Selasa, 23 Juni 2009

Manikmaya Sulaya Ki Setyo Handono

Kahyangan Suralaya benar-benar dalam keadaan gawat-keliwat liwat. Bathara Guru diuji kebijaksanaannya oleh rayuan maut Bathari Durga. Dapat dipastikan apabila yang melakukannya Dewi Durga maka Bathara Guru akan goyah bagaikan nyiur melambai yang terkena hempasan badai.
”Banjur ada perlu apa jeneng kita Durga tidak saya timbali, kok tiba-tiba sowan ing ngarsa ulun”, tanya Bathara Guru.
”Sebelumnya hamba menghaturkan agunging samodra pangaksami pikulun, Durga tanpa tinimbalan berani cumantaka menghadap pikulun, sebab ditangisi oleh ananda Dewa Srani ”
”Premoni, anakmu menangis karena punya permintaan apa, baju baru, rumah baru, mobil baru, atau pacar baru ?”
”Duh Pukulun, Dewa Srani menika rumaos sampun dewasa, dan punya hasrat untuk segera menikah”
”Terus sapa sing jadi calon istrinya ?”
”Duh pukulun, mboten wonten kalih utawi tiga, hanya satu yang dia minta yaitu cucu pukulun pribadi, yang berada di Swargadahana putra dari Bathara Brama yang bernama Dewi Dersanala”

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong..

”Durga, ketahuilah bahwa cucu kita si Dersanala itu sekarang tidak tahu berada di mana, tapi harus engkau ketahui bahwa Dersanala saat ini sudah menjadi istri sah si Harjuna..., apa ini semua tidak engkau beritahukan kepada si Dewa Srani ”
”Pukulun, inggih tidak kurang-kurang pun Durga memberi pengertian kepada Si Srani, malah sudah saya carikan alternatif para mahasiswi Universitas Tunggul Malaya, guru-guru sekolah dasar teladan tingkat propinsi, dan para model ratu kecantikan yang ada di Tunggul Malaya, tapi dia bersikukuh, pokoknya harus dengan Dewi Dersanala pikulun , kalau dia tidak bisa mendapatkannya, maka dia memelih tidak kuliah dan mau bunuh diri saja pukulun ...”

Leng-lenging driya mangu-mangu, mangunkun kandhuhan rimang lir lena tanpa kanin .... ooong

Rayuan gombal Bethari Durga benar-benar meluluhlantakkan seluruh pkiran Bathara Guru. Resi Narada nampak komat-kamit mendoakan agar rayuan itu tidak menggoyahkan pendirian Manikmaya alias Bathara Guru, namun awal bencana itu akhirnya datang jua. Bethara Guru tidak berdaya, persis sinetron ’suami-suami takut istri’...
”Oh jagad Dewabathara, okeylah Durga jikalau itu sudah menjadi tekadnya si Srani, ulun akan menyanggupi, toh dia itu juga anak dagingku sendiri. Untuk itu aku akan segera menceraikan si Arjuna dengan si Dersanala dalam waktu tidak lama lagi ”
”Oh, pragenjong-pragenjong pak-pak pong, kali keyang ngulon parane, wong penak-penak spejagong lha kok dadi bunglon atine, weeladalah tobil si Permoni ratunening jail, teka-teka ngrusak barang kang wus kanthil. Pokoknya aku wis niteni, kalau kamu datang mesti bikin onar. Kalu tidak mengganggu jabatan orang, ya merusak pagar ayu, atau merebut wahyu... eh Adi Guru, saya hanya mengingatkan, ini adalah rencana jahat Bethari Durga, menawi bisa saya ingatkan tolong jangan dituruti, dia itu suka durhaka Adhi Guru ...”
”Kakang Narada, berhubung Dewa Srani itu anakku, maka segala permintaannya harus aku turuti. Ada pepatah ’anak kepolah bapa kepradah’ ”
”Adhi guru, walaupun yang meminta itu seorang anak, aku meminta tolong juga harus selektif, sampeyan harus meneliti, bagaimana gaya hidup dia selama ini, lha ... kecuali kalau si Srani itu anak yang sholeh..., sampeyan harus menuruti semua keinginannya...”
”Ora kakang !, pkoknya aku harus segera memisahkan antara si Arjuna dengan Dewi Dersanala sekarang juga...”
”nuwun sewu adhi Guru, sampeyan nganggo dasar apa kok mau menceraikan dia, apa nanti ndak akan mendapatkan kutukan dari Sang Hyang Wenang”
”Kakang Narada, menurut hukum yang berlaku di kadewataan , seorang dewi itu harus bersuamikan dengan dewa. Oleh karena itu berhubung si Janaka itu hanyalah manusia biasa, maka dia tidak berhak kawin dengan dewi. Dan saya sebagai penguasa di Suralaya ini, maka saya punya kekuasaan untuk memisahkannya”
”Ooo, begitukah adhi Guru. Nuwun sewu adhi Guru, saya itu menyaksikan bahwa yang telah menikah dengan seorang dewi itu tidak hanya si Janaka saja, akan tetapi banyak. Tapi kenapa mereka juga tidak sampeyan pisahkan juga. Ini adalah perbuatan culas alias tidak adil, tidak ber-gender sosial inklusi, diskriminatif. Sekali lagi aku hanya mengingatkan, tolong Dersanala jangan diceraikan”
”Tidak bisa kakang, walau kakang mengoceh seperti seribu bakul jamu, aku tidak akan merubah sikapku !”
”Ooooh, sampeyan itu ndak bisa di eman, sudah kalau begitu, aku njaluk pamit, aku ndak sudi lagi duduk di kadewatan lagi, ... wis Adhi Guru, kalau ada apa-apa jangan salahkan aku...” Bersambung

1 komentar: