Selasa, 03 Agustus 2010

WANA KANDHAWA Oleh: Ki Setyo Handono

Udara panas tiba-tiba menyembul membahana di musim hujan. Negara Hastina tiba-tiba menjadi ’sumuk’, Sang Prabu Drestarastra nampak membuka baju beskapnya, sambil mengibas-ibaskan tangannya, mengipas keringat yang membasahi dadanya. Semua yang hadir nampak terheran-heran, ndak biasanya sang prabu berlaku seperti itu. Biasanya beliau dikipasi oleh dua dayang yang selalu ada di sampingnya. Namun kali ini dua-duanya izin ’ngurus’ anaknya yang mengikuti ujian susulan, lantaran mereka tidak dinyatakan lulus UN (Ujian Ngastina).
Tepat jam 09.00 pagi, para undangan yang diundang oleh Prabu Drestarasta satu per satu hadir memasuki ruangan. Dewi Gendari segera menyambut Sang Maharsi Bisma, Begawan Drona, Duryudana dan Patih Sengkuni.
Berdasarkan jadwal protokoler kerajaan, hari itu mereka akan membahas dan mengevaluasi pelaksanaan UN yang baru saja selesai dilaksanakan di Ngastina. Lumayanlah, hasilnya jeblok sana-sini. Banyak siswa yang stres, guru yang kalang kabut, kepala dinas yang malu, dan kepala sekolah yang cemas. Mereka adalah pelaksana lapangan yang bertanggungjawab dengan taruhan prestis dan jabatan. UN telah menjadi indikator berhasil tidaknya pembelajaran di Ngastina. Sebuah keputusan yang melahirkan kontrasespsi (baca; kontra persepsi), kontraversi (baca: kontra dengan versinya MA), silang pendapat, bahkan tindakan boikot yang dilakukan oleh beberapa sekolah swasta di Ngastina. Bayangkan, sekolah bertahun-tahun, lha kok yang dijadikan tolok ukur kelulusan kok cuma empat pelajaran... Prabu Drestarastra benar-benar pusing tujuh keliling
Leng-leng ramyaning kumenyar, mangrengga ruming puri... ooong, mangkin tanpa siring halep nikang umah mas lir murubing langit tekwan sarwa manik...ooong
”Yayi ratu !”
” Nuwun wonten pangandika, kanda Prabu?”
”Apakah para undangan telah hadir semua, Gendari?”
” Betul kanda, mereka sudah hadir semua”
”Siapa saja yang hadir?”
” Putra paduka, Pangeran Adipati Anom Duryudana, ayahnda Talkandha, Maharsi Bisma, dan Begawan Drona.....”
” Oh, tidak ku sangka, ternyata para pejabat Ngastina begitu besar menghargai undanganku, lha terus Sengkuni apa ya telah hadir”
”Nun inggih sampun, malah dia agak duduk menjauh sinuwun....”
”Kenapa?”
”Inggih kanda, dia lagi main-main HP, mungkin ada teman yang menghubunginya”
”Ya.., biarlah tidak jadi apa. Nyuwun pangapunten kanjeng rama Bisma, izinkan saya menyampaikan selamat atas kedatangan paduka” sela Prabu Drestarastra
” Wah, iya anak prabu, atas segala doamu perjalananku selamat tiada halangan, mudah-mudahan kedatanganku menambah rekatnya hubunganku dengan anak prabu sekeluarga”
”Kalingga murda, mudah-mudahan doa rama menambah kekuatan kami dan semua rakyat di Ngastina, ... Begawan Drona, bagaimana perjalananmu kemari?”
”Oh, jograhat..jograhat waru gembol monyor, monyor, cah ujian padha nyonyor, pendidikan tambah asor, kepala dinas katon ndlosor, kepala sekolah jabatane nggleyor, hawloh... hawloh, awit pangestu Njeng Padukendra saya selamat dari bahaya, sembah saya nok, nok, non...”
”Ingsun terima sembah baktimu, semoga menambah kekuatan saya, dan menjadikanmu bahagia selama-lamanya Druna?”
”Aduh Sinuwun, terima kasih yang sedalam-dalamnya mudah-mudahan sabda paduka menjadi benih suci batin saya dan lestarinya pengabdian hamba kepada paduka..”
”Oh iya Dhi, nikmati dudukmu terlebih dahulu aku akan menyapa dulu Si Pangeran Adipati Anom. Ngger Adipati Anom, kamu jangan sampai meninggalkan kewajibanmu ya ngger, selaraskan semua ucapan dan tindak-tandukmu , ingat setelah Pemilukada nanti kamu bakal menggantikan kedudukan rama ya ngger..”
”Pangestu paduka kanjeng rama, siang malam team sukses telah berjuang untuk memenangkan saya, mereka telah sagolong sajiwa dengan rakyat . Bahkan survey membuktikan bahwa hamba mendapat dukungan paling kuat !”
”Itu baru teori di atas kertas, pembuktiannya nanti setelah pemilukada. Untuk itu ngger, kamu jangan bertindak anarkis jika nantinya kalah, apalagi menyewa perusak bayaran untuk merusak mobil dan gedung-gedung... jangan ya ngger kamu itu masih ketitipan iman dan taqwa ya..., itu bukan kelakuan manusia, tapi iblis laknat !”
”Kasinggihan dhawuh paduka, rama prabu”
”Anak prabu !!” tiba-tiba Maharsi Bisma menyela
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar