Rabu, 24 Juni 2009

Serial Babad Pacitan Laskar Katong (2) Ki Setyo Handono

Jaka Deleg dan Syeh Maghribi segera mohon pamit untuk menyiapkan segala perlengkapan yang akan dipergunakan perang di Pesisir Kidul.
” Matur nuwun Paman Adipati, mohon doa pangestunya semoga perjalanan kami lulus raharja, dan dapat mengemban tugas mulia ini dengan sebaik-baiknya..”
” Hiya Deleg, mudah-mudahan Gusti Kang Akarya Jagad, memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kalian semuanya...”
”Amin ”, jawab keduanya serempak.
”Wis , Deleg dan Maghribi, aku kira sudah banyak hal yang telah aku berikan, untuk itu kalian segeralah mempersiapkan semuanya , termasuk makanan, senjata piandel dan para penderek serta prajurit –prajurit tangguh, ingsun hanya bedoa semoga kalian berhasil, rahayu slamet”
”Matur nuwun Paman , Assalamu nglaikum ”

Keduanya segera menjabat tangan sang adipati. Kemudian berjalan jongkok , lampah dhodhok meninggalkan Pendhapa Agung Kadipaten . Jaka Deleg menuju padepokan Surodikraman, sedangkan Syeh Maghribi menuju padepokannya di Mangunsuman. Keduanya sepakat pada malam harinya bertemu mengusung seluruh prajurit beserta bekal-bekal-bekalnya, berkumpul di Setono Dalem, Pendapa Agung Kadipaten Ponorogo, untuk melakukan upacara pamitan dengan sang Adpati Katong beserta seluruh kawula dalem.

Tepat pada hari Respati Manis atau Kamis Legi, setelah sholat Shubuh berjamaah, rombongan Jaka Deleg , Syeh Maulana Maghribi segera berkumpul di halaman Pendapa Agung. Mereka ingin segera berpamitan berangkat menuju Pesisir Kidul, mengemban tugas mulia membujuk Adipati Buwana Keling untuk merasuk Islam dan mau menerima Raden Patah sebagai penguasa baru, menggantikan Majapahit.
Sementara matahari masih belum nampak memancarkan sinarnya. Pagi itu nampak berbeda dengan biasanya. Suasana sedikit meriah tapi terasa ada perasaan yang amat mendebarkan, aroma peperangan yang diselimuti oleh suasana mistis, terasa menggetarkan degup jantung dan bulu kuduk menjadi merinding. Betapa tidak !, pagi itu tokoh-tokoh ’sakti’ seperti Raden Katong, Syeh Maghribi, dan Jaka Deleg, tengah berkumpul untuk mengadakan suatu rencana menaklukkan Ki Buwana Keling, Adipati yang menguasai Pesisir Kidul, yang terkenal sakti mandraguna. Ini adalah misi yang bukan sembarangan, taruhannya satu, yaitu, nyawa. Salah sedikit saja , maka mereka bertiga hanya pulang dengan nama saja. Mereka bertiga adalah ikon Kadipaten Ponorogo yang amat disegani. Walau demikian ketiganya tidak pernah adigang, adigung adiguna, sapa sira, sapa ingsun, mereka adalah wirai, hidupnya hati-hati, kata-kata serta perbuatannya sembada, perbuatannya lemah lembut penuh kasih dengan sesama, Islamnya tangguh. Bukan warok yang marok, bangga dengan kekuatannya menenggak minuman keras, kemudian melepas semua ajaran-ajaran suci. Mereka adalah satria sejati.
Tidak lama kemudian sang Adipati Katong segera mendekat kepada Jaka Deleg dan Syeh Maulana Maghribi. Sedangkan para kawula yang menyaksikan dari kejauhan tidak mengerti apa yang tengah dibisikkan kepada keduanya. Mereka hanya melihat bahwa kedua prajurit tangguh itu nampak khidmat menerima sedikit wejangan pamungkas yang disampakan oleh sang adipati. Setelah selesai, kemudian sang Adipati Katong berdiri di teras pendapa, menyapa seluruh hadirin, sambil sedikit mengeraskan suara.
”Kawulaku kabeh !, pagi hari ini berbeda dengan biasanya. Memang semua ini sengaja tidak ingsun wartakan kepada kalian semua, takut nanti kalian akan cemas semua. Kawulaku kabeh, pagi hari ini Kadipaten Ponorogo mendapatkan kepercayaan mulia dari Sinuwun Raden Patah, untuk melebarkan wilayah kekuasaan Demak hingga Pesisir Kidul, yang saat ini masih di kuasai oleh Kakang Buwana Keling. Untuk itu para kawulaku kabeh, kalian ikhlaskan saudara kita ini dengan doa siang malam selama melaksanakan tugas nanti, semoga mereka bertiga dan seluruh prajurit yang mengikutinya selamat sentosa, dan semoga Kakang Buwana Keling mau menerima ajakan ini dengan sukarela, syukur-syukur kalau beliau mau menganut Islam kemudian menyebarkannya di sana. Semoga Gusti Ingkang Maha Wicaksana menerima permohonan ini, amin. Kawulaku kabeh, barangkali ini saja sambutan ingsun, Assalamu’ngalaikum warohmatulohi wabarokatuh ”
Adipati Bathara Katong segera menutup sambutannya, sementara Syeh Maulana Maghribi, Jaka Deleg dan seluruh prajuritnya segera mengemasi seluruh barang bawaannya, kemuian keduanya segera menunggang kuda hitam. Sementara para prajurit segera memikul bekal-bekal yang dibutuhkan selama dalam perjalanan. Sebelum berangkat ,mereka menyalami semua pengunjung satu-persatu.

Nampak semua yang hadir, menitikkan air mata. Adipati Batara Katong matanya berkaca-kaca, terharu kepada tekad setia yang dijalani oleh kedua kawulanya. Kemudian beliau melambaikan tangan, dan menyapa penuh dengan doa yang teramat tulus. Sekejap, para prajurit itu telah lenyap di kegelapan pagi, berjalan ke arah barat menuju Pesisir Kidul. Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar