Selasa, 23 Juni 2009

Paham Keminter

Bethari Durga , Bethara Kala, dan Dewa Srani, hari itu harus mengulang kisinan untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih ingin mengelabuhi Sang Hyang Wenang dengan memba-memba Begawan Kamunayasa, namun akal julignya itu langsung konangan , dan hasilnya bisa diprediksi jauh hari sebelum hari nahas itu terjadi, yaitu kisinan alias kewirangan.
Tapi namanya bukan Bethari Durga kalau sifat nekad itu tidak selalu menyala-nyala. Prinsipnya adalah yang penting asap dapur terus mengepul, entah itu ada dasar hukumnya atau tidak, yang penting kedudukannya di mata para pemujanya harus tetap eksis, omongannya harus tetap dijaga dengan gula murni tetap manis, perintahnya harus disusun bak firman Tuhan, segala gerak-geriknya seakan duplikat nabi, sedangkan laknatnya ibarat lidah malaikat. Cerita melegenda itu harus dikemas secara turun menukik sampai akhir kiamat. Intinya adalah bagaimana agar mereka tidak mengurangi kecemerlangan pundi emas, asap dapur, derajat pangkat, serta harkat, berkat, dan martabak, eh martabat. Jangan coba-coba diungkit-ungkit !, ajaran begitu itu sudah sejak jaman nenek moyang sebagai pelaut, jadi kalau anda baru mengungkitnya sudah kedaluwarsa, dalil otentiknya sudah ndak mempan alias ndak njamani lagi, sekarang adalah jaman demokrasi bung !, siapa yang banyak itulah pemenangnya.
“Sorry mami !, sejak tadi sampeyan kok ngelamun terus ?, menggalih apa mami ?”
“Oh ngger Srani, otaknya mami itu tiada henti selalu mobile berputar-putar memikirkan hal-hal yang positif utamanya memikirkan nasibmu semuanya, sebab mami kuwatir jangan-jangan kamu nantinya ndak bisa mewarisi keculasan ini, untuk itu Kala dan Srani, kamu sebaiknya mau berguru kepada mami mengenai hal itu”
“Waaah mami, ilmu ngawur itu kemarin pernah diterapkan oleh kakang Bethara Kala dan hasilnya seluruh dunia pendidikan di mayapada dibuatnya geger , mereka mengolok-olok kakang Kala, katanya dia itu ndak ngerti soal pendidikan, keminter , sok tahu saja “
“emangnya ngomentari apa dia ?”
“Sekolah standar internasional “
“Bagus ngger !, teruslah kamu berkomentar ngawur, sebab dari kengawuranmu itu maka masyarakat akan semakin kacau, itu fenomena bagus ngger, teruslah jangan sampai berhenti, kalau perlu buatlah komisi baru , yaitu komisi ngawur pengacau opini publik, fungsinya adalah untuk menaikkan pamormu sebagai pewaris kebejatan di Pasetran Gandamayit ini, paham !! “
“Iya mami “, jawab Dewa Srani sambil menyulut puntung rokok tingwe-nya yang nyaris mati.
Tidak lama berselang Bethara Kala yang sedari tadi nguping dari teras pendapa segera bergegas menghampiri ibunya yang tengah duduk menjahit tali kutangnya sendirian…
“Nyak !, katanya kita mau merebut wahyu Witaradya , kapan ? “
“Oh iya Kala, kita ndak boleh membuang kesempatan ini, nanti selepas maghrib kita mengepung Saptaarga dengan kuman sakazaki, setelah itu Begawan Kamunayasa dan anak-anaknya kita rangket, terus wahyu itu pasti segera kita dapatkan”
Bathari Durga yakin bahwa perhitungannya tidak bakal meleset sedikitpun, dia memastikan bahwa Kamunayasa pasti sudah berada di pertapaannya. Untuk itu dengan secepat kilat dia bertiga segera terbang menuju Saptaarga.
Sementara itu Bathara Narada nampak tersenyum simpul, melihat ulah para biang kerok kejahatan dunia asal Pasetran Gandamayit tersebut.
“Ngger Kamunayasa, awakmu jangan kesusu pulang dulu ya, sebab sebentar lagi kakang Semar dan anak-anaknya bakal kemari, untuk itu ngger, ulun meminta dirimu bertiga bersiaga ganti baju keki lengkap dengan atribut pemerintah Pangudal-udal, dan jangan lupa pakai sepatu dan parfum, sebab ini adalah upacara penting buatmu, undangan sudah ulun publikasikan kepada seluruh pejabat penting, untuk itu ngger Kamunayasa awakmu jangan mengecewakan ya “
Dalam hati, Begawan Kamunayasa ndak mudeng blas dengan program protokoler yang di berikan Bethara Narada, untuk itu karena ia hanyalah sebatas bawahan , maka ia milih manut saja. Oleh karenanya dia segera bergegas berdandan sesuai dengan permintaan Ulun Narada.
Tepat Jam delapan pagi waktu Pangudal-udal, dari sudut gerbang alun-alun nampak Ki Lurah Badranaya datang dengan dikawal sebarisan pasukan pengawal dengan mobil BMW terbaru. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar