Selasa, 23 Juni 2009

Multi Krisis

Multi Krisis
Ki Setyo Handono


Negeri ini sudah dibilang sebagai negeri kapitalis murni, semua diukur dari banyaknya materi yang diperoleh. Seorang pengusaha yang dicari hanya keuntungan harta benda belaka, seorang pejabat yang dipikir hanya komersialisasi tanda-tangannya, seorang guru yang dipikir hanya portopolionya saja, bahkan para guru-guru di Kahyangan Suralaya pada decade akhir-akhir ini nyaris menderita ‘polio’ semua , betapa tidak !, etos kerjanya semakin kendor, mereka beramai-ramai memburu bukti pisik dengan berbagai jurus rekayasa tanpa harus mau bekerja keras, lumpuk-lumpuk gelar dengan sistim kilat kusus, lumpuk-lumpuk piagam miliknya orang lain, merekayasa penelitian melalui ‘tukang jasa’ pembuat PTK (Penelitian Tinggal Kulakan) harganya tinggal nego, sehingga nyaris data penelitian yang masuk judulnya sama semua, bedanya hanya nama sekolah yang berbeda, wah benar-benar memalukan, pantes kalau pendidikan di Kahyangan Suralaya semakin menurun drastic, Bethara Guru hanya bisa ‘ngelus’ dada, hanya bingung bagaimana mengatasi merosotnya moral pelaku pendidikan di wilayahnya.
Namun bagi Bathara Narada merosotnya pendidikan tidak hanya karena etos kerja guru yang rendah, tapi ada satu factor yang amat dominan yang kini menjadi perusak dahsat dunia pendidikan, dan ini hanya bisa dipecahkan oleh kekuatan pemerintah pusat dengan tangan besinya, yaitu kebebasan media siar yang telah menghasilkan liberalisme, premanisme, pornografi, pergaulan bebas, mastrubasi, petting, libido anak-anak di bawah umur, pelecehan seksual, hingga pengembang biakan modus-modus asusila baru.
“Adhi Guru , barangkali pagebluk ini tidak akan bakal reda jika sampeyan tidak ada kemauan untuk menumpas habis sumber-sumber kebejatan di Ngercapada, barangkali itulah salah satu jalan yang harus ditempuh, sampeyan jangan takut dengan HAM, apalagi dengan anggota dewan yang sok membela rakyat, malah kalau perlu babat habis saja anggota dewan yang hanya memikirkan kursi dan perutnya sendiri “
“Kakang Kanekaputra , kekuasaan dewata sekarang sangat dibatasi kakang, sehingga mustahil aku menerapkan kembali cara-cara dictator, yang kedua kalinya kakang kan ya mengerti bahwa kejahatan ini semua sumbernya adalah dari anak-anak dan istriku sendiri, jadi ibaratnya aku ini makan buah simalakama…”
“Terus maksud adhi Guru ?”
“Biarkan dulu kakang kemerosotan moral generasi muda ini berlangsung, pastilah suatu saat nanti mereka akan sadar dengan sendirinya…”
“Wooo…kalau begitu sampeyan juga termasuk dari biangnya kerusakan di negeri ini… wis adhi Guru aku njaluk pamit, pedah apa aku ndik kahyangan kene, aku arep sowan Sang Hyang Wenang ning Alang-alang Kumitir saja, jangan salahkan aku kalau ndonya bubrah, rusak , termasuk susu-susune bocah-bocah bayi barang !!”
Bathara Guru Guru sudah menduga bahwa Bathara Narada bakal tidak sepaham dengannya, untuk itu kepergiannya tidak mebuatnya kalut ataupun kacau, tapi justru semakin menambah tenangnya suasana pemerintahannya. Bathara Guru berpendapat bahwa semakin sempurna sebuah kejahatan para pejabat dan aparatnya maka semakin banyak keuntungan materi yang bakal didapatnya.
Sementara itu di Kahyangan Alang-alang kumitir semakin hari nampak semakin hayu, hayem, hangayomi. Punakawan , Semar, Gareng, Petruk dan Bagong telah menemukan jati hidupnya, dijadwalkan beberapa hari kemudian mereka akan memboyong wahyu Witaradya untuk disarahkan kepada Begawan Kamunayasa. Bersambung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar