Selasa, 23 Juni 2009

Dahuru BBM vs BLT Ki Setyo Handono

Dyan sembah niring ulun, kapurba risang murbeng rat, oooong..., sahananing kang dyan kanang sihing dasih, maweh boga sawegun, maksih ring delahan ooong.....ywan kanang pinujweng, ari jeng nayaka ningrat , oooong duteng rat kotama, manggya hanugraha , oooong ... len siswanta sagotra, ingkang wus minulya, oooong...ingkang wus minulya.....

Raras kang halenggah neng aparan rukmi, akarya asmara, hanawung sembada, hawingit weh wing wrin, wimbaning narpati siniwaka kadya, sang maha Bathara ooong...tumurun mandana prasidaning dadi, harjaning praja....

Pagi itu Kerajaan Dwarawati tengah berduka. Banyak penduduk yang terkena musibah berupa penyakit mendadak, miskin mendadak , bahkan mati mendadak. Hal itu tentu saja membuat panik Prabu Kresna sang penguasa negeri Dwarawati, yang dulu terkenal gemah ripah tata tentrem kertaraharja itu. Ibaratnya kini seperti kota mati, para penduduk jarang yang ber-aktivitas keluar rumah. Mereka lebih nyaman ttinggal berkumpul bersama keluarganya. Nyaris hal itu menyebabkan kantor atau instansi pemerintah dan swasta kegiatanya terhenti. Hal itu menambah parah keterpurukan pemerintah mengendalikan efektivitas kinerja para narapraja. Tidak terlihat sama sekali mereka bekerja ngantor, mereka lebih enjoy cangkrukan di kantin-kantin , atau memilih keluar kota berfoya-foya di hotel kelas melati bersama PIL dan WIL.
Sementara di Siti Hinggil Pendapa Dwarawati nampak Sang Parabu kedatangan putra sulung yang baru saja dipanggil, datang.

”Hyang sukmana adi linuwih lindungilah hambamu ini Gusti... , anakku ngger kulup Samba, semoga pertemuan ini tidak menjadikan hatimu gundah gulana, kulup Samba ”
” Kawula nuwun, setelah ananda menerima surat dari ayahnda hati saya menjadi gelap, ibaratnya saya ini akan mendapatkan hukum pidana yang teramat berat dari paduka, ada perasaan takut dan kawatir yang teramat dalam , siang hingga malam pikiran saya bergelayut, dosa apa sebenarnya ananda ini, sampai-sampai paduka memanggil kami secara mendadak...”
”Ngger kulup Samba, jangan terlalu dalam perasaan bersalahmu, saya tidak akan memberikan pidana kepada orang yang tak bersalah. Ayah tidak menemukan pelanggaran dalam pemerintahanmu, malah ingsun bangga denganmu ngger Kulup Samba, karena kamu telah berhasil membangun negeri dengan adil dan bijaksana, hal itu terbukti kamu mendapatkan Economic Awward , Adipura, dan kamu juga mendapatkan gelar adipati terbaik dan kreatif di negri ini, oleh karenanya aku matur nuwun banget dengan awakmu...”

Hatap para hapsari tumunton ring Sang Dwija, kadyengglawor sajiwa, ooong kagagas ing tyas dahat kewran ing karyanira, samya myat rengganing prabata .........

”Kulup Samba, bagaimana keadaan para penduduk di Dwarawati, sehubungan dengan kenaikan BBM dan pembagian BLT yang telah saya canangkan itu ? ”
”Kawula nuwun inggih kanjeng dewaji, sampai sekarang kemiskinan semakin meningkat tajam, kelaparan, kurang gizi, perampokan, korupsi, maling, copet, gendam, apus-apus, semakin merajalela. Kenaikan BBM bisa di terima asalkan tidak di ikuti oleh kenaikan harga , namun keadaan ini justru membuat para kapitalis berpesta-pora menindas rakyat kecil meradang, sakit pagi sore mati, sakit sore pagi mati, sedangkan BLT, ternyata menjadi Bantuan Lain Tangan, orang miskin yang mestinya berhak menerima, malah dilewati begitu saja oleh petugas desa...”
”Kulup ngger Samba, ibaratnya sekarang ini seperti kebakaran yang lagi menggila, nyalanya tengah meluap-luap, tidak ada kekuatan manusia manapun yang sanggup memadamkan api kejahatan ini, kecuali kekuatan dari Yang Maha Kuasa, oleh karenanya kulup, kamu jangan kehilangan kewaspadaan dan kesabaran, jangan putus asa, pantang menyerah memerangi kejahatan menegakkan kebaikan di muka bumi ini....”
”Kaka Prabu ...interupsi ”, tiba-tiba Harya Setyaki mengangkat tangan memotong keheningan.
”Iya, ada apa Setyaki ?”
”Nuwun sewu Kaka Prabu, sebenarnya keadaan ini telah kami usahakan sekuat tenaga untuk memeranginya, namun kekuatan itu nampaknya lebih besar daripada yang hamba perkirakan, untuk itu mohon maaf Kaka Prabu , hingga saat ini hamba belum bisa menghilangkannya...”

Siyang pantara ratri, hamung cipta pukulun, oooong..., tanna lyan kang kaeksi, mila katur ing kang cundamanik, prasasat rageng ulun kang sumembah mungwing padanta prabu myang kagunganta singsim sasat sampun prapti, katon asta pukulun wulaten narapati....Rama dewaningsun..

Saat lagi asyik dengan pembicaraan serius, tiba-tiba dari luar terdengar langkah-langkah cepat menuju gerbang siti hinggil Dwarawati, sang Prabu Kresna segera menyambut kedatangan tamu yang tak diundang itu .... Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar