Selasa, 23 Juni 2009

Wasi Rajamala Ki Setyo Handono

Bekas perayaan pesta wisuda masih nampak berserakan. Sampah-sampah plastik bekas gelas air mineral, kotak kardus bekas pembungkus ‘nasi kotak’ , tisu kertas berwarna jambon, potongan-potongan janur bekas dekorasi, semuanya masih tercecer disekitar pendapa Alang-alang Kumitir. Pasukan kuning nampak kelihatan loyo, lamban kurang gizi. Maklumlah mereka adalah lambang-lambang kehidupan manusia yang hidupnya kesrakat, mereka adalah manusia yang besar jasanya, tapi tak seorangpun mau memberikan imbalan yang pantas kepadanya. Sementara para pejabat lebih perhatian kepada para pengusaha, kolega, dan para wanita muda jelita yang suka menggoda. Pasukan kuning tetaplah giginya kuning, penyakitnya kuning, ndak mampu membeli odol dan sikat gigi, apalagi membeli sekilo gula untuk mengobati penyakit kuningnya. Tapi walau demikian mereka adalah manusia yang senantiasa memikirkan kebersihan, mereka tidak membiarkan begitu saja sampah-sampah kota , kotoran-kotoran selokan, kotoran-kotoran hati bersemayam dalam kehidupannya. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa sejati, gaji rendah tapi tetap berbakti, walau lampu kuning penuh janji tetap menyinari raut wajahnya.
Sementara itu nun jauh di ujung perbatasan antara Kahyangan dengan atmosfir mayapada, nampak rombongan Begawan Kamunayasa dihantar oleh Punakawan, Kyai Semar, Nala Gareng, Lurah Kanthongbolong, dan Bagong kelihatan tergesa-gesa seperti ingin segera sampai di pertapan Saptaarga. Tak jemu-jemu Semar selalu mengingatkan Begawan Kamunayasa untuk berhati-hati, sebab tidak mustahil di tengah perjalanan bakal ketemu preman, tukang jambret, tukang kutil, dan sebagainya. Begawan Kamunayasa dan Bambang Sekutrem alias Bathara Darma sangat menghormati semua nasihat dari Ki Nayantaka tersebut. Mereka paham betul siapa Ki Lurah semar tersebut. Baru saja mereka mengangguk tiba-tiba dari balik semak belukar muncul tiga orang yang menghadangnya…
“Heh ! keparat iblis laknat, siapa kalian ber-tujuh berani masuk wilayah kekuasaanku, hayo !!, mengakulah “
“Omm, awignam astu, kisanak, jauh asalku, aku lewat tanpa sengaja ternyata ini adalah wilayah kekuasaan panjenengan ta, oh kalau begitu kisanak, berilah ampun kesalahanku ini, sebab aku ndak sengaja kok “
“Ha…ha…ha…, kok enak banget, lha wong jelas-jelas kalian ini telah melanggar hokum lha kok hanya minta maaf …”
“Nanti dulu kisanak , kenalkan nama saya Semar, aku akan menjelaskan duduk perkara bendaraku ini, sampeyan jangan grusa-grusu mau menghukum bendaraku, teliti dulu dong, kami ini tahu hokum , tau tatakrama, tidak mungkin kami ngawur masuk wilayah otrang tanpa ijin, kami ini benar-benar kehilangan arah…” sahut Semar dengan nada tinggi.
“ Ha…ha…ha…, kalian aku ijinkan pulang tapi ada syaratnya, yaitu barang yang kalian bawa itu harus diserahkan kepadaku bertiga ini, kalau nggak mau menyerahkan maka sebagai gantinya kalian semua akan aku lumatkan ….”

Jumangkah hanggra sesumbar, lindhu bumi gonjing, gumaludhug guntur ketug, umob kang jaladri, onggggg…

Mendengar kenekatan seseorang yang menghadangnya membuat Ki Lurah Badranaya beserta anak-anaknya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gareng, Petruk dan Bagong segera melompat memegang tiga preman yang nekad tersebut
“Heh menungsa keparat !, wujudmu adalah seorang wasi, seorang resi, seorang brahmana, tapi kenapa sifatmu seperti raksasa saja, hayo berterus teranglah siapa kalian ini sebenarnya” sergah Petruk sambil tangannya berkacak pinggang.
“Heh bocah duwur elek rupamu, jenengmu Petruk, yang belakakangnya Gareng , dan yang lambene ndomble itu mesti Bagong… iya ta”
Petruk agak kaget begitu namanya disebut, demikian pula dengan Gareng dan Bagong. Petruk segera menggeser posisi kakinya ke belakang. Dalam hatinya ia harus meningkatkan kewaspadaan.
“Ketahuilah Petruk, namaku Wasi Rajamala, yang dibelakangku Wasi Jayathoklik, dan yang paling besar itu Wasi Banaspati..”
“Terus niat sampeyan menyegat rombongan saya ini apa ?”
“Tidak tedheng aling-aling bahwa niatku hanyalah satu yaitu merebut brankas yang kalian bawa itu, kedua kalinya aku diutus oleh Sang Hyang Guru untuk melenyapkan Bambang Sekutrem. Karena Bambang Sekutrem dianggap menyaingi kekuasan para dewa…”
“Sik…sik … aku tak motong pembicaraanmu, heh ! Resi Rajamala, nitik jenengmu wae aku wis curigation, dari luarnya saja kamu itu pendeta, tapi dalammu itu seperti udun alias bisul, baik luarnya tapi busuk dalamnya, kowe jangan ngaku-aku kalau kamu utusan dewa, wis sekarang juga kalian harus pergi dari hadapanku, kalau kamu ndak mau minggat maka Semar yang akan menghajarmu !!”

Tandya bala Pandhawa mbyuk gumulung mangungsir, ring sata kurawa kambah…ooong…
“Weladalah iblis laknat jag-jagan.. keparat !, ini sajaknya sudah ndak bisa di ngeman lagi, he adimas Jayathoklik, dan adimas Banaspati, hayo menungsa Punakawan ini kita rangket, kita cincang tubuhnya untuk kita jadikan ramuan pupuk bersubsidi..”
“Oh kasinggihan kakang !”, “sendika dhawuh kakang , hayo dhi majuuuuu”
Tanpa membuang waktu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong segera meladeni tiga wasi tersebut dengan peralatan seadanya. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar