Rabu, 24 Juni 2009

Babad Pacitan 1

Pagi itu langit di atas Kadipaten Ponorogo nampak sedikit mendung. Burung-burung sriti asyik terbang menukik besautan, mengejar capung-capung yang terbang merendah. Sementara kupu-kupu yang mulai belajar terbang di awal kemarau, nampak menari-nari mengepakkan sayapnya menembus belantara hutan Setono yang masih rimbun dan asri. Maklumlah di tengah belantara itu tinggalah seorang Adipati Bethoro Katong, utusan Kerajaan Demak, yang dipercaya untuk mengembangkan wilayah Demak dan menyebarkan ajaran Islam di kawasan timur dan selatan gunung Lawu, meliputi, Magetan, Madiun, Ponorogo, dan Pacitan.
Pagi itu Sang Adipati Katong nampak sedang membenahi kain sarungya sebelum menunaikan sembahyang Dhuha, di surau dekat dengan pendapa agung Kadipaten Ponorogo yang masih nampak anggun dan asri. Sementara para srati nampak menyiapkan kuda tunggangan sang adipati tepat di samping gerbang istana. Sedang di atas pohon sawo kecik terdengar nyanyian burung prenjak bersahutan, seakan memberi kabar bahwa sebentar lagi akan ada tamu penting yang bakal datang dalam pisowanan agung siang nanti. Memang, hari itu sang Adipati Katong akan mengadakan sebuah perhelatan penting, tentang rencana besar menundukkan penguasa pesisir selatan, Ki Buwono Keling, yang berkuasa di kawasan sebelah selatan wilayah Ponorogo. Sementara para prajurit nampak siaga berjajar rapi di depan gerbang istana ,menyambut rencana kedatangan tamu sang adipati, lengkap dengan senjata dan pakaian kebesaran.
Usai menunaikan sembahyang dhuha, sang Adipati Katong segera menemui seluruh punggawa yang ada di pendapa agung, para punggawa segera memperbaiki posisi duduknya, kemudian mereka melakukan sembah, sebagaimana layaknya punggawa kerajaan di tanah Jawa yang lainnya.
”Assalamu ngalaikum para prajurit semuanya ”, sapa sang Adipati dengan wajah yang sejuk, penuh dengan kewibawaan
”Ngalaikum salam ”, jawab mereka serempak.
”Prjurit semua, hari ini menurut rencana ,ingsun akan mengadakan pertemuan penting tentang rencana kita menaklukkan paman Buwono Keling, di kawasan pesisir kidul, untuk itu kalian siagakan segala sesuatunya supaya berjalan lancar dan tertib”
”Kasinggihan gusti”, jawab mereka serempak sambil melakukan sembah, kemudian meninggalkan pasamuan untuk segera menunaikan tugasnya masing-masing.

Matahari kelihatan makin meninggi, angin pagi terasa menyapa permukaan kulit dengan lembut, sementara air embun di atas dedaunan mulai terbangun meluncur turun membasuh tanah menyapa cacing-cacing tanah yang mulai menggeliat tersengat matahari pagi. Tidak beberapa lama, nampak di gerbang pendapa ada dua orang datang menghadap sang Adipati Katong. Wajahnya kelihatan bersih dan lembut, badannya kelihatan kekar, gerak-geriknya kelihatan santun dan lincah, bisa ditebak bahwa mereka adalah bukan orang sembarangan, kemudian mereka membungkukkan badan sembari mengucap salam,
” Assalamu ngalaikum warahmatullohi wabarakatuh”
” Wa ngalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh, mangga masuk ki sanak”, sapa sang Adipati Katong dengan lembut.

Ketiganya segera masuk ke dalam pendapa agung. Nampak di sana sebuah ruangan bersih nan luas, tiang-tiang pendapa penuh dengan ukiran kelas tinggi , dinding senthong tengah terdapat ukiran kaligrafi dua kalimah syahadat, menyatakan bahwa sang Adipati adalah pemeluk Islam yang teguh. Sedangkan para pramusaji segera mengatur makanan tradisional seperti, jadah ketan, singkong rebus, ubi jalar, mbothe rebus, gethuk, dan minuman kopi gula kelapa ala kampung.

”Bagiamana kabar kalian berdua, Joko Deleg dan Syeh Maulana Maghribi ?”
”Alkamdulillah , pangestu paduka paman, kami berdua senantiasa kalis saking rubeda tebih saking sambekala, semoga padukapun demikian adanya”
”Terima kasih atas segala doa kalian, semoga Gusti Kang Akarya Jagad senantiasa meberikan limpahan berkah dan nikmat kepada kita sekalian...”
”Amin ”, jawab keduanya serempak.
”Begini Jaka Deleg dan ki sanak Syeh Maghribi, ingsun senang sekali kalian menerima tawaranku untuk menunaikan tugas suci di kawasan pesisir kidul, sebab beberpa bulan ingsun keliling negeri, tapi tak seorangpun aku jumpai orang yang memenuhi syarat untuk tugas ini, dan alkamndulillah ada dua sinoman, kamu berdua, jarang sinoman yang sudah gentur tapane , jangkep ngelmu jaya kawijayane sepertimu. Kebanyakan dari mereka hanyalah pecundang, yang tidak berani hidup rekasa, bisanya hanya makan enak, tidur nyenyak, kesandung sedikit masalah langsung nglokro kehilangan akal sehatnya. Untuk itu tidak salah jika ingsun menetapkanmu menjadi prajurit pilih tanding untuk membantu sesembahan kita Raden Patah menyebarkan Islam di pesisir kidul ...”
”Ah semua ini hanya kebetulan paman, kami hanya sekedar dititipi sedikit kelebihan dari Gusti engkang Maha Kuwaos ”, sahut Syeh Maghribi merendah
”Lajeng tugas hamba apa gusti ?”, tanya Joko Deleg penasaran
” Ada tiga perkara yang harus kalian lakukan, yaitu pertama, kalian ingsun beri tugas membuka lahan baru , membabat hutan belantara , buatalah di sana hunian asri yang nyaman dan subur, kedua, kalian berdua harus menyebarkan ajaran Islam dengan santun, lemah lembut, dan jangan sampai menyakiti hati mereka, sebab Islam yang diajarkan Njeng Nabi ya seperti itu. Yang ketiga, kalian adalah termasuk punggawa kerajaan pilihan, untuk itu gunakan akal cerdasmu, untuk menegakkan kewibawaan Demak, agar bisa bersinar cemerlang di pesisir selatan. Akan tetapi sebelum kalian menunaikan tugas ini, perlu kalian ketahui, bahwa di sana sudah ada yang lebih dulu berkuasa, dia adalah bukan orang sembarangan, dia sakti mandraguna, dia masih ada hubungan darah denganku, Ki Buwana Keling namanya. Cocok dengan tugas yang kalian emban, bujuk-rayulah dia dengan bahasa yang halus dan santun, berilah pengertian yang menyentuh kalbunya, dan jangan lupa lakukan pada saat yang tepat, jangan grusa-grusu, nanti malah jadi kesalahpahaman. Ingat pamanmu Buwono Keling adalah tokoh terakhir yang harus tunduk di bawah Kerajaan Demak, dia sekarang masih patuh pada kerajaan Majapahit, berhubung sekarang Majapahit telah runtuh, maka mau tidak mau kakang Buwono Keling juga harus tunduk menjadi bagian dari Demak. Seandainya dengan cara halus tidak berhasil, maka segala sesuatunya ingsun serahkan kepada kalian berdua. Tapi ingat, bahwa Buwono Keling adalah bukan orang sembarangan, seluruh ilmu jaya kawijayan telah ia kuasai, jika ia marah ,maka kekuatannya amat menakutkan. Untuk itu berhati-hatilah, aturlah segala rencana dengan jitu, pilihlah papan yang kalian jadikan tempat menyusun kekuatan, dengan sebaik-baiknya, bawalah bekal secukupnya, dan jangan lupa kalian berdua harus selalu memohon kekuatan kepada Yang Maha Kuasa, agar diberi kekuatan lahir batin untuk menandingi kesaktian Ki Buwono Keling ” , jelas Bathoro Katong sambil memperlihatkan mimik mukanya dengan serius. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar