Kamis, 08 Juli 2010

Markus dan Cafe Mesum

Satu per satu pencoleng yang menggerogoti perekonomian bangsa berhasil diungkap oleh segelintir orang yang terluka hatinya akibat dendam jabatan. Ya !, ia adalah seorang jendral polisi negeri Giyantipura. Walau sebenarnya polisi di negeri itu sudah terkenal ’busuk’ sejak dahulu kala. Namun selama ini seakan aparat penegak hukum itu tidak pernah tersentuh oleh kritik dan sentuhan hukum, sehingga nyaris kebejatan korps mereka seperti langgeng ditelan oleh jaman. Namun ada pepatah, se rapi-rapinya bangkai disimpan, maka bau itu pasti tercium juga. Demikian juga kebusukan polisi Giyantipura akhirnya ya mobal alias membahana bau tak sedapnya. Bahkan kebrutalannya melebihi perampok ataupun teroris di negeri ini. Bayangkan saja, setiap orang yang berperkara- walau kalau dinalar sebenarnya korps ini tidak dirugikan- pasti deh urusan duwitnya semakin panjang. Makanya polisi di sini merupakan kepanjangan dari Perkara Orang Lain Sebagai Incam, alias polisi senengnya bukan kepalang kalau ada masalah hukum yang menimpa rakyat yang diayominya. Sebab dengan adanya sebuah perkara, maka Kasih Uang Habis Perkara. Hukum; Hubungi Aku Kasih Uangmu, Mulus. Hakim; Hubungi Aku Kalau Ingin Menang. Jaksa; Mengajak Secara Paksa.
Kenyataannya sudah menjadi rahasia umum, mereka adalah makelar-makelar kasus, yang akan menjerat masalah masyarakat menjadi ’komoditi’ yang akan mempertebal kantong pribadinya. Bayangkan saja, pada suatu hari Raden Samba ketika itu tengah njagrag sepedanya di pinggir jalan, tiba-tiba tanahnya ambles, sepedahnya roboh. Priiit !!, polisi memberi tilang, sepedahnya dibawa ke kantor polisi, polisi minta uang untuk membebaskan motornya yang dibwanya. Ancamnya; ”Anda pilih sidang apa pilih aman, kalau pilih aman sediakan uang sekian” kata polisi sambil menunjukkan tiga jari telunjuknya. Itu soal yang biasa di kepolisian Giyantipura. Belum yang lainnya. Tak terhitung jumlahnya. Maka jangan heran jika ’pendapatan’ mereka melebihi tentara. Rumahnya megah, mobilnya mewah. Tanahnya luas, dan hidupnya bergelimang harta.
Biasalah komandan selalu minta jatah dari prjurit bawahnya. Itu sudah biasa bagi korps kepolisian Giyantipura. Mereka sudah membentuk link, atau mafia hukum, mafia politik, mafia perdagangan, mafia mesum, dan sebagainya. Tak heran jika apresiasi masyarakat pada mereka begitu rendah. Ya, semua karena ulah mereka sendiri. Maka jangan heran kalau kebejatan di negeri Giyantipura ini semakin menjadi. Kata kuncinya adalah polisi yang mengawali.
Sekarang kondisinya berbalik. Pas !, kata pakar kesehatan, bahwa orang sakit 90% akibat dari pikirannya sendiri yang salah. Jadi kalau jaksa dan polisi sakit ya semua itu juga karena ulahnya sendiri. Maka yang mempu mengobati ya mereka sendirilah. Sebab kalau orang lain yang mengobati/mengkoreksi penyakitnya, maka perbuatan itu pasti dibelokkan menjadi kasus hukum; mulai pencemaran nama baik hingga subversif. Satu per satu orang kritis itu mesti hidupnya semakin kritis. Lenyaplah mereka selama-lamanya.

Begitulah polisi di negeri Giyantipura, mereka melakukan mafia hukum dengan membuat perselingkuhan abadi di kafe mesum pinggir jalan. Mereka tidak mempunyai rasa malu lagi. Di tempat sepi oke, di keramaianpun aman. Itulah kafe mesum yang tidak bisa diusik oleh orang awam.
Baiklah kita tinggalkan dulu, polisi Giyantipura yang sedang manastisi akibat pisaunya mengenai dirinya sendiri. Kini kita lihat Raden Gunadewa yang kecewa dengan adiknya yang bernama Raden Samba.
Dia nampak pusing kepalanya. Padahal upaya untuk menyembuhkannya sudah diupayakan hingga negeri China lho. Tapi dasar anak yang nggak tahu diuntung. Sudah memakan biaya banyak tak juga diperoleh hasilnya. Eee... kemarin sore malah ngumpat-ngumpat Sin She-nya
”Gimana sih !!, Anda itu ndak propesional!!!, masak udah dibayar mahal-mahal.. status kesehatanku ndak naik-naik pangkat jadi lebih sehat. Sudah!!, tutup saja praktik pengobatanmu!!! Anda ndak propesional blas...”
Kontan seluruh korps Sin She se Tiongkok, kebakaran jenggotnya. Mereka naik pitam. Ra trima. Dirinya direndahkan, dihina dan dicacimaki. Kemudian merekapun segera nlepon Sang Gunadewa.
Sang Gunadewa-pun menjadi gerah hatinya. Sore harinya ia membawa ’tanda diam’ beberapa bungkus sate dan makan khas Giyantipura dipersembahkan pada mereka.
Bagaimana kisah selanjutnya, kita lihat di TKP !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar