Selasa, 23 Juni 2009

Misteri Angka Delapan-Delapan – Satu Ki Setyo Handono

Siyang pantara ratri, hamung cipta pukulun, ooooong, tanna lyan kang kaeksi, mila katur ingkang cundhamanik, prasasat rageng ulun kang sumembah munggwing padanta prabu , myang kagunganta singsim sasat sampun prapti, katon asta pukulun, wulaten narapati , oooong , rama dewaning sun, ooong….
Tersebutlah dalam suatu cerita, ketika Hyang Resi Narada baru saja seru-serunya berdialog dengan Begawan Kamunayasa serta dengan Bambang Sekutrem dan cantrik Supalwa, tiba-tiba dari depan pintu gerbang istana kahyangan Pangudal-udal muncullah rombongan Kiai Semar Badranaya, tentu saja Bethara Narada terperanjat kaget, lha wong tadi diberitakan oleh protokol istana bahwa mereka masih berada perempatan pasar legi, lha kok jebulnya sudah muncul di dalam istana.
“Waaaaa, pak-pak pong , kayu ngalas entek dicolong blandong, kayu gede panganane pejabate dewe, oh toblas…toblas bondho negara pada amblas, sapa sing salah, bakale seleh, sapa sing luput bakale mawut… oh jawata lan ngulama, aja pijer sira rebutan banda donya , iki ndonya wis tuwa, hayo padha mertobata…, eh kakang Badranaya hayo pinarak , aku sudah ngerti maksud kedatanganmu hayo kakang masuk senthong tengah dulu”
“Eh hiya Nerada, hayo tak derekkan “
Tidak lama kemudian Semar bersama Narada segera memasuki pendapa. Sementara para wartawan yang meliput, tidak diperkenankan masuk, pihak protokoler Pangudal-udal sengaja menempel plakat di pintu masuk bahwa rapat ditutup untuk umum. Semar dalam pertemuan itu segera mengeluarkan brangkas wahyu , Bethara Narada Nampak terkagum-kagum dengan brankas yang kelihatan mencorong menyilaukan. Di atas kotak ada angka tiga digit, sebagai kunci rahasa untuk membuka kotak kencana itu.
“Waaa…, pak-pak pong , pak..pak pong brankas ATM di colong wong.., we iki nomer apa kakang , kotak kok ada nomernya segala, ha…ha…ha “, Tanya Bethara Narada , katrok, alias kampungan dan ndesa .
“Eh iya Nerada , kotak ini ada angka rahasia untuk dapat dibukanya, pikulun Sang Hyang Wenang memberi angka penuh makna, yaitu angka delapan, delapan satu “
“Eh !, aku kok ndak semakin mudeng ta kakang…”
“Oh hiya Nerada, pancen kamu belum mendapatkan cerita dari Alang-alang Kumitir sana, jadi maklum kalau kamu belum tahu”
“Bagaimana sejarah terjadinya angka tersebut kakang ?”
“Begini Nerada, ketika itu yang namanya wahyu Witaradya ramai diperebutkan oleh dua ksatria terkenal yaitu Dewa Srani dan Begawan Kamunayasa. Karena keduanya sama-sama sakti maka Sang Hyang Wenang memanggil keduanya untuk hadir di Alang-alang Kumitir, lantas ada tujuhbelas orang perwakilan yang ditentukan untuk berhak melakukan voting tertutup. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka lobi-lobi politik segera aku lakukan. Hasilnya Dewa Indra, Dewa Brama, Yamadipati, Aku Semar, Bagong, Gareng, Petruk , Cantrik Supalwa, Bambang Sekutrem, Bethara Guru, setuju kalau wahyu itu harus tetap diberikan kepada Begawan Kamunayasa, sementara kubu Bethari Durga cs tidak menghendaki hal itu, di atas kertas voting penentuan siapa yang berhak menerima wahyu dipastikan sudah berada di tangan Begawan Kamunayasa, tapi yang membuat aku kaget setelah voting dilakukan orang-orang yang tadinya setuju itu berkhianat, Bethara Guru ngmpori si Indra karo si Brama untuk mengalihkan suaranya kepada Dewa Srani dulurnya yang tunggal bapak itu, waaaah Bethara guru telah berkhianat !, hasilnya berimbang , Dewa Srani entuk 8 suara,lha si Kamunayasa ya dapat 8 suara, lha wong sing siji lagi pas mumet sirahe … terpaksa ya dicoblos dewe , blussss… sirahe malah tambah ancur“
“Waaaa… suk maneh ndak usah mengadakan deal-deal politik, itu tandanya sampeyan jangan mempercayai kata-kata orang, ujung-ujungnya sok kapusan begitu, lha terus kakang kok membawa wahyu ini kesini bagaimana critanya”
“Iki wis dadi keputusan Sang Hyang Wenang, kalau wahyu Witaradya harus diberikan kepada yang paling berhak, maka daripada itu Nerada, hari ini angka pin 881 itu kamu buka, terus adakan upacara sederhana untuk serah terima wahyu tersebut “
“Oh iya kakang , semuanya sudah saya persiapkan , hayo kita menuju DOME Alang-alang Kumitir, disana para punggawa telah sedia dan siaga”
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar