Senin, 04 Juni 2012

Kolektor Gelar


Gelar Gak Ngefek
Ki Setyo Racethocarito

Sepertinya sih, orang atau manusia itu bila berkuasa mengira orang yang dibawahnya loyal atau percaya dengan semua sabda-sabdanya. Jawabnya kadang benar dan kadang tidak. Bagi orang yang fanatic karena merasakan manfaat dari sebuah kepemimpinan tersebut,- misal, nak-sanak, kerabat, kroni, tim sukses, sopir sakti, pejabat yang telah diuntungkan, dan orang bodoh yang telah terkontaminasi omongan manis juru kampanye- akan langsung santap semua menu yang muncul dari diri sang pemimpin tanpa reserve terlebih dahulu. Termasuk ketika sang wadip mengatakan bahwa dirinya alumni UGM, pasti deh mereka percaya dan terkagum bahwa dia benar-benar alumni UGM, padahal itu hanya ‘ngapusi’ belaka. Bener UGM tetapi bukan singkatan dari Univ Gajah Mada, tetapi Universitas Gombale Mukiyo… he…he…he…biasaaa, tebar prestasi, biar dikagumi. Akan tetapi bagi lawan politik, dan orang-orang yang pinter, orang-orang yang tahu hati nurani, dan orang cerdas nan bijaksana, akan membuktikan dulu semua omongannya terlebih dahulu, ndak percaya begitu saja. “Masa, sih, kuliah saja nggak pernah, kok tiba-tiba dapat gelar, SH, MH, MSi?????. Paling-paling wisuda dulu baru kuliahnya menyusul… itu pan kalau sempat lho???, he…he…he…
Begitulah, jika kebodohan, dan kelemahan intelektual seorang pemimpin telah menjadi penguasa di sebuah negeri. Ia bakal melahirkan kamuflase, kemunafikan, kebohongan, dan cerita-cerita fiksi, sekedar untuk mengelabuhi rakyat, demi keamanan jabatan, dan kelanggengan proyek-proyek pribadi yang kini tengah dipegangnya. Tentu saja termasuk istana pribadi dan proyek-proyek yang ditenderkan oleh pemerintah (pemerintah kemplo-pret!). Alhasil, ke mana pun mereka sambang –misal tilik desa, tilik sekolah, tilik RT, tilik manten, jagong bayi, kenduri, nyadran, ke hotel, ke warung bakul tahu goreng, dsb. – pastilah syahwat apus-apus, cerita palsu, ijazah palsu, gelar palsu, dan sebagainya, menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan semuanya. Tak heran maka Anggaran pemerintah kadang dipakai untuk nomboki wartawan agar tidak menulis atau menyiarkan kelakuan sang dipati pada media masa, ketika perselingkuhannya dengan WIL konangan di sebuah hotel. Atau juga ketika sang wadip berbohong tentang sekolah ataupun kuliahnya.
Oleh karena itu, sangking gemesnya Petruk dengan Adipati Buto Terong, ia lantas memukul roboh sang dipati pada tanah kemudian menginterograsi sang dipati Terong,sambil menginjak perutnya agar ia mengaku semua perbuatannya. “Heh, dipati Terong!!, hayo enggal ngakua, yen sejatine kowe kuwi wis gawe rusak ing tatanan. Lan ngakuo yen sejatine kowe kuwi ora mampu dadi adipati, hayo coba sak iki tontonen, pemerintahan tambah rusak bubrah, tatanan kenegaraan, tatanan pemerintahan, tatanan surat-menyurat, tatanan jabatan, kabeh wis rusak mblasah ora karu-karuan, iki malah kowe gawe istana pribadi nganggo kayu jati sing olehmu ngrampas, lan kowe sak iki agawe rusaking pawiyatan pendidikan, kumowani nganggo gelar tukon, opo iki sing jenenge adipati sejati kaya sing wis mbok obral ning endi-endi… coba kae delengen, rakyatmu urip kesrakat, coba kae gagasen, pikiren… wong pinter podho thenger-thenger awit ora bisa ngatur negara yen ora biso mbayar, awit ora duwe duwit….oalaaah Teroooong…Terong!”
“Sik Truk!!!, interupsi Truk!!!”
“Ach! Mbuh!!, ra ngurus!!!”
“Eling Truk!!!, Eling Truk!!”
“Iyo !, ngopo?”
“Percuma kowe , milara, arepa mbok intrograsi nganti mecetet, ora bakal klakon bisa nggagas, bisa mikir…sebab pikirane cupet…opo maneh nggagas negara…oh ora kuwat Truk!!, keduwuren…”
“Bener Reng!, oh iyo aku ngke omong opo???”
“Lhadalah, kowe sak iki ketularan penyakite to???”
“Bener Reng… ujug-ujug aku melu kemplo… koyo buto Terong”
“Yo ngono kuwi akibate, yen pemimpine kemplo…oh kabeh menyesuaikan diri dadi aparat kemplo, awit sing dijak komunikasi ugo kemplo, dadi wis pas yen para aparat kadipaten dadi kemplo kabeh…”
“Oalaaaah Gusti!... bener omonganmu Reng!”

(Warning: Cerita ini adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, waktu, dan peristiwa itu hanya kebetulan saja. Jika ada yang tersinggung, marah, apalagi ngamuk, itu berarti pernah, atau sedang melakukan perbuatan itu!!!)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar