Jumat, 16 Desember 2011

Banjaran Ngastina Ngadat (1) Ki Setyo RacethocaritoLeng-leng ramyaning kang sasangka kumenyar oong Mangrengga ruming puri, mangkin tanpa siring halep

Leng-leng ramyaning kang sasangka kumenyar oong Mangrengga ruming puri, mangkin tanpa siring halep nikang umah mas lir murubing langit.. ooong tekwan sarwa manik ooong, tawingnya sinawung sasat sekar sinuji unggyan Banuwati yawn amrem alangen myang nata Duryudana ooong myang nata Duryudana….
Tersebutlah sebuah Negara Ngastina yang sedang nandang cintraka alias sengsara karena salah memilih pemimpin. Padahal Negara ini dalam katagori Negara gemah ripah tata tentrem kartaraharjo. Tongkat kayu dan batu jadi makanan. Gede kukuse, adoh kuncarane. Malah-malah, para pedagang luar negeri pada menjamur mendirikan super market ndik desa-desa. Oleh karena itu, para pedagang kecil-kecil bakal kehilangan sandang pangannya. Begitulah keadaan negeri Ngastina yang dinyatakan hampir crodit, kolaps, alias gulung tikar. Tetapi para pejabatnya nggak merasakan, karena koceh uang dari sisa bagi hasil dari para penjahat politik yang mengusungnya.
Melihat kenyataan itu, Ki Lurah Semar yang tengah mengikuti perkembangan negeri Ngastina tersebut, hatinya menjadi bergelayut, kalut dan takut, jangan-jangan Negeri Ngastina menjadi negeri yang bangkrut. Oleh karena itu, buru-buru ia mengambil laptop miliknya, untuk membuat surat kemudian di-email-kan kepada sinuwun Puntadewa, agar keadaan Ngastina segera dikondisikan.
Sementara itu, di Ngastina sedang diadakan halal bi-halal keluarga besar Pandhawa. Semua pejabat tinggi hadir di sana. Prabu Puntadewa Nampak duduk di kursi dampar denta. Werkudara memilih berdiri di depan Harjuna, Nakula dan Sadewa. Sedangkan yang menjadi ustadz, yang mengupas makna Idul Fitri adalah Resi Abiyasa.
Beberapa saat, setelah MC atau pembawa acara yang dibawakan oleh Antasena membacakan susunan acara, tiba-tiba Ki Lurah Petruk datang dan langsung menyerahkan surat dari ayahnya.
“Assalamu ngalaikum…” salam Petruk dengan logat yang ndesani
“Wangalaikum salaam… hayo silakan masuk Petruk”. Sambut Prabu Kresna ramah.
“Anu, sinuwun… kula diutus rama kinen nyaosaken nawala…”
“Kanggo sapa?”
“Sinuwun Prabu Puntadewa…”
“Ooo, hiya silakan berikan sendiri”
Setelah melakukan sembah, Petruk segera memberikan surat itu kepada Putadewa.
Sang Puntadewa segera membuka isi amplop itu, kemudian membacakan secara keras agar semua hadirin mendengarkan isi surat dari Ki Lurah Semar tersebut.
“Hadirin sekalian!, kakang Semar hari ini mengundang kita untuk datang ke rumahnya. Beliau ingin membahas keadaan Negara Ngastina yang dirasakan oleh beliau lagi tengah jalan ditempat. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menuju ke rumah Kyai Semar setelah halal bi-halal selesai…” jelas Prabu Punta bijak.
“Hmmmm… hiya, mbarep kakangku…” jawab Werkudara mantap.
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar