Kamis, 08 Juli 2010

Wolak-waliking Zaman

Pemilu Kada telah menyisakan kepedihan dan kegembiraan. Bagi yang kalah taruhannya adalah malu, hutang, bahkan jabatannya melayang. Sebaliknya bagi yang menang, hutang, dan kursi jabatan terus bergoyang. Ibarat orang memanjat pohon kelapa maka angin dan badai silih berganti menerpanya. Dan semakin orang tinggi memanjat (duduk menjabat) maka pantatnya semakin kentara amat jelas. Wajah ganteng/ kecantikannya hilang. Untuk itu angin dan badai tak seindah ketika ia membalik rok wanita cantik. Jadi penguasa tak seindah melihat aurat wanita cantik.

Jangkaning Jayabaya dalam serat Sasmita Kaliyuga sudah meramalkan, Mbesuk wolak-waliking jaman bakal tumeka. Ratu dadi Kawula, kawula dadi Ratu. Bupati dadi rakyat. Artinya jaman ini sudah terbukti bahwa rakyat jelata akan menjadi pemimpin, pemimpin akan menjadi rakyat. Yang ber-SDM rendah akan menjadi pemimpin, sedangkan yang profesional akan tersingkir. Demikian halnya dengan jabatan bupati, akan tiba masanya di mana orang besar ; seperti bupati dijatuhkan dan rakyat jelata memimpin panggung politik di sebuah negara. Maka dapat dibayangkan apa jadinya dunia jika yang memimpin adalah orang yang tidak menguasai bidangnya. Kata Nabi, tunggulah kehancurannya.
Itulah kisah nyata di negeri Giyantipura. Sebuah fenomena yang telah hadir menghias mayapada. Sing jirih ketindih, Sing waras tambah nggragas,wong tani ditaleni, wong dora (seneng apus-apus) ura-ura (memberi wejangan dan dikagumi, disanjung, diberi jabatan) wong suci (jujur, takwa, berilmu)bilahi (mendapat tempat yang hina). Sedangkan wong adol duwit (menyuap untuk mendapatkan dukungan, keselamatan, untuk jabatannya) tambah laris. Sing mendele (bodoh, dan pinter omong) dadi gedhe,Sing nyekel banda lan panguasa nanging uripe sengasara, wusana bakal ana wong mati keliren ing sisihing pangan. Itulah ramalan jaman Kaliyuga yang diramalkan Jayabaya, jauh sebelum pemilu kada terjadi.
Memang!, jabatan adalah pekerjaannya nafsu manusia yang selalu melupakan dirinya. Jabatan politis sekedar analisa bisnis, mistis, ketokohan, keserakahan, dan harga diri. Mereka lupa dengan kekurangan dirinya. Akibatnya persis seperti tayangan ’tukar nasib’. Ketika berada di depan beneran, mereka tidak nyambung sama sekali dengan profesi yang tengah dilakoninya. Mereka nampak culun, lucu, wagu, dan jadi bahan ejekan. Malu????. Ah, siapa yang malu nggak bakalan dapat uang saku, itulah senjata pamungkasku.
Lebih jauh Jayabaya meramalkan; Si Bengkong gawe Gedhong.Si Begal padha ndugal, Si rampok padha keplok. Si bengkong adalah tamsil bagi orang yang suka berbuat curang, tidak jujur, pinter umuk, omong kosong, keminter, dsb. Mereka merasa paling hebat, paling berpengaruh, sok ramah, sok memasyarakat. Dalam hal ini Jayabaya mengatakan; Akeh wong ngaku-aku, njabane putih njerone dhadhu. Bahkan kalau perlu beli identitas lewat jalan pintas. Mulai ijazah hingga gelar. Tak heran jika di kemudian muncul problema Wong salah bungah, wong apik ditampik-tampik. Wong agung kasinggung (terbuang) wong ala kapuja (mendapat tempat terhormat) yang terjadi kemudian adalah lahirnya penguasa yang tidak menguasai profesinya. Pidatonya tidak ilmiah, tidak nyambung, dan itu-itu saja yang diomongkan. Itulah hebatnya demokrasi. Jabatan selalu berkonotasi dengan banyak kepentingan. Jangan pilih yang kuat dan cerdas, sebab dia akan menghalangi kepentingannya. Maka carilah pemimpin yang lemah, sebab mereka akan mudah kita kendalikan. Rebutlah kemenangan dengan membeli dengan harga yang lebih tinggi dari calon yang telah memberi. Rakyat pasti berpaling dengan harga yang tinggi.
Itulah genderang demokrasi yang tengah terjadi di negeri Giyantipura. Rakyat telah direcoki ’monkey dan money politik’. Mereka adalah badut-badut serakah yang bergelut memperebutkan harta kekuasaan. Wajahnya ramah, menawarkan ribuan berkah kepada masyarakat lemah. Senyumnya mempesona, bagaikan bulan purnama yang menyinari alam semesta. Pujanya berupa mantra obral janji. Bunganya berupa mimpi-mimpi perubahan, perbaikan dan kemajuan bersama bidadari merangsang mirip artis Cut.....BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar