Selasa, 23 Juni 2009

Duta Bathara Guru Ki Setyo Handono

Dipastikan pertempuran sengit bakal terjadi. Nala Gareng yang mempunyai penyakit darah tinggi, kontan ubun-ubu wasi Rajamala hingga mulutnya nyosor pas di kubangan kotoran kuda. Kontan sang wasi bangkit tertatih-tatih sambil misuh-misuh ...
”Jiangkrik , iblis laknat !, semprool , kurang ajiar !, asu eidan !! ”, sergah Wasi Rajamala sambil memegangi matanya yang penuh dengan kotoran kuda.
Bagong dan Petruk hanya cengengesan melihat ulah lucu wasi tolol yang baru saja kena tendangan ’warming up’ alias tendangan pemanasan. Sedangkan Ki Lurah Semar hanya mesam-mesem sambil sesekali menyedot cerutu lintingan yang selalu mengisi gembolannya .
”Heh Wasi Rajamala, ini baru pukulan pemanasan, hayo majuo kalau kamu pingin jadi jenang abang , hayo hadapi Nala Gareng, kalau perlu temenmu yang dua itu sekalian hadapi bersama-sama , Nala Gareng tidak bakal tinggal gelanggang colong playu !!”
”Wah sumbarmu seakan-akan bisa menghancurkan gunung batu, opo kamu itu ndak bermimpi Gareng, lihatlah tubuhmu yang cacat, berjalan saja ndak bisa tegak, apa ya mungkin kalau pertempuran ini dilanjutkan kamu terus bisa mengalahkanku..”
”Oooo, dasar kamu itu menungsa ora enak, opo dikiro kalau sudah cacat begini akau tidak berani denganmu. Lu jangan menyepelekan Gareng, jelek-jelek begini aku pernah jadi Ratu, aku sering mendapatkan penghargaan, jangankan hanya melawan denganmu hayo kalau berani sekalian Bethara Guru kamu ajak ke sini !!”
”Sik...sik... Reng !, sadar...sadar..., omonganmu jangan ngawur... kamu sadar enggak Bethara Guru itu siapa ?, dia itu pikulun panutane awake dhewe, dia itu dewane para Guru ing jagad pendidikan, kamu jangan sembrana lho”
”Ora opo-opo sing penting aku sak iki jadi jagoan yang bakal menghancurkan kemaksiatan yang ada di Saptaarga ini, aku pokoke tidak takut dengan siapa saja termasuk Bethara Guru...”
”Wis Truk , ora usah diurus ccangkeme Gareng, ibarate dia itu seperti api yang lagi membara, jangan dihalang-halangi , nanti malah semua diamuk, dewekne itu kan juga lagi banyak masalah..”
”Masalah apa Gong ”
”Dia kan itu akhir-akhir ini lagi mangkel dengan Pikulun bethara Guru, gara-gara ada SK terbaru yang mengharuskan setiap pegawai termasuk kang Gareng untuk membayar iuran wajib pembuatan gedung pertemuan Guru, milik pikulun Bethara Guru sendiri...”
”Terus pira Gong potongan gajine ”
”Beda-beda Truk !, lha yen seperti kita ini cukup pitungpuluh lima ewu rupiah, lha yen kaya kekekne satusewu rupiah diangsur ping lima...”
”Waaa...pantes Gareng ngamuk, lha wong potongane sakmono akehe, sejene ngono kan Gareng sendiri kan masih banyak menanggung hutang, seluruh ijasah, sertifikat, piagam penghargaan, semua disekolahkan agar dapat beasiswa, durung anake kang Gareng yang kebetulan akhir-akhir ini mau melanjutkan sekolah...”
”Lha nek manut keterangane Gareng, daripada untuk membangun gedung baru, lha mbok iyao gedung-gedung yang tidak dimanfaatkan itu difungsikan, contohnya gedungnya ketua dewan, dan sebagainya. Itu jelas lebih bermanfaat dan lebih ngirit, jangan dipandang angsuran itu sedikit bagi orang seperti kang Gareng itu”
”Eih...eih... mbregegeg ugeg-ugeg sakdulita hml...hml..., thole Bagong dan Petruk , aku kok jadi ora betah ngrungokkan omonganmu, kabeh mau ona benere dan juga ada salahnya, kabeh-kabehe sama-sama memerlukan solusi yang arif dan bijaksana, jangan malah mengedepankan emosinya...”
”Waah iya kok Mo !, awake dewe kudu luwih dewasa lan bijaksana, aja kaya para punggawa lan para panguwasa yang ada di atas sana, sedikit-sedikit menimbulkan perselisihan, perpecahan, yang akibatnya merugikan wong cilik seperti kita-kita ini.., wis ngene wae thole jangan hilang kewaspadaanmu, coba lihat kakangmu di sana sedang berjuang sendirian, eh hayo thole mesakne kakangmu, hayo podho direwangi...”
”Oh hiya Mo, ayo Gong ”
“Ayo Truk “

Ketiganya segera berlari membantu Nala Gareng yang tengah bertempur melawan tiga wasi yang konon katanya utusan Bethara Guru itu.
Gareng kelihatan mulai kehabisan pertamina, eh stamina. Tubuhnya yang dekil dan pincang, sempoyongan menjadi bulan-bulanan , hantam kanan kiri, depan belakang. Ki Nayantaka yang melihat keadaan ini segera berlari secepat kilat...
”Heh Rajamala !, pantes kowe bisa mengalahkan anakku Nala Gareng. Hayo yen wani aja karo bocah cilik , iki adepana dlondonge Karang Kedempel...”
”Wah ora sumbut karo sesumbare, nyatane Gareng yang katanya bisa mengalahkan Bathara Guru, tapi hanya satu kali pukulan saja sudah ndlosor, apalagi yang maju sekarang hanyalah orang tua yang sudah tidak punya kekuatan lagi, heh hayo Semar, kalu kamu memang berani hayo majulah...”
”Oh bakal ndak gawe wirang kowe “
Pertempuran jilid baru tak bisa dihindari. Ki Lurah Nayantaka langsung menghadapi tiga wasi. Walau tubuhnya sudah kelihatan renta tapi kesigapannya nampak luar biasa dan sangat mematikan lawan yang menghadangnya.
“Heh Semar !, nampaknya kalau kita hanya perang pisik sepertinya pertempuran ini tidak bakal berakhir, untuk itu bagaimana kalau kita adu kanuragan saja...”
“Waah itu aku sangat setuju, hayo Rajamala ndang bukalah cadar yang ada diwajahmu itu, Semar ora pangling dengan wajah palsumu itu “
Dalam hati ketiga wasi itu mulai grogi, sebab yang dihadapi bukanlah orang sembarangan, tetapi manusia setengah dewa , sejajar dengan wali ke sepuluh yang kini hidup menjadi sesembahan manusia di mayapada.
“Oh iya Semar kalau begitu terimalah pukulanku yang pertama ini... ciaaaaattttttttttttt !!!”
“Iya Rajamala..., kamu juga wajib mencium bau kentut uraniumku ini ...., eih !!, rasakan Rajamala ...wuuuuuuussssssss”
“Adu !!!!!, kakang Semar....”
Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar