Selasa, 23 Juni 2009

Alang-Alang Kumitir (2) Ki Setyo Handono

Mendung masih juga nampak bergelayut di atas bumi Nusahantara, sementara bencana alam terus bertubi-tubi mengkoyak-koyak kedamaian warga wayang yang tengah menikmati lelapnya tidur malam. Bongkahan Lumpur tanah , bercampur dengan batu-batuan besar telah mengubur hidup-hidup seluruh jiwa raga serta bangunan-bangunan rumah yang ada di sekitar lereng bukit yang nyaris gundul akibat penebangan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum aparat keparat, bangsat !.
Beberapa hari ini masyarakat yang baru saja tertimpa musibah banjir diberitakan panik, karena ada kabar dari langit via ‘sang wali’ bahwa pada hari jemuah legi yang akan datang, banjir dahsyat bahkan super dahsyat akan kembali mengamuk daratan Sapta Arga. Kontan para fans yang sangat mempercayai kesaktian sang wali – yang konon bisa meneropong alam ghoib, bahkan konon katanya dalam waktu yang bersamaan jasadnya bisa hadir diseluruh penjuru dunia- menjadi panik mlayu sipat kuping, tunggang langgang ringkes-ringkes seluruh perabot rumah tangganya ke tempat yang diperkirakan aman. Namun bagi yang masih percaya kepada Sang Hyang Widi, nampak tenang-tenang saja, mereka berseloroh ‘ Tuhanlah yang Maha Tahu, manusia banyak salahnya’.
Tepat pada hari yang diramalkan Jemuah Legi !, langit begitu cerah, matahari menyapa ‘sang wali’ yang pagi itu masih kelihatan mbangkong sambil memeluk sepeda bututnya yang sakti. Masyarakat Sapta Arga terperanjat lega, ternyata ramalan sang wali hanya halusinasi yang terekam saat berkelana mengelilingi wilayah pantai utara Jawa, ‘ tapi waspada itu kan lebih baik, siapa tahu sang wali benar-benar benar , seloroh seorang penduduk sambil mengangkut kembali barang-barangnya ke rumah.
Kita tinggalkan dulu daratan Sapta Arga yang diliputi misteri oleh ‘sang wali’, kita lihat kembali Alang-alang Kumitir, yang kemarin pernah kita ceritakan.
Pagi itu wajah ceria nampat diraut wajah para Punakawan yang sedang berada di Alam Sunyaruri , sebuah alam yang penuh dengan kehenengan, keheningan,dan kenikmatan hakiki, mereka banyak memperoleh ragam dimensi kecerdasan, mulai ESQ, IQ, EQ , dan SQ.
“Titah ulun Ismaya ?, ketahuilah ya , bahwa jagad yang tergelar di hadapanmu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu; alam janaloka, alam guruloka, dan alam hendraloka… Alam Janaloka bisa disebut dengan alam kasar, alam dunia atau Betal Mukaddas, Alam Guru Loka disebut juga dengan alam angan-angan, ada juga yang menyebut alam mental, atau Betal Makmur, yang ketiga disebut Alam Hendraloka, atau alam batiniah , alam yang sangat suci, disebut juga dengan alam astraal atau Betal Muharam …”
“Terus yang dimaksud panembah sejati itu apa pikulun “
“Ismaya, orang yang sudah mengalami tingkatan peribadahan tinggi hanyalah orang yang sudah pada tataran alam hendraloka, mereka adalah orang yang telah menguasai ESQ, IQ, EQ , dan SQ, yaitu mereka yang telah bisa memasuki alaming Pangeran, segala tindak-tanduknya mencerminkan kesucian jiwa dan raganya, awas, emut, dan selalu memahami secara mendalam dengan sangkan paraning dumadi , dari apa manusia diciptakan, dan akan kemana manusia setelah hidup besenang-senang di dunia ini, akankah manusia akan hidup tanpa mengalami kematian ?, oleh karenanya Ismaya, kamu jangan kendor semangatmu teruslah kamu mengajarkan ajaran suci ini kepada manusia, jangan takut demo-demo yang dilancarkan oleh orang-orang bodoh itu, ingatlah Sang Hyang Akarya Jagad senantiasa melindungimu “ Bersambung










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar