Selasa, 23 Juni 2009

Penelitian Sastra Lisan Jemblung Katong Wecana

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia secara umum mempunyai dua kebutuhan , pertama adalah kebutuhan spiritual dan kedua kebutuhan material. Kebutuhan spiritual lebih tertuju pada hal yang bersifat ruhaniah psikologis, sedangkan kebutuhan material lebih tertuju pada hal-hal yang bersifat materi kebendaan, seperti halnya rumah, sandang , kekayaan serta kedudukan. Untuk kebutuhan spiritual salah satunya adalah agama atau religi. Manusia yakin dengan bimbingan agama , keadaan manusia menjadi bermartabat, mulia dan tidak jatuh dalam nafsu bahimiah atau nafsu kebinatangan. Hal ini didukung oleh pendapat Abudin Nata bahwa secara psikologis manusia memiliki perasaan akan adanya sesuatu yang menguasai dirinya dan menguasai seluruh alam semesta (1993:10).
Manusia dalam perjalanan sejarah hidupnya tidak pernah terlepas dari masalah-masalah religi , yakni masalah-masalah yang berhubungan dengan keterikatan seorang hamba kepada Yang Maha Kuasa. Rasa keterikatan ini ditandai dengan kepercayaan dan ketaatan yang mendalam dan sungguh-sungguh dalam menjalankan segala perintah dan larangannya. Dengan melalui agama manusia akan terjaga moral serta perilaku yang harmonis antar sesama makhluk dan makhluk dengan Tuhannya. YB. Mangunwijaya seorang rokhaniwan menyatakan bahwa sikap jiwa yang religius tidak hanya sebatas norma-norma agama yang terlihat formal dan resmi, akan tetapi lebih melihat aspek yang ada di lubuk hati, yakni riak getaran hati nurani pribadi atau sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain karena menafaskan intiminasi jiwa, yakni cita rasa yang menyangkut totalitas ( termasuk rasio, dan rasa manusiawi ) kedalam diri pribadi manusia (1982:2).
Keinginan seorang sastrawan untuk menciptakan karya-karya yang religius bukan hanya berdasar atas keinginan pribadi, melainkan persoalan dasar yang sebenarnya dilatar belakangi oleh kaidah agama yang bersifat universal. Seorang sastrawan dalam mencipta karya sastra tidak hanya menyangkut tema serta masalah kemanusiaan, akan tetapi juga memberikan masukan –masukan tentang unsur moral (nilai kehidupan ) juga tentang unsur religi yang bernilai transendental. Tidak mengherankan jika karya-karya mereka muncul dalam bentuk karya yang religius, yang mempunyai maksud untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia , damai, lahir dan batin dunia akherat di bawah naungan Tuhan.
Unsur religius dalam karya sastra yang dimaksud seperti di atas adalah unsur-unsur keterikatan manusia dengan Tuhannya sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan hidup. Unsur-unsur tersebut adalah emosi keagamaan, yakni sesuatu yang mendorong dan menyebabkan manusia bersifat taat , patuh , rendah hati, jujur, dan kasih sayang dengan sesamanya. Demikian pula dengan ritus dan upacara keagamaan juga merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan Tuhan, Dewa-dewa dan makhluk halus yang mendiami alam ghaib yang dianggapnya mendatangkan keselamatan hidupnya .
Hal di atas sering diungkapkan dalam sastra Jawa lama , terutama yang masih kuat sifat tradisionalnya yaitu dengan keterikatannya dengan dunia mitos . Mitos dalam masyarakat Jawa lama sering digambarkan melalui peragaan-peragaan yang dirumuskan secara sastrawi, secara indah, baik dalam bahasa maupun kandungan isinya. Gambaran tokoh-tokoh sering muncul sebagai makhluk setengah dewa, sempurna , bebas dari segala cacat atau kesalahan. Putri-putri idaman selalu digambarkan sebagai bidadari yang sangat cantik jelita, lembut dan baik budinya. Gambaran raja selalu muncul sebagai yang bijaksana, selain sakti ia selalu bersikap adil, penuh kasih, pelindung bagi alam semesta, bahkan mampu melihat segala sesuatu yang telah terjadi atau yang bakal terjadi.
Diskripsi sebuah tempat atau negara selalu digambarkan dengan sempurna. Aman tenteram, subur, makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.
Mitos-mitos dalam kisah-kisah cerita itu termasuk dalam katagori cerita rakyat (folktale) yang merupakan bagian dari folklor . Menurut James Dananjaya merupakan bagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-menurun . Folklor sendiri bisa muncul dalam bentuk lisan maupun contoh lain yang disertai dengan gerak atau alat bentuk lain sebagai pengingat. Folklor pada hakikatnya adalah kajian tradisi masyarakat sebagaimana muncul dalam fiksi populer , adat-istiadat, kepercayaan, kekuatan gaib dan upacara keagamaan. Teknik penyebaran folklor dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut , dari satu generasi ke satu generasi , yang kadang-kadang penuturannya itu disertai dengan perbuatan misalnya, mengajar tari, mengajar membatik, mengajar mendalang, dan sebagainya (Hutomo 1991:7).
Di dalam kesenian Jemblung Katong Wecana yang diperagakan oleh Ki Usup, dalang keturunan dari Raden Batara Katong yang ke 14 ini seringkali membawakan cerita-cerita rakyat seperti ; Menak , kisah-kisah para Nabi, legenda Hindu-Jawa dan Arab, cerita para Wali, Bondhan Kejawen, Damarwulan, Jaka Tarub, cerita-cerita babad , dan sebagainya. Jemblung sering digunakan untuk acara hajatan masyarakat dalam bentuk upacara kelahiran, murwakala ( ngruwat), acara pesta pengantin atau yang lainnya. Didalam cerita jemblung selalu digambarkan tentang mitos –mitos orang Jawa lama, seperti yang telah digambarkan tersebut di atas.
Kemampuan Muhammad Yusuf mendalang Jemblung , ternyata tidak dilaluinya lewat jalur akademik, ia memperolehnya melalui jalur mistis , yaitu ilmu laduni atau orang Jawa mengatakan kewahyon, tiba-tiba ilmu mendalang Jemblung itu beliau dapatkan begitu saja, Ki Usup mengistilahkan dengan mendapatkan ilham. Namun demikian kenyataan yang terjadi adalah nama Muhammad Yusuf tidak begitu dikenal oleh masyarakat di sekitar, tetapi justru di luar daerah , beliau cukup dikenal . Beberapa pentas yang telah berhasil dilakukan antara lain di Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia ( SMKI ) di Surabaya pada tahun 1978, kemudian di RRI Madiun secara rutin setiap hari Minggu mulai tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dan di wilayah Surakarta, Semarang, Caruban , di Radio Gema Surya Ponorogo , dan lain-lain (Sumber : Pustaka Radio Gema Surya , 1979 )*.
Selain digunakan sebagai sarana hiburan, dalam perkembangannya karya sastra Jemblung ini digunakan sebagai sarana dakwah , yaitu sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Penggunaan karya sastra sebagai sarana dakwah tersebut sudah tercatat dalam penelitian sejarah yaitu sejak masuknya pengaruh Islam ke Nusantara ( sekitar abad XV ). Salah satu kenyatan itu adalah upaya yang dilakukan para wali yang mencoba mengubah secara perlahan-lahan kultur Hindu-Jawa menjadi kultur Jawa-Islam.
Di dalam masyarakat yang beragama , dimungkinkan sekali terjadi dan tercipta karya-karya religius seperti yang telah diutarakan di atas sebagai akibat pergolakan diri pengarang dengan agamanya dan persoalan moral kemanusiaan yang bersinggungan dengannya, walaupun pada kenyataannya kedudukan sastrawan tidak dapat disejajarkan dengan seorang ulama, Kiyai, Pendeta, Pastur, Biksu, tetapi sastrawan setidaknya turut membantu dalam penyebaran nilai-nilai moral yang religius.

B. Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,maka ada beberapa permasalahan yang dapat digali dari kesenian Jemblung ini. Diantaranya ialah:
1. Apakah naskah jemblung ada hubungannya dengan naskah wayang kulit ?
2. Apakah dalam pementasan jemblung terdapat kesamaan dengan alur cerita pada wayang krucil ?
3. Apakah tokoh-tokoh cerita digambarkan seperti dalam wayang krucil ?
4. Apakah ajaran moral yang terdapat dalam cerita disampaikan dalam be tuk presemon (fabel ) ?
5. Apakah ajaran Hindu lebih menguasai dalam alur cerita ?
6. Apakah ajaran Islam lebih dominan dalam naskah cerita ?
7. Apakah ajaran moral Jawa disampaikan di dalam naskah cerita ?
8. Apakah ajaran moral Islam disampaikan di dalamnya ?
9. Apakah ajaran moral disampaikan dalam katagori ajaran lugas ?
10.Apakah ajaran moral disampaikan dalam katagori ajaran berwujud percakapan ?
11.Apakah pemerintah Ponorogo masih peduli dengan kesenian rakyat Jemblung Katong Wecana ini ?

C. Batasan Masalah
Mengingat terbatasnya waktu dalam penelitian ini , maka yang akan dibahas dalam penelitian ini terbatas pada ajaran moral yang terdapat dalam naskah Jemblung Katong Wecana dalam cerita ‘ Payung Tunggulnaga ‘ saja. Adapun yang akan dibahas dibatasi pada :
1. Ajaran moral Jawa
2. Ajaran moral Islam

D. Rumusan Masalah
Berangkat dari kenyataan ini, rumusan masalah yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah ;
1. Bagaimanakah ajaran moral Jemblung Katong Wecana yang berhubungan dengan ajaran Jawa ?
2. Bagaimanakah ajaran moral Jemblung Katong Wecana yang berhubungan dengan Islam ?

E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan ajaran moral yang terdapat dalam prosesi pertunjukan seni Jemblung Katong Wecana yang dimainkan oleh Ki Dalang Muhammad Yusuf dari Setono Ponorogo, sekaligus mengetahui dan memahami segala sesuatu yang terdapat dalam Jemblung .
2. Tujuan Khusus :
Bertolak dari tujuan umum tersebut, penelitian ini mempunyai tujuan khusus sebagai berikut :
a. Mendeskripsikan ajaran moral Jemblung Katong Wecana yang berhubungan dengan ajaran Jawa .
b. Mendeskripsikan ajaran moral Jemblung Katong Wecana yang berhubungan dengan Islam.

F. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis , penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan pemahaman terhadap seni Jemblung Katong Wecana.
Penelitian ini secara teoritis mencoba untuk menganalisis moral dalam isi naskah seni pertunjukan yang menggunakan pendekatan kaidah-kaidah teori sastra, dan diharapkan dapat memberikan warna baru bagi perkembangan khasanah seni pertunjukan peninggalan karya sastra lama yang berupa folklor khususnya seni sastra cerita rakyat Jemblung Katong Wecana.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
• Sebagai wujud penerapan seperangkat ketrampilan teoritik dan pengetahuan yang telah diperoleh peneliti selama duduk di bangku kuliah.
• Diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan sumbangan , wawasan bagaimana cara melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan pragmatik pada karya sastra rakyat (folklor).
• Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan minat untuk mempelajari apresiasi karya sastra lisan , khususnya seni Jemblung Katong Wecana, dan dapat membantu pengajaran dan pengembangan sastra lisan khususnya seni Jemblung Katong Wecana.
• Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai perbandingan dan pemahaman dalam melakukan penelitian terhadap karya sastra lisan yang menggunakan pendekatan pragmatik.

G. Definisi Istilah
Ajaran Moral adalah budi pekerti yang diajarkan dalam bentuk Nasihat ; Petuah ; Petunjuk ( KBBI : 1988 : 13 )
Ajaran Kejawen adalah ajaran yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa ( KBBI : 405 )
Ajaran Islam murni adalah ajaran yang sesuai dengan Al-Quran dan hadis, serta pengamalannya telah dicontohkan oleh Rasul (Simuh ,2003:9)
Jemblung Katong Wecana adalah seni mendongeng tanpa gambar, yang diiringi dengan alat musik. Seni ini dicipta oleh Raden Batara Katong Adipati atau Raja pertama yang mendirikan Ponorogo. Tema ceritanya seputar kisah-kisah Nabi, Wali, babad, legenda orang-orang suci, Menak, dan sebagainya.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar