Selasa, 23 Juni 2009

Sastra Lisan Jemblung Wecana 4

BAB IV
TINJAUAN UMUM


A. Profil Muhammad Yusuf
Nama lengkap dalang jemblung Katong Wecana adalah Muhammad Yusup, beliau dilahirkan di Kelurahan Setono pada tahun 1921. Ia anak ke 5 dari tujuh bersaudara dari pasangan Hasan Darmo dan Sokilah. Menurut silsilah Hasan Darmo masih merupakan keturunan Raden Katong yang ke 13 , dengan demikian Muhammad Yusup merupakan keturunan Raden Katong yang ke 14, sehingga karena pengaruh garis keturunan inilah yang kemudian menjadikan Jemblung tetap terjaga struktur cerita yang dibawakannya.
Kemampuan Muhammad Yusup mendalang Jemblung ternyata tidak dilaluinya lewat jalur akademik, ia memperolehnya melalui jalur mistis , yaitu ilmu laduni atau orang Jawa mengatakan kewahyon, tiba-tiba ilmu mendalang Jemblung itu ia dapatkan begitu saja . Dengan mempertimbangkan potensi linuwih yang dimiliki oleh Muhammad Yusup, masyarakat sekitar banyak yang memintanya untuk melakonkan cerita Jemblung. Sekitar tahun 1942 ketika Muhammad Yusup masih berusia 21 tahun ia diminta memperagakan cerita jemblung oleh Kepala Kelurahan Setono yang mewakili permintaan seluruh masyarakat Setono pada waktu itu, namun Ki Muhammad Yusup memohon kepada Kepala Kelurahan agar terlebih dahulu diizinkan untuk ‘ uji kemampuan ‘ kepada dalang jemblung yang lebih senior yaitu Kiai Danasuka dari daerah Pinggirsari ( desa di ujung barat Ponorogo ). Dengan berbekal ilmu laduni dan sertifikasi lisan dari Kiai Danasuka , Muhammad Yusup sang dalang baru tersebut, benar-benar melakukan pentas mendalang untuk yang pertama kali yang dimulai dari daerahnya sendiri Setono. Dari sini dapat diketahui bahwa hubungan antara Muhammad Yusup dan Kiai Danasuka adalah sebatas pada tataran konsultasi , sehingga dari pertemuan yang rutin ini lambat laun terjadi sebuah penampilan jemblung yang sesuai dengan pakemnya. Kiai Danasuka tinggal memoles bakat laduni yang dimiliki oleh Muhammad Yusup dengan ilmu-ilmu pedhalangan , sehingga penampilanya bisa tertata seperti pedhalangan pada umumnya (Wawancara,5 Mei 2007)*.
Kepiawaian mendalang Muhammad Yusup sebenarnya bisa dilacak dari dua aspek penting yakni; pertama, sejak awal ia diberi kemampuan alami yang disebut ilmu laduni yaitu kemampuan yang secara tiba-tiba ada , dia begitu saja bisa mendhalang jemblung tanpa harus berguru kepada orang lain, sedangkan peran Kiai Danasuka hanyalah sekedar mencocokkan apakah yang ia telah dapatkan dari bisikan hatinya sudah pas dengan pakem jemblung. Kedua, dari kondisi fisik Muhammad Yusup sudah ditakdirkan tunanetra, tetapi dia sangat terampil melakonkan cerita jemblung dengan sangat fasih. Berdasarkan penuturannya , begitu pentas terjadi , di depan matanya seolah-olah terlihat cukup jelas gambaran cerita yang sedang terjadi . Dari kenyataan yang sangat mistis inilah , ia dengan sangat fasih mementaskan cerita jemblung (Wawancara,5 Mei 2007)*.
Namun demikian kenyataan yang terjadi adalah nama Muhammad Yusuf tidak begitu dikenal oleh masyarakat di sekitar, tetapi justru di luar daerah ia cukup dikenal . Beberapa pentas yang telah berhasil dilakukan antara lain di Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia ( SMKI ) di Surabaya pada tahun 1978, kemudian di RRI Madiun secara rutin setiap hari Minggu mulai tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dan di wilayah Surakarta, Semarang, Caruban , dan lain-lain .
Bagi orang Jawa di pedesaan cerita jemblung bukan sekedar cerita fiksi untuk hiburan. Cerita ini mengandung pasemon atau lambang kehidupan manusia. Dengan demikian cerita ini memegang peranan penting di dalam gerak hidup masyarakat Jawa yang berada di pedesaan. Karena itulah cerita jemblung ini dipergunakan masyarakat pedesaan untuk berbagai keperluan , mulai dari ritual keagamaan hingga ritual adat-istiadat.
Apabila upacara tingkeban yakni perayaan orang hamil tujuh bulan, maka mereka akan memilih cerita jemblung Laire Nabi Musa, Laire Nabi Yusup , dan Laire Jaka Tarub. Bagi orang Jawa yang santri tema yang cocok bagi perayaan pesta tersebut adalah Laire Nabi Yusup atau Laire Nabi Musa, karena tema tersebut memenuhi harapan , yakni agar kelak anaknya lahir menyerupai Nabi Musa atau Nabi Yusup sebagai pahlawan penyebar agama Islam yang gagah dan tampan. Sedangkan orang Islam abangan, lebih memilih Laire Jaka Tarub, sebab mereka berpengharapan agar kelak anaknya seperti Jaka Tarub dan Nawangwulan, yakni gagah dan cantik jelita seperti bidadari (Hutomo,2001:36).
Cerita yang bertema kelahiran itu sering dipilih orang untuk merayakan pesta pupak puser, yakni perayaan bayi sudah putus tali pusarnya, tetapi cerita-cerita ini ditambah dengan cerita lain misalnya, ceritaLukaman Hakim, Lokayanti, Prabu Rara, Ahmad Muhammad, Aji Saka, dan Jaka Tingkir. Orang memilih cerita-cerita ini karena cerita tersebut banyak berisi adegan peperangan. Sebab cerita yang banyak berisi adegan peperangan dianggap orang sebagai cerita yang bagus untuk keprluan pesta, sebab sesuai dengan suasana pesta yaitu bersifat gembira dan ramai. Dalang jemblung sewaktu menceritakan adegan peperangan, biasanya sambil memukul terbang dengan kuat dan beruntun , sehingga trerdengar ramai dan riuh. Sedangkan bagi orang Islam abangan, mereka lebih menyukai cerita Aji Saka, Jaka Tingkir. Orang Islam abangan berpandangan bahwa tokoh Aji Saka adalah lambang ksatriya yang menegakkan keadilan di muka bumi ini. Dia adalah sang pemberantas kejahatan dan keangkaramurkaan di dunia. Dewata Cengkar, Raja Medhang Kamulan, yang suka memakan daging manusia, ialah lambang kejahatan dan keangkaramurkaan, Aji Saka mengalahkan Dewata Cengkar , itu berarti kejahatan dan kemungkaran harus musnah dari dunia. Adapun cerita Jaka Tingkir ialah lambang anak desa yang mempunyai kemauan yang keras dan tahan terhadap berbagai ujian dan cobaan hidup, maka dalam akhir hidupnya ia memperoleh kedudukan yang mulia di dalam masyarakat (Hutomo:2001:36-37).
Untuk merayakan pesta sunatan atau pengkhitanan anak laki-laki atau anak perempuan , baik orang Islam santri ataupun orang Islam abangan, mereka lebih menyukai cerita-cerita yang banyak berisi adegan peperangan, atau cerita lain yang populer di dalam masyarakat (Hutomo,2001:37).
Pesta pengantin bagi orang Islam santri akan memilih cerita Dewi Partimah, Murtasiyah, dan Sarahwulan. Tokoh Dewi Partimah, Murtasiyah dan Sarahwulan ialah lambang kesetiaan wanita kepada suaminya menurut ajaran Islam. Lebih-lebih tokoh Dewi Partimah , yang dikenal oleh orang Islam santri sebagai anak Nabi Muhammad S.A.W., merupakan tokoh pujaan para wanita Islam. Bagi seorang wanita Islam yang memasuki jenjang perkawianan harus mencontoh tokoh ini (Hutomo:2001:38).
Upacara Murwakala atau ruwatan , yakni upacara pembersihan sukerta atau sesuatu yang menimbulkan marabahaya atau bencana, selalu dilaksanakan oleh orang Islam abangan yang masih mempercayai kepercayaan agama lama Hindu dan Buda. Mereka mempercayai bahwa ada duapuluhtiga macam anak sukerta yang harus di ruwat agar selamat dari kala atau menjadi makanan Bethara Kala yaitu; (1) Anak gedhana-gedhini , anak dua dari satu keluarga laki-laki dan perempuan, (2) Anak Ontang-anting, anak tunggal tidak bersaudara, (3) Bocah Kembar, dua bersaudara semuanya laki-laki, (4) Gondhang kasih anak kembar yang seorang berkulit putih (bule) dan yang lainnya berkulit hitam, (5) Made, anak lahir tanpa alas tikar, (6) Saramba, anak empat laki-laki semua, (7) Wungkuk, anak yang lahirnya dengan punggung bengkok, (8) Margana, anak yang lahir dalam perjalanan, (9) Sekar sepasang, dua bersaudara semuanya perempuan, (10) Uger-uger lawang dua bersaudara laki-laki semua, (11) Pancuran kaapit sendhang, tiga bersaudara laki-laki dan perempuan, laki-laki di tengah, (12) Srimpi,empat orang anak semuanya perempuan, (13) Sendhang kaapit pancuran tiga bersaudara perempuan di tengah, (14) Pandhawa putra, lima bersaudara semuanya laki-laki, (15) Panca putri, lima bersaudara semuanya perempuan, (16) Pipilan , lima orang bersaudara terdiri empat orang perempuan dan seorang laki-laki, (17) Padhangan, lima anak bersaudara terdiri empat laki-laki dan seorang perempuan, (18) Siwah, anak yang dilahirkan dengan memiliki dua macam warna, (19) Kresna, anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam, (20) Walika, anak yang dilahirkan dalam bentuk bajang kecil, (21) Bule, anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih, (22) Dengkek, anak lahir punggungnya menonjol, dan (23) Wujil anak yang lahir dengan badan cebol (Soetarno 1992:28).
Bagi Orang Islam abangan , tokoh Bathara Kala sama dengan tokoh Dewata Cengkar, yaitu dianggapnya sebagai lambang kejahatan dan keangkaramurkaan di dunia. Adapun Bathara Guru dipandang sebagai lambang pemimpin yang tidak bijaksana, tidak adil, dan kadang-kadang berpihak kepada keangkaramurkaan sehingga merusak masyarakat, (Hutomo,2001:39).
Bagi dalang jemblung atau kentrung mempertunjukkan cerita Lahire Bathara Kala adalah cerita yang amat berat, sebab harus berpuasa terlebih dahulu agar ritual ruwatan tidak terjadi halangan. Bagi penanggap akan meyadari bila proses ruwatan adalah ritual yang teramat berat, maka mereka akan memberikan ongkos tambahan untuk sang dalang (Hutomo,2001:39).
Untuk memeriahkan pesta yang berhubungan dengan ngujari kaul, yakni menunaikan nazar karena cita-cita atau harapan terwujud, cerita yang dipilih penanggap baik bagi orang Islam santri maupun orang Islam abangan, bukan hanya terbatas pada cerita-cerita yang berisi banyak adegan peperangan, tetapi juga cerita-cerita lain semisal, Payung Tunggulnaga,Aji Saka, Jaka Tingkir,dan sebagainya (Hutomo,2001:39).
Untuk ritual sedhekah desa, yakni pesta panen raya orang memilih cerita seperti ritual ngujari kaul . Bagi orang Islam abangan masih percaya bahwa disekitar mereka yamg meliputi; sumber air, sawah, ladang, sungai, lautan, pohon-pohon besar, bebatuan dan pedesaan ada yang mbaureksa, maksudnya ada makhluk halus yang menunggunya. Karena kepercayaan ini kemudian mereka memberikan sedekah kepada makhluk halus yang berada di tempat-tempat tersebut sebagai ungkapan terima kasih, dalam bentuk pesta-pesta adat lengkap dengan benda-benda sesajinya.
Untuk peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus, Muhammad Yusup sering mementaskan lakon cerita Tumuruning Wahyu Sejati. Cerita ini dihubungkan dengan kelahiran falsafah negara Republik Indonesia , yaitu Pancasila (Hutomo,2001:41).

B. Naskah Cerita Jemblung Katong Wecana
1. Laire Nabi Yusup
2. Laire Nabi Musa
3. Lukman Hakim
4. Ahmad-Muhammad
5. Aji Saka
6. Jaka Tingkir
7. Sungging Prabangkara
8. Lahire Jaka Tarub
9. Lokayanti
10. Prabu Rara
11. Lahire Bathara Kala
12. Payung Tunggulnaga
13. Dewi Partimah
14. Sarahwulan ( Joharmanik )
15. Murtasiyah
16. Babad Demak
17. Babad Gresik
18. Damarwulan
19. Ande-ande Lumut,
20. Tumurune Wahyu Sejati, dan sebagainya (Wawancara, 5 Mei 2007)*

C. Ringkasan Cerita Payung Tunggulnaga
Adegan 1
Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib penguasa negeri Kuparman mengadakan pertemuan dengan patih Tambi Jembiril. Dalam pertemuan itu sang Adipati menanyakan keadaan negeri Kuparman dan menanyakan keadaan putranya Bagindha Umar dan Bagindha Amir yang sedang belajar di pondok pesantren Mbleki. Patih Tambi Jembiril meberitahukan bahwa keadaan negeri Kuparman dalam keadaan baik, sementara kedua putranya sebentar lagi akan segera pulang, karena keduanya telah selesai menjalani pendidikan di pondok pesantren , bahkan Bagindha Amir telah mendapatkan ilham bahwa negeri Kuparman akan menerima harta karun yang melimpah.
Adegan 2
Bagindha Umar dan Bagindha Amir datang. Keduanya terus sungkem (menghormat sambil menyembah) kepada kedua orang tuanya. Mereka memberitahukan bahwa mondhoknya di Pesantren Mbleki telah berhasil. Bahkan ketika pulang melewati hutan belantara , mereka menemukan timbunan tanah yang berisi emas perhiasan yang banyak sekali, ditambah dengan diketemukannya pusaka keramat Payung Tunggulnaga ,Payung Bawat,atau juga disebut Kasang Kertas Aji . Benda pusaka ini hanya bisa dipakai di negeri Kuparman. Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib sangat senang sekali, karena dengan demikian maka pelaksanaan pembangunan di negeri Kuparman bisa cepat sukses, dan negeri Kuparman bakal tentram dan damai.
Adegan 3
Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib memerintahkan prajurit pilihan untuk segera memboyong harta karun dan benda pusaka dalam bentuk mas picis rajabrana, payung tunggulnaga, payung bawat, kasang kertas aji dan, turangga kalisak.
Adegan 4
Bagindha Umar dan Bagindha Amir dengan seluruh prajurit berhasil memboyong harta karun dan benda pusaka menuju negeri Kuparman. Dalam perjalanan mereka selalu bersenda gurau sambil menyanyikan tembang-tembang kesukaan mereka.
Adegan 5
Bagindha Umar dan Bagindha Amir menyerahkan seluruh harta penemuannya kepada ayahnda Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib. Adipati meminta pendapat Bagindha Amir perihal harta tersebut, kemudian Bagindha Amir menyarankan agar harta karun tersebut dibagi kepada delapan golongan yang berhak menerima yaitu ; (1) golongan fakir (2) miskin, (3) golongan orang yang banyak menanggung hutang, (4) untuk pembangunan masjid dan langgar, (5) untuk ayahnda Adipati , (6) untuk pengadaan peralatan perang, (7) untuk janda-janda, namun Adipati mengusulkan supaya pembagian itu ditambah satu lagi yaitu upeti yang harus dipersembahkan kepada Raja Yaman, sebab negara Kuparman berada di bawah kekuasaan kerajaan tersebut.
Bagindha Amir sangat tidak setuju dengan usulan ayahndanya karena negara Yaman adalah negara yang sudah kaya raya, hal itu sangat tidak perlu oleh karenanya harta itu harus tetap dibagikan kepada fakir miskin.
Penolakan itu membuat sang Adipati agak tersinggung hatinya. Melihat hal demikian Bagindha Umar segera menasihati Bagindha Amir agar menghormati keputusan orang tuanya. Bagindha Amir sebagai anak yang berbakti akhirnya luluh , mengikuti keputusan orang tuannya.
Adegan 6
Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib segera memanggil putranya yang bernama Dullah untuk bersama-sama dengan duapuluhlima prajurit menghantar upeti kepada Raja Yaman. Di tengah jalan mereka dihadang oleh sorang begal yang bernama Raden Maktal putra Ngalabani. Raden Dullah kemudian mengalami luka dan kalah. Tidak lama berselang Bagindha Amir datang membantu ,akhirnya Raden Maktal putra Ngalabani dapat dikalahkannya, kemudian Raden Maktal bergabung, mengabdi seumur hidupnya menjadi prjuritnya Bagindha Amir.
Adegan 7
Bagindha Amir beserta para prajuritnya sampai di alun-alun negeri Yaman. Dalam hati Bagindha Amir masih merasa sedih , kenapa negara yang mestinya tidak perlu dibantu justru masih harus menerima bantuan, padahal hak fakir miskin masih sangat perlu lebih diperhatikan. Untuk itu Bagindha Amir memilih tafakur dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi kekuatan dalam menerima kenyataan tersebut.
Tidak jauh dari tempat duduk Bagindha Amir, dua orang prajurit setia Maruta dan Dahana sedang bercengkerama berbincang ringan membicarakan masalah yang dihadapi oleh Bagindha Amir. Mereka juga mebicarakan masalah kerukunan umat Islam di desanya serta mebicarakan masalah peraturan pemerintah tentang kewajiban memakai helm bagi pengendara sepeda motor yang baru saja disosialisasikan oleh pemerintah Republik Indonesia. Tidak lupa mereka juga menampilkan hiburan berupa gending-gending Jawa seperti tembang “Randane Nunut”. Setelah itu, Maruta menjelaskan tentang Jemblung Katong Wecana dan babad Ponorogo.
Tidak beberapa lama Bagindha Amir segera bangkit dari tafakurnya kemudian mendekati dua prajuritnya yang tengah bersenda gurau. Mereka diberi tahu bahwa saat itu Raja Yaman tengah mengadakan sayembara yang tengah dihadiri oleh raja seribu negara. Kesumaning Ayu Ratu Kumanditen membuat sayembara barang siapa dapat mengalahkan dia, maka kalau laki-laki akan dijadikan suaminya, jika yang mengalahkan perempuan maka dia akan menjadi abdinya. Disamping itu ada sarat yang harus dipenuhi yaitu peserta sayembara harus bisa memanah lobang cincin yang dia pakai.
Pada kesempatan yang terkhir Raja Ngabsah tidak bisa melaksanakan ujian pada sayembara tersebut, kemudian Bagindha Amir mendekat. Dengan memohon kekuatan dari Allah S.W.T. mengikuti sayembara tersebut. Dan akhirnya Kesumaning Ayu Ratu Kumanditen dapat dikalahkan , dan dia menyerahkan diri kemudian menjadi istri Bagindha Amir.
Adegan 8
Tiba-tiba datang seorang prajurit yang memberithukan negeri Ngarab saat itu sedang dikepung oleh musuh dari negeri Kaos yang dipimpin oleh Raja Jobin. Kemudian mereka berangkat bersama-sama menuju negeri Ngarab. Dalam perjalanan menuju tanah Ngarab mereka dihadang oleh Raja Marmadi. Akhirnya mereka terlibat dalam sebuah bentrokan fisik, Raja Marmadi dapat dikalahkan dan akhirnya bersedia bergabung dengan pasukan Bagindha Amir untuk melanjutkan perjalanan ke negeri Ngarab. Namun untuk sementara niat itu diurungkan, kemudian mereka berniat pulang terlebih dahulu ke negeri Puser Bumi. Tetapi mereka ternyata salah jalan memasuki wilayah negeri Medayin.
Adegan 9
Bagindha Amir dan Bagindha Umar mencoba keluar dari gerbang negara Medayin, tetapi di pintu gapura telah berdiri seorang raksasa yang sakti mandraguna . Mereka berhenti sejenak untuk mengatur strategi agar sang penjaga gapura yang dikenal dengan si Abru dapat dikalahkannya. Kemudian Bagindha Umar menyuruh Bagindha Amir untuk mendekati Abru. Bagindha Amir mendekat sambil membawa senjata panah dan berdoa membaca mantra yang diambil dari Al-Qur’an, surat al-An’am. Bagindha Amir selanjutnya melepaskan panah , seketika leher Abru terputus. Bagindha Umar berlari kegirangan, diambilnya kepala Abru kemudian dibawanya sambil berlari mengitari alun-alun Medayin. Hal itu mengundang simpati yang luar biasa dari penduduk Medayin yang melihatnya, termasuk putra sang Patih Bestak , Kesumaningayu Dewi Bestari.
Bagindha Umar yang sempat melihat kecantikan Kesumaningayu Dewi Bestari tidak kuwat menahan panah asmara, seketika dia melompat ke arah jendela yang sedang dipergunakan Dewi Bestari melihat atraksinya. Demikian halnya dengan Bagindha Amir , dia tak tahan menahan asmara begitu melihat kecantikan putri Raja Medayin , seketika dia melompat ke arah jendela yang ditempati oleh putri Raja Medayin Kesumaningayu Siti Muninggar. Kedua pasang insan berlainan jenis itu bagai gayung bersambut, mereka bergumul merajut benang-benang asmara. Bagindha Amir kemudian berniat menikahi Kesumaningayu Siti Muninggar, tetapi ada permintaan yang harus dipenuhi oleh Bagindha Amir yaitu dia harus bisa mengalahkan Raja Joinambar raja dari negeri Basunasar yang menganggap dirinya sebagai Tuhan dan menganggap semua prajuritnya sebagai malaikat.
Adegan 10
Bagindha Amir beserta seluruh prajuritnya segera menuju negeri Basunasar tempat Raja Joinambar berada.
Tidak beberapa lama Bagindha Amir bisa berhadapan langsung dengan Raja Joinambar. Pertempuran sengitpun terjadi. Raja Joinambar beserta seluruh prajuritnya mengalami kekalahan. Mulai hari itu mereka di Islamkan oleh Bagindha Amir dan Bagindha Umar. Namun sebelum prosesi pembacaan syahadat, mereka terlebih dahulu dikhitan oleh Bagindha Umar dan Bagindha Amir. Setelah khitan selesai, semua disyahadatkan mengikrarkan diri tunduk kepada agama Islam. Kemudian Bagindha Umar dan Bagindha Amir segera menyampaikan bukti kalau Raja Joinambar sudah berhasil dia taklukkan. Tetapi ternyata Siti Muninggar masih meminta satu sarat lagi, yaitu Bagindha Amir harus dapat mengalahkan lagi Raja Jobin dari negeri Kaos.
Sebelum Bagindha Amir berangkat menumpas Raja Jobin, dia memanggil Raden Maktal supaya mengungsikan terlebih dahulu empat orang putri yang sudah mengabdi dengannya yaitu; Kesumaningayu Kumanditen, Siti Muninggar, Dewi Bestari , dan Putri Kestabun putri Raja Kestahan.
Keberangkatan Bagindha Amir sempat diingatkan oleh Bagindha Umar, sebab Raja Jobin dari Kaos bukan orang sembarangan, oleh karenanya Bagindha Amir sebaiknya mengurungkan niatnya. Tetapi Bagindha Amir tetap ingin berangkat sendirian kalau Bagindha Umar tidak setuju. Dan akhirnya perpisahanpun terjadi. Bagindha Amir menerima tawaran Siti Muninggar, sedangkan Bagindha Umar memilih pulang ke negeri Puser Bumi.
Bagian 11
Akhirnya Bagindha Amir berangkat sendirian menuju medan perang. Pertempuran sengitpun tidak dapat dihindari. Bagindha Amir sempat terlena, sebuah sambaran pedang raja Jobin berhasil menghantam pelipisnya. seketika Bagindha Amir tersungkur tak sadarkan diri. Tiba-tiba kuda Turangga Kalisak, kuda pusakanya menyahut tubuh Bagindha Amir kemudian mebawanya terbang secepat kilat menuju negeri Puser Bumi.
Sesampai di negeri Puser Bumi Bagindha Amir sudah ditunggu oleh empat orang putri kekasihnya,serta Bagindha Umar dan pamannya. Bagindha Amir mendapatkan nasihat yang banyak dari sang paman. Intinya dalam setiap kali berjuang jangan sampai ada rasa pasti menang, tetapi tetaplah waspada dan jangan lupa berangkat bersama-sama dengan Bagindha Umar beserta prajurit yang lain, jangan berjuang sendirian.
Siti Muninggar tidak tahan melihat kekalahan yang dialami oleh sang kekasih, untuk itu ia segera menawarkan diri menjadi parajurit untuk membantu Bagindha Amir mengalahkan Raja Jobin. Saat itu Siti Muninggar berubah wujud menjadi seorang lelaki dengan memakai nama Kasim.
Tidak beberapa lama Kasim segera berhadapan dengan Raja Jobin , tetapi dalam pertempuran itu dia mengalami kekalahkan dan segera kedoknya terungkap. Siti Muninggar kemudian pura-pura merayu Raja Jobin untuk bersedia jadi iterinya. Raja Jobin tentu saja menyambutnya dengan gembira, sebab selama ini yang dituju hanyalah Siti Muninggar harus jadi istrinya.
Pertempuran kali itupun menjadi reda. Siti Muninggar segera mendampingi Raja Jobin dalam peraduannya. Kemudian Siti Muninggar segera mencari akal bagaimana agar Raja Jobin mau meminjamkan pedang saktinya kepadanya. Tanpa rasa curiga sedikitpun Raja Jobin menyerahkan pedang sakti itu. Siti Muninggar tersenyum lega, dia tahu bahwa kesaktian Raja Jobin adalah karena pusakanya itu, untuk itu dia segera mengatur strategi untuk mencari kesempatan untuk mencuri pedang itu saat Raja Jobin terlelap tidur. Akhirnya Siti Muninggar bisa menidurkan Raja Jobin. Kesempatan yang sangat singkat itu segera dipergunakan Siti Muninggar untuk membawa lari pedang sakti milik Raja Jobin.
Begitu terbangun alangkah kagetnya ternyata Siti Muninggar sudah tidak ada disampingnya. Bahkan pedang sakti andalannya juga raib dari tempatnya. Raja Jobin marah bukan kepalang, dikejarnya Siti Muninggar kemanapun pergi, tetapi Siti Muninggar tidak dapat dikejar lagi.
Adegan 12
Di istana negeri Yaman tiba-tiba digemparkan oleh suara tangis bayi yang berasal dari dalam gedung pusaka. Mereka segera meneliti orang-orang di dalam istana yang tengah hamil. Namun setelah lama dicari ternyata di kalangan dalam istana tidak ada wanita satupun yang tengah hamil. Untuk itu atas perintah raja Yaman , Patih Jumegog segera membuka peti pusaka yang berada di atas atap langit-langit istana. Raja Yaman dan Patih Jumegog terperanjat begitu melihat isi peti pusaka tersebut. Ternyata betul di dalamnya terdapat seorang bayi mungil yang tengah menangis. Setelah sang Raja Yaman mengambil bayi tersebut, kemudian memberinya nama ‘Maryonani’.
Beberapa tahun kemudian Maryonani yang telah menginjak remaja menanyakan siapakah orang tuanya yang sebenarnya. Raja Yaman menceritakan asal-usul dirinya, untuk itu Maryonani disuruh menemui ayahndanya Bagindha Amir dan Bagindha Umar di negeri Ngarab.
Tidak beberapa lama Maryonani sudah bisa bertemu dengan Bagindha Umar dan Bagindha Amir. Maryonani menceritakan seluruh apa yang telah didapatnya dari Raja Yaman, Bagindha Umar dan Bagindha Amir mau menerima Maryonani menjadi putranya dengan syarat harus bisa menumpas Raja Jobin dari negeri Kaos. Dengan suka hati Maryonani menerima tawaran tersebut. Kemudian langsung saja dia mohon doa restu untuk pergi menumpas Raja Jobin.
Dalam kisahnya, Raja Jobin dapat dikalahkan oleh Maryonani dengan ajian angin ribut yang dapat menghempaskan tubuhnya Raja Jobin hingga kembali lagi ke negeri Kaos , asalnya.
Adegan 13
Setelah Maryonani pergi meninggalkan Bagindha Umar dan Bagindha Amir , tiba-tiba tubuh Bagindha Amir berubah wujut menjadi dodot pusaka dan selimut. Hal itu menyadarkan Bagindha Umar , mengapa selama ini Bagindha Amir menjadi lemah lunglai, tidak mampu mengalahkan lawan-lawannya, ternyata ia hanya berupa selongsong pusaka dan selimut pusaka.
Di saat itu pula, tiba-tiba Umar teringat dengan Payung Tunggulnaga yang punya kasiat linuwih yang bisa mengembalikan semua kekuatan yang hilang. Kemudian dia segera mengambil pusaka Payung Tunggulnaga untuk segera dimekarkan. Namun yang terjadi payung pusaka itu tidak mau bergerak sama sekali. Raja Jemblung Marmadi alias Bagindha Umar keheranan.
Sementara itu di negeri Puser Bumi sesepuh negeri itu, Betaljemur sedang memanggil putranya yang bernama Wahas untuk diajak membahas keadaan negeri Ngarab yang tengah dirundung duka yang mendalam. Wahas menerima perintah supaya ikut membantu memekarkan Payung Tunggulnaga, yang saat ini tidak bisa dimekarkan oleh Bagindha Umar dan Bagindha Amir.
Sesampai di negeri Ngarab Wahas segera menunaikan tugas dari Ramandanya. Atas ridho Allah S.W.T. Wahas dapat membuka Payung Tunggulnaga. Bagindha Umar dan Bagindha Amir menyambut dengan senang hati. Dipeluknya sang paman dengan penuh rasa haru yang luar biasa. Sebab dengan mekarnya Payung Tunggulnaga itu mereka percaya bahwa negeri Ngarab bakal mendapatkan ketentraman dan kedamaian yang abadi. Begitu pula pembangunan yang akan mereka laksanakan bakal suskses seratus persen.
Adegan 14
Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib menyambut gembira atas mekarnya Payung Tunggulnaga . Untuk itu beliau segera menobatkan Bagindha Umar dan Bagindha Amir menjadi Raja. Bagindha Amir mendapat gelar Wong Agung Menak Jayengrana, alias Jayeng Palugon alias Jayeng Murti, alias Wong Agung Menak. Sedangkan Umar mendapatkan gelar Adipati yang memerintah di negeri Tal Kandhangan dengan nama kehormatan Adipati Marmaya Guritwesi Tal Kandhangan.
Tugas mereka berdua adalah mengislamkan para penduduk negeri yang masih kafir. Setelah prosesi jumenengan selesai, Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib kemudian menikahkan Bagindha Amir dengan Siti Muninggar, sedangkan Dewi Bestari putra patih Bestak dan Kestabun putra Raja Kestahan dinikahkan dengan Raja Umarmadi.
Adipati Ibnu Ngabdul Munthalib merayakan pernikahan kedua putranya dengan berharap anak cucunya menurunkan raja-raja Jawa yang berkembang biak di seluruh negeri.
Tamat






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar