Jumat, 14 Januari 2011

Sayembara Nguntal Bola Ki Setyo Handono

Ndik Kahyangan Alang-Alang Kumitir tiba-tiba yang namanya sepak bola heboh menggila. Tua muda, widadara, widadari, bathara, bathari, dewa dan dewi tumplek blek membanjiri pertandingan akbar antara kesebelasan nasional Alang-Alang Kumitir melawan kesebelasan Dandang Mangore asuhan Bathara Kala.
Icon baru sepak bola kahyangan bak mercusuar, bersinar menerangi jagat pewayangan. Dua pemain asing yang dinaturalisasi, Irfan Petruk, dan Christian Antarja memberikan andil yang sangat luar biasa atas kebangkitan nasionalisme sepak bola kahyangan.
Petruk yang berhidung mancung membuat para gadis belia tergila-gila menjadi supporter dadakan. Mereka histeris tatkala Petruk bermain di tengah lapangan. Mereka pun berebut tanda tangan , foto bersama, bahkan ciuman. Wah pokoknya edan banget.
Melihat fenomena seperti ini tak urung membuat para politisi kahyangan sibuk mencari akal bagaimana agar para supporter bola itu tertarik memilih dirinya untuk macung capres pada pemilu yang akan datang. Maka tak kurang jurus seribu bayangan telah ia lakukan mulai dari banjir bonus, istighosah, makan bareng, pembagian tiket gratis dan sebagainya. Mereka berbaur dengan pemain timnas, tebar senyum, tebar jasa, dan mengumbar seluruh kehebatannya, agar tersiar di media massa.
Sementara itu pejabat teras PSSI kahyangan Nampak bersitegang. Bathara Guru pemegang otoritas tertinggi PSSI kahyangan tidak setuju kalau lembaganya disaingi oleh Ki Lurah Semar dan Ki Lurah Togog yang mendirikan lembaga sepak bola lain. “Pokoknya yang paling syah hanyalah PSSI, titik!!” tegas Bathara Guru.
“Pokoknya LPI milik sampeyan tidak syah!!!”
“Oh, dasar dewa goblok!, awakmu itu kudu bersukur, kalau masyarakat beramai-ramai mendirikan kejuaraan bola, itu artinya masyarakat merasa memiliki, masyarakat ikut peduli dengan masa depan sepak bola kahyangan, lha wong ora mbayari saja kok repot!!” sahut Semar ketus
“Begini lho Manikmaya, awakmu ya jangan otoriter, ibaratnya sekolah, nggonmu sekolah negeri, sedangkan sekolahku, dan sekolah kakang Semar, sekolah swasta. Ayo mlaku bareng-bareng, endi sing apik ayo didukung. Aja terus melarang-melarang, pemainku, pemaine Kang Semar ora bisa jadi pemain nasional, memangnya ini negaramu sendiri apa?” sahut Togog super jengkel
“Tapi…”
“Eh, iya, aku ngerti kalau kamu takut kalah bersaing denganku. Kamu curiga kalau aku berdua bakal menggunakan bendera partai…. Ealah Guru….Guru…. dangkal banget nalarmu. Malah sebaliknya aku itu sudah curiga kalau kamu ndekem di PSSI itu Cuma cari muka agar sukses membawa bola ke dalam partai, hayo…iya ta…?”
Belum selesai mereka ngobrol, tiba-tiba dari balik pintu luar ada orang gemuk masuk.
“Eeeee, mrekencong….mrekencong kayu dhoyong dicolong wong, wong PSSI udele bodong, ethok-ethok dadi penolong, tak tahunya sundel bolong…. Eh Adhi Guru, tak denger-denger kok makin seru aje, ada musyawarah apa ini??” Tanya Narada ikut nimbrung
“Iya Kakang Kanekaputra, iki ana kahanan kang gawat. Kakang Semar dan Kakang Togog mengancam mendirikan lembaga bola baru….”
“Ealaah, mrekencong-mrekencong, ngelmumu cupet pikiranmu kosong, itu namanya bukan ancaman, tapi sarana koreksi diri kalau kepemimpinan Adi Guru sangat mengecewakan. Masyarakat tidak puas alias kecewa, malah sebaliknya jika Adi Guru tetap bercokol di PSSI, wah nasib sepak bola kahyangan justru semakin terancam. Sudahlah Adi Guru, letakkan saja jabatan sebagai ketua umum, kasihan sepak bola nasional nanti”
“Itu namanya ndak adil. Pokoknya aku tetap pada pendirianku. PSSI di bawah kepemimpinanku, adalah lembaga yang syah, yang diakui FIFA…”
“Ora isa Narada!!!, Guru juga ndak adil!!!” sahut Semar sengit
“Iya Narada, aku juga ndak setuju” sahut Togog mendukung
“Sudah…sudah…, sekarang aku puny aide. Aku akan menguji kalian semua. Pokoknya bagi siapa saja yang sanggup ‘nguntal bola yang aku bawa ini, maka dialah yang berhak menyelenggarakan pertandingan sepak bola nasional”
Semua dewa PSSI terlihat terperangah. Ide gila yang ditawarkan oleh Narada terasa janggal, tapi itulah cara satu-satunya menormalkan ingatan orang-orang PSSI agar tidak gila terus-menerus.
“Oke Narada, aku setuju” jawab Semar dan Togog serempak
“Aku ya setuju, kakang”
Tidak lama kemudian, perlombaan nguntal bola segera dilakukan. Bathara Guru yang pernah kursus ngelmu sulap kepada Mr Tarno Nampak komat-kamit merapal mantra. Sedangkan Ki Lurah Semar Nampak santai, ia menimang-nimang bola sambil sesekali membersihkan sarungnya yang masih dipenuhi debu volkanik. Sementara Togog Nampak pemanasan memasukkan bola pada bibirnya yang lebar.
“Oke, waktunya sudah cukup !” teriak Narada mengingatkan
Perlombaan pun segera dimulai. Bathara Guru, secepat kilat mampu menyulap bola itu menjadi jeruk manis, dan langsung ditelannya mentah-mentah. Ki Lurah semar tidak kurang akal, digembosnya bola PSSI itu, kemudian ditelannya sedikit-sedikit, tanpa cabe. Maklumlah cabe semakin mahal. Sedangkan togog, tanpa ba, bi, bu, bola itu langsung diuntalnya mentah-mentah, sehingga mulutnya semakin dower.
“Bangus… eh bagus…bagussss… tepuk tangan semuanyaaaa….”
“Aku pemenangnya !!!” sahut ketiganya sambil mengangkat tangannya
“Betul !!!, kalian semua telah memenangkannya. Dengan demikian, Kakang Semar, Adhi Guru, dan Kakang Togog, berhak menyelenggarakan sepak bola nasional. Dan kepada Adi Guru, ndak usahlah pakai ancam-mengancam, kita orang bersaudara, kita semua ingin memajukan sepak bola nasional, dan kita semua punya tanggung jawab memajukan olah raga di negeri ini”
Akhirnya Semar dan Togog pulang dengan wajah ceria. Sedangkan Manikmaya Nampak tidak puas. Ia pun memilih terbang menemui Sang Hyang FIFA, untuk melaporkan kejadian yang merugikan dirinya.
******

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar