Selasa, 23 Juni 2009

Perempuan Idaman Lain Gawe Umubing Birahi (Pilgub)

Dalam hutan Krendhayana, terdapat beringin putih berjajar tujuh, dan randhu alas berjajar sembilan. Di dalamnya terdapat watu gilang sebesar gunung. Di situlah sebuah tempat yang disebut Kahyangan Setra Gandamayit, ya di Dhandhang Mangore. Tidak ada manusia satupun yang berani merambah. Apalagi polisi hutan, perambah berdasi, pencoleng kampungan, dan para bandit-bandit yang kebal hukum. Yah !, hutan ini terhitung masih perawan thing..thing, gawat keliwat-liwat, wingit kepati-pati, hewan singgah bersimbah darah, manusia singgah, pulang hanya tinggal namanya. Mereka bakal dieksekusi, seperti ayam potong, kres !!, modar alias codeet tanpa bekas. Kenapa kok segawat itu, memang, di situlah pusatnya segala kejahatan. Di situ pulalah berkumpul jin, setan, demit, iblis, ilu-ilu banaspati, gandarwa, bajubarat, myang brekasaan, santhet, tenung, teluh braja, bondhet pilut, gendam, semuanya tumplek bleg, jadi satu di Dhandhang Mangore. Para setan semuanya dibekali senjata, drengki, srei, jail, dahwen, panasten, senang kekerasan, apus-apus, cinta perselisihan, menjahui perdamaian. Oleh karena itu tidak aneh jika sang surya mulai tenggelam, maka benda-benda yang ada di situ terlihat hitam remang-remang, diliputi oleh suasana angker, dan berbau anyir darah. Sementara di bawah terlihat rimbun daun ilalang dan rumput kalanjana, sulur-sulur akar beringin seperti rambut yang menjurai tak pernah disisir, silir-silir tertiup angin malam, sulur beringin itu mirip rambut raksasa, menakutkan. Sedangkan di tengah sepi, terdengar gemercik air gerojokan, memberikan daya getar menakutkan di dalam hutan. Sementara di atas pohon terdengar burung kolik tuhu tengah mengumandangkan berita kejahatan, disambut suaranya ular mendesis, disusul oleh jeritan seekor kijang yang baru saja ditubruk oleh harimau.
Kasad mata tempat itu adalah berujud hutan biasa. Tapi kalau anda waskita, di situlah sebenarnya Kahyangan pusatnya kerajaan Dewa Penggoda, dengan sesosok makhluk penguasa yang disebut Pandya Bathari Durga, alias Hyang Pramoni. Sebenarnya awalnya, dia adalah seorang bidadari jelita. Akan tetapi karena perbuatannya yang melanggar kode etik bidadari, maka Sang Hyang Jagadnata memberikan sanksi wajahnya disiram air keras, dan berubahlah menjadi jelek.
Ya, Hyang Premoni inilah sang penguasa tunggal, dengan sepasukan bajubarat, lelembut, arwah nyasar, iblis, brekasaan yang bertugas menggoda para manusia baik hati, brahmana, mubalig, santri, kiai, guru, kepala sekolah, jaksa, hakim, polisi, petugas PLN, dan sebagainya. Belum lama dia berada di beranda istananya, tiba-tiba datang anaknya yang semata orang, bangsawan dari Tunggulmalaya, Prabu Dewasrani. Sowan menghadap ibundanya. Begitu mendekat ia kemudian berlutut, memberikan sembah. Nampak di wajahnya raut sungkawa alias lagi susah, gundah dan sedih. Wajahnya pucat pasi, seperti orang kurang gizi. Tidak ketinggalan asisten dan sopir pribadinya mengawal sang Dewasrani. Lengkap dengan para iblis pilihan, yang jumlahnya tak terhitung sangking banyaknya. Sang Bethari Durga amat tanggap dengan wajah anaknya yang kelihatan kumal seperti baju yang ndak pernah disetrika. Dia kamitenggengen alias ndak mentala nyawang anaknya. Dia terpaku, heran, padahal semua fasilitas telah diberikannya. Ndak biasanya anaknya sedih hingga seperti itu.
”Hong thethe dewangkara, Rudra manik raja dewaku, ini kalau ndak salah anakku Dewa Srani, ngger kulup, padha kanthi raharja sak sowanmu ana ngersane mami, ngger ..”
”Kawula nuwun inggih mami, niskala sowan saya, tidah lupa sembah bakti saya mami”
”Tak terima kulup, tidak lupa terimalah pangestune mami”
”Dahat katedha kalingga murda kanjeng mami, semoga menjadikan darah kemuliaan”
”Patih Jentha Yaksa, bagaimana kabarmu tih !”
”Pangestu mami bethari, sehat kuwarasan”
”Kembali kepadamu Srani, jika mami perhatiken dari ujung mata hingga ujung jempol kaki, seperti ada perasaan gundah kulup, hayo kataken semua pada mami ..”
”mami, seperti hancur perasaan saya, kenapa hingga saat ini saya belum mendapatkan wanita pujaan hati. Padahal aku ini kan seorang raja, tapi kenapa belum ada wanita seorangpun yang mau denganku mami...”
”Weladalah, jebul kamu itu pingin rabi ta ..., oalah mbok ya ngomong terus terang sejak tadi. Lha apa kira-kira kamu sudah punya pandangan kulup ?”
”Nuwun sewu kanjeng Mami, setelah lama aku pertimbangkan, ternyata hanya Bathari Dersanala, putra pukulun Bathara Brama, yang menjadi pujaan saya ...”

Kagyat risang kapirangu rinangkul kinempit-kempit dhuh sang retnaning bawana, Ooooong...

”Waduh, ngger ... mangertia ya, Dersanala itu sudah menjadi isteri sah Janaka, mami ndak setuju jika kamu akan merebutnya, sudahlah ngger cari yang lain saja, di Unmuh sana masih banyak mahasiswa yang cantik-cantik, ke sana saja ngger ...”
”Kanjeng mami, bagiku sudah tidak ada pilihan lain. Seandainya mami tidak mau mengusahakan, maka aku akan bunuh diri saja mami ...”
”Duh jagad dewa bathara, ya iya ta ngger, mami tidak akan tinggal glanggang colong playu, jika maumu begitu, anak polah mami yang bakal berusaha, wis kalau begitu kamu tinggal dirumah saja, mami akan membujuk ayahmu Bethara Guru di kahyangan Suralaya” Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar