Kamis, 08 Juli 2010

Oalah Cagak...cagak

Mendung pekat terlihat menggelayut merambah angkasa ngawiyat. Prabu Bomanarakasura nampak menapak gontai, melangkah menuju kahyangan Ekopratala, di mana ibunda Dewi Pertiwi bermukim di sana. Wajahnya nampak kusut, busananya nampak lusuh, dan rambutnya kelihatan tidak rapi lagi.Sementara uang sakunya tinggal beberapa perak saja. Maklum beberapa jam sebelum ia berangkat,ternyata uang cadangan di ATM ludes digarong orang. Ia hanya cengar-cengir menahan air liur melihat ada penjual bubur ayam kesukaannya lewat di depannya. Ia nampak bertahan menahan lapar sambil memegangi perutnya yang terdengar ’kemrucuk’. ”Ah sebentar lagi nyampai rumah, kok” batinnya menghibur.
Benar!, hanya sekejap saja Prabu Bomanarakasura sudah nyampai di dasar bumi lapisan pertama. Lumayan nggak terlalu dalam, tapi bebas dari gempa dan serangan-serangan tikus yang membahayakan. Jleg!, tiba-tiba tubuh tambun itu sudah berada di teritorial Ekopratala. Mata Prabu Bomanarakasura nampak ’kamitenggengan’ melihat pembangunan di kahyangan Ekapratala yang terkesan pesat. Namun perkembangan itu tidak diimbangi oleh kemajuan akidah sebagian masyarakatnya. Terbukti, banyak dari kalangan mereka yang masih mempercayai karomah dari seorang tokoh yang meninggal dunia. Mereka berbondong-bondong menyembah-nyembah kuburan dan mengambil sebagian tanah makam, kembang boreh dan bekas-bekas benda milik almarhum, digunakan untuk berbagai keperluan. Itulah keyakinan beragama mereka. Mereka terus mengembangkan agama dengan beragam asumsi-asumsi belaka. Sehingga nyaris agama yang disandangnya bergeser menjadi sebuah asumsi-asumsi yang menyesatkan tanpa dasar yang kuat. Maka ATM, merupakan kepanjangan Akidah Tanah Makam, sebuah keyakinan yang timbul dari pengkultusan tokoh sehingga mereka yakin kepada tanah makam di mana seorang tokoh bersemayam di dalamnya, walau ia sudah meninggal maka Arwahnya Tetap Manfaat, termasuk tanah, kembang boreh, dan apa saja yang pernah disentuh oleh sang tokoh tersebut. Mereka yakin kalau benda-benda tersebut dapat menyembuhkan, dapat membantu doa, dan dapat menolong di akhirat kelak.
Sementara itu tidak jauh dari pusat pemerintahan kahyangan Ekopratala, di sana berdiri megah sebuah perguruan tinggi dengan Anjungan Tamiya Mandiri, gedung mirip dengan sircuit mobil tamiya. Juga Anjungan Tanpa Musyawarah, alias sebuah gedung dengan konstruksi jalan tol yang dibangun secara sefihak tanpa melalui prosedur yang benar. Dan kini telah melahirkan opini kontraversional yang berkepanjangan. Bahkan kalau hujan Anjungan menjadi Trocoh Mubeng, alias basah semua. Akhirnya Anjungan Tanpa Manfaat, sebab ketika para mahasiswa berteduh di bawahnya maka mereka basah semua. Bahkan panitia pengajian Akhad Pagi-pun dibuat kebingungan. Sudah berkali-kali mereka harus boyong, memindah jamaah, namun ruangan mewah bernuansa casing tersebut ternyata tidak bisa memenuhi harapan. ”Majlis taklim kok membelakangi masjid” begitulah komentar sebagian jamaah.
Panitia gundah hatinya, semua gara-gara tujuh belas cagak yang berdiri berjajar menutupi podium . Konon tujuhbelas cagak adalah lambang sakral ’rakaat sholat’. Bahkan 17 cagak tersebutlah yang konsisten menjalankan amanat rektor tentang sholat berjamaah. Mereka selalu hadir tepat waktu, walau cuma berdiri kaku di halaman masjid. Mereka adalah figur –figur lambang yang melambangkan kondisi kampus yang sesungguhnya. Kelihatanya saja kompak tetapi kenyataannya ya seperti cagak-cagak tersebut. Mereka tak pernah bergandengan tangan, silaturahim, musyawarah, dan saling membantu menyejahterakan sesama. Mereka ya persis seperti cagak-cagak itu. Diam, angkuh, bergerak sendiri-sendiri, berasumsi sendiri-sendiri, dan mengeluarkan kebijakan atas inisiatif pribadi sendiri. Bahkan sekarang ada empat lampu yang mati di dalamnya. Pemaknaannya, apakah empat pejabat juga sudah mati juga???, ataukah pemaknaan rakaat menjadi berkurang empat?. Lambang bisa ditafsirkan macam-macam. Terserah siapa yang menafsirkan.
Yang jelas cagak adalah tetap cagak. Sebuah bangunan yang hanya diam membisu yang mewakili pemborosan alias berdiri hanya sekedar ’casing’ alias hiasan semata. Mereka secara manfaati, sama sekali jauh darinya. Jika itu merupakan lambang, maka sama dengan sholatnya diam terpaku, sholatnya orang yang sedang sakit pinggang, atau tujuh belas prajurit yang tengah menjaga sandal jamaah. Karena mereka berhenti di halaman saja??.
”Ah persyetan dengan cagak, ora ngurus, sak karepmu, aku arep mbacutke laku wae!” sergah Prabu Boma jengkel dengan keadaan kampus di Ekapratala. Ibarat orang sakit tidak diberi obat tetapi malah dibelikan bedak, baju, dan rumah mewah. Sakitnya tidak sembuh tetapi kejiwaannya semakin guncang menanggung hutang yang kian menggunung.
”Ulun wespadakake iki kaya putra ulun, Boma....”
”Nun inggih ibu..., sembah pangabekti kula konjuk”
”Iya ngger, ibu tampa sembah bektimu”
”Inggih, ibu ”
”Ora ngono n gger, kowe kok njanur gunung, ora ibu timbali kok ngabyantara ana kene, ana perlu apa ngger?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar