Selasa, 23 Juni 2009

Dewa Srani Edan Ki Setyo Handono

Hanya beberapa saat saja Prabu Anom Gatutkaca telah mampu menghafalkan matra sakti pemberian Prabu Kresna. Dia lantas mohon pamit untuk segera menemui Patih Jentha Yaksa untuk kembali berlaga adu katiyasan.
Ana kangwre tunggal kagiri-giri, gengnya groma galak, angkara ambeg, nya oooong... gora godha hangga ulungna, tinepak kaplesat, buta kabarubuh, oong...
”Hayo Gathutkaca, keluarkan seluruh kekuatanmu, hayo hadapilah aku, Patih Jentha Yaksa patih dari Tunggul Malaya hrrrr .... ha...ha...ha...”
”Adeg-adegku ibu pertiwi..., pepayungku bapa akasa, kaadangku keblat papat paningalku jati wasesa, dudu jatining manungsa nanging cahyaning Kang Maha Kawasa, rahayu...rahayu...”, desah Gathutkaca sambil mengusap muka dengan khusuk Patih Jentha Yaksa tiba-tiba terjerembab, tubuhnya yang besar roboh di bumi menggetarkan bangunan-bangunan semi permanen, nyaris semuanya retak-retak. Prabu Anom Gatutkaca kembali melantunkan mantra saktinya, hingga ...
”Waduh ...Gathutkaca, cukup...cukup...jangan kau lanjutkan, tubuhku terasa terbakar... sudah Gatut...aku mengakui keunggulanmu...aku pulang saja Gathutkaca..” Begitu terdengar jeritan yang memekakkan telinga, tiba-tiba dari balik batu yang besar muncullah makhluk aneh berhidung besar diikuti oleh makhluk-makhluk yang lainnya.
”Le-le pak, le-le pah pangananmu iwak mentah, lalapane proyek sekolah, sing mangan ora tahu susah, mbesuk tuwek padha susah..”
”Le-le cuk... le-le cuk pakananku sega pincuk, lalapane kapal keruk , olehe mangan karo mbungkuk, plingak-plinguk garuk-garuk, ethok-ethok nemu gethuk, othak-athik amrih gathuk, jebule mung lumpuk-lumpuk, nuruti wetenge mblendhuk, dhuh wong ndonya sira padha laliyo, ngakerat mung crita blaka, ugemen senenging donya, uberen lintang kartika, obralen babahan hawa sanga, sumpet piwulang brahmana, ambyura mring angkara murka..”
”Adeg-adegku ibu pertiwi, pepayungku bapa akasa....” tiba-tiba Gathutkaca telah berada di belakang para gandarwa sambil membacakan mantra saktinya. Seketika tubuh mereka seakan terbakar, mereka segera lari terbirit-birit, menye-lamatkan diri. Dari kejauhan Prabu Kresna segera menghampiri Gathutkaca.
”Ngger Gathutkaca, sepertinya sudah mulai terlihat cerah, jagad sudah sedikit tersibak dengan cahaya, oleh karena itu ngger kulup, hayo kita segera menyingkir dari sini”

Bersamaan dengan perginya Prabu Kresna dan Gathutkaca, suasana menjadi agak tentram. Pasukan preman dan iblis yang dipimpin Prabu Jentha Yaksa telah berhasil dihalau dan dimutilasi, tubuhnya hancur berkeping-keping hingga team forensik kesulitan melacak benang merah yang melekat pada masing-masing bangkai gandarwa yang berserakan.
Kita tinggalkan dulu kisah Prabu Kresna dan Gathutkaca. Di atas sana, tepatnya di lantai awal Kahyangan Suralaya nampak Dewa Srani dan maminda Bethari Durga nampak kelihatan kusut wajahnya. Dewa Srani terlihat melepas jas kulitnya, dasinya, dan sepatunya. Yang nyantol di tubuhnya tinggal celana dalam, kemudian dia berlari-lari di jalan raya, sambil tertawa-tertiwi sendiri, menyebut kekasih hatinya Dewi Dersanala. Kontan, Sang Mami Bethari Durga merasa kewirangan melihat ulah anaknya yang kerasukan iblis gendheng,
”Hong thethe dewangkara Rudra manik raja dewaku, oh jagad dewa bathara, oalaaah ngger ... ngger, kamu itu calon pangeran lho, elinga ya ngger ... kasihanilah dirimu, ingatlah ibumu..., hayo ngger busanamu dipakai lagi, jangan telanjang begitu, ingat lho awakmu itu udah haji, udah meng-umrohkan orang-orang di sekitarmu...” Bathari Durga sambil meronta-ronta, meminta anaknya tidak berbugil ria. Tapi Dewa Srani sudah seratus persen lupa ingatan, mobil pribadi yang masih kinyis-kinyis dilemparnya ”pres”, seketika kaca depannya hancur berantakan. Bethari Durga tambah panik. Dewa Srani semakin nekad berlari menuju sungai di bawah jembatan Suralaya.
”Oh Dersanala... terimalah cinta sejatiku ini, lihatlah aku membawa bunga untukmu, aku rela mencopot seluruh busanaku demi untuk tubuhmu yang kedinginan, oh Dersanala, seluruh istanaku akan ku serahkan padamu... hayo Dersanala... janganlah berpaling denganku, .. oh keparat kau Janaka !!, kau telah nodai calon istriku, aku cincang-cincang tubuhmu, ciaaaaaat !!!” Dewa Srani berteriak sambil membanting batu-batu yang berserakan di sekitarnya.
”Kulup Dewa Srani, eling ngger... eling ngger, ini lho minum dulu, hayo ngger minum dulu ...” pinta Bathari Durga sambil mengulurkan segelas air minum.
”Mami, aku mau minum kalau Dewi Dersanala telah ada di sampingku”
”Hiya kulup, tapi mami minta kau sabar dulu, mami akan menemui papimu Bathara Guru dulu ..”
”Nggak mau mami, pokoknya sekarang !!!”
”Ngger, papimu sekarang lagi work shop, tidak boleh diganggu, beliau baru pulang tiga hari yang akan datang..”
”Kalau begitu campurlah minumku itu dengan racun nyamuk, aku mau bunuh diri saja mami..., lihatlah mami aku telah menelan racun !!!”
Kaget , Bethari Durga segera melesat menyambar anaknya yang telah terkapar mengerang sekarat keracunan. Mereka segera menerbangkan anaknya ke instalasi gawat darurat rumah sakit Suralaya. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar