Kamis, 08 Juli 2010

CABUP (Calon Bubrah Pikirane) Ki Setyo Handono

Riris harda palwa nuting ranu, oooong dres ing karsaningsun dening kanyut , ling ira Gusti, wohing kamal mirah ingsun, ooong... esemira duking uni, ooong sidat agunging narmada sajroning aguling pangucaping janma nendra teka tansah dadi linduran kewala ooong...
Salah satu tokoh penting yang menanam budaya korupsi di negeri Trajutrisna adalah Raden John Perkins. Tokoh wayang mancanegara yang gentayangan di negeri ini dengan jaringan korporatokrasi, sebuah kejahatan yang bertujuan memetik laba melalui korupsi. Tugas Raden Perkins adalah menyusup dan membujuk pejabat-pejabat negara seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, lurah, rektor, kepala sekolah, kepala dinas, hingga perorangan yang dipandang bisa diajak kerjasama, seperti tokoh agama; ulama, biksu, pendeta, BPH, dll. Mereka dipaksa untuk mau melayani kebijakan-kebijakan pribadinya dengan menghadiahkan kemewahan, proyek-proyek, dan kontrak-kontrak politis berupa jabatan-jabatan struktural. Perkins sangat berambisi menguasai dan mengendalikan dunia.
Pada masa awal kepemimpinannya Prabu Bomanarakasura di Trajutrisna, Parkins dan bandit ekonomi lainnya mendapatkan kesempatan berkuasa di sebuah universitas swasta Trajutrisna. Bahkan Parkins menuai sukses besar. Mereka dinyatakan lulus sebagai bandit ekonomi dan politisi dengan menaklukkan Bagindha Putri Haknyanawati (BPH) dan Penguasa Daerah Mandura (PDM). Mereka sengaja kongkalikong dengan kedua tokoh tersebut dalam rangka memperkaya diri dan koleganya agar mereka tetap royal kepada korporatokrasinya. Hutang yang menggunung akan semakin menguntungkan persekongkolan itu.
Dalam menjalankan aksinya, Parkins bekerja keras membuat laporan proyek-proyek fiktif untuk IMF dan World Bank agar mau mengucurkan hutang yang tidak mungkin mampu dibayar Prabu Bomanarakasura. Tujuan utamanya cukup jelas (selain untuk mengelabuhi masyarakat terhadap kemegahan bangunan) Perkin mengharapkan agar tampuk kepemimpinannya bisa diperpanjang, sehingga jalinan korporatokrasi itu tetap berjalan langgeng. Bahkan kini terbetik kabar ada 30 proyek dari seorang politisi yang bakal mengucur ke Trajutrisna. Kesempatan itu tentu saja digenggam erat untuk ’tebar pesona’ sambil membusungkan dada ”ini lho perjuanganku, jerih payahku, hebat kan?”
Begitulah sejarah perjalanan korupsi di Trajutrisna. Dan hasilnya kini terasa juga di lembaga mulia yang namanya lembaga pendidikan dan birokrasi. Di lembaga pendidikan tidak jarang kita jumpai praktik korupsi dan manipulasi. Kasus ulangan umum bersama adalah contoh kecil betapa MKKS yang notabene sebagai pencerah terselenggaranya KTSP secara utuh dan mantab, justru menjadi korporatokrasi yang manghambat dan menghancurkan makna KTSP itu sendiri. Wong KTSP kok ada ulangan bersama? Paham nggak sih mereka itu? Dan masyarakatpun mencibir, pastilah mereka hanya untuk mencari keuntungan semata dari ulangan umum bersama itu. Atau barangkali pengawasnya menderita penyakit rabun ?.
Demikian juga dengan birokrasinya. Mereka berangkat dari parpol yang penuh dengan politikus, alias tikus-tikus yang mengusung botoh-botoh judi. Merekapun kini terlilit hutang yang menggunung. Pikirannya hanya berupaya bagaimana modalnya bisa kembali. Oleh karena itu tidak cukup satu periode saja untuk menutupi kekurangan itu. Dan kini kesempatan untuk mendaftar kembali menjadi CABUP. Segala upaya dilakukan, yang penting cita-citanya tercapai. Maka tidak jarang cabub adalah calon bubrah pikirannya. Daftar saja kalau ndak percaya!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar