Selasa, 23 Juni 2009

Dersanala Cerai Paksa Ki Setyo Handono

Tepat hari Soma Jenar, soma empat jenar sembilan, hari puasa pertama yang bernilai tigabelas. Sebuah pretungan yang bernasib sial. Betapa tidak, Bethara Narada ingin hati mengajak kebaikan ee, ternyata Manikmaya alias Bethara Guru malah mengingkari almamater kadewatan, merusak pagar ayu sepasang suami istri dari kahyangan Swarga Dahana. Si Arjuna dan Dewi Dersanala. Akhirnya membuat jengkel pukulun Narada, dia memilih minggat sambil menanggalkan jabatan sebagai sekretaris kadewatan, hingga Bathara Guru insyaf dari jalan yang sesat.

”Hong thethe dewangkara rudra manik rajadewaku, tobiiil..tobil, nyekel dada kleru penthung..., duh pukulun, kados pundi menika, Bathara Narada lha kok mutung, minggat meninggalkan kahyangan, akan tetapi saya sudah hapal kok pukulun, dia itu kalau menyangkut urusan dengan Janaka, mesti dia itu bakal membela sampai mati,.. terus bagaimana ini nanti pukulun ?”
”Durga, awakmu jangan kuwatir dengan kakang Narada, semua ini sudah menjadi tanggungjawab ulun, awakmu jangan kuwatir Premoni..., anak ulun ngger Brama ...”
”Kawula nuwun wonten dhawuh pangandika rama pukulun”
”Nanti aku akan memberi tugas untukmu, ... anakmu si Dersanala kamu hantarkan ke sini, akan tetapi jangan sekali-kali si Janaka kamu ikutkan. Dan kamu ngger Indra, kamu siapkan pasukan khusus, intel polisi, serse , tentara, dan polisi militer lengkap dengan senjata, bujuklah kakang Narada untuk segera kembali ke Suralaya, aku kuwatir ke-sekretariatan kadewatan komplang, alias kosong, kasihan nanti para warga yang mau memperpanjang KTP..”
”Apa tidak ada petugas lain, pukulun ?”
”Ah ora Indra, akhir-akhir ini pas bertepatan dengan musim work shop, jadi para karyawan sekretariat banyak yang ndak masuk kerja. Semua ini dalam rangka meningkatkan mutu ngger,.. jadi jangan stereotipi, hanya untuk nyari shop-nya atau sertipikatnya saja,.. oooo tidak ngger”
”Seandainya pukulun Narada tidak mau diajak baik-baik bagaimana rama ?”
”Oh, awakmu sudah ulun beri purba lan wasesa , terserah mau kamu paksa atau mau kamu mutilasi , semuanya tergantung pada awakmu ngger”
”Sendika dhawuh rama pukulun..”
”Terus bagaimana kamu ngger Brama, sanggup enggak kamu memaksa memisahkan anakmu dengan si Janaka ?”

Leng-lenging driya mangu-mangunkun kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin ooong...

Dalam hati, amatlah berat memisahkan kedua anaknya yang sudah hidup bahagia. Namun di satu sisi ini adalah sabda pendhita ratu yang tidak bisa dibantah. Ketika Bathara Guru memerintah maka tidak boleh ada satupun yang membantah. Oleh karenanya Brama menyatakan kesanggupannya.
Tidak beberapa lama Bathara Brama sudah sampai di tempat tinggal anaknya. Sebuah rumah type 100, hunian yang terbilang mewah yang dibelikannya khusus untuk anaknya Dersanala. Di beranda nampak mobil mercy keluaran terbaru yang masih kelihatan kinyis-kinyis , di samping kanan dan kirinya nampak deretan bunga –bunga milenium gelombang cinta , jenmani dan sebagainya. Nampak asri sekali semuanya. Namun pagi itu rumah Dersanala nampak sepi, seperti ndak ada penghuninya saja. Tetapi Bathara Brama amat paham, pastilah kedua anaknya tengah ’kelonan’, maklumlah malam kan habis ’tadarusan’ sehingga paginya ngantuk. Bethara Brama kemudian hanya ’dehem’ ”Ehm !... ehm !, ngger Dersanala, bukakan pintu ngger”
Kontan kedua insan yang tengah ’adu kekuatan’ di dalam kamar terdengar panik. Dersanala yang masih acak-acakan segera mengambil daster yang terdampar di sisi ranjang. Sedangkan Arjuna segera mengambil sisir kemudian menghadap cermin, sambil membasuh muka dan berkumur-kumur, merapikan sarung yang menutupi bagian rahasia yang nampak belum mau ’menunduk’. ”Ayo ngger cepat bukakan pintunya ” desak Bathara Brama untuk segera membukakan pintu rumahnya.
Dersanala berlari dengan busana daster warna hijau menuju arah pintu yang ditunggu oleh ramandanya. ”Ya papi, ini lho aku masih mencari kuncinya” jawab Dersanala berbohong.
”Mana si Janaka ?”
”Masih sholat papi, ada apa ya kok tumben rama pagi-pagi mencari kakang Janaka”
Belum sempat dijawab, tiba-tiba Janaka telah muncul di depannya. Kemudian dia menjabat tangan ayah mertuanya sambil mencium tangannya, kemudian duduk di sofa.
”Wah ternyata kamu itu satriya sejati ngger, terbukti kamu itu bisa melayani istrimu 24 jam tanpa henti. Waah kamu hebat Janaka”
Janaka nampak menyembunyikan rasa malunya. Dia ndingkluk sambil njawil paha istrinya.
”Ngger Janaka, awakmu jangan kaget ya, ulun datang ke sini ini dalam rangka ngemban dhawuh pukulun Bathara Guru supaya menjemput istrimu si Dersanala untuk menghadap beliau sekarang juga, dan kamu tidak boleh mendampinginya hingga pisowanan ini berakhir”

Arjuna sangat kaget, dia adalah termasuk manusia yang punya kelebihan ’ngerti sakdurunge winarah’ dia tahu kejadian apa yang bakal menimpa Dersanala dan dirinya. Dengan sedikit ucapan yang disampaikan oleh Bethara Brama mertuanya, dia amat paham, untuk itu tanpa pamit dia kemudian berlari kencang meninggalkan istri dan mertuanya diikuti oleh para Punakawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar