak ngomong dulu sama anak prabu…, eh, anak prabu?, tolong ceritakan, apa yang membuatmu sedih?”
“Rama, setiap malam saya bermimpi kalau yayi Pandu tengah merangkul Puntadewa dan Duryudana. Meraka disaksikan oleh anak-anak Pandawa dan Kurawa. Hatiku trenyuh, haru, saya kepingin mereka membangun koalisi abadi, berbeda dengan para politisi tadi, saya bahagia sekali rama, jika Pandawa dan Kurawa bersatu…” sambil mengusap air mata
“Oh iya kaki prabu, rama doakan semoga niatmu tadi tidak hanya sebatas kolaisi setengah hati, tetapi benar-benar koalisi abadi…”
“Betul… betul Sang Maharsi, saya juga mendukung upaya koalisi ini. Sebab saya juga sudah lama menggagas masalah ini, tapi mesti setiap ada upaya untuk mewujudkannya pasti ada provokatornya…”
“Siapa dia ?”
“Ah, paduka pasti sudah mengenalnya, dia ada di sini kok. Sudahlah kita lihat saja pasti upaya ini akan teganjal lagi di tengah jalan..” BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar