Kamis, 08 Juli 2010

Bagaikan Jasad tanpa Roh Ki Setyo Handono

Astana Gadamadana nampak lengang. Angin dingin terasa pelan menyapa kulit. Udara panas semilir membahana mengabarkan mendung kelam siap menebarkan rinai hujan yang beberapa hari ini tak kunjung membasahi hamparan ilalang yang terlihat layu di bumi Astana Gadamadana. Sementara di kaki bukit terlihat sebuah negeri yang terlihat bagaikan kota mati. Korupsi di sana bagaikan budaya yang telah terpatri menjadi jatidiri. Mulai maling, begal, kecu, apus-apus, glembuk, gendam, riak, pamer, iri hati, semena-mena telah biasa dilakukan. Ibaratnya kalau ada pejabat- mulai dari RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, kepala sekolah, rektor, tentara, polisi, satpam, hansip, dan sebagainya- bagaikan jasad tanpa roh.
Sang Prabu Baladewa, ya Prabu Mandura yang menguasai negeri berantakan itu nampak bangga memamerkan tiga piagam penghargaan kepada wartawan yang diundang ke kantornya. ”Negeri ini semenjak saya jadi raja, banyak prestasi dan perkembangan yang luar biasa. Ini semua karena saya bertangan dingin, coba kalau tangan saya sudah panas, maka sampeyan akan takjub, negeri ini akan saya sulap menjadi negeri fantasi, mengalahkan negeri-negeri kumuh yang ada di dunia ini” pungkasnya sambil menunjukkan segebok piagam mulai dari Pukulun Narada, Pukulun Ganhesa, ketika wartawan ’menyondrek-nya’.
Memang!, sang prabu adalah tipikal narendra ’bertangan dingin’. Betapa tidak, prestasi orang lain, proposal orang lain, hak-hak orang lain, dan lahan orang lain, sering diserobotnya, kemudian diakui sebagai prestasinya. Hal itu dilakukannya dengan dingin-dingin saja. Itulah kenapa beliau sering mendapatkan gelar narendra bertangan dingin. Tak heran jika ketika dia muncul memamerkan segudang prestasinya, orang-orang bawahannya nampak dingin-dingin saja. ”Negeri ini jika tanpa saya, ibaratnya bagaikan badan tanpa roh” pungkasnya sambil mengakhiri wawancaranya. ”Wis omonga sak karepmu, sing penting aku entuk duwit” batin sang wartawan Trajutrisna -sambil mengantongi amplop-, ngeloyor pamit keluar.
Sementara itu kita lihat kembali Raden Samba yang tengah terkagum-kagum memnadangi sepasang patung yang tergolek di pasarehan Gadamadana.
”Ya, beginilah Samba, patung ini adalah jilmaan Bathara Wulan Derma dan Bathari Wulan Dermi yang dikutuk oleh Dewa akibat hubungan badan...”
”Lho kok saget kakang?”
”Hiya Samba, keduanya adalah sebenarnya kakak beradik seayah dan seibu. Karena waktu itu mereka tinggal serumah. Ia ditinggalkan oleh ayah dan ibunya yang bernama Bathara Darma, pergi melaksanakan dakwah kadewatan di luar daerah selama bertahun-tahun. Oleh karenanya ketika mereka menginjak dewasa, pengaruh kehidupan global itu menyeruak mempengaruhi hidupnya. Ayahnya hanya sempat ngasih fasilitas semisal uang, hp, laptop, komputer, internet, sepeda motor, rumah mewah, dan mobil. Nah inilah yang kemudian kasih sayang dari orang tuanya dalam tanda kutip, tidak terpenuhi. Internet dengan situs-situs porno-nya telah mengajari keduanya untuk hidup bebas. Bebas tidak berbusana dan bebas melakukan hubungan layaknya suami dan istri. Nah dari sinilah, keduanya ’konangan’ satpol PP yang tengah mendapatkan laporan dari tetangga sekitarnya. Kemudian oleh dewa keduanya dimasukkan sel, dan dipidana menjadi sepasang patung itu...”
”Wah, lha wong penak-penak dadi dewa trima dadi patung. Padahal dewa itu kan tempatnya kesusilaan, tempatnya kemuliaan, tapi kok bisa terjadi kakang”
”Itulah Samba, orang itu kalau sedang dikuasai oleh hawa nafsu, maka tak peduli siapa dia, apakah dewa, atau siapapun, ia akan terkulai menuruti nafsunya. Oleh karena itu aku sekali lagi mengingatkanmu, buanglah rasa cintamu dengan Kakang mbok Haknyanawati. Ingatlah bahwa dia itu sudah menjadi istri sah kakang Boma. Jangan kau mengotori air yang jernih, dan jangan kau merusak pager ayu., Kau itu anak narendra Dwarawati, jagalah nama baik ayahnda prabu......”
”Ha.. ha..ha..., kakang Gunadewa, orang itu kalau tengah jatuh cinta, semua menjadi gelap. Nasihat-nasihat tiada berguna lagi. Ibaratnya kalau hidupku tanpa Kakangmbok Haknyanwati, bagaikan jasat tanpa roh ..... pilih mati kakang !!” BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar