Selasa, 23 Juni 2009

Jalur Tikus PSB (Penerimaan Siswa Bodong) Ki Setyo Handono

Sepulang Harya Setyaki, dan Raden Samba, istana Dwarawati kembali sunyi. Para juru pengrawit yang bertugas di ruang diskotik mulai mengumandangkan gendhing Titipati laras slendro Pathet 6, nampak dari balik bunga adenium, taman sari, dua orang emban, Bibi Cangik dan Limbuk, keluar sambil membawa hamburger, roti bakar,soto daging dan softdrink, menu paten kesukaan Dewi jembawati, Dewi Rukmini dan Dewi Setyaboma. Cangik yang bertubuh kerempeng itu nampak di jidatnya menempel dua lembar koyok untuk menghilangkan penyakit pusing separo yang sudah menahun. Sedangkan Limbuk si gemuk itu nampak megal-megol mengayunkan pantatnya sambil sesekali mendendangkan lagunya Dewi Persik dan Inul Daranista. Keduanya adalah pembantu setia yang mengabdikan dirinya seumur hidup. Dia tidak pernah mengeluhkan jumlah gaji yang dibayarkan kepadanya. Mereka melaksanakan kewajiban yang ditimpakan kepadanya dengan senang hati. Dia tidak memikirkan upah minimum regional, dia tidak pernah memikirkan mogok kerja, tapi dia mengabdikan dirinya murni untuk beribadah. Namun siang itu Cangik kelihatan tidak bersemangat. Biasanya dia selalu meluncurkan kata-kata bijak kepada anaknya Limbuk tentang perikehidupan. Dia nampak murung di sudut taman sambil sesekali menghela nafas panjang. Limbuk mencoba mendekati simboknya yang mulai kelihatan renta.
”Mbok , sampeyan kok ndak seperti biasanya ceria, ada apa ?”, tanya Limbuk sambil meraih pundak simboknya.
”Oalah embuh nduk, simbok dewe juga bingung kok ”
”Bingung itu mestinya kan ada yang menyebabkan to Mbok ?, coba jelaskan apa penyebabnya ?”
”Begini lho nduk, aku itu tengah memikirkan nasib anakmu mbesuknya ...”
”Tentang apa ?”
”Aku membayangkan, jika simbok ini sudah ndak kuat bekerja terus siapa yang akan membiayai sekolah mereka. Simbok miris, nduk jika melihat kedaan pendidikan sekarang ini. Majunya belum tentu tapi permintaan fasilitas dan biayanya sudah selangit...”
”Maksudnya simbok ?”
”Hiya nduk, terbukti, sekarang ini walau gaji pegawai negri, pegawai dewan,dan pejabat dinaikkan, tapi mental korupnya tidak kunjung mereda. Malah-malah semakin merajalela, terbukti pungli di mana-mana, selingkuh di mana-mana. Semua akibat kerja ringan bayar besar. Sehingga di otak mereka adalah bagaimana uang-uang yang mereka punyai itu dapat mereka habis-habiskan. Mungkin dalam benak mereka nyari uangnya kan gampang , jadi ya begitulah syahwatnya semakin mendapatkan fasilitas yang lebih. Gelar sarjana dan pasca sarjana seperti S2, S3, bukan merupakan jaminan ngger, mereka kuliah tinggi hanya untuk menacari gelarnya saja, nyatanya pendidikan tak semakin berkualitas, tapi semakin jauh merosot dari harapan para pendahulu kita ngger..., mereka serba ber-portopolio, makanya pantes kalau mereka pada kena penyakit polio, jalannya tidak lurus, tapi bengkok-bengkok..”
”Aku kok ora ngerti to karep sampeyan ...”
”Oalaah nduk..., awakmu itu kok ndak peka jaman, Simbok ngoceh ini terus terang lagi jengkel !!”
”Jengkel karena apa Mbok ?”
”Apa ora ngerti ngger, simbok semalam dipanggil kepala sekolah ning SMP paporit Dwarawati kene, ngenani nasib anakmu sing ora ketampa ning sekolah sana”
”Simbok di takoni apa wae ?”
”Bu Cangik, sampeyan ndak perlu kawatir, putu sampeyan bisa sekolah ndik sini, tapi ada syarat khusus yang harus sampeyan penuhi ...”
”Syarate apa Mbok ?”
”Lha ya itu ngger, awalnya hatiku itu bahagia, putuku bisa sekolah ndik sekolah paporit, aku mikir tak kira syarat mau mung perkara nggolek surat keterangan tidak mampu dari RT, Desa dan Kecamatan, ealah jebulnya ...”
”Sampeyan kon ngapa Mbok ?”
”Jare, kepala sekolah durung nduwe mobil, durung nduwe omah nggo anak-anake, mula simbok ya rada bingung, lha wong simbok iki mung trimo babu, lha apa ya klakon isa nukokne mobil karo omah mau, lha wong simbok dewe wae ora gablek omah kok, dasar !!! pejabat wis padha dadi pemeras, pelopor KKN, oh titenana yen tuwa mbesuk pada struk, kencing manis, darah tinggi...”
”Wis mbok sampeyan ndak usah duka!, aku lila kok menawa anakku ora sekolah, sebab sekolah ndak menjamin anakku bisa nyambut gawe...wis mengko tak ajaknya saja suwita ikut ndara Jembawati ndik sini ”, jawab limbuk sambil membenahi kembennya yang nyaris mlorot.
”Oh syukur nduk, menawa awakmu ndak gela atimu, oh yen begitu ayo, diterusken nyuci piringnya” Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar