Kamis, 08 Juli 2010

Badaring Bathari Wilutama Ki Setyo Handono

Ujian nasional telah lenyap dari ingatan para juru mudi pendidikan di Giyantipura. Euforia yang melimpahruah telah melupakan makna senyatanya dari pendidikan itu sendiri. Target kepala sekolah, kepala dinas, dan menteri adalah meluluskan anak sebanyak-banyaknya. Soal mutu, anak mau jadi apa, seakan luput dari teropong mereka. Mereka hanya ingin jabatan dan penghasilannya aman. Itulah kondisi pendidikan Giyantipura yang sudah berada dalam jurang kehancuran.
Sementara itu, perjalanan Raden Samba telah sampai di hutan Sukun, Pulung. Langkahnya nampak lunglai, wajahnya semakin kusut, perutnya merasakann lapar hingga merasakan pedih di ulu hatinya. Raden Samba nampak kelelahan, ia segera menghentikan langkahnya. Ia duduk di bawah pohon Gurda yang masih nampak kokoh, besar dan rindang. Ia memutuskan untuk bersemadi di sana.
Tidak beberapa lama, awan tiba-tiba gelap. Raden Samba nampak gugup dan takut. Maklumlah ia ndak biasa bertapa di tengah hutan. Paling kalau ia semedi pun sering ia lakukan di dalam kamarnya. Itu pun masih harus diiringi musik instrumentalia ’Silk Road’ yang membuatnya tertidur pulas. Tapi kali ini suasananya benar-benar berbeda. Ia berada di dalam hutan yang masih benar-benar virgin. Tidak ada tv, radio, apalagi internet. La wong signyal saja lemah sekali kok. Maka, nampaknya tidak ada plihan lain, kecuali ia harus memutuskan ’ndhaprok’ pura-pura semedi di bawah pohon Gurdha tersebut.
”Wah, gawat !, pohonya terlihat angker nich, banyak nyamuk lagi. Ah, peduli amir, pokoknya aku akan semedi ndik sini, kalau toh aku mati dimakan harimau, terserahlah, pikiranku sekarang lagi kacau, lagi suntuk ’impen-impenen’ dengan Dewi Haknyanawati yang kinyis-kinyis menggoda hatiku...” desah Raden Samba sambil menggelar selembar koran untuk alas duduknya.
Raden Samba segera duduk bersimpuh, sekejap-sekejap matanya terkesiap bangun. Hatinya berdebar-debar tatkala mendengar suara gemertak atau daun runtuh dan ranting-ranting yang patah. Hati dan pikiran Raden Samba benar-benar kalut dan takut. Bulu githoknya berdiri mengejang. Rasa percaya dirinya telah lenyap. Ia nampak menutup telinga dan wajahnya. Ndak mau rasanya ia berlama-lama di dalam hutan, ndak ada fasilitas komunikasi canggih di sana. Adanya cuma nyamuk dan serangga malam.
Raden Samba nampak berniat mengurungkan semedinya. Koran alas duduknya ia tinggalkan kusut berserakan, di bawah pohon Gurdha. Ia melangkah gontai berjalan menepi, ingin keluar dari dalam hutan. Namun baru saja kakinya beranjak, tiba-tiba dari kegelapan muncul bayangan binatang buas menghampiri dirinya. Raden Samba spontan berteriak ketakutan, ia lari terbirit-birit menerjang apa saja yang ada di depannya.
”Haumm....haummm, grrrrrrm”
”Wis, macan...., aku nyerah , terkamlah tubuhku, koyak-koyaklah kulitku, nggak ada gunanya aku hidup berlama-lama tanpa Haknyanawati... nyoh iki tubuhku, makanlah.... nyoh iki kepalaku.... klethak-en....”
Berkali-kali Raden Samba menyerahkan dirinya. Namun harimau raksasa yang ada di depannya nampak diam termangu ndak mau menerkam dirinya.
”Ya wis macan, yen kamu ndak mau menerkam diriku, baiklah..., sekarang aku akan memanah tubuhmu, nyoh ini rasakan.... jprettt!! ”
Tepat, anak panah menancap pada ulu hati harimau. Tubuhnya menggelepar jatuh di tanah. Dari lobang anak panah yang menancap tiba-tiba mengepul asap putih yang menggumpal seperti bayangan manusia....
”Hong wilaheng sekaring bawana peteng.... putra ulun ngger Samba.....”
”Lho !.... lho!, panjenengan sinten, Bethari??”
”Iya, ngger Samba, ulun iki Bathari Wilutama...”
”Lho, ingkang menjelma macan tadi siapa?”
”Lhooo, ya iya ulun ini ta ngger.....”
”Lho kok ....”
”Wis ... jeneng kita ra sah tekon sekarang, suk minggu ngarep wae tak jelasne”

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar