Selasa, 23 Juni 2009

SMS Apus-Apus Ki Setyo Handono

Ki Lurah Badranaya benar-benar tidak ingkar janji , dia berdua dengan Bagong berdiri tegak membusungkan dada sambil meng-aktifkan HP kuno yang diperolehnya dari hadiah pejabat yang sudah bosan memilikinya. Sementara Wasi Rajamala yang sedari tadi mengotak-atik nomor para Punakawan segera memberikan komando kepada Wasi Jayathoklik, dan Wasi Banaspati,
”Ngger segera kirimkan SMS maut itu bersamaan dengan preman-preman setan yang ndak kelihatan , suruh bunuh punakawan keparat itu, dan jangan lupa awakmu juga menghilanglah, kemudian cekik para ekstrimis itu...”
”Iya ibu...”
”Hus !!, jangan panggil seperti itu lagi, ntar ketahuan..”
”Sorri mami, aku lupa ”
Ki Lurah Badranaya hanya melihat ulah ketiga makhluk berjubah wasi itu sambil mesam-mesem. Dalam hati dia amat paham dengan seluruh bisik-bisik yang mereka lakukan, maklum walau dia itu sebenarnya adalah dewa ngejawantah , pantas walau sudah tua pendengarannya masih super tajam.
”Heh Rajamala, aja kesuwen hayo SMS abangmu enggal kirimna menyang HP-ku ...”
”Oh iyo tampanana Semar , inilah SMS mautku ....”
Bagong tertawa terkekeh-kekeh melihat ulah resi tolol yang sok sakti, yang ngaku-aku sebagai wali itu. Bagong dan Semar hanya berdiri tenang sambil membaca isi SMS maut itu, sesekali dia meminta untuk mengirim ulang SMS-nya itu...
”Heh resi yang suka memecah belah umat, hayo kirimkan sebanyak-banyaknya SMS mautmu itu, aku ndak bakal takut ..”
”Oh keparat kau Bagong, kau telah menghinaku di depan umum, he anakku ngger cah bagus hayo dirampungi wae ngger wong telu keparat iki ”
”Kasinggihan mami !!”

Ketiga pasangan itu segera saling hantam. Duel maut nampaknya tidak bisa dihindari, Ki Lurah Badranaya berhadapan langsung dengan Wasi Rajamala, Gareng melawan Wasi Jayathoklik, sedangkan Bagong menghadapi Wasi Banaspati. Pertempuran itu sebenarnya adalah pertempuran antar kerabat sendiri , perang sesama dewa, intinya hanya berebut wahyu Witaradya, yang kini sudah sudah berada di pihak Resi Kamunayasa secara sah dan telah mengantongi surat berbadan hukum resmi dari departemen hukum dan HAM. Sementara Wasi Rajamala hanya bermodalkan sok kuasa, dan legitimasi masyarakat yang mentasbihkan dirinya sebagai wali , yang dianggapnya sebagai sosok yang maha benar di atas semua makhluk di mayapada ini.
Tak terasa pertempuran itu telah berlangsung setengah jam. Ketiga wasi itu telah kehabisan tenaga, kemudian mereka bersimpuh di hadapan Ki Lurah Badranaya.
”Aduh kakang Ismaya, aku njaluk pangapura kakang ...”
”Aih...mbregegeg sakdulita hml...hml..., aku wis menduga sebelumnya bahwa kamu yang selalu membuat kerusuhan di muka bumi ini, heh Durga, hayo ndang bukaken jubahmu itu, demikian juga si Dewa Srani karo si Bethara Kala itu, hayo ndang di buka semua... Semar ora bakal pangling karo prejenganmu”
”Oh kasinggihan pikulun ...”
”Waah, ternyata kamu to, pantes bumi seperti berguncang keras, lha wong pejabat tinggi yang bertempur...” , ujar Petruk sambil membenahi rompinya yang kelihatan melorot.
”Hiya Petruk, sorry ya, aku telah membuat repot kalian..”
”Wis Durga !, berhubung ini sudah berakhir, aku njaluk karo kowe kabeh, jangan kamu ulangi lagi perbuatan jahatmu ini, wis sekarang juga kalian pulanglah ke Pasetran Gandamayit lagi, awas yen mbok ulangi kejahatan ini, tak musnahkan kamu”
”InsyaAlloh kakang, aku kapok ..., wis hayo ngger bali menyang kahyangan.”
”Pikulun kula nyuwun pamit...”
”Iya Kala, lan Srani, hayo enggal balio ke kahyangan , hati-hati ...”

Ketiga makhluk lambang kejahatan itu segera terbang meninggalkan Punakawan. Sementara itu Cantrik Supalwa dan Begawan Kamunayasa serta Bambang Sekutrem segera datang menghampiri para Punakawan. Mereka berenam segera terbenam di kegelapan kabut yang siang itu menyelimuti pertapan Saptaarga.
Mereka berenam, nampak haru bisa kembali lagi ke pertapan yang telah lama mereka tinggalkan, namun demikian mereka juga kelihatan bermuram durja, lantaran kondisi masyarakat yang carut-marut. Masyarakat sudah dibalut oleh paham kapitalisme, kanibalisme, hedonisme, ngawurisme, dan budaya malas bekerja dan berusaha. Bahkan pendidikan yang dulu menjadi andalan, kini merosot tajam, tertinggal dengan pertapan yang lain. Guru-guru yang diangkat oleh para kepala sekolah kelihatan amat ngawur, mereka yang masih belum layak, dipaksakan memberikan materi, sedangkan yang benar-benar layak mengajar dengan ijazah yang resmi nampak dicampakkan begitu saja lamtaran tidak ada hubungan kerabat dengan para kepala sekolah yang serakah itu.
”Kakang Ismaya, kita jangan putus asa ... barangkali inilah yang akan kita kerjakan bersama-sama untuk kembali membangun Saptaarga, mejadi lebih baik...”
”Syukur begawan, sampeyan sudah sadar akan semua masalah ini..., kula namung ndedonga mugi-mugi Saptaarga pulih seperti dulu kala, masyarakatnya guyub rukun, maju, cerdas, dan berkepribadian yang unggul , eh hayo thole... bareng-bareng mbangun Saptaarga ..”
”Eh hiya hayo Mo, aku ngetokne dhawuhmu ...” Selesai (Tancep Kayon)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar