Selasa, 23 Juni 2009

Aji Serat Merah 08660666 Ki Setyo Handono

Pertempuran sengit tidak bisa dihindari lagi. Ki Lurah Badranaya trampil trengginas ketika menghadapi musuh-musuhnya. Tidak seperti kebanyakan orang tua di Saptaarga, Ki Lurah Semar walau sudah berumur lumayan uzur, tapi beliau ndak pernah mengeluhkan penyakit seperti keju linu, stroke, nyeri sendi, diabetes, kanker, mata katarak, alergi, bisul, apalagi jerawatan, semuanya ndak pernah sama sekali. Inilah barangkali konsep tradisional ala ndeso, yang selalu diugemi oleh Ki Lurah Badranaya di sepanjang hidupnya. Konsepnya sederhana, yaitu makan sebelum lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. Menunya serba alami, ndak pakai bumbu kimia, seperti penyedap rasa, boraks, potas, baygon, nuklir, uranium, soda api, sodium nitrit, karbit, dan sebagainya. Di samping itu Ki Lurah Badranaya juga nglakoni tirakat (bukan ketingal rapi terus disikat), akan tetapi sebuah konsep ketat yang menjaga seluruh hawa rakusnya dengan meninggalkan bujukan-bujukan iblis dan demit yang menyaru sebagai duta kenikmatan sesaat.
Wasi Rajamala hanya plengggang-plenggong menyaksikan ulah Ki Nayantaka yang tidak gentar melawan dirinya. Dia sadar betul bahwa yang dihadapi adalah bukan orang sembarangan, tetapi makhluk yang sekelas dengan dewa atau wali. Jadi kalau Anda menyaksikan pertempuran kali ini, maka sebenarnya adalah perang saudara antara wali vs wali memperebutkan bendera, kursi, pengaruh, dan lauk pauk yang sama. Akan tetapi jika Anda jeli, maka hanya ada salah satu dewa sejati yang ada di sana, yaitu orang yang rendah hati, hidupnya sederhana, selalu menolong kepada sesama, tata tuturnya lemah lembut hati-hati, jujur, amanah, dan selalu berada di pihak yang benar, tidak menganggap dirinya dewa, kiai, orang besar ataupun apa saja yang mengharap agar dirinya dipuja ataupun disembah-sembah oleh orang lain, baik ketika masih hidup maupun kelak nanti sudah dimakamkan.
”Heh Semar !, apakah di dunia ini kekurangan anak muda yang lebih perkasa, apa cuma orang tua sepertimu yang berani maju mangadapiku, hayo kalau berani ajak semua preman-preman , perampok, para pencoleng di negeri ini , lawanlah aku bertiga ini ...”
”Auuuuh, mbregegeg ugeg..ugeg sakdulito hml...hml..., sumbarmu kaya-kayoa bisa njebolne gunung..., heh Rajamala !, apa mbok kira Semar bakal gigrik ngadepi kowe hiyo !!!, ah , no way..., hayo kalau berani jangan sumbarmu saja yang keluar, buktikan mana ajianmu yang kamu bilang tadi bisa mematikan orang jarak jauh ...”
”Oh , hiya Semar, ... ini adalah aji pamungkasku, namanya aji high tech, aku mendapatkan dari dewa tehnologi informatika, siapa saja yang menerima telepon atau SMS bakal mati kesetrum, kjet...kjet... terus muooodaaar ”
”Ah rumangsamu sing nggawe nyawa dan kehidupan itu apa kamu..., lha yen pancen tekdire mati pas telepon lha ya pancen mung tekan semono garise urip, jangan berpendapat mati karena telepon, tapi wis jadi kodrat..., kowe ojo nggawe kisruhe keyakinan penduduk Saptaarga kene, hayo yen pancen ajianmu itu bisa membunuhku jarak jauh , buktikan”
Wasi Rajamala segera merogoh kantong jubahnya. Diraihnya HP keluaran terbaru yang kelihatan teramat canggih, ada kamera, internet, televisi, sinar infra merah yang dapat untuk memotret organ tubuh wanita ketika berada di sekitarnya.......

”Nah Semar, lihatlah ini .....”
”Truk...Gong... Reng, coba thole delengen kae, Dewa iku yen kemajon gawanane HP, apa rumangsane yen wis bisa nggawe resahe penduduk terus marem apa piye ..”
”Kok nggawe resah iku piye ta Mo...”
”Lha iya, lha wong kirim SMS, jare aku oleh hadiah tujuhpuluhlima juta rupiah, karena berkat undian SMS yang ada di stasiun TV swasta, aneh !, lha wong romo ini gableg HP saja tidak, terus kirim SMS karo opo ?”
”Lha terus apa komentar sampeyan pak ?”, tanya Bagong, sambil mendongakkan wajahnya yang cebol
”Terus aku manggil anake Gareng, eh ngger reneo sebentar, ini simbah dapet SMS, tulung balesana...”
”Mbok balesi piye Mo ...”
”Tak kon nulis ngene thole ”Matur nuwun mas Bajingan, gandeng kula pun gadhah arta, pun hadian niku sampeyan untal piyambak ”
”Waah sampeyan itu nggak sopan Mo...”
”Lha yen kowe piye Truk ?”
”Lha nek aku, tak balesi ngene ’matur nuwun mas Bajingan, mbenjing injing sampeyan mang mriki, kula pethel ndas sampeyan....”
”Interupsi Mo !!, terus apa hubungannya si Rajamala dengan HP itu tadi ?”
”Oh iya Reng , dia pamer HP untuk mengeluarkan aji-aji Serat Merah 08660666, jare sapa sing nampa iku mau bakal mati kesetrum, piya kowe percaya apa ora....”
”Allaaaaah gombale mukiyo, hayo mo !, dicoba saja , seperti apa hebatnya ajian tersebut…”
“Eh hiyo hayo thole, nanging kamu jangan kehilangan kewaspadaan, sebab Rajamala dan teman-temannya itu terkenal licik...”
”Iyo Mo jangan kawatir, aku tetep prayitna, eh ayo Gong, ayo Truk Hpmu jangan sampai dimatikan, hayo kita buktikan kesaktian Wasi Rajamala...”
Keempat Punakawan segera menggeber gasnya , berlari kencang menembus debu-debu pekat sisa pertempuran Ki Lurah Semar dengan kubu Wasi Rajamala . Bersambung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar