Kamis, 08 Juli 2010

Perkelahian antara Setyaki dan Ditya Satrutapa tak bisa dihindarkan lagi. Ibaratnya bagaikan pertarungan antara cicak dengan buaya, semut dengan gajah, dan rektor melawan karyawan yang tidak berdaya. Sang Raksasa alias sang penguasa lebih didominasi oleh hawa nafsu untuk sekedar menutupi keculasan dan kerakusannya. Ditya Satrutapa sebagai pembantu raja (PR) 2 bagaikan orang yang kemaruk kekuasaan. Modusnya menggantung nasib bawahannya, alasannya menegakkan aturan permainan, ujung-ujungnya adalah ingin menyingkirkan orang-orang yang dianggap mengganggu jabatannya.
Trajutrisna kini benar-benar telah dikuasai oleh hawa nafsu selingkuh yang dikobarkan oleh Dewi Haknyanawati akibat dari kekurangpuasannya atas pernikahannya dengan Prabu Bomanarakasura. Sebagai ungkapan kejengkelannya itulah kemudian mempengaruhi Sang Prabu untuk mengeluarkan kebijakan ’ngawu-awu’ agar dibuatkan jalan tol antara Giyantipura hingga Trajutrisna. Proyek ngawur, yang tidak memberikan manfaat, kecuali keuntungan pribadi untuk memudahkan jalur selingkuhnya dengan Raden Samba.
Begitulah potret politik tingkat tinggi ala John Perkins yang berhasil diterapkan oleh Haknyanawati untuk mengelabuhi dan ngapusi para penguasa Trajutrisna agar dana yang ada di kas negara bisa mencair sehingga nafsu rakusnya bisa terpenuhi.
Sementara itu jauh dari pengamatan kita, tepatnya di puncak Astana Gadamadana tinggallah seorang ksatria, putra Prabu Kresna yang bernama Raden Gunadewa. Seorang ksatriya yang terlahir dari perkawinan Prabu Kresna dengan Dewi Jembawati. Dia terlahir cacat. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu seperti kera. Oleh karenanya ketika usianya menginjak dewasa, ia meninggalkan istana Dwarawati, untuk bertapa di tempat sepi, memohon kekuatan Dewa agar kelainan tubuhnya disembuhkan.
Pagi itu kebetulan Raden Gunadewa tengah menyalakan dupa untuk sarana ritualnya, namun tiba-tiba datanglah Raden Samba. Keduanya langsung berpelukan.
”Samba, padha raharja tekamu?”
”Pangestu paduka kangmas”
”Ayo silakan duduk dulu”
”Injih kangmas”
”Ndak sawang wiwit dari undak-undakan Astana Gadamadana sing kawitan, aku nyawang pasuryanmu katon sungkawa, sedih yang sangat mendalam. Ada apa Samba?”
”Kasinggihan kakang, kula nembe lara branta, jatuh cinta dengan seseorang yang telah bersuami”
”Lho!!, kepriye larah-larahe?”
”Inggih kakang, nalika semanten kula andherekaken Kakang Prabu Boma dhaup jadi manten di Giyantipura. Begitu manten jemuk, aku sama adimas Setyaka mengapit kedua mempelai. Namun ketika manten putri, yaitu Kakangmbok Haknyanawati datang, tiba-tiba memluk dan menyambah diriku. Aku kaget dan heran bukan kepalang. Aku bagaikan melihat bidadari yang tengah membangun taman asmara di dalam hatiku. Tiba-tiba birahiku meluap menyambut ’vitamin’ gratis yang menghunjam tubuhku. Aku membalas memeluknya erat-erat. Kontan seluruh undangan manten menjadi terheran-heran. Bahkan aku sempat dishoting oleh kru tv gosip, wah saya menjadi pembicaraan banyak orang”
”Terus apa yang kau rasakan sekarang?”
”Itulah kakang, sekarang aku tidak enak makan dan tidak enak tidur. Wajah Dewi Haknyanawati, selalau hadir menggoda hari-hariku. Aku lara wuyung, kedanan garwane kakang Prabu Bomanarakasura, bahkan dia selalu SMS setiap hari. Membuat hatiku menjadi semakin teredan-edan”
Raden Gunodewa nampak bersedih, naluri sucinya menentang sikap adiknya yang telah melanggar norma-norma susila.
”Samba?”
”Iya kakang”
”Aku mengingatkan kepadamu, hilangkan niatmu untuk berhubungan dengan Kakangmbok Haknyanawati, elinga dimas, itu semua akan mendapatkan siku dan sikara, yang menyebabkan hidupmu sengsara”
”Tapi kakang, aku telah berusaha untuk melupakan Kakangmbok Haknyanawati, namun usaha itu tidak bisa sama sekali. Bahkan bayangan itu menjadi semakin jelas, aku telah terbelenggu wajah yang cantik bagaikan bidadari. Haknyawati telah bersumpah untuk hidup bersamaku kakang”
”Samba, sekali lagi aku mengingatkan, bahwa kamu adalah anak raja Dwarawati. Putra Narendra yang harus menjaga nama baik ayahnda. Untuk itu janganlah kamu meninggalkan angger-angger yang telah ditetapkan”
Raden Samba seakan tidak mau mendengarkan nasihat kakaknya. Dia terlihat berjalan-jalan di sekitar pertapan Asatana Gadamadana. Namun ketika ia berada di samping kanan Sang Gunadewa, tiba-tiba matanya menatap sepasang arca.
”Kakang?, ini arcanya siapa kok kelihatan cantik seperti Haknyanawati?”
”Itulah yang akan saya ceritakan kepadamu. Sudahlah kamu istirahat dulu, aku akan bersemadi setengah jam saja. Nanti aku ceritakan kisah sepasang arca tersebut”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar