Selasa, 23 Juni 2009

Sastra Lisan Jemblung Katong Wecana 3

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian sastra lisan memiliki beberapa ciri, diantaranya: (1) desain penelitian bersifat lentur dan terbuka, (2) data penelitian diambil dari latar alami (natural setting), (3) data yang dikumpulkan meliputi data deskriptif dan reflektif , (4) lebih mementingkan proses daripada hasil, (5) lebih mengutamakan makna, (6) informan dan narasumber ditentukan peneliti secara subyektif karena informasi paling representatif harus diburu peneliti, (7) analisis data dilakukan secara terus menerus sejak pengumpulan data sampai laporan penelitian berakhir ditulis, dan (8) temuan dari penelitian sastra lisan dikonfirmasikan dengan informan (Sudikan,2001:211)
Untuk melakukan penelitian sastra lisan , peneliti harus terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan, perekaman, dan wawancara mendalam dengan informan. Dalam hal ini peneliti sebagai instrumen yang sekaligus sebagai pengumpul data. Keberadaan peneliti sastra lisan di tengah-tengah pergelaran akan sangat berpengaruh dalam penulisan laporan penelitian, terutama terkait dengan pelukisan suasana , transkripsi cerita, dan deskripsi latar belakang budaya. Imajinasi peneliti akan kering apabila peneliti tidak berada di tengah-tengah pergelaran (Sudikan,2001:211).

B. Obyek Penelitian
Ki Dhalang Muhammad Yusup sampai saat ini masih ada yang menanggap untuk mendalang cerita jemblung untuk memenuhi panggilan masyarakat yang mempunyai hajat atau ritual tertentu. Namun demikian intesitasnya sudah mulai menurun dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Hal ini dikarenakan faktor usia dan kesehatan serta apresiasi masyarakat yang kian rendah terhadap kesenian ini.
Dari beberapa pentas yang pernah penulis ikuti di wilayah Madiun ,khususnya lewat siaran di RRI Madiun dan terakhir di Radio Gema Surya Ponorogo tahun 1995, banyak cerita yang bisa dimainkan oleh Ki Usup , diantaranya cerita; Ahmad Muhammad, Jemblung Marmoyo, Jemblung Marmadi, Laire Nabi Yusup, Sungging Prabangkara, Jaka Tarub Dewi Nawangwulan, Payung Tunggulnaga, dan sebagainya.
Dari beberapa cerita di atas, penulis hanya mengambil cerita Payung Tunggulnaga sebagai obyek kajian penelitian , hal itu dikarenakan cerita itu adalah pentas terakhir yang dijalani Ki Usup yang disiarkan lewat gelombang radio.
Dengan demikian rekaman pergelaran jemblung yang penulis dapatkan dari studio Radio Gema Surya Ponorogo tersebut adalah sumber pustaka yang relevan yang dapat dipakai untuk menganalisis suatu obyek penelitian. Disamping itu penulis juga mengadakan wawancara mendalam dengan Muhammad Yusup , dan membaca buku tentang folklor yang mengupas tentang kesenian rakyat tersebut.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik studi dokumenter, wawancara ,dan studi pustaka. Teknik dokumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dalam bentuk kaset rekaman, sedangkan teknik wawancara digunakan peneliti untuk mengungkap pengalaman individu pelaku sastra lisan yang berhubungan dengan proses kreatif dalam mendalang, tanggapan penonton serta sesuatu hal yang berhubungan dengan bahan penelitian yang belum jelas. Sedangkan studi pustaka adalah untuk mencari sumber-sumber tertulis dalam bentuk buku-buku hasil penelitian para pakar folklor, buku-buku tersebut dipakai untuk menggali tentang kesenian jemblung yang merupakan peninggalan bersejarah dari Raden Batara Katong dalam upaya babad Ponorogo dan dakwah Islam di daerah Ponorogo. Di samping itu studi pustaka ini juga digunakan untuk membahas pendapat para ahli tentang makna ajaran moral Kejawen, moral Islam dan moral yang sesuai dengan adat –istiadat masyarakat Jawa pada masa lampau.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan sebagai berikut :
• Pertama mengumpulkan data yang diperoleh dari Radio Gema Surya Ponorogo, dalam bentuk kaset rekaman pergelaran terakhir Seni Jemblung Katong Wecana di studio radio tersebut.
• Mentranskripsikan semua dialog dan alur cerita lisan menjadi bentuk tulisan sesuai dengan urutan dialog yang disampaikan dalam kaset tersebut.
• Mencocokan ulang hasil tulisan yang telah dibuat.
• Mengklarifikasi naskah dengan teknik wawancara langsung dengan dalang Jemblung , Muhammad Yusup di Setono, Ponorogo.
• Menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia , sekaligus mengadakan seleksi dan mengklasifikasi sesuai dengan masalah yang dikemukakan dalam batasan masalah.
Tahap akhir setelah penyeleksian data adalah menginterpretasikan data yang diperoleh kemudian dimasukkan dalam analisis naskah seni Jemblung Katong Wecana secara keseluruhan yang memuat aspek-aspek ajaran moral.

D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian “ Ajaran Moral dalam Seni cerita rakyat Jemblung Katong Wecana” yang dimainkan oleh Ki Dhalang Muhammad Yusup dari Setono Ponorogo ini, peneliti pada dasarnya merupakan instrumen yang paling utama. Ajaran Moral yang disampaikan oleh Muhammad Yusup melalui kegiatan mendalangnya sangat berpengaruh dan ikut berpartisipasi dalam mengambil kegiatan yang diteliti. Hal ini didukung oleh pendapat Teeuw yang menyatakan bahwa peneliti sekaligus sebagai pembaca yang memberi makna dan sudah tentu dalam kemungkinan interpretasi yang diberikan oleh kata-kata karya sastra itu sendiri ( 1991 : 57 ).

E. Teknik Analisa Data
Dalam teknik analisis data digunakan metode deskriptif. Menurut Sumadi Surya Brata, penelitian deskriptif ( descriptive research ) bertujuan untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah / lokasi tertentu (1988:18). Demikian pula untuk memperoleh gambaran secara rinci dan sistematis ajaran moral yang terdapat dalam pertunjukan seni Jemblung Katong Wecana oleh Muhammmad Yusup dari Setono Ponorogo, dipergunakan teori diskriptif tersebut.
Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1.Mendengarkan kaset rekaman jemblung dengan cerita Payung Tunggulnaga kemudian mentranskripsikan dari wicara menjadi bentuk tertulis. Hal ini dimaksudkan agar peneliti ataupun pembaca mudah membaca teks cerita lisan (Hutomo,2001:25). Disamping itu untuk memudahkan peneliti dalam menganalisa elemen ajaran moral yang terdapat dalam tuturan sang dalang serta untuk mendapatkan gambaran maknanya secara totalitas.
2 Mengkaji secara umum naskah cerita Payung Tunggulnaga dalam segi penggunaan bahasa, sebagai pengantar pendahuluan.
3.Membagi urutan cerita berdasarkan pola cerita yang dipaparkan dalang. Yaitu mulai dari; babak pertama ( jejeran pambuka), babak kedua (memayu hayuning bawana), babak ketiga (adegan sabrangan), babak keempat (suradira jayaningrat lebur dening pangastuti), babak kelima (ngundhuh wohing pakarti)
4. Mengklasifikasikan aspek ajaran moral Kejawen dan ajaran moral Islami yang terdapat dalam naskah dialog cerita seni Jemblung Katong Wecana, pada masing-masing penggalan cerita.
5. Penafsiran data yaitu analisis dengan menggunakan pendekatan fungsi sosial sastra.
6. Membuat kesimpulan dan saran.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar