Selasa, 03 Agustus 2010

VIDEO ‘ PERSIS ARTIS’ Ki Setyo Handono

Resi Bisma ikut merasakan sedih ketika Drestarastra menangis di hadapannya. Diambilnya saputangan kumal dari saku celananya. Ia kemudian mengusap matanya yang tuna penglihatan. Air matanya meleleh deras membasahi pipinya yang keriput. Sementara tangannya bergerak mencari posisi tubuh Dewi Gendari yang ada di sampingnya
“Nyai Ratu, awakmu apa ya setuju jika Pandhawa dan Kurawa bersatu?”
“Inggih…, kakang adipati, saya setuju sekali… tapi apakah mereka mau kakang?”
“Maksudmu, apa dengan keadaan di sisni yang serba kekurangan ini mereka akan seneng?”
“Betul kakang, mereka terbiasa dengan kondisi modern, fasilitas lengkap, berstatus SBI lagi. Sementara kita terdaftar saja belum, apalagi SSN..”
“Ya, sudahlah Gendari, duduklah yang tenang. Terus panembahan Durna kepriye?”
“Saya bahagia dan mendukung, Resi…malah saya punya gagasan akan mendirikan sekolah keprajuritan terpadu berskala internasional berbasis iman dan takwa”
“Betul, aku merasakan jika persatuan kekeluargaan antara anak-anak Barata bubar, maka dunia ini akan menjadi runyam hancur berantakan. Oleh karena itu jika rencana ini terwujud, aku akan menyelenggarakan pendidikan gratis, murah, nginternasional, ora trima RSBI, yen perlu RSUD; Rintisan Sekolah Udan Duit, terus biaya kesehatan murah, obat murah, dokter murah, sandang pangan murah, wis.. pokoknya kalau Pendawa Kurawa bersatu, semua fasilitas untuk rakyat semuanya serba murah…, rakyat nggak perlu gontok-gontokan rebutan jabatan, kalau perlu pemilukada bakal aku hapus, sebagai gantinya nanti ada uji keleyakan dengan seleksi ketat, team pengujinya kredibel, akuntabel…” sahut Maharsi Bisma menyela.
“Oh lole…loleee, manuk puter mencok ning omah joglo, wong pinter senengane mangan wong bodho, duh grahat… duh grahat pejabat sambat urip ora kuwat gajine mung sak milyat, bojo papat kabeh njaluk tempat… oalah ndonya arep kiamat… Nun inggih sang maharsi, saya sungguh bahagia mendengar rencana ini, kelak kalau Pendawa dan Kurawa bersatu maka saya akan mendirikan sekolah militer terpadu bertaraf internasional juga, bahkan saya juga akan menyiapkan atlet-atlet panahan yang handal ..”
“Tapi ada satu catatan untuk Wak-ne Gondhel…”
“Apa Patih Sengkuni?”
“Sampeyan nggak boleh pilih kasih. Sebab selama ini sampeyan cenderung condong kepada anak-anak Pendawa. Mentang-mentang mereka kaya-kaya, cakep-cakep, dan pinter-pinter, …. itu namanya diskriminasi pendidikan, sampeyan nggak sadar bahwa hidup sampeyan itu ndik Kurawa, makan dan minum dari gaji negeri Kurawa, bahkan sampeyan telah ikut sertifikasi guru di Sukolima, itu namanya memakan gaji buta namanya…”
“Oh dasar Sengkuni udele bodong, lha ya wis sak mestine ta aku mulang mereka, lha mereka itu rajin belajar, tertib, nggak pernah bolos, dan cerdas lagi, sedangkan adik-adikmu kerjaannya hanya mbolos melulu, sedikit-sedikit demo, merusak, ngamuk, ngambek, apalagi itu Si Citraksa, dan Si Citraksi….”
“Lho!, anak dua itu kan berkebutuhan khusus, jadi jangan diperlakukan sama dengan Dursasana dan kawan-kawan…”
“Apalagi Si Dursasana, dia itu kerjaannya Cuma SMS-san. Kemana-mana petetang-peteteng pamer HP berisi gambar-gambar porno. Malah ini tadi dia nggak datang, pasti dia lagi chating di bawah pohon sana kan?, coba kamu intip, pasti dia lagi buka video mesum Luna Mayang, yang lagi gentayangan saat ini…, itulah anak-anak Kurawa, pikirannya ngeres, jorok, nggak mau maju seperti anak-anak pendawa…”
“Gimana mau maju, lha wong gurunya lebih banyak tugas di luar, sekolahnya sendiri nggak pernah diopeni….”
“Sudah…sudah… semuanya jangan saling berdebat, ayo sekarang kita mantabkan tekad kita untuk bersatu” pangkas Maharsi Bisma.
“Silakan Wak-ne Gondhel… aku nggak mau ikut-ikutan koalisi murahan ini..”
“Kamu mau kemana?”
“Mau gabung Dursasana, lihat video ‘persis artis’ “….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar